Arsip untuk November, 2007

28
Nov
07

sudah tepatkah jawaban kita?

Berkomunikasi dengan orang lain tampaknya merupakan hal yang sederhana, tapi kalau dipikir-pikir, kadang tidak mudah untuk dapat berkomunikasi dua arah secara lancar. Terkadang hal-hal yang ingin kita sampaikan diterima secara berbeda oleh orang lain. Perbedaan persepsi antara si pemberi pesan dan si penerima pesan seringkali membuat hubungan di antara keduanya menjadi “kurang harmonis”. 

Hal seperti ini seringkali terjadi juga dalam komunikasi antara orang tua dan anak. Seorang anak yang penuh rasa ingin tahu biasanya selalu mempertanyakan segala hal yang “baru” baginya. Hal-hal yang ia pikirkan langsung ditanyakan, dan terkadang membuat orang tua kelabakan atau kehilangan kata-kata untuk memberikan penjelasan pada anak mengenai hal yang mereka tanyakan. 

Tidak bisa dipungkiri juga, dalam keadaan tertentu kadang orang tua segan menjawab, atau malah berusaha menghindar dari pertanyaan-pertanyaan sulit tersebut. Salah satu topik yang sulit dijawab oleh orang tua adalah topik mengenai seks. Topik ini tampaknya memang bukan topik yang biasa menjadi perbincangan sehari-hari, sehingga selalu jadi pertanyaan bagi anak. Sementara bagi orang tua tidak mudah menjawab karena memang sulit menerangkannya dalam bahasa yang mudah dipahami oleh anak.  

Kekhawatiran orang tua akan pertanyaan anak mengenai topik seks, kadang juga membuat orang tua jadi kurang mencerna pertanyaan anak. Hal inilah yang perlu menjadi perhatian. Kita sebagai orang tua perlu menyimak benar-benar pertanyaan yang diajukan anak sehingga jawaban yang diberikan bisa sesuai. Simak ilustrasi di bawah ini,   

tttlongtalk.jpg

(gambar diambil dari sini)

Ya, ini hanya sekedar gambaran bahwa jika kita tidak mencerna dengan baik apa yang menjadi concern anak, jawaban yang diberikan menjadi tidak menjawab inti pertanyaan :D  

Sebenarnya tidak hanya komunikasi dengan anak, komunikasi dengan siapa-pun harus menggunakan pola demikian agar komunikasi yang kita lakukan tidak sia-sia ;)

————– 

Artikel terkait:

- “Komunikasi dengan anak”, prakteknya tidak semudah teori

24
Nov
07

setetes darah penuh arti

Saat berada ditengah-tengah keramaian dalam perjalanan pagi, melintas sebuah mobil yang pada kaca belakangnya ada tulisan besar “Setetes darah penuh arti”, maksudnya??? 

Kalau hanya sekedar dibaca, mungkin tidak terlalu aneh, apalagi di bagian bawah tertulis pula “Palang Merah Indonesia”. Sepertinya memang himbauan untuk menjadi donor darah, tapi entah kenapa saat saya baca kalimat itu dan berupaya mencerna, kok seperti ada yang aneh dan jadi agak kesal ya? :P  

kantung-darah.jpg

Setetes darah ? apa bisa cuma dengan setetes darah lalu memberi arti bagi orang lain? (masih belum bisa terima). Rasanya perlu bertetes-tetes baru darah kita bisa berarti bagi orang lain. Trus, kenapa tidak dibuat saja slogan “sekantung darah penuh arti”, tentunya itu lebih masuk akal. 

Saya kan tidak bisa datang ke PMI hanya dengan memberikan setetes darah saja, toh PMI juga selalu “menyedot darah” dan memasukkannya dalam kantung ukuran 250ml atau 350ml? Kalau setetes, apakah PMI mau bersusah-susah untuk mengambil cuma setetes?  Bisa-bisa hanya menempel di jarum suntik, sebelum sempat dimanfaatkan bagi resipient *kesal mode ON* 

Maaf, saya jadi agak kesal karena sudah 3 kali berturut-turut datang ke PMI (dalam kurun waktu yang berjauhan tentunya) dan ditolak untuk mendonorkan darah karena kadar haemoglobin yang kurang dari persyaratan. Padahal dulu-dulu saya diberitahu bahwa persyaratan pendonor hanya berat badan, tekanan darah dan kondisi badan yang sehat. Sekarang ketika syaratnya bertambah, saya jadi agak sulit untuk bisa memenuhi seluruh persyaratan tsb.  

*kesal mode OFF* Bicara soal donor darah, saya mulai mengenal kegiatan ini pada waktu kuliah (semester 1). Waktu itu, saya datang ke PMI bersama 2 orang teman – sebagai orang yang kurang spontan, kegiatan pertama perlu ada temannya dong ;) Untungnya saat itu berat badan saya normal (lebih 1kg dari berat minimal), demikian juga dengan tekanan darah. Sekitar 3 bulan kemudian, saat kegiatan kedua, saya sudah berani datang sendiri, karena sudah tahu seluk beluknya dan tahapan-tahapan yang akan saya jalani, mulai dari pemeriksaan darah, pemeriksaan kesehatan serta tekanan darah, pengambilan darah dan diakhiri dengan istirahat (berupa minum teh kotak dan makan telur rebus) :D – my favourite part. 

blood-drive.jpgKegiatan ketiga, saya ditolak ! :( Waktu itu pemeriksaan tekanan darah menunjukkan bahwa tekanan darah saya kurang dari yang disyaratkan. Saya jadi tidak semangat lagi untuk mendonorkan darah, sampai pada suatu saat saya menerima surat yang menyatakan bahwa sudah 3 bulan lebih sejak saya terakhir mendonor, dan saya diundang untuk mendonorkan darah kembali. Dengan niat memenuhi undangan dari PMI dan mengingat bahwa beberapa saat sebelumnya saya ditolak, maka saya berusaha lebih menyiapkan diri. Karena tidak memiliki alat  pengukur tekanan darah, saya mengecek dengan cara berjongkok dan langsung berdiri. Kalau tidak merasa pusing, artinya tekanan darah saya normal, tapi kalau pusing, artinya saya jangan mendonor pada hari itu :lol: Cara primitif yang cukup efektif buat saya pada waktu itu.  

Dengan teknik-teknik pribadi seperti itu akhirnya saya bisa mengatur sendiri jadwal mendonorkan darah. Saya berusaha memelihara berat badan (paling mudah, karena tinggal makan banyak saja :P ), dan menjaga tekanan darah (dengan cukup istirahat dan makan teratur). Lama-lama kegiatan donor darah menjadi kegiatan rutin yang saya lakukan setiap 3 bulan sekali. Ini juga harus pinter-pinter mengaturnya dengan siklus bulanan ;)  

Memang tidak setiap saat kegiatan tersebut berjalan lancar. Pernah suatu saat setelah setengah jam, darah saya ngambek keluar, sehingga yang saya donorkan hanya setengah kantung. Pernah juga kejadian seperti itu terjadi lagi, sehingga saya harus merelakan dua tusukan jarum (di lengan kanan dan kiri) supaya 250ml darah bisa terpenuhi. Ya, katanya nadi saya tergolong kecil sehingga perlu teknik khusus untuk memasukkan jarum agar darah bisa lancar mengalir. 

Tapi jangan salah, saya selalu menghindar untuk melihat jarum yang menempel di lengan saya. Saya selalu melihat ke langit-langit atau melihat orang-orang yang lalu-lalang, karena saya termasuk orang yang penakut :lol: (jangan sampai saya pingsan pada saat sedang mendonorkan darah). 

Pernah juga suatu saat, PMI sedang kedatangan banyak orang untuk mendonor. Mereka antri di samping-samping tempat tidur agar bisa segera diambil darahnya. Ketika itu saya juga merasa ingin segera menyelesaikan kegiatan pengambilan darah agar tempat saya bisa digantikan oleh orang lain. Sesaat setelah jarum dicabut dari lengan, saya segera berdiri dan berjalan menuju meja untuk mengambil kartu donor darah saya. Baru meraih kartu tsb, tiba-tiba saya oleng, dan… BRUK ! saya pingsan :lol: Akhirnya satu tempat tidur harus direlakan untuk saya, sementara orang lain masih mengantri tempat tidur untuk diambil darahnya. Jadilah saya sekitar 15 menit terbaring disitu… 15 menit saya menggunakan tempat yang harusnya bisa dipakai orang lain untuk mendonor darah (huuh ada-ada saja) :P

donate-blood.jpgSetelah pindah ke Jakarta, kegiatan donor darah jadi agak jarang saya lakukan lagi. Kadang baru 6 bulan bahkan 1 tahun saya baru ke PMI. Selain karena PMI Jakarta itu terletak di kawasan yang menurut saya agak sulit cari parkir :P , kondisi badan juga sulit diajak kompromi (tekanan darah rendah/TDR sering terjadi). Apalagi sekarang kadar Hb mulai jadi persyaratan, syarat itu juga jadi agak sulit dipenuhi. Saya harus banyak istirahat dan mengkonsumsi Sangobion secara teratur dalam kurun 5 hari sebelum mendonor. Ketika ritual tersebut sudah dilakukan dan PMI tetap menolak, huuh… rasanya kesal sekali :(  

Itulah sebabnya saya juga kesal waktu membaca, “setetes darah penuh arti” - setetes? Gak mungkin! Sekantung darah baru berarti :P  

20
Nov
07

Reading Service

Sekedar membagi pengalaman masa lalu, ada sebuah kegiatan yang pada waktu SMA sering saya lakukan (bersama beberapa orang teman sekolah). Kegiatan ini tadinya merupakan bagian dari kegiatan sosial yang diselenggarakan OSIS, namun lama-lama jadi sesuatu yang mengasikkan dan kerap dilakukan tiap minggu.  

Kegiatan tersebut adalah membacakan buku kepada teman-teman tuna netra. Mulanya kami pergi ke Wyata Guna (Panti Rehabilitasi Tuna Netra) di jalan Padjadjaran-Bandung, disana kami mencari teman-teman yang ingin dibacakan bukunya. Jangan salah, mereka juga punya buku-buku “normal”, yang meskipun tidak bisa mereka baca sendiri, namun itu adalah bahan bacaan wajib mereka di sekolah :D

Kadang kami membacakan buku-buku pelajaran mereka, dan kemudian mereka menuliskannya dengan huruf Braille. Ketika sedang membacakan buku-buku pelajaran SMA, kami seperti mengulang kembali pelajaran yang pernah diterima, secara tidak langsung kami juga ikut belajar bersama mereka, terkadang juga sambil berdiskusi mengenai pelajaran tersebut. Membacakan buku untuk teman-teman tuna netra yang lebih kecil juga menarik. Selain membaca, kami juga harus menyampaikan konsep-konsep yang mudah dimengerti oleh mereka. Konsep bentuk atau ruang kadang lebih mudah dijelaskan, tapi konsep warna agak sulit menyampaikannya.  

Pengalaman-pengalaman itu sangat menyenangkan buat kami, yang merasa dapat berbagi bersama mereka. Saat itu hanya berbekal suara dan kemampuan membaca, kami berupaya untuk menyenangkan mereka juga.  

Saat ini reading service sudah tidak lagi saya lakukan. Sebagai gantinya saya mencoba untuk menjadi sukarelawan di Yayasan Mitra Netra, membantu salah satu program mereka yaitu membuat e-book dari buku-buku Indonesia. Sebenarnya akan lebih mudah bagi YMN untuk membuat e-book apabila mereka diberikan softcopy buku-buku yang bisa langsung diubah dalam bentuk e-book yang dapat diakses langsung oleh tuna netra. Namun tidak semua penerbit bersedia memberikan  softcopy buku-buku yang mereka terbitkan, sehingga butuh sukarelawan untuk re-type buku-buku cetak. Menurut YMN, mereka juga telah memiliki semacam ijin untuk menuliskan kembali buku-buku (cetak), asalkan tidak digunakan untuk kepentingan bisnis (selengkapnya bisa dilihat disini). 

Berbagi untuk sesama ternyata sangat menyenangkan, namun tetap perlu kesungguhan ;)  

12
Nov
07

terima kasih pak satpam…

Dari diskusi pada PB2007 yang lalu, ada beberapa teman yang berbagi pengalaman mengenai posting yang berisi keluhan atas mutu jasa layanan publik. Mulai dari soal jalanan rusak, galian berbagai macam kabel di jalan umum, jaringan komunikasi yang tak kunjung diperbaiki, dsb. Adanya posting di blog sering kali dapat menggugah instansi-instansi terkait untuk memperbaiki mutu layanan yang mereka berikan pada masyarakat ;)

Kalau itu soal keluhan, saya jadi ingat bahwa dulu saya juga pernah ingin berbagi mengenai mutu layanan sebuah instansi. Bentuknya memang bukan berupa keluhan, namun apresiasi atas tindakan yang dilakukan oleh salah seorang staf mereka yang saya anggap melebihi dari hal-hal yang biasa diberikan.

Pengalaman ini sebenarnya sudah lama, lebih dari 2 tahun yang lalu, ketika akan mengambil uang di ATM Bank Niaga Semarang (dekat simpang lima). Hari Sabtu siang, saat sedang menunggu proses informasi saldo terkini di hadapan mesin ATM, tiba-tiba mati lampu, padahal tidak ada angin tdk ada hujan. Kejadian yang hanya sedetik itu mengakibatkan mesin ATM “blank” sejenak, dan nyala kembali dengan tampilan “selamat datang”. Ya, mesin itu berhasil menelan kartu ATM saya dengan sukses. Gleg!

Reaksi pertama, tentunya bingung, soalnya hari itu adalah hari Sabtu, sementara hari Minggu besok saya sudah harus meninggalkan Semarang. Lagipula sudah terbayang betapa malasnya mengurus kartu ATM yang hilang, belum lagi harus bolak-balik ke Bank, capek deh… :(

security.jpg

Saya langsung melaporkan kejadian tersebut pada Pak Satpam yang berada di depan, menceritakan kronologis kejadian yang saya alami. Setelah menelpon petugas terkait, Pak Satpam langsung mengemukakan solusinya, “maaf bu, petugasnya sudah dipanggil, sekitar 1 jam akan tiba disini. Kalau ibu mau pergi dulu, silakan, nanti 1 jam lagi kartunya bisa diambil disini”.

Benar saja, satu jam lebih sedikit, saya kembali lagi ke Bank tersebut, melihat petugas trouble shooting sedang bekerja mengambilkan kartu saya yang tadi tertelan mesin ATM.

Kemudahan yang saya terima saat itu terus berdampak pada image saya terhadap Bank Niaga. Saya merasa urusan saya jadi lebih mudah. Walaupun saya pernah juga kecewa dengan layanannya – seperti ter-debet 2 kali saat membayar kartu kredit, atau tiba-tiba rekening saya terdebet untuk nomor telpon yang sudah tidak saya pakai lagi – namun rasanya itu semua bisa terhapus dengan kemudahan-kemudahan yang saya dapatkan.

Saya melihat budaya kerja disitu sudah diterapkan bahkan pada level Satpam sekalipun. Sebuah budaya untuk memberikan layanan dengan tulus, tanpa mempedulikan apakah rekening saya hanya tinggal saldo minimal sekalipun :D

Terima kasih ya pak, saya kagum dengan kesigapan bapak saat itu. Semoga budaya kerja seperti ini bisa menjadi teladan bagi rekan-rekan yang lain. Juga semoga saya bisa mencontoh bapak, untuk sigap berbuat sesuatu yang dibutuhkan orang lain dengan tulus :)

11
Nov
07

medley dan masa lalu

“Jika Anda bisa mengubah satu kejadian di masa lalu Anda demi masa depan yang lebih baik, apakah itu?”

Sudah 2 minggu berlalu sejak topik ini muncul dalam list of inspiration :P Tidak mudah ternyata membuat suatu tulisan terkait masa lalu, terlebih lagi bila harus dikaitkan dengan sesuatu yang ingin diubah.

Spontanitas… gotcha! Ya, itulah yang ingin saya ubah.

Saya melihat bahwa orang lain, juga teman-teman saya seringkali mendapat keberuntungan ataupun kemudahan-kemudahan untuk menjalani sebuah kesempatan, karena mereka bersikap spontan, berani dan juga asertif :) Pendapat-pendapat mereka terkadang juga tidak begitu “brilian”, namun mereka berani mengemukakannya secara spontan, untuk memperoleh umpan balik, kritik maupun saran yang akhirnya dapat membantu mereka untuk merevisi kembali pendapatnya menjadi suatu pendapat yang baik dengan mempertimbangkan berbagai sudut pandang. Sementara saya hanya bisa mengamati, sibuk dengan pendapat saya sendiri, yang bisa benar (sedikit), bisa juga salah (yang ini agak sering), namun tidak mencoba untuk mengemukakannya :lol:

Rekan-rekan saya, dengan sikap mereka yang spontan, sering mendapat kesempatan dan diberi kepercayaan untuk mengerjakan hal-hal tertentu dengan tanggung jawab yang cukup besar. Sementara saya, diberi kepercayaan untuk ikut serta dalam suatu kegiatan saja sudah untung :P

Saya membayangkan bahwa jika saya bisa lebih spontan, saya akan bisa meraih lebih banyak kesempatan daripada yang saya dapatkan sampai saat ini. Memang bukan juga berarti bahwa dengan kespontanan tersebut, nasib saya akan lebih beruntung, namun paling tidak saya memperoleh lebih banyak kesempatan untuk menguji pemikiran-pemikiran saya, pendapat saya, demi masa depan yang lebih baik tentunya.

Teman, kita memang perlu berpikir sebelum bertindak, namun terlalu banyak berpikir kadang membuat kita jadi tidak melakukan tindakan apapun. Jangan lagi sia-siakan waktu untuk terlalu lama berpikir, sudah saatnya untuk segera bertindak dan bersikap spontan.

Masa lalu, saat saya sulit untuk bersikap spontan, tentunya bisa jadi pelajaran bahwa hal itu bukan sesuatu yang baik, banyak kesempatan yang tidak dapat saya manfaatkan. Tidak ada jaminan apakah spontanitas selalu lebih menguntungkan, namun jika kita cukup mempertimbangkan apa yang akan kita lakukan, niscaya tindakan tersebut akan membawa dampak yang lebih baik.

Ibarat sebuah lagu, kehidupan itu layaknya untaian medley, berpadunya aneka irama, nada-nada gembira yang membahagiakan, juga senandung sendu yang menghanyutkan. Ada saatnya kita beruntung, ada saatnya pula kita kurang beruntung :D

Sumber inspirasi: http://medleymovie.blogspot.com

03
Nov
07

masih ga percaya

Mengutip kalimat pertama mas Enda dalam Pesta Blogger 2007 hari Sabtu yang lalu, saya juga merasa mengalami hal serupa.

Mendaftar untuk jadi peserta beberapa hari setelah pendaftaran dibuka, membuat saya tidak begitu optimis kalau akan termasuk dalam daftar 100 orang yang diundang. Hanya berpikir, lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali, akhirnya form pendaftaran pun terkirim :D

Belum ada email balasan, sampai pada suatu hari (seminggu sebelum hari H) saya menerima email undangan. Email itu pun tersesat masuk dalam Spam Box, yang sebenarnya sudah hampir saya hapus.

Singkat cerita, akhirnya saya menghadiri acara tersebut, meskipun datang terlambat karena banyak ritual yang harus dikerjakan setiap hari Sabtu :) Mendengar acara pembukaan, talk show dengan aktivis blog Indonesia, makan siang, breakout session sampai dengan wrap up discussion saya ikuti dengan rasa senang, heran dan kagum, karena bisa berada disana, bertemu dengan orang-orang yang biasanya hanya saya temui di dunia maya. Masih ga percaya :)

(Cerita soal liputan acara seolah sudah menjadi kewajiban bagi para blogger untuk menuliskannya pada blog masing-masing. Hal itu sudah banyak di-posting oleh para peserta PB2007. Terlalu basi rasanya kalau saya ulang lagi disini *cape deeh* )

Kemudian sampailah pada acara penutup, pembagian hadiah bagi para pemenang blog favorit untuk setiap kategori, serta pembagian doorprize. Dan… doorprize terakhir yang dibagikan, smartphone BlackBerry Curve 8310 jatuh ke tangan saya ;) Asiikk… dapet handphone !!!

Alhasil, menulis kesan-kesan PB2007 yang tadinya akan saya posting sepulang dari sana, jadi tertunda. Ternyata pada malam itu, blackberry-ing lebih mengasikkan daripada blogging :P

Kalau mas Enda bilang, “masih ga percaya” karena telah mengumpulkan 500-an blogger Indonesia; saya juga bilang “masih ga percaya” kalau blackberry itu jadi milik saya :lol:

Akhir kata, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada panitia yang telah menyelenggarakan acara ini, kepada rekan-rekan blogger yang telah meramaikan dan yang telah mendukung acara ini, serta sponsor yang juga ikut berkontribusi. Semoga pada acara Pesta Blogger berikutnya, semakin banyak sponsor yang mendukung, sehingga makin banyak juga para blogger yang… dapet doorprize :lol:




 

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Blog Stats

  • 45,740 hits

Others

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

visitor stats

PageRank

my 'read' shelf:
 my read shelf

Click to view my Personality Profile page