Tulisan ini terinspirasi ketika mendengar siaran radio di Delta FM yang sedang membahas mengenai stress pada pria dan wanita. Pembahasannya kurang lebih demikian…
Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa wanita lebih sering stress dibandingkan pria, namun kalau melihat kenyataannya penghuni lembaga pemasyarakatan lebih banyak pria, jumlah pasien rumah sakit jiwa juga lebih banyak pria daripada wanita. Tindak kejahatan maupun gangguan jiwa seringkali disebabkan karena stress yang berkepanjangan dan tidak dapat dikelola dengan baik. Berarti pula bahwa lebih banyak pria yang stress dibandingkan dengan wanita, dengan kata lain wanita lebih mampu mengelola stress dibandingkan dengan pria.
Para ahli berpendapat bahwa ada tiga hal yang membuat wanita lebih bisa mengelola stress dibandingkan dengan pria, yaitu:
1.) Berbagi – wanita lebih sering membagi perasaannya pada orang lain, termasuk juga membagi hal-hal yang membuat stress. Mereka tidak terlalu peduli apakah orang lain menanggapinya atau tidak, namun hal-hal yang membuat mereka tertekan sudah dapat ‘dikeluarkan’. Sementara pria lebih sering memendam perasaan mereka daripada mengungkapkannya pada orang lain.
2.) Menangis – wanita seringkali menumpahkan perasaan tertekan mereka dalam bentuk menangis. Menangis merupakan suatu cara untuk meredakan stress yang dialami. Bagi pria, seringkali hal ini dianggap tabu, karena ada anggapan bahwa pria yang menangis adalah pria yang lemah.
3.) Berpelukan – sebuah penelitian mengungkapkan bahwa pada saat stress seseorang menghasilkan hormon-hormon tertentu (namanya lupa) di kulit. Berpelukan membuat hormon-hormon tadi bisa dikendalikan, sehingga stress tidak menjadi berkepanjangan. *Bagi pria, hal ini bukan sesuatu yang umum, salah-salah bisa dianggap ‘teletubbies’
Mungkin yang dimaksud disini adalah adanya kontak secara fisik, seperti misalnya menepuk pundak, dsb.*
Saya tidak ingin membahas soal stress antara pria dan wanita seperti pada siaran tsb, namun secara umum bisa disimpulkan bahwa dengan melakukan 3 hal sederhana di atas, paling tidak sudah ada upaya untuk meredakan stress.
Kemudian, apa kaitannya dengan judul posting di atas? (klik disini)
Pangeran Diponegoro selalu mengingatkan saya dengan Perang Jawa yang berlangsung 5 menit di waktu maghrib, sebuah analogi yang gampang sekali diingat, tahun 1825 sampai 1830. Selain asalnya beliau dari Tegalrejo, ingatan saya tentang Pangeran Diponegoro memang hanya sampai disitu. Hmm… sepertinya pelajaran sejarah jaman SD tidak terlalu banyak menempel lagi sekarang… 


















Komentar Terakhir