Arsip untuk Juli, 2007

29
Jul
07

Beranda Kita

dengan sub judul: Perbincangan seks dalam keluarga. Buku karangan Faisal Baraas ini dibeli udah lama, di bursa buku yang diadakan oleh fakultas (tepatnya Senat Mahasiswa), pada jaman mahasiswa (brapa taun yang lalu tuh ya? ;) )

Isi buku ini sebenarnya hanya kumpulan cerpen yang panjangnya masing-masing tidak lebih dari 3 halaman. Setiap cerita diwakili oleh seorang wanita, dengan nama-nama yang berbeda. Uniknya, buku ini terdiri dari beberapa topik mulai dari tumbuh kembang anak, perkawinan remaja, seks bebas, sampai dengan kelainan psikoseksual, oedipus complex, cinderella complex, dll. Setiap cerita berbentuk fragmen peristiwa kehidupan yang biasa atau yang pernah terjadi dalam keluarga. Tidak ada kesimpulan, tidak ada akhir yang jelas juga pada setiap peristiwa. Sepertinya hanya mengungkapkan fakta dan pembaca dibiarkan melanjutkan sendiri cerita tsb atau untuk merenunginya.

Namun dalam setiap cerita, selalu ada ungkapan-ungkapan menarik (istilah kerennya: lesson learned) yang bisa kita simak.

Ternyata, kita tidak mengenal pasangan kita sepenuhnya. Kita hanya mengenalnya sebagian. Sebelum memasuki gerbang perkawinan, kita memang hanya mengenal segi-segi yang memesonakan dari kepribadiannya. Kita tak banyak tahu tentang beberapa kekurangannya. Mungkinkah kita mengenal seseorang secara total, sementara kita tahu bahwa kita tidak sepenuhnya bisa memahami diri kita sendiri? Dan mungkinkah kita mampu menyingkap seluruh misteri yang meliputi diri seseorang? Sepanjang hidup kita, kita mungkin memang ditakdirkan untuk selalu memahami orang lain. Satu-satunya pertanda bahwa cinta masih bersemayam dalam perkawinan ialah keinginan yang selalu timbul untuk memahami istri atau suami kita masing-masing.

Jika orang tua merasa cemas terhadap pergaulan putrinya, mengapa mereka tidak berusaha mengenal anaknya dengan lebih mendalam? Mengapa mereka tidak bisa membuka dialog dengan anak-anaknya, terutama mengenai masalah-masalah seksual? Keakraban tidak pernah tercipta dalam dialog demikian itu. Yang ada hanya rasa malu, rasa sungkan, rasa frustrasi, karena tidak tahu bagaimana harus memulainya. Begitu banyak rahasia yang tersembunyi, sehingga cenderung menjadi munafik, menjadi culas. Jika dialog itu bisa tumbuh, maka remaja akan berkembang tanpa kecemasan. Mereka dengan tenang akan mampu mengatasi berbagai persoalan seksual yang senantiasa timbul karena lingkungan yang buruk dan sulit dihindari. 

Kalau dari sub-judulnya “Perbincangan seks…” sudah bisa ditebak isinya memang berbagai topik tentang perilaku seksual. Tapi semuanya dikemas dalam bahasa sederhana dan gamblang. Memang ada beberapa istilah kedokteran/psikologi yang dipakai, namun ada penjelasan yang masih bisa dipahami (kalau belum ngerti juga, baru deh baca kamus psikologi, numpang baca di Gramedia :P ).  

Baca cerita-cerita dalam buku ini secara berurutan sebenarnya tidak terlalu dianjurkan, karena jadi jenuh dan membosankan. Paling enak adalah dengan membaca secara acak dan tidak sekaligus. Lebih enak lagi kalau ada temen yang bisa diajak ngobrol tentang topik-topik tsb. Buku ini sangat direkomendasikan buat para remaja dan para pasangan muda untuk mengetahui lebih jauh tentang perilaku seksual. Bagus juga buat para orang tua agar bisa lebih paham tentang perilaku seksual pada masa paruh baya (taela istilahnya… :P ), serta punya kiat-kiat bagaimana menghadapi anak-anak mereka yang seringkali bertanya tentang seks.  

Kemarin ini coba-coba lagi cari buku Beranda Kita di beberapa toko buku, tapi masih belum ketemu. Sebenarnya pengen juga beli bukunya lagi untuk koleksi, soalnya buku yang dulu dibeli itu sudah mulai tercerai berai lembarannya. Maklum aja, lem perekat bagian tengah buku sudah semakin kaku, dan mulai tidak mampu lagi menyatukan lembaran-lembaran buku yang sering dibuka tsb. Warna kertasnya pun sudah mulai berubah jadi putih tua :D dan dihiasi dengan coretan-coretan pensil di tempat yang ada ungkapan-ungkapan yang jadi lesson learned. 

Salut buat dr. Faisal Baraas (saat ini sudah SPKJ, kalau ga salah) atas karangan yang sangat bagus ini.  

Kalau ada yang tau dimana tempat belinya sekarang ini, tolong diinformasikan ya… :D  

28
Jul
07

goodreads

Udah beberapa hari ini pengen nulis tentang goodreads, tapi baru sampai niat… Tadi pagi setelah browsing internet, ternyata Fany baru aja nulis tentang topik ini. Hmm… keduluan Fany deh, tapi gpp kan?… better late than never (halah…..). 

Invitation untuk join goodreads sangat sederhana, cuma sepenggal kalimat undangan, tanpa gambar maupun banner apapun. Tapi ga tau kenapa, justru itu daya tariknya sehingga tanpa sadar (emangnya sambil pingsan? :razz: ), langsung klik-klik-klik, subscribe, login dan… langsung explore berbagai fitur yang ada di situ. 

Sepertinya situs ini ditujukan buat mereka yang seneng baca (dan seneng nginternet juga :smile: ). Mirip dengan Friendster, Multiply, atau Tagged, tapi rasanya goodreads punya kelebihan, khususnya dalam menghimpun para pencinta buku untuk menyampaikan review-nya terhadap buku-buku yang mereka baca, sehingga memudahkan orang lain untuk tau lebih banyak tentang buku tertentu. Tukar menukar informasi seperti ini rasanya punya added-value bagi yang nulis buku, bagi yang me-review buku, bagi yang baca buku, maupun bagi kita yang (lagi-lagi) baru niat untuk baca satu buku tertentu :grin: . 

Sebagai yang ga pernah punya katalog buku-buku apa saja yang dimiliki, maupun buku-buku apa saja yang sudah pernah dibaca, goodreads sangat membantu untuk menghimpun itu semua. Jadilah semaleman nginternet untuk mendaftarkan buku-buku apa saja yang pernah dibaca selama ini. Saat ini memang baru itu yang berhasil dilakukan. Untuk menulis review, hehehe… pastinya butuh waktu lagi, tapi untuk buku-buku yang menarik, ide-ide menulis rasanya sudah ada di kepala, tinggal nanti urusan menuangkannya saja. 

Dari nambah-nambahin daftar buku kemarin, baru sadar ternyata sudah banyak buku yang pernah dibaca. Padahal selama ini hobi ‘baca buku’ kayaknya mulai bergeser ke perilaku hanya ‘beli buku’ (beli mulu’, jarang ada yang sampai tamat bacanya, malah ada yang sampai sekarang masih terbungkus plastik :P ) dan lagi-lagi nyalahin waktu… 

Mudah-mudahan dengan adanya goodreads ini bisa bantu untuk lebih mendisiplinkan diri, atau paling tidak bisa bantu mengingatkan bahwa masih ada beberapa buku yang belum diselesaikan, dan pengennya sih… bisa me-review semua buku-buku tersebut; dan kalau bisa… juga membuat resensi dari buku-buku yang menarik untuk disimpan disini. Ga terlalu muluk-muluk kan cita-citanya?   :wink:  

21
Jul
07

Reaksi

Beberapa waktu yang lalu, Metro TV menyiarkan acara pemilihan kandidat Eagle Award, suatu ajang kreasi bagi para sineas muda untuk memproduksi film-film dokumenter. Sebenarnya ini hanya acara garis besarnya saja, bukan acara yang utuh seperti misalnya tayangan Miss Universe atau Piala Citra yang diputar utuh dan hanya sekali-sekali diselingi iklan. Durasinya juga cuma sebentar, minim sekali untuk bisa mencakup penampilan para peserta secara keseluruhan. Tapi isi acaranya menarik juga untuk disimak, bahkan untuk mengikuti alur presentasi, tanya jawab maupun proses diskusi dewan juri dalam menentukan pemenangnya.

Acara diakhiri dengan pengumuman 5 karya terbaik yang dipilih dari belasan karya yang diusulkan. Yang unik adalah cara pengumumannya yang membandingkan setiap 2 atau 3 film. Pada moment ini bisa dilihat berbagai macam reaksi peserta, antara yang kalah dan yang menang. Ada yang tertawa bahagia (itu biasa), ada yang diam kecewa (itu juga biasa), ada yang kaget, ada yang hanya komat-kamit mengucapkan “alhamdulillah”, dan banyak lagi. 

Dari seluruh reaksi peserta yang tidak berhasil, ada dua yang mengundang perhatian, yaitu yang langsung bereaksi pada rekan satu tim-nya dan mengatakan “tu kan…” seolah sudah yakin bahwa penampilannya kala itu memang tidak memuaskan (padahal hasilnya belum benar-benar diumumkan). Reaksinya benar-benar tidak enak dilihat, dan memang bukan itu yang disorot oleh kamera :D . Secara tidak sadar, mungkin kita (atau saya) pernah juga bereaksi seperti itu. Seakan menyalahkan diri sendiri bahwa penampilan pada presentasi yang dibawakan tidak maksimal. Sepertinya sibuk dengan mencari-cari alasan ketidakberhasilan, dan membuat lingkungan sekitar juga menjadi tidak nyaman.  

Reaksi yang satu lagi adalah yang diam, hanya tersenyum tulus dan langsung memberi salam selamat pada rekan lainnya yang berhasil. Hebat, begitu berbesar hati, dan rasanya itu adalah reaksi spontan yang memang tidak dibuat-buat. Hmm… ingin rasanya bisa sespontan itu. Kalah atau ketidakberhasilan memang bukan sesuatu yang menyenangkan, tapi bukan itu yang harus difokuskan. Berpikir bahwa ternyata ada yang lebih baik dari kita, serta keyakinan bahwa kita juga akan mampu berkarya seperti mereka tentunya akan membawa kita pada kualitas semangat yang positif dan dapat memancar pada lingkungan yang ada di sekitar kita.   

15
Jul
07

Aksara

Ini bukan tulisan tentang toko buku, bukan juga tentang buku… ini benar-benar tentang aksara, tentang huruf. Kurang indah rasanya kalau judul tulisan diberi nama “huruf”, sepertinya kurang pas, karena yang akan dibahas lebih banyak huruf “a”, abjad pertama, dan yang juga paling dominan ada di “aksara” J. 

Apalah makna sapa kata sang raja
Kala tak ada tawa dan canda
Banyaknya kawan tak ada yg sama
Hanya harapkan sahabat lama 

Hahaha… jangan hanya nganga-nganga bacanya…
akankah kayanya karangan Aksara A
dapatkan makna wahana karya… 

(Jakarta yang panas, Ahad malam) :D  
… rada-rada maksa ya? 

Kayaknya deraan kerjaan memang lagi surut… entah surut, entah cuek :P tapi karangan di atas memang sengaja dibuat sekedar menjadi lambang bahwa huruf A dapat berkreasi membentuk kata, membentuk kalimat yang ada maknanya. Tanpa bantuan vokal I, U, E maupun O, ternyata sang “A” punya kemampuan yang kaya.  

Ya… perumpamaan ini juga lebih untuk menunjukkan bahwa tak perlu cari-cari alasan untuk “tidak bergerak” atau “tidak berkreasi” hanya karena kurangnya sarana/prasarana saja. Dengan kondisi dan sarana yang seadanya, apapun dapat dikreasikan.  Kreativitas tak pernah ada batasnya selagi kita mau untuk menekuninya.

Percaya deh ;)

13
Jul
07

Pengalaman vs Peng-lama-an

Masih soal waktu… Kemarin ini (maksudnya beberapa minggu yang lalu), ada yang bertanya untuk menceritakan pengalaman di organisasi. Sejenak tidak ada jawaban, kemudian dia berkomentar, apakah selama ini memang tidak ada pengalaman yang dirasakan? Jadi keberadaan di organisasi hanya sekedar penglamaan saja? 

Is it true? – Menarik untuk disimak, kalau memang tidak ada sesuatu yang dapat diambil manfaatnya, bukankan itu hanya sekedar menjalani waktu, mengulang ritual yang sama dari hari ke hari? 

Dulu, rasanya masih rajin untuk mencari makna, untuk mencari pelajaran apa yang didapat dari setiap kegiatan, bahkan dari kegiatan yang sebenarnya hanya dibuat untuk mengisi waktu luang… upaya untuk mencari esensi dari setiap kegiatan itu selalu ada. Sekarang, apakah memang sudah sedemikian sibuk, sudah sedemikian seringnya mengalami kejadian yang rasanya seperti terus berulang, hal itu jadi tidak lagi dilakukan? 

Ya… mungkin ada sesuatu yang terlupakan, yang membuat waktu berjalan cepat begitu saja. Perlu mulai diasah kembali nih… supaya perjalanan waktu jadi lebih bermakna, menuai pengalaman-pengalaman berharga, dan tidak hanya sekedar penglamaan berada di dunia fana.

11
Jul
07

suddenly

Bukan hal yang tiba-tiba sudah ketemu “Juli” lagi, bukan hal yang tiba-tiba juga kalau tulisan mulai terangkai kembali. Tidak ada hujan, tidak ada badai, hanya sedikit keinginan untuk menentukan topik serta sekumpulan sisa-sisa energi untuk menggerakkan jari jemari agar mulai menari di atas keyboard :D  

Topik-topik penulisan seringkali muncul, tapi seringkali juga mentok hanya sampai di pikiran, tanpa ada bekas-bekas nyata yang bisa ditelusuri kembali. 

Tidak perlu cari-cari alasan, tidak perlu juga cari-cari penjelasan rasional… yang pasti sulit sekali untuk mulai bisa teratur atau terencana menceritakan rangkaian kejadian serta pemikiran yang (sayangnya) justru sering datang tiba-tiba. Padahal semuanya berlalu secara teratur, sehari tetap berisi 24 jam, tidak kurang, tidak lebih. 

Sudah berlalu satu film, tulisan ini belum sampai 10 kalimat. Susah juga fokus cerita, susah juga mau teratur, tapi keyakinan di hati selalu bilang bahwa tidak ada yang mustahil untuk dilakukan, “dimana ada kemauan, di situ ada jalan”. 

Ngomong apa sih nih? beberapa bulan ga nulis, sekalinya nulis jadi kayak orang schizophren… hehehe  :P  




 

Juli 2007
S S R K J S M
« Mar   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Blog Stats

  • 47,245 hits

Others

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

visitor stats

PageRank

my 'read' shelf:
 my read shelf

Click to view my Personality Profile page