Arsip untuk Januari, 2008

30
Jan
08

Mitos tentang kreativitas

Secara umum yang dimaksud dengan kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada. 

Pada dasarnya kreativitas dimiliki oleh setiap orang dan merupakan hal penting untuk dapat memperoleh hasil kerja yang lebih baik. Ada berbagai pendapat mengenai kreativitas, dan ada juga diantaranya yang justru malah menghambat munculnya kreativitas.  

Berdasarkan studi Teresa Amabile di FastCompany.com, ada beberapa pendapat yang tidak benar mengenai kreativitas, diantaranya adalah: 

Kreativitas hanya untuk orang-orang tertentu atau bidang-bidang tertentu saja.

Dalam perusahaan, seringkali orang beranggapan bahwa kreativitas hanya milik orang-orang yang ada di bagian R&D, bagian pemasaran atau bagian periklanan saja; sementara bagian lain, seperti misalnya Accounting dianggap kurang perlu kreativitas. Pendapat ini tidak benar, karena setiap orang di organisasi/perusahaan dituntut untuk dapat menghasilkan ide-ide baru yang berguna, termasuk juga dari orang-orang di bagian Accounting.
Setiap orang dengan taraf kecerdasan normal mampu berkreasi, melakukan pekerjaan secara kreatif. Kreativitas ditentukan dari banyak hal, seperti pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan teknis, serta kemampuan untuk berpikir dengan cara-cara baru. 

Uang merupakan motivator bagi munculnya kreativitas.

Uang terkadang memang dapat memacu seseorang untuk bekerja lebih giat, namun tidak ada kaitan diantara keduanya. Malah orang-orang yang bekerja dengan begitu mengharapkan komisi atau bonus seringkali memiliki tingkat kreativitas yang lebih rendah.
Kreativitas akan semakin tumbuh jika lingkungan memberikan dorongan, serta menghargai ide-ide baru yang dihasilkan. Seseorang pun menjadi lebih kreatif bila ia menyenangi pekerjaannya, serta berupaya mengembangkan ketrampilan yang dimiliki.  

Kreativitas makin terpacu jika berada dalam keadaan “under-pressure”

Pendapat ini seringkali jadi “alasan” saat pekerjaan belum selesai-selesai juga. *Saya pun merasakan hal yang sama, seakan-akan kreativitas baru mucul pada detik-detik terakhir ;) *
Namun penelitian menunjukkan bahwa seseorang menjadi kurang kreatif ketika menghadapi tekanan waktu. Tekanan waktu melumpuhkan kreativitas karena orang tidak dapat memikirkan persoalan dengan jernih. Kreativitas membutuhkan masa inkubasi; dan dibutuhkan waktu untuk menelaah persoalan yang dihadapi dan membiarkan ide-ide muncul.
Kenyataannya, bukan deadline yang mendorong munculnya kreativitas; namun adanya berbagai gangguan-lah yang menghabiskan waktu seseorang dalam membuat terobosan kreatif. Pada saat-saat genting seseorang bisa saja menjadi kreatif, namun hanya jika ia bisa fokus pada pekerjaannya (pada apa yang harus dikerjakan).  

Hmm… meskipun kenyataannya berbagai tugas memang baru selesai di detik-detik terakhir, tapi rasanya memang benar… itu bukan karena tiba-tiba muncul kreativitas, tapi karena kemarin-kemarin belum terfokus untuk mengerjakan tugas tersebut :P

27
Jan
08

August Rush

Akhir Desember yang lalu, pertama kali membaca sinopsis film August Rush langsung muncul ketertarikan dan rasa penasaran akan film yang bertema musik ini. Sayangnya film ini hanya diputar satu kali saja setiap harinya dengan jam pertunjukan yang cukup menantang, 22.30 ;)   Dengan waktu pertunjukan yang seperti itu, perlu sedikit perjuangan untuk tetap terjaga menunggu film diputar, namun sepertinya jam tersebut kurang cocok bagi saya :P

Kemarin, ketika men-cek film yang diputar, ternyata August Rush sudah mulai ditayangkan dengan waktu yang lebih “sesuai”, dan akhirnya film inilah yang menjadi pilihan untuk ditonton. 

Kalau hanya menyimak cerita, film ini hanya seperti fairy-tale, dongeng seribu satu malam. Terlalu sederhana kalau film ini diceritakan melalui kata-kata. August Rush lebih banyak bercerita melalui gambar, melalui gerakan, dan melalui musik, daripada melalui kata-kata atau dialog antar para pemainnya. Namun minimnya kata-kata, membuat dialog yang ada di film ini menjadi sangat bermakna dan memiliki kekuatan untuk menjelaskan makna musik yang terdengar. 

Dari film ini lebih bisa dipahami bahwa musik yang terdiri dari nada-nada selalu ada di sekitar kita, sementara alat musik hanya sekedar alat bantu untuk mengulangi nada-nada yang ada di alam, sebuah simfoni kehidupan yang indah. 

Seperti yang diungkapkan Evan “August Rush” Taylor di akhir film tersebut, “musik ada di sekitar kita, dan yang perlu kita lakukan hanyalah.. mendengarkan”. 

Sambil diiringi cuplikan soundtrack music August Rush disini, masih terbayang indahnya film semalam, … August Rush, it’s just about music …

august-rush.jpg

24
Jan
08

keadilan dan kejujuran

Akhir tahun atau awal tahun seperti ini, biasanya sarat dengan berbagai penilaian, berbagai evaluasi dari hasil kerja di periode atau tahun sebelumnya. Pada minggu yang lalu, saya mendengar ungkapan seperti ini dari seorang pemimpin di depan beberapa orang bawahannya, “…kalau tim penilai salah menilai, performance kita yang baik trus dinilai jelek, maka kita harus protes!!! Tapi kalau sebaliknya (yang seharusnya jelek tapi ditulis bagus), ya kita diam-diam saja…” 

Mulanya pernyataan pejabat tsb tidak terlalu saya perhatikan, apalagi saya tidak punya peran apa-apa dan hanya kebetulan berada disitu. Namun pernyataan yang sama terus diulang beberapa kali, sambil ditimpali dengan gurauan beberapa orang bawahannya. 

Lama-lama saya jadi agak “terganggu” juga dengan pernyataan tersebut; ‘protes hanya saat dirugikan, tapi diam-diam saja kalau diuntungkan…’ Demikiankah mental bangsa kita?  

dan apakah saya juga bermental sama seperti itu? 

Jika berani memperjuangkan keadilan pada saat merasa “dirugikan”, apakah masih tersisa kejujuran saat “keuntungan” yang tidak semestinya berpihak pada kita? ;)

10
Jan
08

coba pahami diri sendiri

Memahami diri sendiri sebenarnya bukanlah hal yang sulit. Bayangkan saja, ini kan sesuatu tentang kita sendiri, berarti ‘mestinya’ kita yang lebih tahu tentang diri kita, daripada orang lain. Kita juga yang paling tahu tentang alasan kita melakukan tindakan-tindakan tertentu. 

Hanya saja terkadang kita mempertanyakan, “apakah benar saya itu demikian?” Kadang kita merasa kurang percaya diri dalam menilai, tapi ada kalanya juga kita jadi terlalu percaya diri dalam menilai :D  

Ya, terkadang kita memang membutuhkan cermin untuk bisa menilai diri kita secara obyektif. Cermin itu bisa berupa feedback dari orang lain, maupun melalui alat bantu lainnya, misalnya dengan menggunakan tes/kuesioner/survey, dll. 

Tujuan utama tentunya untuk lebih memahami diri secara obyektif. Disebut obyektif karena orang yang memberikan feedback maupun hasil kuesioner tsb, akan mengacu pada suatu standar tertentu, atau membandingkannya dengan populasi tertentu.

Mendengarkan feedback dari orang lain maupun mengisi kuesioner psikologi bisa memperkaya pemahaman kita tentang diri sendiri. Kalau pinjam istilahnya Johari Window, hal ini ditujukan untuk memperluas bagian yang diketahui oleh diri sendiri. 

Dari blogwaking ke blog teman, secara tidak sengaja, saya melihat ada sebuah pic berisi profil kepribadiannya dengan menggunakan MBTI (Myers Briggs Type Indicator®). Langsung deh menuju TKP dan ternyata disitu kita juga bisa mendapatkan profil kepribadian kita secara gratis ;) (senang banget sama yg gratis2 nih :P )

Tentang MBTI,

05
Jan
08

Tahap-tahap penerimaan feedback

Umpan balik (feedback) tidak selalu langsung dapat diterima oleh orang lain. Umpan balik yang sifatnya positif biasanya dapat lebih mudah diterima dibandingkan dengan umpan balik negatif. Terlepas dari itu semua, penerimaan orang terhadap umpan balik juga berbeda-beda. 

Ada beberapa tahapan yang mungkin dilalui seseorang sampai akhirnya ia dapat menerima umpan balik tersebut, yaitu: 

  1. Denial – menyangkal, merasa bahwa informasi yang baru diterima tadi bukan menggambarkan dirinya.
  2. Anger – marah, dan terkadang mulai mencari-cari sumber kesalahan atau menyalahkan lingkungan/orang lain.
  3. Bargaining – bernegosiasi, atau mencari-cari alasan, misalnya dengan mengatakan bahwa kondisi kesehatan yang kurang baik atau mungkin sarana kerja yang kurang memadai sehingga hasil kerja juga tidak optimal.
  4. Depression – sedih, atau menyesal atas kondisi yang dialami, misalnya dengan merasa bahwa umpan balik tsb dapat mempengaruhi karirnya secara keseluruhan, dsb.
  5. Acceptance – menerima, dan memahami bahwa umpan balik tsb memang menggambarkan dirinya.

Tidak ada kepastian bahwa setiap orang akan melalui seluruh tahap tersebut, bisa saja ia langsung berada pada tahap Bargaining, atau bahkan langsung ke tahap Acceptance. Selain itu belum tentu juga tahapan tersebut dilalui secara berurutan, namun tujuan akhirnya adalah sampai pada tahap Acceptance. 

Kemudian, apa manfaatnya teori di atas bagi kita? 

Baca selanjutnya…

01
Jan
08

our year of 2008

camera.jpg

KODAK  gives you picture of yesterday
POLAROID gives you picture of today
Only the LORD can give you pictures of tomorrow
God bless you all ! 

HAPPY NEW YEAR 2008




 

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 45,722 hits

Others

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

visitor stats

PageRank

my 'read' shelf:
 my read shelf

Click to view my Personality Profile page