sebagai kelanjutan dari buku sebelumnya –yang berakhir hanya dengan sebuh titik tanpa tanda-tanda apakah masih ada kelanjutannya atau tidak– novel ini juga mempunyai gaya penulisan yang sama.
Novelnya berawal dari cerita sang kakek yang keturunan Kyai Mojo di Minahasa kepada Ratnaningsih, sang jurnalis; dan berakhir dengan situasi saat Perang Jawa akan dimulai. Dan… sama seperti yang pertama, di akhir novel ini pun tidak ada secercah tanda-tanda apakah novel sudah berakhir, atau masih akan disambung dengan novel-novel berikutnya lagi. Tapi sebagaimana layaknya sejarah, ceritanya tidak akan pernah berakhir, paling tidak selama si pelakon masih ada, ceritanya masih akan berlanjut
– itu hanya sebuah pembelajaran
Menyimak novel kedua ini, rasanya jalan cerita lebih lambat dibandingkan novel pertama. Tidak terlalu banyak pula ungkapan-ungkapan menarik dan inspiratif yang terkandung di dalamnya. Mungkin bukannya ‘tidak banyak’, tapi butuh penghayatan yang lebih dalam untuk mencerna rangkaian kata-kata sastra dari sang pengarang.
Seperti gambarannya tentang alam Tegalrejo seusai hujan lebat semalaman,
Dan, nanti setelah matahari datang, semuanya jadi indah, pohon-pohon yang daunnya menjadi bersih oleh hujan, serta kesadaran dalam hatinya untuk melihat tanah airnya yang dianugrahkan Tuhan kepada bangsanya ini adalah bumi tempatnya mempertanggungjawabkan kehidupan.
Bisa terbayang indahnya alam yang habis “dicuci” oleh hujan, wangi tanah dan daun-daun yang baru tumbuh, dan itu semua seolah juga “mencuci” jiwa dengan kesadaran akan tanggung jawab sebagai seorang individu
Di buku kedua ini, tidak banyak pula asal-usul istilah kata-kata serapan Indonesia yang dibahas. Ceritanya pun lebih banyak menggambarkan sepak terjang Danurejo IV, politik devide et impera serta praktek-praktek korupsi yang ternyata sudah berlangsung dari jaman dulu kala.
Sebagai novel sejarah, buku ini mungkin tergolong ‘ringan’, namun sebagai karya sastra Indonesia modern, buku ini tetap menarik untuk dibaca. Itu juga yang membuat halaman demi halaman, kalimat demi kalimat yang ditulis rasanya sayang kalau hanya dilewati tanpa penghayatan yang lebih dalam.



















Bagus ya….berarti boleh jadi catatan untuk dibeli, jika ada waktu ke toko buku.
Saya lama nggak berkunjung ke sini.. ternyata masih asyik juga mbaca-mbaca di sini… Maaf, tidak berkomentar…
*saya teman Widi Heriyanto di Sekolah Rakyat Limbangan Kendal
@ edratna,
iya bu… lumayan deh… yang pasti saya selalu semangat membacanya
@ Andy MSE,
halo mas Andy,
masih di Pattiro kan? Widi juga sudah cerita tentang mas Andy.
BTW, blog nya Naning kok ga bisa di-akses lagi ya?
Aku suka dgn kata2 mencuci jiwa itu. Seandainya itu bisa kulakukan..
ah… komentarnya bikin inspirasi lagi nih Nis… tengkyu yah