Bicara soal kemacetan yang sering ditemui, tampaknya sudah bukan hal yang aneh lagi bagi penduduk di kota-kota besar, namun yang pasti macet bukanlah suatu kondisi/keadaan yang menyenangkan. Sewaktu masih beraktivitas di Bandung, saya berusaha untuk pergi sekolah atau kerja pada jam-jam sebelum kondisi jalan menjadi ramai. Kalaupun keramaian mulai menjelma jadi macet, saya bereksperimen dengan mencari jalan-jalan pintas sehingga tidak perlu mengalami kemacetan yang parah. Saat menggunakan angkot-pun saya akan mencari rute-rute yang tidak macet. Agak jauh/memutar sedikit tidak apa-apa, asalkan tidak harus terpanggang siang-siang dalam angkot
Akhir minggu, di saat banyak penduduk kota lain berkunjung dan ikut meramaikan jalanan kota Bandung, seringkali saya memutuskan untuk menikmati hari libur di rumah saja.
Tidak setiap saat saya bisa menghindari kemacetan, karena pada waktu-waktu tertentu saya harus berada di jalan pada saat yang sama dengan sebagian besar penduduk Bandung. Kemacetan sudah siap menghadang. Di situasi seperti inilah saya merasa perlu untuk menyiapkan diri dan menerima kenyataan bahwa Bandung memang padat, semua orang punya kepentingan yang sama untuk berada di jalan pada saat yang sama pula
Dengan menyiapkan mental-set seperti ini, akhirnya macet tidak terlalu dirasakan sebagai hal yang tidak enak. Saya dapat mentolerir waktu tempuh yang harusnya 30 menit, jadi 60 menit (misalnya) gara-gara macet. Ketika waktu tempuhnya menjadi 4 kalinya (misalnya jadi 2 jam), barulah perasaan tidak enak itu muncul, dan saya juga mencoba untuk mencari alasan penyebabnya. Biasanya itu karena hujan/banjir, karena ada kecelakaan, dsb.
Menjadi commuter di Jakarta, saya juga bersiap menghadapi kondisi jalanan ibu kota. Toleransi waktu tempuh disetel, sehingga saya bisa menerima (dpl. tidak complain) kalau waktu tempuh ke suatu tempat dalam kondisi macet jadi lebih lama 2 sampai 3 kali lipat dari waktu tempuh normal. Cara ini cukup efektif juga, paling tidak bisa membuat mood tetap terjaga meskipun perjalanan sedikit mengalami hambatan.
Dari pengalaman seorang teman yang semasa kecil sampai dengan sarjana tinggal di Inggris mengatakan bahwa dia tidak merasa terganggu dengan suasana macetnya ibu kota, asalkan dia ditemani dengan radio/musik selama mengemudi mobil. Berbagai cara bisa dilakukan untuk mengatasi rasa tidak nyaman akibat situasi macet.
Hmm… situasi yang tidak enak, kalau disikapi dengan cara yang “pas” ternyata bisa juga dinikmati
Yahh… paling tidak kan bisa mencegah darah tinggi maupun meledaknya emosi gara-gara kondisi jalan yang kurang bersahabat itu.
Ketika kemarin melihat dengan mata kepala sendiri padatnya lalu lintas Jakarta yang semakin hiruk pikuk karena adanya Car Free Day serta pembangunan jalur busway yang terbentang di hampir seluruh penjuru kota, saya jadi berpikir, bagaimana lagi ya caranya untuk bisa berdamai dengan situasi kemacetan yang semakin menjadi-jadi ini?
Peace, do not complain




dwi Yanto
September 27, 2007 at 9:45 am
Saya Di Bekasi Kerja di Jakarta, berangkat macet di Tol pulang Apalagi ( Mana Lagi Bulan Puasa ), bener2 kesabaran di utamakan …untuk mengutamakan Selamat ( selamat dari hilangnya pahala puasa )…sampai kapan jakarta macet….
k* tutur
September 27, 2007 at 7:11 pm
Yuk… damai itu sejahtera
pratanti
September 29, 2007 at 9:08 am
@ dwi Yanto,
Semakin bisa bersabar, pahala puasanya juga semakin bertambah, insya Allah…
ternyata macet juga bisa membawa hikmah, sebagai ujian pada yang berpuasa, menguji kesabaran tentunya
ada yang bilang, “… kalau ga macet, bukan Jakarta”. Jadi, Jakarta memang identik dengan macet
Anis
September 30, 2007 at 6:29 pm
Paling nggak enak kalo macet tapi kita nggak tau sebabnya. Begitu kita berhasil lewat, eh ternyata cuma gara2 ada angkot ngetem.
pratanti
Oktober 1, 2007 at 10:48 am
@ Anis,
bener Nis… tapi kalau di Jakarta – yang panjang macetnya bisa mencapai 5km – kadang kita gak sempat tau lagi apa penyebab macetnya, karena begitu sampai TKP angkotnya udah ga ngetem lagi, atau mobil mogoknya udah diangkut, atau lampu pengatur lalulintas yang tadinya mati, udah nyala lagi, dsb…
Jadi ya diterima aja, macet is macet, kalau terus terusan ngerasa ga enak, tar kitanya juga yang susah