Arsip untuk April, 2009

11
Apr
09

berani mencoba

Dalam sebuah perjalanan, sebuah talkshow dari suatu stasiun radio menyiarkan bahwa jangan cepat puas dan terlalu lama berada dalam area “aman” (comfort zone), segeralah bergerak dan berani menapaki area “tidak aman” (uncomfort zone). Entah apa tema topik perbincangan saat itu, namun ungkapan untuk berani masuk dalam uncomfort zone benar-benar menjadi pemikiran, bahkan sampai beberapa hari setelah itu.

Meskipun tidak sepenuhnya merasa ada di comfort zone, tapi kondisinya memang lebih mengarah kesana, keadaan seakan berjalan rutin dan bisa dilalui dengan lancar, tanpa kesulitan yang berarti.

Dan… keputusan itu pun dibuat, untuk maju bertindak, menghadapi segala hal yang tadinya seakan jauh ada di depan sana (yang tadinya terasa, ah… kapan-kapan saja diraihnya ;) ). Berbagai pertimbangan menjadi prioritas yang selalu dipikirkan sebelum melangkah. Bukan hal yang sulit sebenarnya, namun karena ini baru yang pertama kali, maka banyak juga kejutan-kejutan yang tiba-tiba muncul, antara yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Namun itu semua lebih merupakan risiko, yang pasti akan timbul menyertai sebuah keputusan :)

Uncomfort zone – pun mulai dijalani, untuk kemudian mencapai comfort zone kembali… yang (mudah-mudahan) dapat dicapai dalam waktu yang tidak terlalu lama ;) Hidup memang bukan sebuah permainan, yang bisa dimenangkan hanya dengan keberuntungan melempar dadu, tapi lebih dari sebuah perjuangan dan tantangan. Saat tantangan berani diterima, maka perjuangan pun dimulai :D

Masih terngiang perbincangan talkshow di radio sore itu… “Semakin lama kita berada di comfort zone, semakin lama pula kita terlena dengan kemungkinan adanya peluang-peluang di sekitar kita. Beranikanlah diri untuk mencoba, terus berusaha dan berdoa tentunya ;) ” Kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi, kalau kita tidak pernah berani untuk melangkah maju. Kegagalan bukanlah alasan untuk mundur, namun sebuah pengalaman untuk tidak lagi melakukan hal yang sama, dan lebih kreatif mencari cara-cara baru.

08
Apr
09

1 hari jelang pemilu legislatif

Setelah sekian lama menghindar dari posting artikel tentang pemilu, akhirnya terusik juga untuk membuat tulisan bertopik pemilu. Hal ini juga dipengaruhi dengan maraknya suasana pemilu, baik di jalan (pemandangan dan siaran radio sepanjang perjalanan), di kantor (dalam perbincangan saat makan siang), maupun di rumah (dalam berbagai siaran TV nasional).

Selama masa kampanye dan masa tenang selama ini, ada beberapa hal yang saya dapatkan sebagai pengetahuan baru (buat orang lain sih mungkin bukan baru lagi :) ) Ternyata akan ada 44 partai yang akan ikut dalam proses pemilihan umum kali ini. Upps… dulu, waktu milih 1 diantara 3 aja, bingung… sekarang, 1 diantara 44? :D

Dari 44 partai tersebut, ada 38 partai nasional dan 6 partai lokal. Dan yang ada partai lokal-nya tsb cuma di NAD (Nangroe Aceh Darussalam). Tapi jangan suruh nyebut ke-44 partai itu ya… ;)

Informasi lainnya adalah bahwa sistem pengamanan Pemilu 2009 di Jakarta kali ini adalah sistem 2:10:4 yang artinya 2 orang polisi dibantu 10 orang linmas (pelindung masyarakat) akan mengawal 4 TPS :lol:

hehehe… info yg ga penting ya?

Besok Pemilu legislatif, saatnya menerima hak dan menjalankan tugas sebagai warga negara ;) tapi… saya kok belum terima undangan ya?

02
Apr
09

biar klise, tapi tetap bermanfaat

Terinspirasi dari sebuah artikel tentang Midlife Career Transition, disebutkan bahwa persepsi mengenai usia (tua) seringkali mempengaruhi proses penerimaan pegawai. Pekerja yang lebih senior (secara usia) seringkali dianggap kolot, keras kepala dan sudah merasa nyaman dengan kondisinya saat ini, dengan kata lain sulit diajak berubah.

Beberapa pertimbangan perusahaan (pemberi kerja) dalam mempekerjakan pekerja yang senior (usianya), adalah:

  • Masalah kesehatan. Perusahaan khawatir mereka akan menghabiskan biaya yang lebih banyak, seiring dengan kondisi kesehatan yang makin menurun.
  • Kurang cakap dari sisi teknologi, atau terkadang kurang mengikuti perkembangan teknologi terbaru.
  • Hubungan dengan pemimpin, maupun dengan pekerja lain yang lebih muda (usianya).

Yang ingin dibahas disini bukan mengenai bagaimana cara mengatasi ”midlife crisis” (secara aku juga belum mencapai era tsb :P ), tapi lebih tentang bagaimana kita, sebagai generasi yang lebih muda ;) mempersiapkan diri terhadap kondisi yang nantinya akan kita hadapi.

Pertama, mengenai masalah kesehatan, biasakanlah menjalankan pola hidup sehat. Istirahat yang cukup, olah raga yang cukup, dan makan makanan bergizi secara teratur.

Kedua, jangan cepat puas dengan kecakapan yang telah dimiliki. Mungkin saat ini kita sangat menguasai tentang program-program yang dipakai di tempat kerja. Namun ke depannya akan ada versi baru lagi dari program tsb, atau bahkan ada program lain yang lebih canggih lagi, namun tidak digunakan di tempat kerja kita. Tidak ada salahnya kalau kita juga mempelajarinya. Setiap hal baru, tentunya ada keunggulan dan kelemahannya, dan akan sangat bermanfaat kalau kita juga memahaminya.

Ketiga, bersikap adaptif. Kemampuan menyesuaikan diri adalah sebuah kemampuan yang tidak bisa dipelajari tiba-tiba. Hal ini merupakan sebuah pembelajaran yang terus menerus, mengenai bagaimana kita bisa menjaga efektivitas kerja kita dan bertoleransi terhadap berbagai perubahan yang terjadi, termasuk juga dengan berbagai individu atau kelompok.

Sepertinya ketiga hal di atas terdengar klise, namun dari beberapa obrolan dengan rekan-rekan yang sudah ada di era ”midlife” itu, ternyata banyak yang merasa kurang bisa mengembangkan diri lagi karena faktor-faktor di atas (kesehatan, penguasaan teknologi, serta penyesuaian diri).

Jadi, jika kita tidak ingin mengalami hal yang sama seperti itu, maka tidak ada salahnya kalau beberapa tips di atas bisa kita implementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, mulai saat ini.

Setuju?

01
Apr
09

membaca pikiran

Sebagian besar waktu yang kita gunakan tidak terlepas dari hubungan interpersonal dengan orang lain, baik itu dengan teman, dengan pasangan, dengan rekan kerja, dengan atasan, dengan bawahan, dsb. Berbagai ketrampilan sosial yang menyangkut interaksi pun telah kita ketahui dan pelajari sejak kecil. Ketrampilan yang paling penting tentunya adalah komunikasi.

Ketrampilan berbicara dan mendengar, sebagai bagian dari komunikasi – merupakan ketrampilan dasar yang juga sudah dipelajari sejak lama. Namun seiring waktu, kadang kita lupa bahwa kedua ketrampilan tadi tetap harus dipupuk, bahkan mungkin juga ditingkatkan.

Kadang kita merasa sudah cukup mengenal orang yang kita ajak bicara sehingga kita hanya bicara seperlunya, berasumsi bahwa orang tsb sudah memahami pembicaraan kita. Demikian pula dalam mendengar, kadang kita tidak sabar mendengar pembicaraan orang lain, berasumsi bahwa arah pembicaraan tertuju pada suatu kesimpulan yang sudah kita pikir sebelumnya.

Disinilah letak ”cacat” komunikasi yang biasa terjadi. Akibatnya hubungan interpersonal jadi terganggu. Konflik pun makin sering terdengar.

Teman,
Sedekat apapun hubungan kita dengan orang lain, kita tetap tidak dapat mengetahui hal-hal yang mereka pikirkan secara tepat. Karenanya bicarakanlah hal-hal yang ingin kita sampaikan pada orang lain dengan jelas, dan juga dengarkanlah respon yang disampaikan oleh orang lain secara cermat.

Jadi saat terjadi konflik, coba ditelaah kembali, apakah komunikasi sudah berjalan baik, atau kita yang hanya membaca pikiran orang lain (dan salah… :P )




 

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Blog Stats

  • 44,996 hits

Others

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

visitor stats

PageRank

my 'read' shelf:
 my read shelf

Click to view my Personality Profile page