RSS

Arsip Bulanan: September 2007

ilusi mengukur stress (2)

Sebagai lanjutan dari artikel sebelumnya, disini saya ingin bercerita sedikit tentang ilusi. Ilusi seringkali dianggap sebagai suatu kesalahan penangkapan (distorsi) dari stimulus yang diterima otak. Ada berbagai jenis ilusi, mulai dari ilusi penglihatan, ilusi pendengaran, ilusi penciuman, dsb. Pada artikel yang lama, ilusi yang dibahas adalah ilusi penglihatan atau ilusi optik.

Sekedar untuk mengingat, saya sertakan juga satu gambar lagi :) dari situs yang sama.

pic-3.jpg

Ilusi optik ini terjadi karena kesalahan penangkapan mata manusia. Gambar-gambar di atas adalah gambar yang statis, namun terlihat seperti bergerak. Jika mata kita difokuskan pada satu titik, daerah yang kita perhatikan tidak bergerak, namun daerah sekitarnya seolah bergerak-gerak. Hal ini merupakan efek yang terjadi pada mata atau otak setelah mendapatkan rangsangan tertentu (melihat gambar tersebut secara keseluruhan). Tentunya jika kita hanya melihat gambar tersebut sebagian, efek gerakan tidak akan terjadi.

Apakah ilusi ini berhubungan dengan stress?

Berdasarkan pencarian data kemarin, sampai saat ini saya belum menemukan informasi ilmiah mengenai adanya hubungan antara ilusi dan stress. Belum ada juga penelitian yang menyatakan bahwa efek gerakan yang dilihat seseorang itu lebih cepat atau lebih lambat dari orang lain. Kesimpulan yang bisa saya ambil saat ini hanyalah bahwa jika seseorang berada dalam keadaan yang kurang ‘fit’, kemungkinan dia akan melihat pergerakan gambar yang lebih cepat dari biasanya. Kondisi tubuh yang lelah dapat mempengaruhi kerja otak saat menerima stimulus-stimulus yang datang. Efek yang terjadi mungkin orang tersebut malah jadi pusing melihat gambar ini karena seperti bergerak-gerak. Selain itu orang yang berada dalam keadaan stress pun seringkali mengalami gejala serupa (kondisi badan yang kurang “fit”).

Mungkin itu juga yang membuat orang mengatakan bahwa dalam keadaan stress, gambar yang dilihat seolah-olah bergerak dengan sangat cepat. Hmm… mungkin penjelasan dari sisi kedokteran, tentang syaraf dsb akan bisa lebih membantu ;)

Gambar-gambar ilusi optik lainnya, dapat dilihat disini, beberapa diantaranya  juga bisa dijadikan wallpaper  (dengan catatan, asal gak pusing sendiri :P )

 
27 Comments

Posted by pada September 29, 2007 in psikologi

 

macet yang produktif

Pagi-pagi, di saat berjibaku dengan kendaraan lain mencari ruang kosong untuk maju mencapai lokasi kerja :D , Spyra nanya lagi, “… kalau lagi macet gini, biasanya ngapain?”

Hmm… mulai deh dipikirkan, kemarin-kemarin dan juga hari ini, ngapain aja ya kalau lagi macet? Ternyata memang saat-saat macet begitu adalah waktu yang paling “pas” untuk berpikir (maksudnya ngelamun), mencari ide untuk jadi bahan tulisan di blog. Selama macet-nya masih bisa di-toleransi, biasanya ide-ide yang muncul pun masih konstruktif; begitu sampai di tujuan maunya langsung buru-buru nulis, sebelum ide-ide menguap dan terasa jadi kurang relevan lagi untuk di-posting.

Namun kalau macetnya sudah diluar batas toleransi, rasanya ide-ide bagus yang tadinya akan diwujudkan sebagai satu artikel, tiba-tiba jadi berantakan, !@#$%^&*()… begitu sampai tujuan, suasana hati jadi gak keruan. Jangankan untuk meng-update blog, untuk menekuni pekerjaan sehari-hari pun perlu extra effort :P

Jadi, kalau blog ini mulai tidak ter-update, bisa berarti bahwa perjalanan rumah-kantor sangat lancar sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan (melamunkan) topik yang bisa dijadikan materi tulisan; atau bisa juga berarti bahwa perjalanan rumah-kantor begitu macetnya, sehingga ide-ide yang tadinya tertata berubah jadi berantakan.

Ternyata… macet juga bisa jadi pemicu untuk lebih produktif ;)

 
Leave a comment

Posted by pada September 28, 2007 in activity, monolog

 

berdamai dengan kemacetan

macet.JPG

Bicara soal kemacetan yang sering ditemui, tampaknya sudah bukan hal yang aneh lagi bagi penduduk di kota-kota besar, namun yang pasti macet bukanlah suatu kondisi/keadaan yang menyenangkan. Sewaktu masih beraktivitas di Bandung, saya berusaha untuk pergi sekolah atau kerja pada jam-jam sebelum kondisi jalan menjadi ramai. Kalaupun keramaian mulai menjelma jadi macet, saya bereksperimen dengan mencari jalan-jalan pintas sehingga tidak perlu mengalami kemacetan yang parah. Saat menggunakan angkot-pun saya akan mencari rute-rute yang tidak macet. Agak jauh/memutar sedikit tidak apa-apa, asalkan tidak harus terpanggang siang-siang dalam angkot :P   Akhir minggu, di saat banyak penduduk kota lain berkunjung dan ikut meramaikan jalanan kota Bandung, seringkali saya memutuskan untuk menikmati hari libur di rumah saja.  

Tidak setiap saat saya bisa menghindari kemacetan, karena pada waktu-waktu tertentu saya harus berada di jalan pada saat yang sama dengan sebagian besar penduduk Bandung. Kemacetan sudah siap menghadang. Di situasi seperti inilah saya merasa perlu untuk menyiapkan diri dan menerima kenyataan bahwa Bandung memang padat, semua orang punya kepentingan yang sama untuk berada di jalan pada saat yang sama pula :D Dengan menyiapkan mental-set seperti ini, akhirnya macet tidak terlalu dirasakan sebagai hal yang tidak enak. Saya dapat mentolerir waktu tempuh yang harusnya 30 menit, jadi 60 menit (misalnya) gara-gara macet. Ketika waktu tempuhnya menjadi 4 kalinya (misalnya jadi 2 jam), barulah perasaan tidak enak itu muncul, dan saya juga mencoba untuk mencari alasan penyebabnya. Biasanya itu karena hujan/banjir, karena ada kecelakaan, dsb. 

Menjadi commuter di Jakarta, saya juga bersiap menghadapi kondisi jalanan ibu kota. Toleransi waktu tempuh disetel, sehingga saya bisa menerima (dpl. tidak complain) kalau waktu tempuh ke suatu tempat dalam kondisi macet jadi lebih lama 2 sampai 3 kali lipat dari waktu tempuh normal. Cara ini cukup efektif juga, paling tidak bisa membuat mood tetap terjaga meskipun perjalanan sedikit mengalami hambatan. 

Dari pengalaman seorang teman yang semasa kecil sampai dengan sarjana tinggal di Inggris mengatakan bahwa dia tidak merasa terganggu dengan suasana macetnya ibu kota, asalkan dia ditemani dengan radio/musik selama mengemudi mobil. Berbagai cara bisa dilakukan untuk mengatasi rasa tidak nyaman akibat situasi macet. 

Hmm… situasi yang tidak enak, kalau disikapi dengan cara yang “pas” ternyata bisa juga dinikmati :P   Yahh… paling tidak kan bisa mencegah darah tinggi maupun meledaknya emosi gara-gara kondisi jalan yang kurang bersahabat itu. 

Ketika kemarin melihat dengan mata kepala sendiri padatnya lalu lintas Jakarta yang semakin hiruk pikuk karena adanya Car Free Day serta pembangunan jalur busway yang terbentang di hampir seluruh penjuru kota, saya jadi berpikir, bagaimana lagi ya caranya untuk bisa berdamai dengan situasi kemacetan yang semakin menjadi-jadi ini? 

Peace, do not complain :P

 
6 Comments

Posted by pada September 26, 2007 in monolog, opini

 

Membaca atau bacaan?

Bukan hal yang aneh lagi kalau terdengar issue bahwa “banyak orang yang kurang suka membaca”. Blog Rendy baru-baru ini juga mengulas topik tersebut, bahkan disertai fakta bahwa 90% komplain di perusahaannya bersumber dari keengganan pelanggan-nya untuk membaca. Hmm… angka yang fantastis, meskipun ini mungkin bukan didasari dengan perhitungan statistik yang akurat, namun cukup menggambarkan bahwa persoalan-persoalan yang terjadi selama ini lebih banyak bersumber dari orang-orang yang kurang membaca buku petunjuk, kontrak, dll. Sebuah contoh pengalaman yang menarik juga ketika ada seorang pelanggan yang rela menghabiskan dananya untuk menelpon (interlokal) customer service dan meminta penjelasan secara lisan, dibandingkan membaca sendiri buku petunjuk yang sudah ada dimilikinya.

Membaca sebenarnya sudah menjadi kemampuan seseorang sejak kecil. Kita juga biasa melihat seorang anak yang baru mulai belajar membaca seringkali mengeja dan membaca setiap tulisan yang ditemuinya. Rasa ingin tahu seseorang mendorong untuk mengetahui dan memahami berbagai bacaan yang ditemui. Membaca akan semakin menarik kalau ada rasa ingin tahu terhadap bahan bacaan yang tersedia. Jenis, bentuk, dan ukuran huruf, serta warna maupun gambar-gambar yang ada juga memicu ketertarikan seseorang terhadap bahan bacaan tersebut.

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang jadi malas membaca, salah satunya adalah karena bahan bacaannya yang kurang menarik. Tulisan yang terlalu kecil dan rapat-rapat, atau buku lusuh yang sudah tercerai berai pastinya tidak membangkitkan minat orang untuk membaca. Selain itu rasa ingin tahu yang makin berkurang juga membuat seseorang merasa bahwa ia telah mengetahui banyak hal. Buku seringkali dianggap terlalu teoretis, sehingga mereka lebih sering mengikuti perbincangan atau diskusi-diskusi yang ada, daripada menggali ilmu melalui bahan bacaan. Alasan lain yang sering kita dengar juga adalah tidak adanya waktu untuk membaca buku (is it?).

Dalam membaca tampaknya kita perlu melakukan sistem “skipping and scanning”. Kita perlu melatih diri untuk mampu membaca secara cepat dan mengambil inti sari dari bahan yang kita baca tersebut. Caranya? tentunya dengan rajin berlatih membaca :D Kita bisa tahu hal-hal yang penting dan kurang penting kalau kita sering membaca. Memang benar, penting bagi seseorang belum tentu penting bagi orang yang lain, karenanya jangan khawatir kalau inti sari bahan bacaan yang kita buat berbeda dari inti sari yang dibuat orang lain untuk bacaan yang sama. Setiap orang pasti punya ketertarikan yang berbeda-beda (that is human being :) ).

Para blogger yang hobi blogwalking, pastinya punya kemampuan yang sama dalam hal membaca. Kalaupun ada yang lebih suka baca blog daripada baca buku, itu mungkin karena weblog lebih menarik daripada kumpulan kertas berlembar-lembar yang terkadang juga berat dan dirasa monoton. Bukan hal yang aneh kalau blog dengan layout “menarik” lebih mengundang kita untuk membaca. Demikian pula dengan bahan bacaan, baik itu textbook, manual book, novel, dll. Buku-buku dengan halaman depan (cover) menarik, bentuk dan ukuran huruf yang mudah dibaca, akan mengundang rasa ingin tahu seseorang. Kesan pertama terhadap buku-buku tersebut akan menentukan apakah seseorang akan meneruskan membaca untuk mengetahui isi buku tersebut atau tidak.

Kembali lagi pada contoh di atas, rasanya perlu ditelaah pula, apakah memang benar masalahnya terletak pada keenggan pelanggan untuk membaca, atau karena bahan bacaannya yang sulit dipahami oleh orang awam.

Jadi, apakah kita kurang suka membaca, atau kurang bisa memilih bahan bacaan? :P

 
4 Comments

Posted by pada September 22, 2007 in activity, opini, psikologi

 

ilusi mengukur stress

*diambil dari milis, bisa juga lihat disini* 

Gambar-gambar ini dipergunakan untuk mengetahui level stress yang dapat ditangani seseorang. Semakin perlahan pergerakan gambarnya, semakin baik kemampuan seseorang mengatasi stress.

Seorang guru mengatakan “saya merasa gambarnya bergerak tetapi perlahan, seperti bernafas”. Seorang kriminal yang pernah di test mengatakan gambar-gambar tersebut berputar sangat cepat. Seorang usia lanjut dan anak-anak mengatakan gambatnya tidak bergerak. Gambar-gambar ini tidak ada yang animasi, semua adalah gambar statis.

Silakan mencoba :)

pic-11.jpg

pic-2.jpg

Bagaimana?

bergerak atau tidak bergerak? pusing? bingung?

Sedikit penjelasan, ada disini :P

 
7 Comments

Posted by pada September 19, 2007 in psikologi

 

tempat sampahnya dimana?

Kejadian yang paling sukses bikin saya kesal dan dongkol adalah kalau melihat ada orang yang buang sampah sembarangan.

Sebenarnya dulu saya juga punya kebiasaan (buruk) yang sama seperti mereka yang sering buang sampah sembarangan. Waktu itu saya selalu beralasan dengan mengatakan bahwa saya hanya sekedar ‘menitipkan’ benda-benda yang tidak terpakai itu (dpl. sampah) di tempat-tempat sembarangan. Tentunya sambil berharap nanti akan dibersihkan oleh petugas kebersihan. Mulai dari ‘nitip’ kertas bungkus siomay di samping jendela kelas, sampai dengan nitip kulit jeruk di depan etalase toko seputar Braga (waktu itu Braga merupakan daerah pertokoan elit di Bandung).

Saat mulai memasuki dunia kuliah, saya berkenalan dengan seorang teman yang berasal dari Bogor, menurut saya dia punya kebiasaan yang unik. Dia sering mengantongi sampah-sampah kertas yang tersisa setelah kita berdiskusi, bentuknya bisa mulai dari sobekan-sobekan kertas, sampai dengan lipatan-lipatan kertas serupa pesawat terbang. Memang pada waktu itu Bogor meraih piala Adipura, sebagai kota terbersih sekotamadya (kalau tidak salah). Dia mengatakan bahwa kebiasaannya mengumpulkan sampah dan membuangnya nanti pada tempat yang semestinya sudah merupakan kebiasaan yang dilakukan juga oleh teman-temannya di Bogor. Mulai dari situ, ada perasaan malu dan menyesal dengan kebiasaan-kebiasaan buruk selama itu. Peristiwa membuang kertas bungkus siomay dan kulit jeruk itu merupakan hal yang paling sulit dilupakan.

Sejak itu, saya mulai tertib untuk buang sampah pada tempatnya. Awalnya bukan hal yang mudah, karena kadang saya masih suka membuang dengan cara melempar sampah dengan sasaran tong sampah (tentunya). Tapi kalau meleset, dan tidak tepat masuk pada sasaran, ya cuek saja… (tujuannya kan sudah benar yaitu masuk tempat sampah, sayangnya meleset ;) )
Namun lama-lama sikap tertib teratur dalam hal buang sampah ini mulai jadi kebiasaan. Saya juga suka mengantongi kantong kresek yang selain berguna untuk membawa barang belanjaan, juga berguna untuk mengumpulkan sampah sebelum akhirnya dibuang di tempat yang semestinya.

Semakin lama, saya juga semakin susah untuk men-tolerir sikap orang lain yang suka buang sampah sembarangan ini. Kalau orangnya sudah saya kenal, tak jarang saya menegur mereka untuk tidak buang sampah sembarangan. Tapi kalau orang lain yang tidak saya kenal, saya jarang menegurnya. Biasanya saya hanya memperhatikan orang tsb dengan harapan dia menyadari kalau hal yang baru diperbuatnya itu tidak benar.

Kemarin pagi, saat akan berpapasan dengan sebuah mobil di dekat rumah, saya melihat bahwa pengemudi mobil tsb membuang kertas tissue dari jendela mobilnya. Secara otomatis saya langsung memelototi pengemudi mobil tsb dengan memasang tampang tidak senang dengan perbuatannya tadi. Namun si pengemudi tenang saja, seolah merasa bahwa tindakannya sah-sah saja.

!@#$%^&*&^%$#@!… rasanya dongkol sekali dengan kelakuan pengemudi mobil tersebut. Antara kesal dan sedih menghadapi kenyataan ini, kenyataan bahwa membuang sampah sembarangan dianggap sebagai hal yang biasa, dan sedih melihat perilaku orang Indonesia yang suka buang sampah sembarangan ini. Beli mobil sanggup, masa beli tempat sampah buat di mobil aja ga bisa???

Mungkin buat mereka, sampah kecil yang dibuang itu tidak bermakna apa-apa. Tapi kalau seluruh orang Indonesia, khususnya yang ada di kota-kota besar, melakukan hal yang sama, bisa dibayangkan berapa banyak sampah yang dibuang sembarangan dan menggunung di seluruh penjuru kota.

Secara keseluruhan, saya juga bukan termasuk orang yang apik, rapi, tertib, maupun teratur; tapi paling tidak saya berusaha untuk meletakkan benda-benda pada tempat yang semestinya, termasuk juga untuk buang sampah di tempatnya.

Terlalu muluk kalau mengatakan buang sampah sembarangan itu berpotensi menimbulkan banjir atau bisa jadi sumber sarang penyakit; tulisan ini sebenarnya hanya ingin mengajak… Yuk, kita buang sampah di tempat yang semestinya :D

 
9 Comments

Posted by pada September 13, 2007 in lingkungan, monolog

 

Sulitnya memaafkan

*Sekedar bahan renungan*

Setelah melakukan suatu kesalahan, permintaan maaf seringkali dapat dengan mudah diucapkan. Budaya kita memang sudah mengajarkan hal yang seperti ini. Meskipun mungkin terkadang ada permintaan maaf yang dilontarkan dengan berat hati atau dengan tidak sepenuhnya rela, namun kata ‘maaf’ yang terucap tetap mencerminkan suatu penyesalan. Suatu kata yang hampir secara otomatis kita ucapkan saat kita menyadari bahwa perbuatan yang kita lakukan itu salah, atau telah menyinggung orang lain.

Kalau melihat dari sisi sebaliknya, ternyata memberi maaf bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Dari berbagai cerita selama ini, banyak peristiwa yang mencerminkan hal ini. Permintaan maaf seringkali tidak serta merta diiringi dengan perasaan rela memaafkan. Contohnya saja, meskipun orang lain sudah minta maaf, kita masih mengingat-ingat kejadian saat kita disakiti oleh orang lain, terlebih lagi jika kita merasakan ada kerugian yang timbul akibat kesalahan orang tersebut. Seolah-olah ada rasa tidak puas bila orang yang melakukan kesalahan tersebut belum merasakan kerugian yang sama.

Meminta maaf memang bukan hal yang mudah; kadang kita tidak menyadari bahwa tindakan kita telah menyakiti orang lain. Di sisi lain, memberi maaf juga sulit dilakukan; karena kadang masih tetap mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Ternyata tidak mudah menanamkan sikap iklas dalam diri untuk memaafkan orang lain.

Mengutip kata-kata dalam sms Indah kemarin,
Kiranya kata-kata yang terucap pernah melukai, laku pun pernah tak berkenan, dan diam membawa prasangka. Mohon dimaafkan, agar ringan melangkah dalam Ramadhan.

Thx ya Ndah :)

 
20 Comments

Posted by pada September 10, 2007 in monolog

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.