RSS

berteman dengan lawan

03 Sep

Terinspirasi dari tulisan di sebuah blog siang ini, jadi teringat pengalaman perjalanan beberapa tahun yang lalu… 

Waktu itu, perjalanan Bandung-Jakarta tidak semudah sekarang, dua setengah jam perjalanan sudah merupakan rekor yang jarang-jarang bisa terjadi :) . Mengendarai Starlet keluaran tahun ’87, melalui jalur Puncak bukanlah suatu pilihan yang menarik. Tanjakan dan persaingan dengan bus antar kota antar propinsi sama sekali bukan suatu hiburan yang menyenangkan :P . Alternatif kedua, perjalanan melalui Purwakarta hampir selalu jadi pilihan ketika itu. Memang sih, dari sisi kilometer, rutenya jadi lebih jauh; pemandangan maupun perhentian juga tidak menarik; dan yang pasti selain bersaing dengan bus antar kota antar propinsi, juga bertemu dengan berbagai jenis truk container. 

Mulanya, agak canggung melalui rute yang tidak populer dan bertemu dengan kendaraan-kendaraan besar tersebut. Namun ternyata setelah dijalani, jadi mengasikkan juga :)  

Sebagai kendaraan kecil yang sudah berusia 20 tahunan, pastinya Starlet itu juga punya keterbatasan-keterbatasan tertentu. Selain itu sebagai seorang pengendara, saya juga bukan termasuk orang yang ahli dalam menyalip kendaraan lain, maupun memacu kendaraan di tanjakan atau di jalanan yang berbelok-belok. Nah, dengan pemahaman akan situasi dan kondisi seperti ini, akhirnya saya memutuskan untuk berteman dengan para kendaraan besar yang jadi teman seperjalanan. Caranya? Dengan membuntuti kendaraan-kendaraan besar tersebut persis di belakangnya. Selama kendaraan besar itu bisa melaju dengan kecepatan “normal”, saya sih enjoy-enjoy aja ada di belakang mereka. Setiap mereka akan menyalip kendaraan lain, biasanya kendaraan lain akan mengalah dan menurunkan kecepatan, di saat itu pula Starlet ikutan menyalip di belakang kendaraan besar yang sedang diikutinya :D 

Memang sih, tidak selamanya cara ini berhasil, tapi paling tidak prosentase keberhasilannya masih lebih besar daripada ketidakberhasilannya ;)  Ada saja kalanya, kendaraan besar itu melaju dengan kecepatan yang teramat pelan sehingga butuh ruang yang cukup untuk menyalipnya. 

Dari pengalaman itu, lesson learned-nya adalah kita perlu mengukur sampai sejauh mana kemampuan kita, jangan terlalu memaksakan diri. Setelah itu jangan bersaing dengan lawan yang tidak sebanding dengan kita, tapi cari cara bagaimana supaya kita bisa memanfaatkan mereka. Win-win solution kan?

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada September 3, 2007 in activity, opini

 

6 responses to “berteman dengan lawan

  1. pelbis

    September 4, 2007 at 7:58 am

    Duh komen saya yang sebelumnya salah, dihapus aja ya…

    Hmm.. tulisan yang menarik :)

    Jadi kita perlu juga mengukur kemampuan kita, jangan sampai melewati batas.
    Namun kita juga wajib untuk selalu mencoba, sejauh mana kemampuan lawan. Mencoba..mecoba dan mencoba, jangan menyerah sebelum mencoba :)

     
  2. pratanti

    September 4, 2007 at 4:57 pm

    @ pelbis
    hehe… komen pertamanya sudah aku hapus ya…
    ternyata cukup perfeksionis juga nih ;)

    Saya setuju untuk selalu mencoba. Masih terkait dengan contoh kasus di atas, waktu itu saya juga pernah mencoba menyalip truk gandeng di jalanan yang menurut saya sudah agak lowong, tapi baru sampai menyalip setengahnya, tiba-tiba ada kendaraan lain yang datang dari depan, sementara kecepatan Starlet udah gak bisa lebih cepet lagi (padahal udah dicoba)… ya akhirnya musti ngalah dong ya, ternyata kemampuan Starlet sudah tidak seperti dulu lagi.
    Tapi paling tidak, kan udah dicoba yaa… :D

     
  3. Ahmad Nur Irsan Finazli

    September 15, 2007 at 12:46 pm

    Wah menariknya, pengalaman berteman dengan lawan artinya musuh dalam selimut dong? he..he..he..

     
  4. pratanti

    September 21, 2007 at 3:28 pm

    @ Irsan,
    jangan selalu lawan disamakan dengan musuh. Lebih baik dianggap partner saja, supaya bisa saling ber-simbiosis mutualisme he he…

     
  5. vicong

    Oktober 9, 2007 at 2:54 pm

    Jangan lupa selain Cipularang (yang masih baru), Puncak dan Purwakarta masih ada satu jalur alternatif lain menuju Bandung dari Jakarta yaitu lewat Jonggol (Cibubur-Jonggol-Cianjur). Menurut saya yang sebelum ada Cipularang sering lewat jonggol jalur ini cukup sepi & memiliki pemandangan alam yang tidak kalah dari Puncak. Terkadang memang beberapa bagian jalan mengalami kerusakan sehingga harus cukup hati-hati, tetapi cukup sering diperbaiki kok. Memang fasilitas umum (SPBU, Masjid, Rumah Makan dll) cukup jarang ditemui bila dibandingkan dengan jalur Puncak atau Purwakarta tetapi tidak sesepi jalur Lintas Sumatra kok:P.

    Satu lagi yang menjadi isu katanya (karena saya belum mengalami sendiri) bila malam hari jalur Jonggol cukup rawan baik dari perampokan maupun kecelakaan (dikarenakan penerangan jalan yang kurang).

     
  6. pratanti

    Oktober 9, 2007 at 3:04 pm

    @ vicong,
    Saya baru sekali lewat jalur Jonggol. Kesan saya, rute ini kurang bersahabat, selain jalannya yang (waktu itu) berlubang-lubang, petunjuk jalannya pun tidak banyak sehingga besar kemungkinannya untuk tersesat :D
    Selain itu jalur Cianjur-Bandung yang lewat pegunungan kapur menurut saya juga bukan jalur yang ramah, karena saya seringkali harus berpapasan dengan bis-bis dan truk-truk besar yang susul menyusul di jalanan berkelok-kelok :D

    BTW kalau dibanding jalur lintas Sumatra sih ya saya akan pilih ini…..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: