Arsip untuk Februari, 2009

26
Feb
09

angka-angka yang menginspirasi

Melanjuti obrolan di posting terakhir yang lalu, saya tertarik untuk membahas soal angka. Kadang saya melihat bahwa angka bisa memiliki arti yang lebih dalam, daripada hanya sekadar nomor, atau bilangan saja. Misalnya, angka-angka kilometer yang ada di sepanjang jalan tol Jakarta-Cikampek tidak hanya menjadi patokan berapa lama sisa perjalanan yang akan ditempuh untuk sampai tujuan, tapi juga untuk menandai dimana saja tempat-tempat peristirahatan yang bisa disinggahi, yaitu km 19, 39 dan 57 :P Keurutan angka-angka itu jauh lebih mudah diingat, daripada harus mengingat nama-nama kota sepanjang perjalanan.

Apakah Cikarang lebih timur dari Cibitung, atau sebaliknya? Sampai sekarang saya juga masih suka tertukar… yang pasti km 39 itu lebih timur daripada km 19 :lol:

Waktu kuliah dulu, ada teman yang juga suka mengingat nama-nama teman berdasarkan nomor absennya. Sampai sekarang pun dia masih hafal nomor absen teman-teman seangkatan. Dia selalu memberi embel-embel 023 di belakang nama saya :mrgreen: (sesuai nomor absen, katanya).

Buat saya sendiri, angka-angka yang juga “menyenangkan” adalah saat mengingat struktur gigi manusia, yaitu 3-2-1-2-2-1-2-3 (baca: mi re do re re do re mi). Ini bagian pelajaran biologi yang terus teringat sampai sekarang. Artinya, 3 geraham belakang kiri, 2 geraham depan kiri, 1 gigi taring kiri, 2 gigi seri kiri, 2 gigi seri kanan, 1 gigi taring kanan, 2 geraham depan kanan, 3 geraham belakang kanan. Kalau mau tahu jumlahnya, ya tinggal dihitung aja, jangan lupa dikali 2, karena ada gigi atas, ada gigi bawah… *hehe ribet yak?*

Sekadar intermezzo saja, bahwa ada banyak hal yang bisa dikaitkan dengan angka :D

Bagaimana dengan anda? ada pengalaman menarik juga seputar angka-angka?

22
Feb
09

ocehan ke seratus

100Akhirnya… tayang juga postingan yang ke seratus di blog ini. Tidak perlu dibandingkan dengan bloger-bloger lain yang bisa menghasilkan jumlah tulisan yang sama dalam waktu yang tidak terlalu lama, ternyata memang saya butuh waktu sekitar 2 tahun lebih sedikit, untuk bisa mencapai jumlah ini :)

Fyuuh… lama ya?

Tapi… kalau keong aja bisa nyebrang, mestinya saya juga bisa mencapai angka 100 ini :P

Mulai dari yang rajin nulis, trus jarang nulis (kadang sibuk, kadang malas dan kadang lupaa ;) ), trus rajin lagi, males lagi… sangat berfluktuasi sekali mood nulis-nya.

Topiknya pun bervariasi, mulai dari yang ngasal, yang iseng, sampai yang rada serius juga ada. Antara liputan, cuplikan sana sini, maupun opini (pribadi) tertuang di blog ini. Rupa-rupa…

Kalau menyimak catatan Mr. WP, ternyata 3 topik terhangat yang dicari di blog ini (atau mungkin juga yang membuat orang tersesat kesini) adalah tentang ilusi, komunikasi, dan tentang asertif. Ternyata… banyak yang ingin tahu tentang ilusi, sesuatu yang tentunya bukan realita ;) Kemudian, banyak juga yang mau tahu lebih jauh tentang komunikasi, sebuah cara paling dasar untuk dapat membina relasi dengan orang lain, dan juga agar dapat lebih asertif tentunya :D – *hehe… analisa ngasal, ga penting :lol: *

dan… seperti layaknya kalau ada peristiwa-peristiwa seremonial, yang ingin dicapai setelah ini adalah semoga 100 tulisan berikutnya bisa terwujud dalam waktu yang kurang dari 2 tahun 2 bulan :mrgreen:

Beberapa posting terkait:

19
Feb
09

tidur pun mesti fokus

sleepDalam sebuah artikel di blog-nya mas Romi, beliau mengatakan bahwa kiat jitu mengatur waktu adalah dengan cara mengurangi tidur. Mas Romi terbiasa dengan tidur yang hanya 3 – 4 jam sehari, agar bisa lebih banyak berkarya, termasuk bekerja, mengajar, mengurus keluarga, membimbing mahasiswa, dll dsb.

Banyak hal yang dapat beliau lakukan untuk memanfaatkan waktu yang ada. Bahkan di sela-sela waktu menunggu pun dapat digunakan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat (selain tidur, maksudnya :P )

Beberapa hari yang lalu, ada juga artikel disini yang membahas bahwa risiko kesehatan tidak hanya diakibatkan oleh merokok, minum minuman keras, atau makan yang terlalu banyak saja, namun juga karena jumlah tidur yang terlalu sedikit. Tidur sama pentingnya dengan diet, maupun olah raga.

Tidur yang terlalu sedikit dapat mempengaruhi kesehatan, menurunkan daya tahan tubuh serta akhirnya dapat berpengaruh juga terhadap kualitas kerja yang kita hasilkan.

hmm… jadi, gimana ya sebaiknya?

Ternyata setiap orang punya kebutuhan tidur yang berbeda-beda. Kebutuhan tidur tidak semata-mata ditentukan oleh usia, namun juga dipengaruhi oleh kesehatan dan gaya hidup seseorang.

Apakah kita cukup produktif, sehat, dan merasa nyaman dengan tidur 7 jam sehari? Apakah kita mengalami masalah dengan tidur (misalnya sulit tidur, atau sering terbangun saat tidur, dll) ? Apakah kita tergantung pada kafein untuk tetap terjaga sepanjang hari? Apakah kita sering mengantuk saat mengemudi? – Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dipertimbangkan sebelum menentukan jumlah waktu tidur yang kita butuhkan.

Listen to your body“; “Respect to your body“… itu kata-kata yang selalu didengungkan saat latihan yoga. Begitu pula yang saya rasakan dengan soal ‘tidur’ ini. Kita perlu menilai diri kita, fisik dan kemampuan kita. Jangan terpengaruh dengan orang lain yang mungkin punya kemampuan yang jauh lebih tinggi dari kita. Kenali diri sendiri, dan berupaya untuk mencapai setingkat lebih tinggi dari yang pernah kita capai sebelumnya, jangan dipaksakan. Semua hal butuh latihan, karenanya kita juga perlu menghargai fisik kita, tetap bersabar sampai akhirnya kita bisa mencapai tingkatan yang diharapkan.

Satu hal lagi, kita juga harus memperhatikan kualitas tidur kita, karena kalau hanya sekadar tidur dengan pikiran yang tetap tertuju pada pekerjaan, maka tidur jadi tidak nyenyak. Organ-organ fisik pun jadi tidak beristirahat seperti yang seharusnya. Beberapa hal yang dapat dilakukan, adalah:

  • buat jadwal tidur dan bangun pada waktu yang konsisten.
  • buat suasana relax sebelum tidur.
  • tidur di tempat yang nyaman.
  • jauhi benda-benda yg bisa mengganggu tidur (misalnya menyalakan TV di sekitar tempat tidur, dsb).
  • jangan minum kopi dalam waktu yang berdekatan dengan waktu tidur.

Dan yang penting juga adalah… buatlah tidur sebagai suatu hal yang prioritas, hal yang memang kita butuhkan untuk mengistirahatkan tubuh kita, memulihkan fisik kita agar kembali segar untuk memulai hari yang baru.

Sumber: How Much Sleep Do We Really Need?

07
Feb
09

klaksonnya cukup 2 kali aja

Kemarin, saat sedang asik nyetir menuju kantor, tiba-tiba ada sebuah mobil sedan yang membunyikan klakson dengan tidak sabar, seolah akan mendahului, atau menyuruh untuk mempercepat laju kendaraan karena mungkin menurut si pengemudi mobil belakang, kecepatan mobil saya terlalu lambat. Mungkin saja dia melihat bahwa jarak mobil saya dengan mobil depan terlalu jauh, sehingga klakson dibunyikan supaya saya lebih mempercepat laju kendaraan.

Sebagai orang yang cukup tertib dengan “car length rule” –yang bilang bahwa ada jarak-jarak tertentu yang harus diikuti jika kita mengendarai mobil dengan kecepatan tertentu– saya tidak terlalu berani membuat jarak dengan mobil depan terlalu dekat. Sebenarnya agak susah juga menerapkan “car length rule” di Jakarta yang tingkat kemacetannya luar biasa ini, sebab orang-orang (khususnya supir kendaraan umum) punya prinsip “fill in the gap”, jadi kalau terus-terusan tertib jaga jarak, alamat lama sampai di tujuan :P

Kembali ke cerita di atas, bunyi klakson mobil belakang itu betul-betul mengganggu dan bikin suasana hati jadi kurang enak. Mau tidak mau saya coba agak mempercepat laju kendaraan, tapi bunyi klaksonnya masih bertubi-tubi, sampai akhirnya mobil itu berhasil menyusul saya dari sebelah kiri, dan melaju dengan cepat, hmm… sangat provokatif. Waktu itu, dengan jalanan yang hanya bisa muat dua mobil, saya memang ada di sebelah kanan, karena di jalur kiri penuh dengan motor. Jadi saya memang tidak berminat untuk memperlambat kendaraan, atau membiarkannya menyusul dari jalur kanan ;)

Perjalanan ke kantor masih beberapa km lagi, beberapa saat saya terpikir demikian…

Dalam dunia pekerjaan, terkadang kita juga menjumpai ada rekan kerja yang sudah berada pada “comfort zone”-nya. Mereka cukup baik dalam bekerja, namun kurang ada keinginan untuk lebih meningkatkan hasil yang telah dicapai sebelumnya. Sementara ada kelompok lain yang berisi orang-orang yang punya ide-ide kreatif, selalu ingin maju, dan seringkali menganggap bahwa rekan kerja yang ada di “comfort zone” ini sebagai penghambat, dan enggan bekerja sama dengan mereka.

Yang terjadi adalah semakin orang-orang kreatif ini ingin bergerak maju, mereka semakin merasa dihalang-halangi oleh rekan kerjanya yang sulit berubah. Sementara orang-orang ini pun merasa terganggu karena cara kerja mereka yang biasa seolah harus diubah, padahal mereka sudah mengikuti aturan dan prosedur yang berlaku. Akhirnya, kedua kelompok ini menjadi bersaing dan kadang berusaha menjatuhkan satu sama lain.

Padahal kalau kedua kelompok ini mau berkompromi, misalnya kelompok pertama (dengan orang-orang yang sudah ada di “comfort zone”) mau menjelaskan soal aturan yang berlaku, dan kelompok kedua juga menjelaskan soal ide-ide mereka dengan bahasa yang lebih dipahami, tentunya dua kelompok ini bisa menghasilkan hasil kerja yang lebih baik dan menguntungkan bagi kedua belah pihak. Hubungan yang terjalin pun lebih positif, tidak saling curiga, tidak saling dendam.

——————————–
Jadi…
kalau nglakson, cukup sekali atau dua kali saja… saya juga pasti akan mencoba mempercepat laju kendaraan kok :P

Catatan: Lihat juga komentar mbak Soni disini

05
Feb
09

Personality Quotient

Pernah dengar istilah Personality Quotient, atau Kecerdasan Kepribadian?

Hmm… sebenarnya ini bukan suatu istilah baru, karena lebih berupa gabungan dari berbagai jenis kecerdasan yang lain, seperti Kecerdasan Intelektual (Intelligence Quotient), dan Kecerdasan Emosi (Emotional Quotient). Bahkan ada pula yang menganggapnya sebagai gabungan dari IQ, EQ, SQ (Social Quotient; atau juga Spiritual Quotient) dan HQ (Humor Quotient).

Secara umum, kecerdasan kepribadian merupakan gabungan dari seluruh pengukuran yang berkaitan dengan unsur-unsur mental manusia.

Setiap orang memiliki potensi bawaannya masing-masing. Mengenal diri sendiri berarti juga mengenal potensi bawaan masing-masing. Orang yang mengenal potensi bawaannya tentunya dapat lebih mudah meningkatkan kecerdasan kepribadian (Personality Quotient). Kecerdasan Kepribadian bukanlah hal yang mudah diukur, namun peningkatan kepribadian ini secara tidak langsung dapat dirasakan dan dilihat melalui keinginan untuk meningkatkan diri secara terus menerus.

Untuk mampu meningkatkan kecerdasan kepribadian (PQ), maka kita perlu menempuh 4 langkah sbb:

  1. Mengenal diri sendiri, dan gaya kepribadiannya; hal ini sudah pernah dibahas sebelumnya disini.
  2. Mengenal orang lain, dan gaya kepribadiannya. Pada dasarnya hal ini juga sama seperti cara kita mengenal diri sendiri, namun dengan pendekatan yang berbeda. (dibahas di kesempatan lain aja yaa… ;) )
  3. Beradaptasi dengan orang lain, yang memiliki gaya kepribadian yang berbeda. Dengan mengenal orang lain, kita bisa lebih memahami mereka, dan mencoba untuk menyesuaikan perilaku kita dengan mereka.
  4. Membangun kerja sama dengan berbagai pribadi yang berbeda-beda. Hal ini adalah langkah lanjut dari point no. 3, karena melibatkan lebih dari 2 orang, dan bertujuan untuk mencapai hasil (kerja) yang lebih baik.

Sebagai kesimpulan sederhana, dengan kecerdasan kepribadian yang baik, kita akan berupaya memahami diri sendiri maupun orang lain, serta mengasah kemampuan kita untuk membina relasi dengan orang lain. Dengan membina relasi yang baik, berarti pula kita mampu berkomunikasi secara tepat terhadap setiap individu yang berbeda-beda.

01
Feb
09

sudahkah kita mendengarkan?

Dalam sebuah kesempatan, seorang teman pernah bercerita tentang kesulitannya berhadapan dengan bawahan yang seolah tidak mau mendengarkan perintah yang ia sampaikan. Di kesempatan lain, teman yang lain juga bercerita tentang pasangannya yang semakin tidak mau mendengarkan, padahal mereka selalu berdiskusi saat pulang dan pergi ke kantor bersama.

-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-

 
Berbicara dan mendengar adalah dua ketrampilan dasar yang kita gunakan saat berinteraksi dengan orang lain. Keduanya sudah kita pelajari sejak kecil, namun ada kalanya kita merasa masih kurang trampil dan berniat untuk mengasah kemampuan tsb agar dapat memperlancar relasi interpersonal kita dengan orang lain.

Jika ingin meningkatkan ketrampilan berbicara, kita tinggal mengikuti training semacam public speaking atau yang sejenisnya, namun berbeda dengan ketrampilan bicara, sangat jarang ada training khusus yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan mendengar, apalagi mendengarkan.

“mendengar” itu berbeda dengan “mendengarkan”.

“mendengar” hanyalah sekedar menangkap suara (bunyi) dengan telinga; sementara “mendengarkan” adalah juga mencakup mendengar DAN memahami, atau bersungguh-sungguh.

 
Mengapa kita perlu ketrampilan mendengarkan?

Pertanyaan menarik… tentunya dengan “mendengarkan”, kita bisa lebih memahami persoalan, memahami topik yang sedang dibicarakan; sehingga kita juga jadi bisa memahami hal-hal apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh orang lain. Kita bisa menjawab pertanyaan secara lebih ‘to the point’, dan menyelesaikan permasalahan dengan lebih baik lagi. Selain itu, ketrampilan ini juga bisa membantu kita membina relasi interpersonal dengan orang lain; kita bisa menunjukkan dukungan yang tepat serta bekerja sama secara lebih lancar.

Ada berbagai cara yang dapat kita lakukan agar bisa mendengarkan dengan baik, diantaranya adalah; menjaga kontak mata dengan lawan bicara; tidak menginterupsi orang yang sedang bicara dan sabar menunggu giliran untuk bicara; menggunakan bahasa tubuh seperti mengangguk, tanda telah mengerti hal yang dibicarakan; serta juga mengulang kembali (menyimpulkan) hal-hal yang telah disampaikan oleh rekan bicara kita, sambil meminta persetujuannya apakah hal yang kita pahami itu memang seperti apa yang ingin disampaikannya.

Namun demikian, tidak selamanya cara-cara di atas dapat dilakukan dengan lancar. Karenanya kita juga perlu mengetahui hal-hal apa saja yang dapat menjadi hambatan dalam mendengarkan. Beberapa di antaranya adalah; adanya prasangka terhadap lawan bicara (yang membuat kita kurang bisa bersikap objektif terhadap apa yang disampaikannya); adanya perbedaan bahasa atau aksen daerah; adanya emosi yang kuat, seperti khawatir, takut atau marah; serta juga kurangnya rentang perhatian kita untuk fokus terhadap suatu diskusi/pembicaraan.

 
Jika kita telah “mendengarkan” dengan baik, maka selain hal-hal di atas dapat kita rasakan, biasanya teman-teman kita pun akan senang berdiskusi dengan kita, senang bertukar cerita, bahkan juga senang curhat pada kita :P

Dan perlu diketahui juga bahwa “mendengarkan” yang baik itu juga berarti tahu kapan saatnya kita berhenti untuk mendengarkan :mrgreen:   [memang sih, kita punya kesediaan untuk "mendengarkan", tapi bukan berarti kita jadi tempat curahan hati plus omelan dan keluh kesah mereka kan? hehe... kok ikutan curhat? :P ]

-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%- 

 
Kembali ke paragraph pertama di atas, jika itu juga kita alami, kira-kira… apakah betul kita sudah “mendengarkan”?




 

Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Blog Stats

  • 44,996 hits

Others

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

visitor stats

PageRank

my 'read' shelf:
 my read shelf

Click to view my Personality Profile page