Arsip untuk Desember, 2008

08
Des
08

ventilasi jiwa

Dalam sebuah perbincangan di pagi hari, topik yang dibahas adalah mengenai kesehatan jiwa. Kebetulan hari itu adalah Hari Kesehatan Jiwa se-dunia. *tapi jangan tanya kenapa disebut demikian, saya sendiri juga baru tahu kalau ada istilah HarKesWa :P *

Akhir-akhir ini, sering kita melihat atau membaca di koran tentang perilaku orang yang “tidak biasanya”, misalnya orang yang mencoba bunuh diri karena berbagai persoalan yang menimpa dirinya, seperti terlilit hutang yang tidak mampu dilunasi, tiba-tiba dikeluarkan dari pekerjaan, maupun karena depresi ditinggal oleh pasangan hidupnya. Tidak dapat dipungkiri, masalah-masalah besar seperti itu pastinya pernah ada dalam kehidupan setiap orang. Namun kalau kita simak, tidak semua orang dapat menghadapinya dengan baik, atau dengan reaksi-reaksi yang konstruktif.

Contoh di atas adalah salah satu reaksi destruktif yang mungkin dilakukan pada saat mengalami masalah-masalah besar yang sepertinya tak dapat terpecahkan itu. Masih banyak reaksi destruktif lainnya, yang pada dasarnya adalah perilaku merugikan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Bicara soal jiwa atau psikis, adalah bicara mengenai sesuatu yang kasat mata. Kita baru dapat mengamatinya melalui tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang tsb. Bukan hal yang mudah pula untuk menilai apakah jiwa atau psikis seseorang itu sedang berada pada keadaan yang “kurang sehat”, namun bila tindakan-tindakan destruktif yang dilakukan, maka kemungkinan besar terjadi ketidakseimbangan dalam jiwa orang tsb.

Sama halnya dengan “fisik” yang perlu diobati ketika ada bagian tubuh yang sakit; maka “psikis”-pun demikian. Jika sakit/ketidakseimbangan fisik bisa diatasi dengan minum obat, maka ketidakseimbangan psikis biasanya diatasi dengan cara menyalurkan pikiran atau emosi-emosi kita ke dalam bentuk yang lebih konstruktif.

Berbagai persoalan yang kita pikirkan dan mempengaruhi emosi kita memang perlu diselesaikan dengan baik, namun tidak selamanya hal itu harus kita lakukan sendiri. Ada kalanya kita perlu mediasi untuk bisa mencerna persoalan yang dirasa amat kusut tsb menjadi potongan-potongan kecil yang mudah untuk diselesaikan.

Kita perlu berbagi, bercerita tentang hal-hal yang kita rasakan dan yang kita pikirkan. Tidak melulu hanya yang berupa persoalan rumit, namun berbagai hal yang memang kita alami, kita rasakan dan kita pikirkan. Hal ini yang dimaksud dengan ventilasi jiwa. Jika kita menutup diri kita, memendam sendiri pikiran-pikiran kita, maka suatu saat psikis kita bisa menjadi letih dan pada akhirnya menghasilkan perilaku yang destruktif. Karena itu perlu rasanya kita berbagi cerita mengenai diri sendiri, tentunya pada orang yang tepat, yang bisa memahami kita dan membantu kita melihat situasi secara positif.

07
Des
08

Perjuangan anak seorang gangster

yakuza-moon1Yakuza Moon, buku yang tidak terlalu tebal ini berhasil dilahap dalam tempo beberapa jam saja. Hmm, ternyata ketrampilan baca masa lalu masih bisa diterapkan juga sampai saat ini. “alah bisa, karena biasa”, kalau suatu kegiatan memang sering dilakukan (apalagi kita menyenangi kegiatan tsb), maka sampai kapan pun kita akan bisa menyelesaikannya dengan cepat, tepat dan memuaskan :D

Berbekal keingintahuan tentang dunia yakuza, dan kehidupan masyarakat Jepang pada umumnya, akhirnya buku ini ter-ambil juga dari deretan buku-buku di Gramedia. Namun sesampainya di rumah, buku ini masih menunggu antrian untuk dibaca (hobby “koleksi buku” memang suka lebih mendominasi dibanding “baca buku” :P ). Minggu lalu, buku ini akhirnya terpilih menjadi buku yang menemani perjalanan Bandung-Madiun (pp), akhirnya…

Apa saja yang menarik dari buku ini?

Pertama, kejujuran Shoko menceritakan semua pengalaman masa lalu-nya. Dia bercerita apa adanya, tergambar jelas ketegaran hatinya, keras kepalanya, dan juga sisi kelembutan seorang wanita. Ceritanya tentang kekerasan yang terjadi dan yang ia alami terkesan elegan, tidak mengiba dan juga tidak sarkastis. Meskipun kata-kata yang digunakan sangat gamblang, tapi entah kenapa, saat membacanya sama sekali tidak terkesan kasar.

Kedua, sikapnya yang pantang menyerah juga tampak dari tulisannya di buku ini. Berkali-kali dia mengalami “jatuh-bangun” dalam kehidupannya, tapi tidak tampak kesan putus asa. Mungkin saja hal itu bisa terjadi pada saat dia menjalani kehidupannya tsb, namun banyak cerita lain yang lebih menunjukkan ketegaran, kekuatan dan tentu saja semangat untuk hidup dan berubah menjadi orang yang lebih baik.

Ketiga, keberanian Shoko yang mengagumkan! Mungkin juga karena dia adalah anak dari seorang yakuza, yang tidak mau diremehkan begitu saja oleh lingkungan, sangat menjunjung tinggi harga diri, dan tetap berpegang pada nilai-nilai tradisi ke-timur-an.

Hal lain, tatoo yang dia miliki memang indah. Tubuhnya seolah menjadi kertas polos yang lalu dilukis dengan gambar jepang yang menawan. Meskipun saya juga ga mau ada lukisan yang tergambar di tubuh diri sendiri, namun tidak dipungkiri bahwa tatoo-nya Shoko memang indah *tergantung selera, kali yaa… :mrgreen: *

Sebenarnya, dari cerita Shoko, saya lebih banyak mencerna tentang makna kehidupan dari sudut pandang wanita Jepang. Pemaparan mendalam ditulis dalam kalimatnya:

Bukan kulit luar yang penting, tetapi bagaimana menjadikan pengalaman kita sebagai sesuatu yang terbaik bagi jiwa kita. Aku tak peduli berapa lama dibutuhkan, jika aku bisa mewujudkannya dengan tetap berpegang pada apa yang kuyakini, aku percaya bahwa kebahagiaan sejati sedang menantiku. Kupikir, jawaban terhadap bagaimana menjalani kehidupan selalu ada di dalam diriku, dan aku hanya perlu melakoninya dalam keseharian.

Ya, keberhasilan maupun kegagalan sebenarnya bersumber dari bagaimana kita menjalani kehidupan ini, dan keduanya bukanlah akhir dari segalanya. *Daleeemmm…. :D *

Kaitan cerita Shoko dengan yakuza, lebih jelas terungkap dari tulisan Manabu Miyazaki, di bagian akhir dari buku ini. Dari situ saya baru memahami bahwa ternyata apa yang dialami Shoko amat sangat berat, lebih berat dari kesan yang saya baca di tulisannya pada bagian-bagian awal. *hal yang biasa terjadi pada saat membaca novel, kita seolah membuat skenario sendiri terhadap apa yang kita baca :D *

Sebagai novel terjemahan, buku ini dikemas dengan sangat baik. Thanks to Gagas Media yang memiliki tim yang hebat, yang sudah mau menerbitkan buku ini. Thanks juga buat sang editor, Wiendy Ariestanty yang membuatnya menjadi bacaan yang menarik dengan bahasa sehari-hari namun tetap menjaga formalitas-nya. Membaca buku ini seolah-olah membaca tulisan pengarang Indonesia, sehingga setting ceritanya pun bisa dinikmati seperti sebuah film yang berputar di bioskop dalam kepala kita :mrgreen:




 

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Blog Stats

  • 44,996 hits

Others

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

visitor stats

PageRank

my 'read' shelf:
 my read shelf

Click to view my Personality Profile page