The Boy in the Striped Pyjamas – Awalnya novel ini sama sekali tidak mengundang ketertarikan untuk dibaca. Cover bukunya sederhana, dengan huruf besar-besar, tanpa gambar. Lembaran-lembaran kertasnya pun berwarna buram (putih keabu-abuan), dengan kualitas kertas yang agak mirip dengan kertas penyerap tinta jaman dulu
Cover belakang buku juga tidak menggambarkan cerita apa-apa. Tidak ada cuplikan cerita ataupun testimoni yang dituliskan disitu. Cover belakangnya hanya menuliskan bahwa … untuk kisah yang satu ini sengaja tidak diberikan ringkasan cerita, supaya tidak merusak keseluruhannya. Lebih baik Anda langsung saja membaca, tanpa mengetahui tentang apa kisah ini sebenarnya.
Semakin tidak jelas saja gambaran novel ini dan sama sekali tidak ada bayangan apa-apa dengan piyama garis-garis. Bagi saya, mau piyama garis-garis, piyama kotak-kotak, piyama batik, so what gitu loh? Sekali piyama ya tetap piyama kan? Apa istimewanya?
Beberapa waktu kemudian, teman-teman goodreads mulai memberikan review dan komentar mengenai buku ini, ternyata komentar-komentarnya bagus dan positif. Mulailah tertarik untuk membaca… halaman demi halaman, bab demi bab, dan baru pada bab ke sekian, di pertengahan buku, saya baru menyadari bahwa ternyata yang dimaksud dengan piyama garis-garis itu adalah seragam orang tahanan
Yah… maklum saja, para tahanan di Indonesia tidak menggunakan seragam garis-garis. Seingat saya tahanan yang memakai seragam garis-garis hanyalah Dalton bersaudara, penjahat yang ada di komik Lucky Luke. Hmm… bacaan jaman dulu… pantas aja kalau sudah tidak ingat lagi
Ternyata isi cerita novel ini benar-benar luar biasa, menceritakan pengamatan seorang anak kecil mengenai situasi kehidupan di luar kamp tahanan orang Yahudi di Polandia. Dunia anak yang polos digambarkan dengan begitu hidup, sehingga kita seolah bisa ikut merasakan keberadaannya disana. Berjalan-jalan bersama Bruno (nama anak kecil tersebut) menyusuri pagar pembatas kamp tahanan dengan dunia luar, bermain, tanpa prasangka buruk terhadap tempat tesebut.
Lebih jelas lagi, silakan baca bukunya… Kalau saja saya paham tentang makna piyama garis-garis ini lebih awal, tentunya novel ini juga sudah lama tercatat sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca





Emanuel Setio Dewo
Oktober 28, 2007 at 6:26 pm
Bagaimana kalau daleman bergaris-garis?
pratanti
Oktober 29, 2007 at 5:12 am
lapis legit dong… garis-garis sampe kedalem-dalem
*pergi ke bandung, kok lewat laut? – biar ga nyambung, yang penting nyaut*
thecozycorner
Oktober 29, 2007 at 3:19 pm
wuah…
ini salah satu buku kesukaanku,karena kisahnya sedih tapi juga inspiring..
nggak sengaja ngekhianatin temannya yang orang yahudi karena takut dimarahin, atau nggak sengaja terperangkap di kamp konsentrasi..huks,huks..aku baca ini jadi terharu deh..
btw, udah pernah baca buku “insiden matinya anjing tetangga yang bikin penasaran” gak?
(kalau gak salah sih judulnya begitu,tapi penulisnya lupa..)
itu juga buku yang bagus banget yang ditulis dari sudut pandang seorang anak autis..
btw,nice to meet u too di Pesta Blogger 2007..
)
nice blog u have
dari sini jadi bisa tahu banyak tentang buku dan lingkungan ya?
keep on blogrocking!
-dita-
thecozycorner.wordpress.com
pratanti
Oktober 31, 2007 at 1:44 pm
buku ini memang bagus banget, pembaca dibawa untuk berpikir seperti Bruno, dengan kepolosannya dan kenaifannya menghadapi situasi rumit di lingkungan orang dewasa.
Buku “insiden anjing” belum pernah aku baca, kelihatannya menarik juga ya? boleh pinjem bukunya gak? *lho ???*
Anis
Oktober 31, 2007 at 3:33 pm
“itu juga buku yang bagus banget yang ditulis dari sudut pandang seorang anak autis..”
Jadi penasaran kayak apa sudut pandang anak autis itu. Mbak Nita kalo udah dapet pinjeman bukunya, pinjemin ke aku ya.
Hesti
Oktober 31, 2007 at 10:57 pm
reviewnya menarik sekali. thanks.
ok ok, aku akan cari dan baca buku ini
pratanti
November 1, 2007 at 4:36 pm
@ Anis,
itu nanti ya Nis… lha minjemnya juga masih usaha
@ Hesti,
halo… baru aktif nge-net lagi nih? Deo sudah bisa apa? makin lucu tentunya ya?