Arsip untuk Agustus, 2008

30
Agu
08

you can’t forgive what you can’t forget

sebuah quote yang saya cuplik dari film “Revenge” ini tetap menjadi bahan menarik buat dibahas. Sekedar renungan.

Mengucapkan kata “maaf” jauh lebih mudah daripada menghayatinya dan benar-benar memaafkan kesalahan yang telah diperbuat orang lain. Kadang kita mengatakan telah memaafkan, namun dalam kenyataannya pada saat-saat tertentu kita tetap “membedakan” reaksi atau tindakan kita terhadap orang yang pernah berbuat salah tsb.

Ternyata jika kita tidak dapat melupakan kesalahan seseorang, sulit bagi kita untuk memaafkan. Seringkali kita menggabungkan antara tindakan (kesalahan) seseorang dengan pribadinya. Contohnya, ketika orang yang pernah berbuat salah itu muncul di hadapan kita, tiba-tiba kita mengingat kembali kesalahan yang pernah diperbuatnya, sehingga secara tidak sadar muncul antipati terhadap orang tsb, dan akhirnya tindakan yang kita lakukan pun diwarnai oleh rasa antipati.

Tapi, apakah kita bisa begitu saja melupakan kesalahan seseorang? Hmm… rasanya itu semua berpulang kembali pada diri kita masing-masing, seberapa besar kelegaan hati kita untuk dapat dengan tulus memberi “maaf”, yang tidak hanya sekedar kata-kata saja.

Saya pikir, mungkin kita perlu memisahkan antara tindakan yang dilakukan seseorang dengan pribadinya. Mungkin saja seseorang melakukan suatu tindakan yang salah, namun tentunya dia juga punya alasan-alasan tertentu saat melakukannya, dan bisa jadi hal itu adalah alasan paling logis dan paling benar dari sudut pandangnya saat itu. Atau mungkin saja dia tidak sengaja melakukannya :)

Tentunya saya pun tak luput dari kesalahan-kesalahan yang sengaja maupun tidak sengaja telah saya lakukan selama ini, dan saya pun tak dapat memaksa orang lain untuk melupakannya begitu saja…

“selamat menunaikan ibadah puasa”
mohon maaf lahir dan bathin, semoga amal ibadah kita membawa berkah dan diterima oleh Allah SWT, amiin…

19
Agu
08

jika bukan kita, siapa lagi?

Temans,
pernahkah kalian berada dalam situasi yang membuat kita merasa ada sesuatu yang kurang ‘beres’, tapi kita tidak dapat berbuat apa-apa?

Sebuah peristiwa yang pernah saya alami beberapa bulan yang lalu (hmm… perlu beberapa bulan untuk meredakan perasaan ‘ga enak’ :) ), waktu itu saya ikut terlibat dalam proses diskusi bersama sekelompok orang-orang pemerintahan.

Keterlibatan saya disitu hanya untuk memberikan penjelasan mengenai proses awal yang sudah saya lakukan, itu pun kalau dibutuhkan. Proses awal yang saya kerjakan tersebut lebih bersifat administratif yang sudah jelas prosedurnya. Jadi, praktis sebenarnya tidak terlalu banyak kontribusi saya saat itu. Saya lebih banyak mendengarkan, menyimak diskusi di antara orang-orang tersebut.

Dari perjalanan diskusi, saya memperhatikan sepertinya ada sekelompok orang sudah punya skenario tertentu dan lebih menginginkan kondisi yang ‘aman-aman saja’.

Menciptakan kondisi yang ‘aman’ sebenarnya boleh-boleh saja asalkan memang sesuai dengan ketentuan yang ada. Namun saat ketentuan seolah dicoba untuk disesuaikan dengan kondisi yang ada, saya jadi merasa pekerjaan awal yang sudah saya lakukan sebelumnya menjadi sia-sia.

Banyaknya waktu dan pemikiran yang telah saya berikan demi pekerjaan ini rasanya tidak berarti apa-apa. Sejenak saya berpikir, apa bedanya saya kerja asal-asalan dan bekerja dengan sungguh-sungguh untuk tugas ini? Bukankah keseriusan saya mengerjakan tugas ini adalah demi suatu kondisi yang lebih baik, bagi organisasi, lembaga, maupun bagi masyarakat yang lebih luas?

Sejenak, ada rasa kecewa dengan situasi saat itu…

Untungnya saya juga melihat bahwa dalam diskusi tsb, tidak semua orang punya pendapat seperti di atas. Ada juga sekelompok orang yang punya idealisme untuk membawa perubahan, mencari kondisi yang memang sesuai dengan ketentuan dan aturan-aturan yang ada. Jumlah mereka memang tidak banyak, namun sikap mereka tetap teguh memegang prinsip.

Pemikiran saya langsung berubah, perasaan kecewa tadi dapat segera saya atasi. Saya jadi ingin mendukung sekelompok kecil orang yang memegang prinsip tsb. Muncul setitik kebanggaan dalam diri bahwa saya telah melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Itulah yang saat ini bisa saya sumbangkan bagi organisasi, bagi lembaga maupun bagi masyarakat Indonesia.

Meskipun hasil diskusi pada saat itu belum seperti kondisi ideal yang saya bayangkan, namun saya tetap berkeyakinan bahwa bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai aturan dan prosedur yang ada tentunya akan membawa perubahan yang berdampak pada kemajuan organisasi, lembaga, maupun juga pada bangsa Indonesia.

Lakukanlah sesuatu itu dengan sungguh-sungguh, dan temukan bahwa perubahan yang baik akan didapat dari kesungguhan. Mungkin saat ini hasilnya belum terlihat, namun jika kita tidak melakukannya, kita tidak pernah tahu akan hasilnya.

Jika bukan kita, siapa lagi?   ;)

18
Agu
08

Kita Punya Bendera

Sebuah film Indonesia, yang pas sekali diputar di bulan Agustus, saat Indonesia sedang merayakan Hari Ulang Tahun-nya yang ke-63.

Seperti yang diungkapkan oleh sang sutradara Steven Purba, “Film ini tidak hanya tentang peranakan Cina-Indonesia saja, namun lebih jauh tentang filosofi kebersamaan dalam perbedaan; serta tentang pencarian identitas diri seorang anak”.

Setelah menyimak film ini tadi sore, tampaknya banyak sekali hal yang ingin diangkat dari cerita di film ini. Kalau film-nya dianggap sebagai film dokumenter, hal ini sah-sah saja; namun sebagai penonton (yang suka punya harapan-harapan tertentu sebelum nonton) rasanya film ini tergolong sederhana, dan kurang fokus terhadap aspek yang benar-benar ingin ditonjolkan. Tapi sebagai film Indonesia, film ini termasuk film yang tergolong bagus dan layak dinikmati oleh semua orang.

Pengalaman Timmy (tokoh di film itu) sedikit banyak mengingatkan saya juga dengan pengalaman masa lalu. Saya seringkali merasa kesulitan jika mengisi data-data yang menanyakan soal “suku bangsa”. Sebagai anak yang lahir dan besar di kota Bandung, dari ibu yang berdarah Minang, dan ayah yang berdarah Minahasa – saya paling bingung kalau disuruh menentukan “suku bangsa”.

Rasanya tidak adil kalau hanya menuliskan salah satu, sedangkan kalau menulis keduanya, guru selalu meminta untuk memilih salah satu ;)   BTW, tidak jarang juga yang ‘menuduh’ saya termasuk orang Cina, cuma gara-gara bentuk mata yang rada kecil dan warna kulit sawo kurang matang :P

Lama-lama saya terbiasa juga dengan situasi demikian, dan tegas mengatakan bahwa “saya orang Indonesia”, sama seperti mereka yang bersuku bangsa Jawa, Sunda, Minang, Minahasa, dll, juga sama seperti mereka yang keturunan Cina, Arab, India, yang sudah menjadi WNI. Kita sama-sama orang Indonesia.

Kembali pada film Kita Punya Bendera, salah satu point yang diangkat adalah bahwa “jadikanlah perbedaan itu sebagai suatu nilai positif, hadapilah dan jangan menghindari perbedaan tsb”.

Selain itu yang juga patut diacungkan jempol adalah ilustrasi musiknya. Hmm… petikan gitar solo yang dominan menghiasi jalannya film tersebut benar-benar indah. Cantik sekali! Two thumbs up buat Jubing Kristianto.

Satu hal yang kelihatannya masih perlu dilakukan adalah mempromosikan film ini pada masyarakat luas. Saya mengatakan hal ini karena saat menonton tadi sore, ruang bioskop hanya diisi oleh kurang dari 5 orang penonton !!!

Yah, saya cuma bisa menduga bahwa mungkin saja tadi jarang ada yang menonton karena masih sibuk dengan acara 17-an di lingkungan rumah masing-masing :D

Update 18 Agustus 2008, sore:
Trailer film-nya bisa dilihat di blognya Bima Anggara (pemeran Jarwo), disini. *makasih ya Bima…*

Update 30 Agustus 2008:
Review film-nya dari sisi sinematografi, bisa dilihat disini.

17
Agu
08

Dirgahayu Indonesia

“semoga tanah air & anak bangsa ini berhasil mengejar ketertinggalannya….” begitu sepenggal SMS yang dikirim oleh Luigi siang tadi.

SMS itu juga menggugah saya untuk mengingat kembali, apa yang sudah saya lakukan untuk negara ini? Hmm… bukan hal yang mudah juga untuk menulisnya saat ini :mrgreen:

 

Selamat Ulang Tahun

untukmu

INDONESIA

 

12
Agu
08

Seribu-Buku – sampai dimana kepedulian kita?

Saat ini, ada 2 gerakan yang saya ketahui, yang sama-sama bertajuk “Seribu-Buku”. Keduanya sama-sama mengajak kita untuk mau berbagi dan peduli terhadap mereka yang sulit mendapatkan akses terhadap buku-buku, yang saat ini masih menjadi “barang mahal” di negeri ini.

Yang pertama, Gerakan “Seribu Buku Untuk Tunanetra” – Kegiatan yang diprakarsai oleh Yayasan Mitra Netra ini berawal dari keprihatinan yang mendalam atas minimnya ketersediaan buku untuk tunanetra di Indonesia, yang sangat tidak sebanding dengan pesatnya perkembangan dunia literasi dewasa ini. Sejak dimulainya gerakan ini, Mitra Netra mengundang masyarakat luas berpartisipasi, untuk mempercepat akses tunanetra ke dunia literasi.

Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengundang masyarakat luas untuk menjadi relawan, dengan membantu mengetik ulang buku-buku populer. Semua file yang diterima akan diolah menjadi file berformat Braille, untuk kemudian dicetak menjadi buku Braille dengan mesin Braille embosser. Kemudian buku-buku Braille tersebut didistribusikan melalui layanan perpustakaan Braille on line agar dapat dinikmati oleh tunanetra di seluruh Indonesia.

Dengan partisipasi masyarakat melalui gerakan Seribu Buku Untuk Tunanetra, Mitra Netra telah berhasil memangkas sebagian besar waktu dan biaya yang dibutuhkan guna memproduksi buku Braille. Ini juga berdampak pada makin cepatnya tunanetra mendapatkan buku.

Yang kedua adalah “Gerakan (Kumpul) Seribu Buku” – Gerakan ini didasari oleh fakta bahwa harga buku yang makin melambung, sedangkan daya beli makin menurun. Di sisi lain, mungkin saja terjadi bahwa buku yang sudah terbaca mulai menumpuk dan kekurangan tempat.

Kegiatan yang (setahu saya) baru di-launch minggu lalu ini mengajak masyarakat (terutama para blogger) untuk mengumpulkan buku-buku yang akan disalurkan lagi kepada perpustakaan daerah dan diharapkan nantinya masyarakat sekitar perpustakaan itulah yang akan melanjutkan pengelolaannya.

Gerakan yang kedua ini langsung mendapat banyak dukungan dari para blogger, paling tidak dalam mempublikasikannya. Dan seperti yang diungkapkan oleh mas Iman, sebaiknya ada pemetaan target sasaran penerima buku sehingga tidak ada buku yang mubazir tidak terbaca. Jadi, perlu pertimbangan juga dalam menyumbang buku, agar buku-buku itu bisa bermanfaat bagi yang membaca :) bisa tepat guna, tepat sasaran.

Sekarang, kembali pada kita sendiri, apa yang dapat kita lakukan untuk membantu mereka yang sulit mendapatkan akses terhadap bahan-bahan bacaan penambah wawasan dan pengetahuan.

Mengutip kata-kata mas Iman, “tak ada yang lebih menyenangkan bisa berbagi dengan sesama.”




 

Agustus 2008
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Blog Stats

  • 44,996 hits

Others

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

visitor stats

PageRank

my 'read' shelf:
 my read shelf

Click to view my Personality Profile page