Arsip untuk Juli, 2008

24
Jul
08

stress pada anak

Tulisan ini terinspirasi ketika mendengar siaran radio di Delta FM yang sedang membahas mengenai stress pada pria dan wanita. Pembahasannya kurang lebih demikian…

Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa wanita lebih sering stress dibandingkan pria, namun kalau melihat kenyataannya penghuni lembaga pemasyarakatan lebih banyak pria, jumlah pasien rumah sakit jiwa juga lebih banyak pria daripada wanita. Tindak kejahatan maupun gangguan jiwa seringkali disebabkan karena stress yang berkepanjangan dan tidak dapat dikelola dengan baik. Berarti pula bahwa lebih banyak pria yang stress dibandingkan dengan wanita, dengan kata lain wanita lebih mampu mengelola stress dibandingkan dengan pria.

Para ahli berpendapat bahwa ada tiga hal yang membuat wanita lebih bisa mengelola stress dibandingkan dengan pria, yaitu:

1.) Berbagi – wanita lebih sering membagi perasaannya pada orang lain, termasuk juga membagi hal-hal yang membuat stress. Mereka tidak terlalu peduli apakah orang lain menanggapinya atau tidak, namun hal-hal yang membuat mereka tertekan sudah dapat ‘dikeluarkan’. Sementara pria lebih sering memendam perasaan mereka daripada mengungkapkannya pada orang lain.
2.) Menangis – wanita seringkali menumpahkan perasaan tertekan mereka dalam bentuk menangis. Menangis merupakan suatu cara untuk meredakan stress yang dialami. Bagi pria, seringkali hal ini dianggap tabu, karena ada anggapan bahwa pria yang menangis adalah pria yang lemah.
3.) Berpelukan – sebuah penelitian mengungkapkan bahwa pada saat stress seseorang menghasilkan hormon-hormon tertentu (namanya lupa) di kulit. Berpelukan membuat hormon-hormon tadi bisa dikendalikan, sehingga stress tidak menjadi berkepanjangan. *Bagi pria, hal ini bukan sesuatu yang umum, salah-salah bisa dianggap ‘teletubbies’ ;) Mungkin yang dimaksud disini adalah adanya kontak secara fisik, seperti misalnya menepuk pundak, dsb.*

Saya tidak ingin membahas soal stress antara pria dan wanita seperti pada siaran tsb, namun secara umum bisa disimpulkan bahwa dengan melakukan 3 hal sederhana di atas, paling tidak sudah ada upaya untuk meredakan stress.

Kemudian, apa kaitannya dengan judul posting di atas? (klik disini)

17
Jul
08

seiprit

*postingan gak penting*

Seperti biasa, melihat kata-kata aneh selalu mengundang Spyra untuk bertanya. Kali ini pertanyaan muncul setelah melihat iklan Flexi yang segede gaban, bertuliskan ‘modal seiprit, dapetnya segajah’. “Sebesar apa sih seiprit itu?”

Hmm… pernah denger kata “iprit”?

Kalau melihat di KBBI Daring (Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan), ‘iprit’ atau ‘meng-iprit’ itu artinya berlari kencang (karena ketakutan, dsb).

Sementara kalau menurut oom Google sih, “iprit” atau “ifrit” itu asalnya dari kata “Afrit” (bhs Arab), yang merupakan sejenis jin, sebagaimana terungkap dalam Surat An-Naml (QS 27:39-40). Pantesan ada juga yang suka menyebut “jin iprit”.

Jadi, masih belum terjawab juga, (jin) iprit itu sebesar apa?

Nanti deh, tanya sama temen-temen di Telkom, mungkin Anis bisa memberi pencerahan, atau West yang biasanya penuh dengan ide-ide orisinil (dan juga jahil) mengetahui artinya :mrgreen:

12
Jul
08

sebuah novel tentang novel

Buku bernuansa merah yang tertata di deretan rak “sastra” mulanya tidak terlalu menarik perhatian, namun setelah diamati ternyata buku itu karangan Remy Sylado, seorang pengarang yang hasil karyanya seringkali menarik untuk dibaca :) Buku yang berjudul “Novel Pangeran Diponegoro” dengan sub judul “Menggagas Ratu Adil”, akhirnya menjadi salah satu buku yang saya pilih sebagai bahan bacaan di akhir minggu.

Pangeran Diponegoro selalu mengingatkan saya dengan Perang Jawa yang berlangsung 5 menit di waktu maghrib, sebuah analogi yang gampang sekali diingat, tahun 1825 sampai 1830. Selain asalnya beliau dari Tegalrejo, ingatan saya tentang Pangeran Diponegoro memang hanya sampai disitu. Hmm… sepertinya pelajaran sejarah jaman SD tidak terlalu banyak menempel lagi sekarang… :(

Sebagai novel karangan Remy Sylado, novel ini juga sarat dengan imajinasi pengarang tentang kondisi dan situasi di jaman penjajahan Belanda di seputaran Yogyakarta pada akhir abad 18. Gambaran detil tentang tokoh-tokoh cerita, serta situasi lingkungan Yogyakarta dan Tegalrejo betul-betul membawa pembaca seakan-akan ikut berada di tempat yang sama. Selain itu, tutur kata-kata indah yang menggambarkan situasi alam Indonesia turut menambah keindahan yang diceritakan.

Pemikiran-pemikiran Pangeran Diponegoro pun digambarkan dengan cukup apik, diantaranya tentang perbedaan pemikiran bangsa Indonesia (Timur) dan bangsa Eropa (Barat);

Kita memang berbeda, pikiran Timur dan pikiran Barat tidakkan mungkin sama… barat adalah tempat tempat matahari terbenam, timur tempat matahari terbit. Terbenam berarti akhir, terbit berarti awal.
Di saat matahari terbenam, ada rasa waswas, gamang, dan takut karena sebentar lagi gelap, dan di dalam gelap bisa terjadi kejahatan-kejahatan, tempat merajalelanya kekuasaan iblis.
Sedangkan di saat matahari terbit, ada rasa lega, senang, nikmat, sebab terang akan memberi pengharapan terhadap arti kehidupan baru, tempat hadirnya keyakinan akan kemahakasihan Tuhan.
… biarlah Timur tetap timur, dan Barat tetap barat.

pemikirannya tentang kehidupan;

Hidup memang tidak selalu sederhana-sederhana saja. Sebab, kalau semuanya sederhana, lancar, mulus, niscaya tidak bakalan ada tantangan yang membuat manusia tergembleng untuk menjadi mustaid, sempurna, sidi.

serta pandangannya tentang kesalahan kepemimpinan;

… kebenaran pada satu pihak dapat berarti kesalahan pada pihak lain … kita tidak pernah melihat kesalahan orang lain sebagai akibat kesalahan kita.
Pemimpin tidak sepatutnya menyalahkan orang yang dipimpinnya tanpa melihat kesalahannya sendiri.

Novel ini juga penuh dengan kosakata Bahasa Indonesia yang tidak sering dipakai sehari-hari, seperti misalnya leluri, makzul, arkian, masygul, dll. Ungkapan-ungkapan bahasa Jawa, serta bahasa Belanda, Inggris dan Perancis —sebagai negara-negara yang punya peranan dalam masa penjajahan pada akhir abad 18— juga ikut mewarnai novel ini.

Sebagai sebuah novel yang juga bertitel ”novel”, maka buku ini tidak melulu bercerita tentang sejarah, tapi juga berisi tentang pemikiran, pandangan hidup dan nilai-nilai kemanusiaan. Mungkin lebih tepat disebut sebagai sebuah fiksi sejarah.

Dan sebagai karya Remy Sylado, bagian-bagian awal novel selalu menarik untuk disimak, sementara menjelang akhir cerita biasanya keinginan pengarang berbeda dengan dugaan pembaca (maksudnya: saya) :mrgreen:




 

Juli 2008
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 45,539 hits

Others

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

visitor stats

PageRank

my 'read' shelf:
 my read shelf

Click to view my Personality Profile page