RSS

perubahan iklim?

15 Okt

Postingan ini ditulis sebagai salah satu bentuk partisipasi pada Blog Action Day yang jatuh pada tanggal 15 Oktober. Tema yang diangkat pada tahun ini adalah mengenai perubahan iklim (climate change).

Kadang saya melihat isu perubahan iklim ini lebih sebagai suatu wacana yang ada di awang-awang, di luar pemahaman saya sebagai orang yang masih sangat awam soal lingkungan hidup.

Hal-hal seperti pemanasan global, efek rumah kaca, menipisnya sumber daya air, dan berbagai isu perubahan iklim lain yang memang saling berkaitan itu seakan berada di luar kegiatan kita sehari-hari. Sepertinya informasi tersebut hanya sekadar pengetahuan belaka tanpa dapat dikaitkan langsung dengan aktivitas masyarakat yang lebih luas.

Contohnya, kita tahu bahwa bahan jumlah air tanah khususnya di kota-kota besar semakin berkurang, namun kegiatan pembangunan perumahan atau jalan tetap giat dilaksanakan dan bahkan mengambil area daerah-daerah hijau yang tadinya merupakan daerah resapan air. Akibatnya, untuk bisa mendapatkan air tanah yang baik dan jernih, perlu digali sumur yang sangat dalam.

Perubahan iklim sebenarnya cukup luas dampaknya, termasuk juga dengan fenomena banjir yang makin sering terjadi akhir-akhir ini. Kalau dipikir, banjir tidak hanya terjadi karena adanya pemanasan global yang membuat es di kutub utara mencair, sehingga volume air di bumi makin banyak; namun secara sederhana kita tahu bahwa banjir terjadi karena saluran-saluran air di jalan-jalan sudah tidak menampung banyaknya air hujan yang turun, karena tersumbat oleh sampah-sampah yang dibuang sembarangan oleh para pengguna jalan. Memang hal ini bukan sebuah sebab-akibat sederhana, namun jika kebiasaan tsb terus dilakukan, bukan hal yang aneh kalau selokan-selokan jalan, sungai-sungai yang melintas di perkotaan menjadi sebuah tempat sampah raksasa dan menghambat aliran air/sungai.

Dari hasil pengembaraan di ranah virtual, mencari informasi tentang topik perubahan iklim ini, ada sebuah ungkapan yang menyatakan seperti ini … “dunia lebih banyak memperdebatkan upaya apa yang harus dilakukan untuk mencegah bumi dari kehancuran, ketimbang melakukan aksi nyata.” Secara sederhana, saya juga merasakan hal yang sama… kita mengetahui atau banyak berdiskusi soal “let’s go green” dsb, namun sudahkah kita melakukan sesuatu untuk mengatasi bahaya perubahan iklim guna mencegah bumi dari kehancuran? Diskusi soal ini seringkali hanya menghasilkan wacana indah dan menarik, namun kadang tidak sampai pada tahap implementasi dan berakhir begitu saja.

Mungkin belum terpikir oleh kita bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita lakukan dapat pula berdampak pada perubahan iklim. Membuang sampah pada tempat yang telah ditentukan, menggunakan sumber daya (misalnya air, listrik, dsb) sehemat mungkin, membawa kantong sendiri saat berbelanja (dan tidak menggunakan kantong plastik), dsb sebenarnya dapat berpengaruh terhadap kerusakan lingkungan yang lebih parah lagi.

Bahkan menghabiskan makanan yang ada di piring makan kita, secara tidak langsung ada pula pengaruhnya ;) Awalnya, saya juga tidak terlalu paham, tapi sebuah penjelasan yang masuk akal telah membantu pemahaman saya. Seandainya saja makanan yang kita sisakan di piring makan itu dikumpulkan, mungkin jumlahnya pun hanya sekitar setengah sendok makan saja, namun berapa banyak energi yang telah dikeluarkan untuk menghasilkan nasi yang setengah sendok makan tsb? Berapa banyak air yang dikeluarkan untuk mencuci beras, dan berapa banyak listrik yang dipakai untuk memasaknya? … dan silakan dikalikan jumlah orang makan selama satu bulan, hmm… :) dan itu adalah yang terbuang percuma…

Mungkin sebelum kita bicara soal perubahan iklim, kita perlu bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita menyayangi lingkungan di sekitar kita?

 

Tentang pratanti

cerita ringkas tentang perjalanan waktu
7 Comments

Posted by pada Oktober 15, 2009 in lingkungan, opini

 

Kaitkata: , , , ,

7 Respon untuk perubahan iklim?

  1. Koen

    Oktober 17, 2009 at 10:45 pm

    Nampaknya harus sering ada tema khusus nih, biar Nita rajin blogging lagi :) .
    Yuk menyayangi lingkungan.

     
  2. pratanti

    Oktober 18, 2009 at 9:37 pm

    hehe… iya, nih baru selesai satu postingan lagi ;)

     
  3. riwanlky

    Oktober 21, 2009 at 11:30 pm

    Air dan listrik. Waktu Jakarta banjir beberapa tahun yang lalu, tempat saya tidak kena banjir, tetapi listrik mati, dan tidak ada air bersih. Jadi setelah itu saya mencoba untuk memproduksi sendiri air dan listrik. Hanya berhasil dengan listrik dengan tenaga surya. Untuk air terlalu susah, rencananya air mandi, air cuci piring, air cuci baju, air wastafel, ditampung, kemudian didaur ulang untuk dipakai misalnya untuk toilet, dll. Tapi begitu memikirkan pipanisasi, berarti pembongkaran.

     
  4. pratanti

    Oktober 22, 2009 at 10:18 am

    selalu ada risiko dari setiap langkah yang dilakukan. Mungkin yang perlu dipikirkan adalah apakah risikonya sebanding dengan manfaat yang akan diperoleh :)

     
  5. sultan

    Maret 18, 2011 at 3:01 pm

    nice blog, salam kenal

     
  6. pratanti

    Maret 22, 2011 at 9:59 am

    terima kasih, salam kenal kembali…

     
  7. tenaga surya

    Mei 2, 2012 at 2:27 pm

    alam telah memberi kita kehidupan, tapi akibat dari perbuatan manusia sendiri yang sedikit demi sedikit secara tak sengaja maupun di sengaja membuat semua itu terancam. sehingga perlu adanya jalan untuk menagngani hal tersebut salah satunya tenaga surya yang hampir tidak akan habis kita pakai…

     

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.