Arsip untuk Desember, 2006

26
Des
06

Boulevard de Clichy

Boulevard de Clichy – agonia cinta monyet

Sebuah novel pop karangan Remy Sylado, terbitan Gramedia, juga dibeli di Gramedia pada Sabtu sore, sambil nunggu jemputan.

bdc.jpgSebagaimana layaknya karangan-karangan Remy Sylado yang lain, seperti Ca Bau Khan, Kembang Jepun, Kerudung Merah Kirmizi, Parijs van Java, bahkan novel drama Siau Ling, gaya bahasa dalam buku ini juga sangat lincah dan hidup, sehingga seakan-akan kita berada dalam situasi yang sedang diceritakan. 

Cerita yang bernuansa kehidupan di era reformasi ini banyak menceritakan tentang kondisi masyarakat kelas atas, diwakili oleh pejabat pemerintahan yang korup, dengan istri yang suka mengatur dan anak tunggal yang manja; serta Anugrahati (Nunuk), seorang penari yang nasibnya mengharuskan ia bekerja sebagai penari telanjang di Boulevard de Clichy. 

Bermula dari kehidupan remaja SMA, Nunuk dan Budiman diceritakan sebagai sepasang remaja yang rela melakukan segalanya atas nama cinta. Campur tangan ibu Budiman dengan bantuan opo-opo (guna-guna) membuat Budiman lupa akan perbuatannya terhadap Nunuk, bahkan melupakan Nunuk, gadis yang dicintainya. Sebagai anak orang kaya, Budiman melanjutkan sekolah di Perancis, tetap dengan gaya anak pejabat yang lebih suka menghabis-habiskan uang daripada menggali ilmu pengetahuan yang bisa diperolehnya disana. Sementara Nunuk yang punya keluarga di Belanda diceritakan memutuskan untuk membawa anaknya yang baru lahir dan tinggal bersama keluarga ibunya di Belanda, melanjutkan sekolahnya disana. Pertemuannya dengan seorang pencari bakat turunan Turki membawanya berkelana mencari pengalaman baru di Paris, Perancis. Kisah yang juga sama dengan pencari TKW yang mengajak perempuan desa ke kota, ataupun ke luar negeri dengan janji pekerjaan demi kehidupan yang lebih baik.   

Jalan cerita selanjutnya tidak terlalu sulit untuk ditebak. Kepintaran Nunuk membawanya menjadi bintang di Boulevard de Clichy dengan julukan Météore de Java. Tutur cerita yang secara detil menggambarkan situasi Boulevard de Clichy, maupun gambaran detil perilaku pelakon cerita serta perasaan-perasaan mereka, menjadi daya tarik utama dari novel-novel karangan Remy Sylado. 

Sayangnya akhir cerita yang terkesan terburu-buru dan terlalu dipaksakan membuat kekuatan cerita menjadi berkurang. Cerita Budiman dan Nunuk yang kembali lagi ke tanah air dan bertemu kembali setelah terpisah selama 5 tahun ternyata tidak dikisahkan sedetil dan seindah  novel di bagian awal. Kehidupan Budiman yang mendadak jatuh miskin karena ditinggal mati kedua orang tuanya menjadi berubah 180 derajat karena ia menemukan uang yang disimpan bapaknya dalam balok penyangga rumah yang secara tak sengaja patah karena dipakai sebagai tumpuan untuk menggantung diri !

Dengan kondisi alam reformasi yang belum didukung oleh aturan hukum yang kuat, hampir bisa dipastikan bahwa seorang penguasa diktator yang kuat akan langsung “diberantas” oleh orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Rumah dan segala harta bendanya akan dijarah habis-habisan dan sisanya akan dibumi-hanguskan. Hal ini tidak terjadi pada ayah Budiman, seorang ketua DPRD Jakarta, yang hanya dijarah harta bendanya, namun rumah tempat tinggalnya dibiarkan begitu saja tak terurus. 

Memang ini bukan kisah seribu satu malam, atau HC Andersen yang selalu mengatakan bahwa kejujuran dan kebaikan akan selalu menang, dan juga bahwa kemenangan dan kemuliaan bersumber dari usaha kerja keras dan penuh pengorbanan. Oleh karena itu sah-sah saja kalau jalan ceritanya menjadi demikian. 

Budiman yang jadi kaya mendadak, kemudian menyunting Nunuk, wanita yang jadi kekasihnya sejak SMA. Ia juga mengundang kenalan-kenalannya di Perancis serta saudara Nunuk di Belanda untuk datang menjadi saksi pernikahan mereka. Hmm….. ending cerita lebih berwarna “fairy tale”, kisah putri upik abu yang disunting pangeran kaya raya. 

Sisi lain dari cerita ini juga mengisahkan adanya seorang Big Boss yang mendalangi usaha-usaha bisnis tidak sah yang dijalankan oleh ayah Budiman, yang menjadi ketua DPRD tersebut. Disini membuka wawasan kita bahwa kehidupan para elit politik amat rentan diwarnai dengan praktek-praktek ilegal. Seperti sudah menjadi keharusan bahwa pihak yang jahat akan mendapat ganjarannya, buku ini juga mengisahkan alur cerita demikian.  Membaca akhir bagian buku ini tidak lebih dari sekedar ingin menuntaskan suatu pekerjaan yang sudah terlanjur dimulai, disertai harapan mudah-mudahan novel Remy Sylado berikutnya dapat lebih hidup dan mengasikkan sampai dengan akhir cerita. 

19
Des
06

Golden Flower

Curse of the Golden Flower, film yang di-release tahun 2006 ini sebenarnya tidak sengaja ditonton. Waktu itu, Sabtu mendekati akhir tahun 2006, menghabiskan weekend sambil jalan-jalan di Senayan City dan terdampar di lantai 5, Cinema21. Tanpa tahu pasti akan menghadapi film seperti apa, dan… hey, it’s interesting! 

golden flower     

Tema film drama ber-setting kerajaan di Cina, yang dikemas dalam bentuk kolosal benar-benar menyuguhkan suatu pemandangan yang lain dari biasanya. Film yang diperankan oleh Chow Yun Fat ini sarat dengan filosofi kehidupan, dan tidak banyak menyajikan dialog-dialog di antara pemerannya. Penonton benar-benar dibiarkan untuk mencerna sendiri jalan cerita yang sebenarnya. Sangat menarik karena perlu konsentrasi, apalagi dengan dimainkan dalam bahasa Cina dan mencantumkan teks Indonesia plus teks bahasa Inggris di bawahnya, hmm…. jadi tidak sempat ngantuk rasanya. Film kolosal yang melibatkan ratusan bahkan mungkin ribuan pemain, didukung oleh kostum yang berwarna-warni dan musik khas Cina membuat penonton merasa seperti benar-benar berada dalam suasana kerajaan Cina jaman dulu. 

Ceritanya sendiri sebetulnya sederhana, drama perebutan kekuasaan antara raja, permaisuri dan ketiga anaknya. Namun pengemasannya yang betul-betul menarik, membuatnya menjadi film yang istimewa. Satu jam dan 54 menit rasanya seperti baru membaca sebuah buku tanpa mengerti isinya, dan baru pada menit-menit setelah itu muncul pemahaman mengenai hal-hal yang tidak tersurat dalam film tersebut. Filsafat Cina yang terkandung di dalamnya mengatakan bahwa semakin kita berkuasa, kita perlu lebih cerdik, demi mempertahankan kekuasaan. Terkadang nilai-nilai kekeluargaan menjadi bukan hal yang utama lagi demi mempertahankan kekuasaan, terlebih bila dalam keluarga telah timbul adanya ketidakpercayaan yang disebabkan oleh adanya agenda-agenda tertentu, adanya kepentingan-kepentingan tertentu demi menjatuhkan sang penguasa. 

Meskipun nonton sambil sesekali menutup mata J, terutama saat pertempuran yang seringkali diwarnai dengan percikan-percikan cat berwarna merah, film ini tetap menarik untuk ditonton. 




 

Desember 2006
S S R K J S M
    Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Blog Stats

  • 45,722 hits

Others

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

visitor stats

PageRank

my 'read' shelf:
 my read shelf

Click to view my Personality Profile page