Arsip untuk Oktober, 2007

30
Okt
07

Nulis yuuk… (selintas ide dari Pesta Blogger 2007)

Nulis apa?” Itu adalah jawaban yang sering saya dengar dan juga jawaban yang acap kali saya berikan beberapa waktu yang lalu. Meskipun duluu saya rajin menulis buku harian, tapi pada saat ingin mulai menulis di weblog, rasanya kok susah ya? Pertama kali punya blog di tahun 2001 hanya bertahan 3 kali posting saja, setelah itu vakum hampir selama 5 tahun, dengan alasan bingung mau nulis apa…  

Berikut sekedar tulisan, terinspirasi dari Pesta Blogger 2007 kemarin…  

Menurut Nila Tanzil dan Anjar Priandoyo, tulislah sesuatu yang memang kita minati, apapun itu… bisa soal pekerjaan, profesi, pengalaman, aktivitas, ataupun situasi yang terjadi sehari-hari di sekeliling kita. Jadi, jangan hanya menulis “Saya pergi ke pasar”, tetapi apa saja yang dilakukan disitu, bagaimana perjalanan kita kesana, bagaimana kesan-kesan kita, dsb. Banyak yang bisa diceritakan, banyak yang bisa ditulis :)

blogging.jpg

(gambar diambil dari sini)

Pakdhe Rovicky menambahkan, tulis juga fakta atau data yang bisa mendukung tulisan kita. Menurut saya, ada dua hal utama yang bisa didapat dari situ, pertama – kita jadi terbiasa berpikir atau bicara base on fact. Kemudian kita juga jadi terpacu untuk mencari informasi-informasi tambahan guna melengkapi tulisan kita. Kadang dengan mencari informasi, kita tidak sengaja juga tahu mengenai hal-hal lain, yang menginspirasi kita untuk membuat tulisan berikutnya. Kemudian yang kedua – dengan adanya data atau fakta tersebut, orang yang membaca tulisan bisa memperoleh informasi yang berguna juga. Tulisan kita bisa jadi bahan rujukan, dan secara tidak langsung bisa meningkatkan jumlah pengunjung/pembaca di blog kita ;)  

Sebuah tulisan Nila tentang pariwisata di Malaysia pernah mendapat tentangan keras dari pemerintah Malaysia yang mengatakan bahwa “80% of blogger are unemployed women”, “all bloggers are liar”, etc. Kalau seorang blogger mendapat tentangan semacam itu, biasanya akan merasa “down”, mungkin juga jadi enggan menulis, dsb. Itu juga yang dialami oleh Nila, namun dukungan dari para blogger terus menyemangatinya untuk tetap menulis. Point-nya adalah kalau memang hal-hal yang kita tuliskan adalah fakta atau opini terhadap fakta tersebut, kita tidak perlu ragu untuk menulis. Blogger bebas berpendapat, dan bebas menulis apa saja :D

Seperti yang diungkapkan oleh Bp. Cahyana Ahmadjayadi (Dirjen Kominfo) – blogger dapat mencerdaskan bangsa, namun bisa juga membodohkan bangsa – berarti tulisan blogger turut punya andil besar atas kemajuan bangsa. Rasanya, kalaupun ada tulisan yang kurang tepat (yang bisa jadi ancaman bagi pembodohan bangsa), rekan-rekan blogger akan mencoba meluruskan, mengarahkan ataupun memberikan sudut pandang lain, sehingga kita bisa menilai mana informasi yang berguna dan mana yang tidak. Jangan takut kalau tulisan kita atau pendapat kita itu salah, karena dengan adanya interaksi dengan para blogger di dunia maya ini, kita bisa segera memperoleh umpan balik yang berguna. 

Takut tulisan kita dikomentarin yang negatif? – jangan khawatir, justru dengan adanya komentar, kita bisa tahu opini yang beredar di masyarakat seperti apa. Kita bisa memposisikan diri kita, dan belajar untuk mengemukakan pendapat serta membuat tulisan yang lebih baik lagi. Kita juga tidak perlu mengikuti apa yang dikatakan orang lain, namun kita bisa belajar untuk mengemukakan pendapat kita (termasuk pendapat yang berbeda) dengan cara yang bisa diterima oleh orang lain. Mengutip pendapat pak Cahyana bahwa dalam tulisan blogger yang pluralis, akan muncul keunikan. Jadi, itulah pendapat kita, keunikan kita. Berbeda dari orang lain, siapa takut? :lol:

Buat saya, blogging is about learning and sharing. Banyak yang bisa dipelajari, tentang menulis, tentang mengemukakan pendapat, tentang memberikan komentar, tentang kesabaran menghadapi pendapat yang berbeda, tentang kedisiplinan meng-update blog :P dan juga tentang berbagi pengetahuan, pemikiran serta perasaan dengan orang lain. 

Ternyata learning is fun :P   Are you agree? 

26
Okt
07

Tips bersikap asertif

shy.jpgAda banyak pengertian mengenai assertive, namun intinya adalah bagaimana kita bersikap jujur dan menunjukkan ekspresi yang sesuai dengan perasaan, opini, maupun kebutuhan yang kita miliki. 

Dari berbagai diskusi, banyak juga yang menyatakan bahwa melakukan komunikasi yang asertif itu ternyata tidak mudah (bukan berarti tidak bisa lho ;) ) 

Jadi ingat pengalaman jaman mahasiswa, saat pelajaran mengenai “assertive”. Pertanyaan saya waktu itu sama seperti yang ditanyakan oleh kebanyakan orang, yaitu bagaimana caranya supaya kita bisa jadi orang yang asertif? Sang dosen hanya tersenyum dan berkata, “kamu sebagai orang … (menyebut nama suku bangsa tertentu), bagaimana mungkin kamu tidak bisa asertif?” (dalam hati saya bilang, lha kok malah ditanya balik?… dan… ada apa dengan suku bangsa saya, apakah dengan demikian saya harus sama seperti orang lain?) 

Tanpa mendapat jawaban yang memuaskan, akhirnya saya berusaha sendiri untuk mencari jalan, dan berupaya untuk bisa asertif. Salah satu artikel yang saya sukai adalah Learning to be Assertive disini. Penjelasannya sederhana dan to the point, yaitu mulai dari mengembangkan sistem nilai yang asertif; mempelajari ketrampilan-ketrampilan untuk berkomunikasi yang asertif; menggunakan gaya komunikasi yang sesuai; dan yang terakhir adalah terus berlatih. 

Mengembangkan sistem nilai yang asertif – maksudnya memahami bahwa setiap orang (termasuk diri kita sendiri) dapat saja berbuat salah, dapat marah, dapat berkata “Tidak”, dan punya keinginan maupun perasaan sendiri. Kita bukanlah orang yang sempurna dan kita juga tidak harus selalu mengikuti pendapat orang lain, jika memang itu tidak sesuai dengan diri kita. Jadi, tidak perlu kecil hati kalau perasaan kita atau opini kita tidak sama dengan orang lain. 

Mempelajari ketrampilan-ketrampilan untuk berkomunikasi asertif –  Terbiasa mengatakan “Saya ingin…” atau “Saya merasa…” merupakan salah satu cara untuk menyampaikan pikiran, perasaan maupun opini kita terhadap sesuatu. Selain itu menunjukkan kepekaan terhadap situasi maupun perasaan orang lain, yang dilanjutkan dengan pendapat kita sendiri. Contohnya “Saya tahu Anda sibuk, namun kelompok kita sudah menyepakati bahwa tugas ini harus selesai hari ini, jadi saya harap Anda juga mau membantu untuk menyelesaikannya”.  

Ketrampilan lainnya adalah dengan menggunakan kalimat yang menunjukkan dampak suatu kejadian atau tindakan terhadap diri kita. Jelaskan hal apa yang telah terjadi, bagaimana dampaknya terhadap diri Anda, serta apa harapan Anda kemudian. Contohnya “Saya kecewa saat Anda datang terlambat, saya tidak dapat memulai rapat karena materinya ada pada Anda padahal semua undangan telah hadir. Lain kali Anda perlu datang lebih awal sehingga masih tersedia waktu untuk menyiapkan rapat sebelum dimulai.” Komunikasi seperti ini tentunya lebih baik dibandingkan jika kita hanya sekedar menyalahkan orang tersebut saja. 

talk.jpg

Menggunakan gaya komunikasi yang sesuai – maksudnya adalah menunjukkan sikap yang positif, seperti tetap mempertahankan kontak mata saat berbicara dengan orang lain, tidak membelakangi orang yang kita ajak bicara, volume dan nada suara yang sesuai, serta ketepatan antara ekspresi dan pernyataan yang kita sampaikan (misalnya mengatakan “Tidak” sambil menggeleng, bukan dengan mengangguk). 

Yang terakhir adalah terus berlatih untuk bersikap asertif. Latihan butuh waktu dan tentu saja kesabaran :P Berlatih dulu dengan orang-orang terdekat kita, misalnya dengan teman atau keluarga. Sampaikan juga tujuan kita untuk bersikap asertif. Minta bantuan mereka untuk mau memberikan umpan balik tentang hal-hal yang telah kita lakukan, atau tentang gaya komunikasi yang kita gunakan. Mudah-mudahan dalam waktu berikutnya komunikasi yang kita lakukan bisa lebih jujur, terbuka dan dapat menunjang relasi yang kita bina dengan orang lain. 

Tidak mudah? Itu pasti, pengalaman saya juga mengatakan demikian, tapi pasti akan berbeda rasanya saat kita bisa menyampaikan sesuatu yang sesuai dengan perasaan dan opini kita, daripada hanya sekedar mengikuti keinginan orang lain ;)  

Keep trying !!!  :D  

25
Okt
07

Piyama garis-garis

striped.jpg

The Boy in the Striped Pyjamas – Awalnya novel ini sama sekali tidak mengundang ketertarikan untuk dibaca. Cover bukunya sederhana, dengan huruf besar-besar, tanpa gambar. Lembaran-lembaran kertasnya pun berwarna buram (putih keabu-abuan), dengan kualitas kertas yang agak mirip dengan kertas penyerap tinta jaman dulu :)  

Cover belakang buku juga tidak menggambarkan cerita apa-apa. Tidak ada cuplikan cerita ataupun testimoni yang dituliskan disitu. Cover belakangnya hanya menuliskan bahwa … untuk kisah yang satu ini sengaja tidak diberikan ringkasan cerita, supaya tidak merusak keseluruhannya. Lebih baik Anda langsung saja membaca, tanpa mengetahui tentang apa kisah ini sebenarnya. 

Semakin tidak jelas saja gambaran novel ini dan sama sekali tidak ada bayangan apa-apa dengan piyama garis-garis. Bagi saya, mau piyama garis-garis, piyama kotak-kotak, piyama batik, so what gitu loh? Sekali piyama ya tetap piyama kan? Apa istimewanya? 

Beberapa waktu kemudian, teman-teman goodreads mulai memberikan review dan komentar mengenai buku ini, ternyata komentar-komentarnya bagus dan positif. Mulailah tertarik untuk membaca… halaman demi halaman, bab demi bab, dan baru pada bab ke sekian, di pertengahan buku, saya baru menyadari bahwa ternyata yang dimaksud dengan piyama garis-garis itu adalah seragam orang tahanan :lol:  

dalton.jpgYah… maklum saja, para tahanan di Indonesia tidak menggunakan seragam garis-garis. Seingat saya tahanan yang memakai seragam garis-garis hanyalah Dalton bersaudara, penjahat yang ada di komik Lucky Luke. Hmm… bacaan jaman dulu… pantas aja kalau sudah tidak ingat lagi :P  

Ternyata isi cerita novel ini benar-benar luar biasa, menceritakan pengamatan seorang anak kecil mengenai situasi kehidupan di luar kamp tahanan orang Yahudi di Polandia. Dunia anak yang polos digambarkan dengan begitu hidup, sehingga kita seolah bisa ikut merasakan keberadaannya disana. Berjalan-jalan bersama Bruno (nama anak kecil tersebut) menyusuri pagar pembatas kamp tahanan dengan dunia luar, bermain, tanpa prasangka buruk terhadap tempat tesebut. 

Lebih jelas lagi, silakan baca bukunya… Kalau saja saya paham tentang makna piyama garis-garis ini lebih awal, tentunya novel ini juga sudah lama tercatat sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca ;)

20
Okt
07

Sudah bersihkah piring makan anda?

Jangan salah, ini bukan bagian iklan sabun pencuci piring, bukan juga berarti bersih tanpa noda, ini hanya sekedar judul posting yang maksudnya tak lebih dari “apakah anda sudah menghabiskan makanan yang ada di piring anda?” (rasanya terlalu panjang untuk dijadikan judul tulisan :P ) 

Terinspirasi dari sebuah blog tentang lingkungan hidup disini, saya seperti mendapat pencerahan untuk membuat sebuah tulisan tentang pentingnya menghabiskan makanan setiap kali kita makan. Disitu dijelaskan bahwa setiap makanan yang kita makan itu menghabiskan begitu banyak usaha dan tentu saja energi, mulai saat bahan makanan kita ditanam, dipetik/dipanen, dibawa ke pasar, didistribusikan, sampai akhirnya dimasak dengan menggunakan bahan bakar. 

Mungkin tidak semua orang bisa membayangkan bahwa butir-butir nasi yang tersisa di piring pada saat kita makan, bila dikumpulkan bisa mencapai sebanyak setengah sendok makan. Kalaupun kita hanya makan nasi 2 kali sehari (siang dan malam), maka yang tersisa bisa sebanyak satu sendok makan, berarti dalam sebulan ada 30 sendok makan nasi (hmm…. identik juga dengan satu atau dua piring nasi) yang terbuang percuma begitu saja. Itu baru dari satu orang, kalau di rumah kita ada 3 orang (misalnya), wah wah wah… kalau dikumpulkan kan bisa untuk memberi makan beberapa orang tuh… 

Selain itu, bisa dibayangkan juga betapa sia-sianya energi yang dikeluarkan untuk menanam, memanen, dan memasak makanan tersebut. 

Hehehe… untuk memahami tambah-tambahan sisa nasi mungkin masih gampang ya? tapi kalau membayangkan membuang energi dengan percuma… kayaknya kok terlalu berat?  Yaa… memang perlu waktu untuk memahaminya *sok bijaksana sekalee* 

Ternyata ada lagi yang bisa kita pelajari dari kebiasaan menghabiskan makanan yang ada di piring kita, yaitu tanggung jawab. Hmm… sedikit berat nih pembahasannya :D  

Maksudnya begini, pada saat kita mengambil makanan, sebaiknya kita juga memperhatikan “daya tampung” kita. Ambillah makanan secukupnya, yang kita pikir akan mampu kita habiskan, jangan hanya lapar mata dan mengambil semua makanan enak namun akhirnya hanya tersisa di piring kita. Dengan demikian bisa dibilang juga bahwa kita bertanggung jawab terhadap makanan yang kita ambil tersebut.  

Terbiasa bertanggung jawab dengan makanan, dapat berpengaruh juga terhadap tindakan-tindakan kita yang lainnya. Contohnya, kita akan bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang harus kita kerjakan, lebih jauh lagi juga bertanggung jawab terhadap kewajiban kita sebagai warga negara, sebagai pekerja dan juga sebagai anggota keluarga ;)  

Jadi, rasanya kita juga mampu menyelamatkan dunia dan menunjukkan kepedulian kita terhadap lingkungan dengan cara menghabiskan makanan yang kita makan, dan juga dengan membuang sampah pada tempatnya *teteup* 

Ini cuma hal-hal kecil, namun kalau kita lakukan secara terus menerus dan konsisten, mudah-mudahan bisa jadi kebiasaan bagus yang berdampak baik juga buat lingkungan, warisan berharga buat generasi penerus bangsa :D  

19
Okt
07

Fenomena Blog Action Day

Beberapa hari yang lalu, wrap-up dari Blog Action Day 2007 mulai bisa diakses, statistiknya demikian:

20.603 blog yang berpartisipasi

23.327 posting mengenai lingkungan (tema Blog Action Day 2007)

dan 14.631.038 penduduk dunia maya yang meng-akses blog-blog tersebut.

hmm… angka yang luar biasa, kalau memang gerakannya bisa menggugah orang lain untuk ‘care’ terhadap lingkungan tempat tinggalnya.

bad.jpg

Setelah statistik ini di-release, berbagai komentar mulai muncul, mulai dari yg optimis, sampai dengan yang pesimis, dan menganggap ini cuma sekedar kegiatan monumental aja, ga ada dampak apa-apa terhadap kehidupan :)

Yah… orang bebas berkomentar apa saja kan? 

Dari situs tersebut, selain himbauan untuk peduli lingkungan, saya juga menemukan link-link tentang tips dan trik untuk meng-hijau-kan lingkungan; dan yang paling saya suka adalah recycling database dari World Environment Organization (www.world.org)

Idenya untuk mengumpulkan tips how to reduce, reuse & recycle benar-benar bermanfaat sekali.

Insight pun muncul bahwa asal kita kreatif, semua benda di sekitar kita bisa dimanfaatkan sampai benar-benar rusak dan tidak terpakai :D  

 

Partisipasi blogger Indonesia dalam Blog Action Day 2007, bisa dilihat disini.

15
Okt
07

lingkungan kita

Tulisan ini dibuat sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan hidup, dan partisipasi dalam Blog Action Day. Meskipun kita bukan aktivis lingkungan, namun bukan hal yang tidak mungkin untuk melakukan hal-hal tertentu demi keselamatan lingkungan sekitar kita, maupun lingkungan hidup yang lebih luas lagi.

unite1.jpg Mari kita bahas soal sampah yang dihasilkan dari setiap rumah tangga pada setiap hari. Pernah terbayangkan bagaimana jadinya kalau sampah-sampah tersebut menumpuk di dalam rumah kita selama beberapa hari?

Sampah memang tidak bisa dilepaskan dari setiap kegiatan yang kita lakukan, namun selalu ada cara untuk mengelolanya dengan baik. Membuang/meletakkan sampah pada tempat yang semestinya; memilah-milah sampah antara sampah kering dan basah, ataupun memanfaatkan sampah menjadi suatu benda yang dapat digunakan kembali, merupakan hal-hal yang bisa kita lakukan. Tindakan-tindakan ini tentunya cukup ramah lingkungan. Sebagai contoh, tidak membuang sampah sembarangan, dapat membantu terciptanya lingkungan yang bersih; pemilah-milahan sampah juga bisa memudahkan proses daur ulang; sementara pemanfaatan sampah menjadi benda-benda yang dapat digunakan kembali tentunya bisa mengurangi produksi sampah itu sendiri.

Masih berkaitan dengan sampah, sebenarnya ada beberapa hal yang masih jadi pertanyaan (bagi saya), yaitu dalam hal membuang barang-barang seperti batere bekas, kaleng obat nyamuk bekas, serta tabung gas kecil yang sudah kosong. Kemana sebaiknya kita membuang benda-benda tersebut? Produsennya selalu menekankan bahwa barang-barang tsb jangan dibuang bersamaan dengan sampah lainnya, tapi kemana dan bagaimana caranya ya? Ada yang tahu?

Rasanya ini hanyalah hal kecil yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan kepedulian kita terhadap lingkungan. Mungkin tidak terlalu banyak berarti dampaknya bagi dunia, namun jika semua orang memahaminya dan mau menjalankannya, maka bukan mustahil kalau dunia ini akan menjadi lebih sehat dan menyehatkan bagi penduduknya. Mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai saat ini, mudah-mudahan dapat membawa kebaikan bagi kita semua.

Artikel lain:

tempat sampahnya dimana?

14
Okt
07

bersama menapaki kehidupan

Menjalin komunikasi yang baik dengan orang lain terlihat sebagai suatu hal yang mudah, apalagi bila orang tersebut adalah orang yang sudah lama kita kenal sebelumnya. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Komunikasi antara anak dan orang tua ada kalanya mengalami hambatan, ketika topik pembicaraan mulai mengarah pada perbedaan pendapat di antara keduanya. Demikian pula halnya dengan komunikasi yang terjadi antara suami dan istri. Lamanya usia perkawinan belum dapat menjamin bahwa komunikasi yang terjadi di dalamnya selalu berlangsung secara efektif.

Efektif tidaknya komunikasi yang terjalin ditentukan pula oleh gaya komunikasi yang digunakan pada saat itu. Seseorang mengembangkan gayanya sendiri dalam berkomunikasi, dan meskipun mampu menggunakan gaya yang berbeda-beda, namun ia cenderung menggunakan gaya yang sama dalam situasi tertentu.
Gaya komunikasi yang dikembangkan seseorang akan semakin sering diulangi jika mendapat penguatan saat menggunakannya.

Tulisan ini dibatasi pada pembahasan mengenai komunikasi dalam keluarga, khususnya antara suami-istri. Terinspirasi dari tulisan cakmoki yang membahas tentang keluhan seorang dokter mengenai pilihan antara kepentingan profesi atau kepentingan keluarga; saya ingin mengulas sedikit tentang komunikasi yang terjadi.

Dalam tulisan itu diceritakan bahwa hal-hal yang dilakukan oleh sang suami (yang berkaitan dengan kepentingan kerja/profesi) seringkali mendapat tentangan dari sang istri. Suami berpandangan bahwa tindakan-tindakan yang ia lakukan dapat meningkatkan kinerjanya sebagai seorang dokter, sementara sang istri beranggapan bahwa tindakan suaminya tersebut terlalu mengada-ada dan bahkan jadi melupakan kebutuhan keluarga. Diskusi di antara keduanya juga sudah dilakukan, namun malah memperuncing perbedaan pendapat yang ada. Dari cerita itu tersirat bahwa masing-masing individu berpegang teguh pada pendapatnya masing-masing. Memang tidak digambarkan dengan jelas tentang bagaimana situasi komunikasi yang terjadi, namun tampaknya masing-masing pihak perlu memahami sudut pandang pasangannya, guna mencari titik temu dan bukan mencari siapa yang salah.

Kita tidak dapat memaksa seseorang menyetujui pendapat kita, namun kita bisa mencoba menyesuaikan diri dengan pendapat orang lain (bukan berarti sepenuhnya mengikuti pendapat orang lain dan mengalahkan pendapat kita sendiri). Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan menggunakan gaya komunikasi asertif, maksudnya mengemukakan pendapat secara terbuka, tidak menyalahkan dan mencoba untuk melibatkan pasangan dalam memecahkan persoalan yang terjadi. Kita tidak dapat hanya mengikuti pendapat orang lain begitu saja, atau merasa pendapat kita yang paling benar dan memaksakan pendapat kita tsb.

Tentunya menggunakan suatu gaya komunikasi yang berbeda dari yang biasa kita lakukan selama ini bukan merupakan hal yang mudah, namun hal ini bisa dipelajari. Semakin sering kita mencoba, semakin mudah pula kita melakukannya, jadi mulailah segera mempraktekkan gaya komunikasi yang asertif ini, terutama terhadap pasangan kita, sebagai orang yang terdekat dengan kita.

Mengutip ungkapan dr. Faisal Baraas dalam bukunya, Beranda Kita:

Jika berbicara tentang perkawinan, maka tak ada yang pasti di dalamnya. Dengan lebih banyak toleransi dan sedikit tuntutan, mungkin seseorang bisa membina perkawinannya sebagai suatu tanggung jawab bersama dengan pasangannya. Kelanggengan perkawinan memang merupakan cita-cita yang mesti dikejar dengan semangat penuh. Mengenal sifat dasar pasangan dan kemudian menerimanya sebagai suatu realita akan sangat banyak menyelamatkan pasangan perkawinan sampai tua.




 

Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Blog Stats

  • 45,698 hits

Others

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

visitor stats

PageRank

my 'read' shelf:
 my read shelf

Click to view my Personality Profile page