Arsip untuk Agustus, 2007

29
Agu
07

Orang-orang Proyek

OOPKisah yang mengacu pada lika liku kehidupan orang-orang proyek di awal th 90-an, pd masa orde baru, diceritakan secara lugas dan gamblang oleh pengarangnya. Suasana pedesaan tempat proyek itu dijalankan juga digambarkan secara detil, lengkap dengan gemericik air sungai, suara suling bambu, dan nyanyian asmarandana-nya.   

Buku ini juga mengandung kritik-kritik sosial sehubungan dengan proyek-proyek pemerintah dan kehidupan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Hal yang mungkin sangat sering terjadi pada masa itu. Bukan hal yang aneh lagi soal penggelembungan dana proyek maupun berbagai bentuk korupsi lainnya, namun jarang sekali ada yang punya kekuatan untuk melawannya. Jangankan untuk melawan secara langsung, untuk menceritakan faktanya pun perlu kata-kata halus dan ungkapan-ungkapan simbolis agar dapat diterbitkan. Kata-kata frontal seringkali berbuah pencekalan, mulai dari penarikan kembali buku yang telah dicetak, pencabutan surat ijin penerbit, bahkan sampai pembatasan kebebasan berpendapat. 

Kalau dulu bisa dikatakan bahwa hampir setiap proyek punya cerita yang sama soal ‘tikus-tikus korupsi’, maka masuk era reformasi sekarang ini, pola-pola lama seperti itu sudah agak berkurang. Tapi entahlah, mungkin masih tetap ada namun dengan cara-cara yang berbeda (orang-orang proyek pasti lebih tau :) ), dan yang pasti kasus-kasus seperti ini sudah bukan barang baru lagi, karena sudah jadi pembicaraan umum dan tampaknya sudah dianggap hal biasa bagi sebagian pelaku maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya. 

Kembali ke buku “Orang-orang Proyek” karangan Ahmad Tohari, isi cerita yang dituturkan agaknya kurang begitu mengena pada khalayak pembaca di era reformasi ini. Cerita tentang insinyur yang memegang teguh idealisme, tentang bapak kepala desa yang tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi konflik moril dan tekanan dari lingkungan, serta tentang pengaruh partai yang ikut merongrong dana proyek, bisa dibilang bukan sesuatu hal yang aneh lagi. Kalau buku ini terbit pada masa yang lalu di era orde baru, mungkin akan berbeda kesan yang ditimbulkannya. 

Satu lagi yang juga bikin agak kurang sreg, yaitu penggambaran wanita desa yang sedemikian lugu-nya dan ingin dinikahi oleh tukang insinyur yang kerja di desa. Oh no… apakah seperti itu sifat kaum hawa di Indonesia? Ga terima banget deh :P  

Yah… meskipun kritik-kritik sosial tersebut agak kurang pas dengan kondisi lingkungan saat ini, namun kekuatan Ahmad Tohari dalam hal menceritakan detil kehidupan alam pedesaan sangat mengagumkan. Pemilihan kata-katanya sederhana, namun bisa mengajak pembaca menghayati bahwa alam Indonesia itu betul-betul indah.  

23
Agu
07

Susahnya menyamar

“Apalah arti sebuah nama?” – itu adalah sebuah pepatah. Nah, kalau nama samaran? Kenapa sih harus pusing-pusing buat nama samaran? Harus pakai nama samaran? Sebegitu pentingnya kah? 

Kalau nama diibaratkan dengan identitas, hmm.. berapa identitas yang ada di diri Anda yang punya banyak nama samaran? Kalau ternyata orangnya itu-itu aja, sifatnya sama, produk-nya sama juga, apa bedanya nama asli dan nama samaran? 

Sybil aja yang punya 16 kepribadian, ternyata punya nama yang beda-beda juga :P  

Terkadang seorang anak kecil memakai nama samaran karena meng-idola-kan tokoh tertentu, sehingga dia berpura-pura menjadi tokoh tersebut dan mencontoh sifat serta perilaku sang idola. Saat remaja, yang dikenal juga dengan saatnya mencari identitas diri, nama samaran digunakan sambil mencari bentuk pribadi yang pas, identitas yang cocok untuk dipakai sebagai lambang pribadi yang akan diperkenalkan pada lingkungan :D . Semakin dewasa, semakin banyak pula motivasi seseorang dalam memakai nama samaran. Khusus bagi seorang penulis, nama samaran digunakan untuk menutupi identitas asli, mungkin saja karena tidak ingin penilaian orang terhadap tulisannya dipengaruhi oleh penilaian mereka terhadap pribadinya. Orang-orang memang suka tidak adil, tulisan dari seorang penulis yang juga artis terkenal biasanya mendapat kesempatan pertama untuk dibaca, daripada tulisan seorang awam yang ‘bukan siapa-siapa’  (kok jadi terkesan ngiri sama keberuntungan artis ya? :lol: ) 

Banyak sekali sebenarnya alasan menggunakan nama samaran, dan yang pasti nama ini dipakai sedikit banyak adalah untuk menutupi identitas asli. Is it? 

Tapi nama samaran juga tidak mutlak, artinya tidak semua orang merasa perlu memakai nama samaran; ada juga yang tidak mau pusing memilih nama samaran apa yang cocok untuk dirinya. Selain karena nama aslinya sudah cukup ‘well-known’ :) , bisa juga karena ingin supaya orang bisa menilai dia melalui tulisannya. 

Buat saya sendiri, ternyata tidak mudah memakai nama samaran; pertama, karena nama samaran hanya dibuat sekedar ikut-ikutan dan gaya-gayaan saja; kedua, tidak ada identitas atau ciri tertentu yang ingin diwakili oleh nama tersebut :P , sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, nama samaran itu berganti-ganti menjadi nama samaran yang lain sesuai perkembangan jaman :P   hmm, jangan-jangan identitas saya berubah-ubah juga nih ;)  

Hidup udah pusing kok pengen tambah pusing? Ga usah lah yaw… :P

Thanks to Nukov for the inspiration ;)

18
Agu
07

“Komunikasi dengan anak”, prakteknya tidak semudah teori

Terinspirasi dari tulisan di sebuah blog pagi ini, tiba-tiba jadi pengen nulis soal komunikasi orangtua-anak di era kemerdekaan saat ini *sok nyambung-nyambungin dengan suasana 17-an*. Yang dimaksud dengan era kemerdekaan itu adalah era modern sekarang ini, saat kesenjangan generasi tidak lagi dianggap sebagai penghalang untuk mengemukakan suatu pendapat.

Keluarga-keluarga sekarang ini terlihat lebih menerapkan suasana yang terbuka, bicara terbuka antara seluruh anggota keluarga. Sedikit berbeda dengan era yang lalu, saat orang tua dan anak terkadang punya hambatan untuk berkomunikasi dengan lancar dan terbuka. Mungkin tidak semua keluarga begitu, tapi sepertinya sebagian besar keluarga menerapkan pola yang kurang lebih demikian. Tidak semua hal dapat dibicarakan dengan orang tua. Anak perlu memilah-milah dulu, apa saja yang bisa disampaikan atau ditanyakan kepada orang tua. Ada kalanya orang tua terlihat agak ‘kesal’ karena tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan anaknya. Orang tua sebagai tokoh otoritas dalam keluarga seringkali menempatkan diri sebagai tokoh panutan yang selalu tahu dan tidak terbantahkan.

Perkembangan jaman yang pesat sekarang ini turut memberi andil pula dalam kehidupan keluarga. Keluarga-keluarga lebih demokratis, komunikasi antara ayah-ibu dan anak lebih terbuka. Tapi, dari beberapa diskusi dengan keluarga-keluarga muda, ternyata tidak semua hal dapat mereka bicarakan dengan anggota keluarga yang lain. Seorang ayah / suami kadang tidak dapat bercerita terbuka pada sang ibu / istrinya, atau sebaliknya. Kadang mereka pun tidak dapat berbicara terbuka dengan anak-anaknya. Disini pembahasan akan dibatasi pada komunikasi orang tua-anak saja.

Lanjutkan membaca ‘“Komunikasi dengan anak”, prakteknya tidak semudah teori’

17
Agu
07

Sebuah cerita tentang buku (2)

(sambungan) 

Buku Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken ini sebenarnya dapat jadi konsumsi bagi semua jenjang usia. Bagi sebagian orang (termasuk anak-anak), fantasi petualangan Berit dan Nils tampak lebih mengasikkan; bagaimana kedua saudara ini mengatur strategi untuk membongkar rahasia Bibbi Bokken, seorang wanita yang mereka anggap misterius. Sementara itu bagi sebagian orang lainnya ungkapan-ungkapan filsafat dalam buku ini mengandung makna yang jauh lebih berarti. 

Tetesan itu

tak

tergantung di sana

(Puisi dari Tor Åge Bringsværd)  

Kalau kita bayangkan tetesan pada talang air, bergelantungan, tapi sebelum dapat diperhatikan lebih seksama, tetesan itu sudah tak tergantung lagi di sana. Enam patah kata ini menceritakan apa yang terjadi di seluruh dunia, bahwa segala sesuatu selalu berubah. *daleemm..* 

… fantasi tak berbeda dengan kebohongan… Jika fantasi sama dengan kebohongan, para penulis mestinya merupakan pembohong yang paling antusias. … mereka hidup dari situ dan orang-orang dengan sukarela membeli cerita hasil kebohongan mereka. … beberapa orang senang berbohong, sedangkan yang lain senang dibohongi.  

Ungkapan ini sebenarnya sederhana, namun punya makna yang lebih luas. Seperti ungkapan seorang teman, sebagai penulis, kita dituntut untuk memiliki imajinasi. Biarkan pikiran kita melayang setinggi-tingginya, berfantasi seluas-luasnya, baru setelah itu kita mulai menulis. Apakah itu kebohongan atau bukan, itu lain soal… ;) Simak dulu ungkapan berikut ini: 

Dalam setiap masyarakat, dibangun gedung-gedung besar yang di dalamnya kebohongan berkumpul berbaris, dan kita menyebutnya perpustakaan. … tidak semua yang tertuang dalam buku adalah kebohongan. Bahkan, dalam satu buku, kebenaran dan fantasi boleh jadi malah berdampingan.  

Ya, saat kita menceritakan suatu kejadian yang sebenarnya, tentunya paparan kita lebih berupa kebenaran. Kebenaran maupun fantasi perlu diceritakan secara jelas, agar semuanya tampak seperti sungguhan. Suatu karangan dianggap punya kekuatan bila dapat bercerita secara sungguh-sungguh sehingga dapat membawa pembaca seolah-olah berada dalam situasi yang nyata. 

Kemudian mengapa jadi perpustakaan ajaib? 

Jawabannya secara gamblang dijelaskan dalam bab 2 buku ini. Ajaib, karena fantasi pemikiran Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup ini betul-betul orisinil, hebat ! Novel filsafat ringan yang dikemas dalam petualangan dua bersaudara ini sungguh jadi sajian hangat di akhir minggu… :D  

16
Agu
07

Sebuah cerita tentang buku (1)

“Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku,

aku akan bisa menguak sepetak langit.

Dan jika aku membaca sebuah kelimat baru,

aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya.

Dan segala yang kubaca akan membuat dunia

dan diriku menjadi lebih besar dan luas.”

(Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup) 

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken 

Sebuah novel terjemahan ber-setting negara Norwegia ini, hanya terdiri dari 2 bab saja. Bab pertama bertema ‘buku-surat’ berisi tentang buku yang berisi surat menyurat antara dua orang saudara, Berit dan Nils Bøyum Torgersen yang dikirim dari Oslo ke Fjærland pp. Bab kedua bertema ‘perpustakaan’, isinya lebih menceritakan tentang rangkaian potongan-potongan cerita yang ada pada bab sebelumnya.

(Baru baca mengenai ‘buku-surat’ ini, langsung teringat bahwa duluuu pernah juga melakukan hal yang sama, semasa kelas 3 SMP dengan seorang sahabat di kelas sebelah :) . Menyenangkan, karena kita bisa bercerita apa saja, mulai dari ngomongin pelajaran sampai ke gosip-gosip seputar kita. Ada semacam aturan yang kita sepakati pada waktu itu, bahwa setiap orang akan dikenai denda apabila tidak menjawab pertanyaan yang ditanya pada surat sebelumnya. Dendanya hanya 50 rupiah, dan itu kita kumpulkan untuk membeli buku-surat yang baru, bila buku yang lama sudah habis terisi semua. Sekarang buku itu sudah tinggal cerita, ga tau lagi dimana keberadaanya :D )

Setiap surat Berit dan Nils ini berisi sebuah cerita pendek yang dapat berupa pengalaman, khayalan, maupun kesan-kesan dari kedua orang saudara tersebut. Cerita-cerita itu kadang tidak saling terkait, namun erat melengkapi jalannya cerita secara keseluruhan. Ada cerita tentang Anne Frank, Winnie the Pooh, Peer Gynt, maupun cerita tentang klasifikasi desimal Dewey, seorang yang mengembangkan sistem katalog untuk perpustakaan. Secara sederhana, buku ini bercerita tentang petualangan kedua bersaudara Bøyum Torgersen, namun bila disimak lebih dalam ternyata ada juga unsur filsafat yang terkandung di dalamnya. 

Sebagai buku dengan tokoh anak-anak, bahasa yang digunakan tampaknya bukan pilihan kata yang umum untuk kanak-kanak, karena ditulis dalam kata-kata bahasa Indonesia baku. Buku ini jadi agak berat sebagai bacaan anak atau remaja. … ketika kau menulis betapa aku telah menorehkan “luka yang dalam pada jiwamu”, aku nyaris meraung. – hmm… berat…  Mungkin sulit bagi penerjemahnya untuk mencari kata-kata sederhana yang pas dalam bahasa Indonesia.

(bersambung)

11
Agu
07

antara kerja dan penghasilan

Lucu juga, dari suatu blog yang baru saja dibaca, banyak orang yang tergiur dengan penghasilan besar, meskipun harus rela kerja jauh dari tanah air, negara tercinta (yang entah mencintai kita juga atau tidak :P ) Demi gaji besar, dan semua yang berbau materi, mau untuk bersusah-susah kerja di Timur Tengah sana, di perusahaan minyak ataupun telco yang konon katanya menjanjikan penghasilan yang jauh dari yang bisa didapat di Indonesia. Kadang berasa salah jurusan nih, hehehe…

Baca komentar-komentar di blog ini kadang agak capek, mungkin juga karena merasa terlalu jauh kalau berangan-angan bisa kerja di perusahaan minyak atau telco di Timur Tengah (lha kan background-nya bukan perminyakan atau telco :P ) 

Trus baca lagi blognya mas Budi, ternyata ada juga lho orang-orang yang rela bekerja keras untuk sesuatu yang entah dapat menghasilkan uang atau tidak. Mereka lebih mengutamakan kepuasan, terutama kepuasan terhadap diri sendiri jika dapat menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik dan tepat waktu. Mas Budi bilang, ini kumpulannya orang gila… mungkin bukan gila, tapi memang abnormal, tidak seperti orang-orang lain pada umumnya (soalnya populasinya mungkin juga tidak banyak). 

Baca blog ini, bisa senyum-senyum sendiri, mirip dengan yang pernah dialami. Tapi ga mau disebut orang gila… :D  

Ada kesimpulan sederhana nih kayaknya,

Saat kita merasa sukses (secara materi), baca-baca lagi blog yang pertama untuk mengingatkan kita bahwa penghasilan kita masih jauh dibandingkan mereka-mereka yang kerja di Timur Tengah sana. Jadi, ga usah sombong…

Saat kita merasa sudah kerja keras 7×24 jam seminggu, dan merasa tidak imbang dengan penghasilan sekarang, baca-baca lagi blog nya mas Budi, karena ada juga orang-orang yang kerjanya udah siang malem tapi ga dijamin bisa BEP atau engga, namun mereka tetap eksis, tetap kerja, tanpa mengutamakan materi. Jadi, jangan terus mengeluh, bersyukurlah dengan penghasilanmu yang sekarang ;)  

10
Agu
07

passion

Di saat tidak jelas apa yang ingin ditonton, channel TV seperti biasa terprogram terus di MetroTV. Acaranya bisa bagus, bisa tidak, yang pasti bisa mengusir kesunyian :D . Tiba-tiba dari acara talkshow tentang pendidikan terdengar kalimat ini, “Belajar itu harus ada passion-nya…” Hal ini ditegaskan lagi oleh bang Pe’ di milis yang juga bicara tentang passion, bahwa ada orang-orang yang suka mengerjakan sesuatu dengan penuh gairah sehingga dia bisa berjam-jam melakukan kesenangannya itu. 

Apa sih passion itu? dan sedemikian powerful-nya kan dia? 

Menurut Wikipedia, Passion is emotion of feeling very strongly about a subject. Hmm… kalau gitu kayaknya tidak cuma untuk belajar, setiap kegiatan perlu ada passion supaya menimbulkan minat untuk menekuni kegiatan tesebut. 

Pantes aja, kalaupun tugas lagi seabreg-abreg, atau ujian udah tinggal beberapa jam lagi, kegiatan-kegiatan ga penting seperti baca buku cerita, atau jalin menjalin benang warna warni untuk dibikin jadi gelang rasanya jauh lebih menarik daripada belajar nyiapin ujian ;)

Masalah apakah nanti akan stress gara-gara ujian ga bisa, atau dimarahin bos karena tugas ga selesai, itu sih perkara lain, yang penting hati jadi senaaang ;)  dan kita punya energi lagi untuk melakukan hal-hal lain yang mungkin kurang menyenangkan… :P  

Seorang psychotherapist pernah berkata, “…when you do something with passion, just do it, it’s very healthy for you life.” 




 

Agustus 2007
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Blog Stats

  • 47,107 hits

Others

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

visitor stats

PageRank

my 'read' shelf:
 my read shelf

Click to view my Personality Profile page