Sebuah film Indonesia, yang pas sekali diputar di bulan Agustus, saat Indonesia sedang merayakan Hari Ulang Tahun-nya yang ke-63.
Seperti yang diungkapkan oleh sang sutradara Steven Purba, “Film ini tidak hanya tentang peranakan Cina-Indonesia saja, namun lebih jauh tentang filosofi kebersamaan dalam perbedaan; serta tentang pencarian identitas diri seorang anak”.
Setelah menyimak film ini tadi sore, tampaknya banyak sekali hal yang ingin diangkat dari cerita di film ini. Kalau film-nya dianggap sebagai film dokumenter, hal ini sah-sah saja; namun sebagai penonton (yang suka punya harapan-harapan tertentu sebelum nonton) rasanya film ini tergolong sederhana, dan kurang fokus terhadap aspek yang benar-benar ingin ditonjolkan. Tapi sebagai film Indonesia, film ini termasuk film yang tergolong bagus dan layak dinikmati oleh semua orang.
Pengalaman Timmy (tokoh di film itu) sedikit banyak mengingatkan saya juga dengan pengalaman masa lalu. Saya seringkali merasa kesulitan jika mengisi data-data yang menanyakan soal “suku bangsa”. Sebagai anak yang lahir dan besar di kota Bandung, dari ibu yang berdarah Minang, dan ayah yang berdarah Minahasa – saya paling bingung kalau disuruh menentukan “suku bangsa”.
Rasanya tidak adil kalau hanya menuliskan salah satu, sedangkan kalau menulis keduanya, guru selalu meminta untuk memilih salah satu
BTW, tidak jarang juga yang ‘menuduh’ saya termasuk orang Cina, cuma gara-gara bentuk mata yang rada kecil dan warna kulit sawo kurang matang
Lama-lama saya terbiasa juga dengan situasi demikian, dan tegas mengatakan bahwa “saya orang Indonesia”, sama seperti mereka yang bersuku bangsa Jawa, Sunda, Minang, Minahasa, dll, juga sama seperti mereka yang keturunan Cina, Arab, India, yang sudah menjadi WNI. Kita sama-sama orang Indonesia.
Kembali pada film Kita Punya Bendera, salah satu point yang diangkat adalah bahwa “jadikanlah perbedaan itu sebagai suatu nilai positif, hadapilah dan jangan menghindari perbedaan tsb”.
Selain itu yang juga patut diacungkan jempol adalah ilustrasi musiknya. Hmm… petikan gitar solo yang dominan menghiasi jalannya film tersebut benar-benar indah. Cantik sekali! Two thumbs up buat Jubing Kristianto.
Satu hal yang kelihatannya masih perlu dilakukan adalah mempromosikan film ini pada masyarakat luas. Saya mengatakan hal ini karena saat menonton tadi sore, ruang bioskop hanya diisi oleh kurang dari 5 orang penonton !!!
Yah, saya cuma bisa menduga bahwa mungkin saja tadi jarang ada yang menonton karena masih sibuk dengan acara 17-an di lingkungan rumah masing-masing
Update 18 Agustus 2008, sore:
Trailer film-nya bisa dilihat di blognya Bima Anggara (pemeran Jarwo), disini. *makasih ya Bima…*
Update 30 Agustus 2008:
Review film-nya dari sisi sinematografi, bisa dilihat disini.























Komentar Terakhir