Dalam sebuah perbincangan di pagi hari, topik yang dibahas adalah mengenai kesehatan jiwa. Kebetulan hari itu adalah Hari Kesehatan Jiwa se-dunia. *tapi jangan tanya kenapa disebut demikian, saya sendiri juga baru tahu kalau ada istilah HarKesWa
*
Akhir-akhir ini, sering kita melihat atau membaca di koran tentang perilaku orang yang “tidak biasanya”, misalnya orang yang mencoba bunuh diri karena berbagai persoalan yang menimpa dirinya, seperti terlilit hutang yang tidak mampu dilunasi, tiba-tiba dikeluarkan dari pekerjaan, maupun karena depresi ditinggal oleh pasangan hidupnya. Tidak dapat dipungkiri, masalah-masalah besar seperti itu pastinya pernah ada dalam kehidupan setiap orang. Namun kalau kita simak, tidak semua orang dapat menghadapinya dengan baik, atau dengan reaksi-reaksi yang konstruktif.
Contoh di atas adalah salah satu reaksi destruktif yang mungkin dilakukan pada saat mengalami masalah-masalah besar yang sepertinya tak dapat terpecahkan itu. Masih banyak reaksi destruktif lainnya, yang pada dasarnya adalah perilaku merugikan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Bicara soal jiwa atau psikis, adalah bicara mengenai sesuatu yang kasat mata. Kita baru dapat mengamatinya melalui tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang tsb. Bukan hal yang mudah pula untuk menilai apakah jiwa atau psikis seseorang itu sedang berada pada keadaan yang “kurang sehat”, namun bila tindakan-tindakan destruktif yang dilakukan, maka kemungkinan besar terjadi ketidakseimbangan dalam jiwa orang tsb.
Sama halnya dengan “fisik” yang perlu diobati ketika ada bagian tubuh yang sakit; maka “psikis”-pun demikian. Jika sakit/ketidakseimbangan fisik bisa diatasi dengan minum obat, maka ketidakseimbangan psikis biasanya diatasi dengan cara menyalurkan pikiran atau emosi-emosi kita ke dalam bentuk yang lebih konstruktif.
Berbagai persoalan yang kita pikirkan dan mempengaruhi emosi kita memang perlu diselesaikan dengan baik, namun tidak selamanya hal itu harus kita lakukan sendiri. Ada kalanya kita perlu mediasi untuk bisa mencerna persoalan yang dirasa amat kusut tsb menjadi potongan-potongan kecil yang mudah untuk diselesaikan.
Kita perlu berbagi, bercerita tentang hal-hal yang kita rasakan dan yang kita pikirkan. Tidak melulu hanya yang berupa persoalan rumit, namun berbagai hal yang memang kita alami, kita rasakan dan kita pikirkan. Hal ini yang dimaksud dengan ventilasi jiwa. Jika kita menutup diri kita, memendam sendiri pikiran-pikiran kita, maka suatu saat psikis kita bisa menjadi letih dan pada akhirnya menghasilkan perilaku yang destruktif. Karena itu perlu rasanya kita berbagi cerita mengenai diri sendiri, tentunya pada orang yang tepat, yang bisa memahami kita dan membantu kita melihat situasi secara positif.
Yakuza Moon, buku yang tidak terlalu tebal ini berhasil dilahap dalam tempo beberapa jam saja. Hmm, ternyata ketrampilan baca masa lalu masih bisa diterapkan juga sampai saat ini. “alah bisa, karena biasa”, kalau suatu kegiatan memang sering dilakukan (apalagi kita menyenangi kegiatan tsb), maka sampai kapan pun kita akan bisa menyelesaikannya dengan cepat, tepat dan memuaskan 


















Komentar Terakhir