Dalam sebuah artikel di blog-nya mas Romi, beliau mengatakan bahwa kiat jitu mengatur waktu adalah dengan cara mengurangi tidur. Mas Romi terbiasa dengan tidur yang hanya 3 – 4 jam sehari, agar bisa lebih banyak berkarya, termasuk bekerja, mengajar, mengurus keluarga, membimbing mahasiswa, dll dsb.
Banyak hal yang dapat beliau lakukan untuk memanfaatkan waktu yang ada. Bahkan di sela-sela waktu menunggu pun dapat digunakan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat (selain tidur, maksudnya
)
Beberapa hari yang lalu, ada juga artikel disini yang membahas bahwa risiko kesehatan tidak hanya diakibatkan oleh merokok, minum minuman keras, atau makan yang terlalu banyak saja, namun juga karena jumlah tidur yang terlalu sedikit. Tidur sama pentingnya dengan diet, maupun olah raga.
Tidur yang terlalu sedikit dapat mempengaruhi kesehatan, menurunkan daya tahan tubuh serta akhirnya dapat berpengaruh juga terhadap kualitas kerja yang kita hasilkan.
hmm… jadi, gimana ya sebaiknya?
Ternyata setiap orang punya kebutuhan tidur yang berbeda-beda. Kebutuhan tidur tidak semata-mata ditentukan oleh usia, namun juga dipengaruhi oleh kesehatan dan gaya hidup seseorang.
Apakah kita cukup produktif, sehat, dan merasa nyaman dengan tidur 7 jam sehari? Apakah kita mengalami masalah dengan tidur (misalnya sulit tidur, atau sering terbangun saat tidur, dll) ? Apakah kita tergantung pada kafein untuk tetap terjaga sepanjang hari? Apakah kita sering mengantuk saat mengemudi? – Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dipertimbangkan sebelum menentukan jumlah waktu tidur yang kita butuhkan.
“Listen to your body“; “Respect to your body“… itu kata-kata yang selalu didengungkan saat latihan yoga. Begitu pula yang saya rasakan dengan soal ‘tidur’ ini. Kita perlu menilai diri kita, fisik dan kemampuan kita. Jangan terpengaruh dengan orang lain yang mungkin punya kemampuan yang jauh lebih tinggi dari kita. Kenali diri sendiri, dan berupaya untuk mencapai setingkat lebih tinggi dari yang pernah kita capai sebelumnya, jangan dipaksakan. Semua hal butuh latihan, karenanya kita juga perlu menghargai fisik kita, tetap bersabar sampai akhirnya kita bisa mencapai tingkatan yang diharapkan.
Satu hal lagi, kita juga harus memperhatikan kualitas tidur kita, karena kalau hanya sekadar tidur dengan pikiran yang tetap tertuju pada pekerjaan, maka tidur jadi tidak nyenyak. Organ-organ fisik pun jadi tidak beristirahat seperti yang seharusnya. Beberapa hal yang dapat dilakukan, adalah:
- buat jadwal tidur dan bangun pada waktu yang konsisten.
- buat suasana relax sebelum tidur.
- tidur di tempat yang nyaman.
- jauhi benda-benda yg bisa mengganggu tidur (misalnya menyalakan TV di sekitar tempat tidur, dsb).
- jangan minum kopi dalam waktu yang berdekatan dengan waktu tidur.
Dan yang penting juga adalah… buatlah tidur sebagai suatu hal yang prioritas, hal yang memang kita butuhkan untuk mengistirahatkan tubuh kita, memulihkan fisik kita agar kembali segar untuk memulai hari yang baru.



















Kalo saya kayaknya termasuk yg kebutuhan tidurnya banyak..
lha ya gpp sih Nis… itu kan tergantung sama kesehatan juga. Buat kita2 yg TDR emang kebutuhan tidurnya banyak kok *alesan banget yah
*
Saya justru punya kebiasaa aneh dan unik.
Kalau tidur di depan komputer, maka komputer harus nyala. Kalau mati malah gak bisa tidur. Ini terjadu kalau saya deket komputer. Kedua, minum kopi malah gak ngaruh, saya bisa lebih rileks tidur kalau sebelum tidur bisa minum kopi dulu. hehehe
saya lihatnya itu sebagai bagian dari gaya hidup… kehidupan modern yg memungkinkan utk tetap kontak dengan dunia maya, kadang juga bikin tertidur depan kompie
*
*kalau dari sisi penghematan energi, mungkin jadi ga hemat ya?
Kedua, saya juga punya kebiasaan yang sama, mau minum kopi atau engga, kalau lagi ngantuk ya ngantuk aja… tidur deh. Tapi kalau mau lebih sensitif lagi terhadap kondisi tubuh, sebenarnya bisa terasa bahwa tubuh jadi lebih ‘alert’ dan tidur tidak se-’dalam’ tanpa minum kopi. Hal ini sejalan dengan pengaruh kafein dalam tubuh manusia. Saat kita merasa biasa2 aja, mungkin kita mengabaikan hal tsb, atau mungkin tubuh kita cukup kebal terhadap pengaruh kafein. Asal berhati-hati saja, karena mengabaikan sinyal2 tubuh kadang bisa berakibat fatal juga… *just a thought*
@Pratanti : Saya setuju.
Mmmmm
Mmmmmmm
Bobo dulu baru comment
apa pendapatmu tentang pemilu 2009: http://demonzbabtizm.wordpress.com/indonesians-votes-on-election-2009/
ah… ni dia sayangnya sampe skarang saya masih juga ga bisa ngatur pola tidur dengan baik…
*bginilah resiko pengangguran yang kadang banyak acara kadang kurang acara :p
paling senang kalo bisa ga mimpi apa apa sama skali!!!
nikmatilah masa-masa ‘menganggur’ dengan baik