Arsip untuk Kategori 'filsafat'

07
Des
08

Perjuangan anak seorang gangster

yakuza-moon1Yakuza Moon, buku yang tidak terlalu tebal ini berhasil dilahap dalam tempo beberapa jam saja. Hmm, ternyata ketrampilan baca masa lalu masih bisa diterapkan juga sampai saat ini. “alah bisa, karena biasa”, kalau suatu kegiatan memang sering dilakukan (apalagi kita menyenangi kegiatan tsb), maka sampai kapan pun kita akan bisa menyelesaikannya dengan cepat, tepat dan memuaskan :D

Berbekal keingintahuan tentang dunia yakuza, dan kehidupan masyarakat Jepang pada umumnya, akhirnya buku ini ter-ambil juga dari deretan buku-buku di Gramedia. Namun sesampainya di rumah, buku ini masih menunggu antrian untuk dibaca (hobby “koleksi buku” memang suka lebih mendominasi dibanding “baca buku” :P ). Minggu lalu, buku ini akhirnya terpilih menjadi buku yang menemani perjalanan Bandung-Madiun (pp), akhirnya…

Apa saja yang menarik dari buku ini?

Pertama, kejujuran Shoko menceritakan semua pengalaman masa lalu-nya. Dia bercerita apa adanya, tergambar jelas ketegaran hatinya, keras kepalanya, dan juga sisi kelembutan seorang wanita. Ceritanya tentang kekerasan yang terjadi dan yang ia alami terkesan elegan, tidak mengiba dan juga tidak sarkastis. Meskipun kata-kata yang digunakan sangat gamblang, tapi entah kenapa, saat membacanya sama sekali tidak terkesan kasar.

Kedua, sikapnya yang pantang menyerah juga tampak dari tulisannya di buku ini. Berkali-kali dia mengalami “jatuh-bangun” dalam kehidupannya, tapi tidak tampak kesan putus asa. Mungkin saja hal itu bisa terjadi pada saat dia menjalani kehidupannya tsb, namun banyak cerita lain yang lebih menunjukkan ketegaran, kekuatan dan tentu saja semangat untuk hidup dan berubah menjadi orang yang lebih baik.

Ketiga, keberanian Shoko yang mengagumkan! Mungkin juga karena dia adalah anak dari seorang yakuza, yang tidak mau diremehkan begitu saja oleh lingkungan, sangat menjunjung tinggi harga diri, dan tetap berpegang pada nilai-nilai tradisi ke-timur-an.

Hal lain, tatoo yang dia miliki memang indah. Tubuhnya seolah menjadi kertas polos yang lalu dilukis dengan gambar jepang yang menawan. Meskipun saya juga ga mau ada lukisan yang tergambar di tubuh diri sendiri, namun tidak dipungkiri bahwa tatoo-nya Shoko memang indah *tergantung selera, kali yaa… :mrgreen: *

Sebenarnya, dari cerita Shoko, saya lebih banyak mencerna tentang makna kehidupan dari sudut pandang wanita Jepang. Pemaparan mendalam ditulis dalam kalimatnya:

Bukan kulit luar yang penting, tetapi bagaimana menjadikan pengalaman kita sebagai sesuatu yang terbaik bagi jiwa kita. Aku tak peduli berapa lama dibutuhkan, jika aku bisa mewujudkannya dengan tetap berpegang pada apa yang kuyakini, aku percaya bahwa kebahagiaan sejati sedang menantiku. Kupikir, jawaban terhadap bagaimana menjalani kehidupan selalu ada di dalam diriku, dan aku hanya perlu melakoninya dalam keseharian.

Ya, keberhasilan maupun kegagalan sebenarnya bersumber dari bagaimana kita menjalani kehidupan ini, dan keduanya bukanlah akhir dari segalanya. *Daleeemmm…. :D *

Kaitan cerita Shoko dengan yakuza, lebih jelas terungkap dari tulisan Manabu Miyazaki, di bagian akhir dari buku ini. Dari situ saya baru memahami bahwa ternyata apa yang dialami Shoko amat sangat berat, lebih berat dari kesan yang saya baca di tulisannya pada bagian-bagian awal. *hal yang biasa terjadi pada saat membaca novel, kita seolah membuat skenario sendiri terhadap apa yang kita baca :D *

Sebagai novel terjemahan, buku ini dikemas dengan sangat baik. Thanks to Gagas Media yang memiliki tim yang hebat, yang sudah mau menerbitkan buku ini. Thanks juga buat sang editor, Wiendy Ariestanty yang membuatnya menjadi bacaan yang menarik dengan bahasa sehari-hari namun tetap menjaga formalitas-nya. Membaca buku ini seolah-olah membaca tulisan pengarang Indonesia, sehingga setting ceritanya pun bisa dinikmati seperti sebuah film yang berputar di bioskop dalam kepala kita :mrgreen:

12
Jul
08

sebuah novel tentang novel

Buku bernuansa merah yang tertata di deretan rak “sastra” mulanya tidak terlalu menarik perhatian, namun setelah diamati ternyata buku itu karangan Remy Sylado, seorang pengarang yang hasil karyanya seringkali menarik untuk dibaca :) Buku yang berjudul “Novel Pangeran Diponegoro” dengan sub judul “Menggagas Ratu Adil”, akhirnya menjadi salah satu buku yang saya pilih sebagai bahan bacaan di akhir minggu.

Pangeran Diponegoro selalu mengingatkan saya dengan Perang Jawa yang berlangsung 5 menit di waktu maghrib, sebuah analogi yang gampang sekali diingat, tahun 1825 sampai 1830. Selain asalnya beliau dari Tegalrejo, ingatan saya tentang Pangeran Diponegoro memang hanya sampai disitu. Hmm… sepertinya pelajaran sejarah jaman SD tidak terlalu banyak menempel lagi sekarang… :(

Sebagai novel karangan Remy Sylado, novel ini juga sarat dengan imajinasi pengarang tentang kondisi dan situasi di jaman penjajahan Belanda di seputaran Yogyakarta pada akhir abad 18. Gambaran detil tentang tokoh-tokoh cerita, serta situasi lingkungan Yogyakarta dan Tegalrejo betul-betul membawa pembaca seakan-akan ikut berada di tempat yang sama. Selain itu, tutur kata-kata indah yang menggambarkan situasi alam Indonesia turut menambah keindahan yang diceritakan.

Pemikiran-pemikiran Pangeran Diponegoro pun digambarkan dengan cukup apik, diantaranya tentang perbedaan pemikiran bangsa Indonesia (Timur) dan bangsa Eropa (Barat);

Kita memang berbeda, pikiran Timur dan pikiran Barat tidakkan mungkin sama… barat adalah tempat tempat matahari terbenam, timur tempat matahari terbit. Terbenam berarti akhir, terbit berarti awal.
Di saat matahari terbenam, ada rasa waswas, gamang, dan takut karena sebentar lagi gelap, dan di dalam gelap bisa terjadi kejahatan-kejahatan, tempat merajalelanya kekuasaan iblis.
Sedangkan di saat matahari terbit, ada rasa lega, senang, nikmat, sebab terang akan memberi pengharapan terhadap arti kehidupan baru, tempat hadirnya keyakinan akan kemahakasihan Tuhan.
… biarlah Timur tetap timur, dan Barat tetap barat.

pemikirannya tentang kehidupan;

Hidup memang tidak selalu sederhana-sederhana saja. Sebab, kalau semuanya sederhana, lancar, mulus, niscaya tidak bakalan ada tantangan yang membuat manusia tergembleng untuk menjadi mustaid, sempurna, sidi.

serta pandangannya tentang kesalahan kepemimpinan;

… kebenaran pada satu pihak dapat berarti kesalahan pada pihak lain … kita tidak pernah melihat kesalahan orang lain sebagai akibat kesalahan kita.
Pemimpin tidak sepatutnya menyalahkan orang yang dipimpinnya tanpa melihat kesalahannya sendiri.

Novel ini juga penuh dengan kosakata Bahasa Indonesia yang tidak sering dipakai sehari-hari, seperti misalnya leluri, makzul, arkian, masygul, dll. Ungkapan-ungkapan bahasa Jawa, serta bahasa Belanda, Inggris dan Perancis —sebagai negara-negara yang punya peranan dalam masa penjajahan pada akhir abad 18— juga ikut mewarnai novel ini.

Sebagai sebuah novel yang juga bertitel ”novel”, maka buku ini tidak melulu bercerita tentang sejarah, tapi juga berisi tentang pemikiran, pandangan hidup dan nilai-nilai kemanusiaan. Mungkin lebih tepat disebut sebagai sebuah fiksi sejarah.

Dan sebagai karya Remy Sylado, bagian-bagian awal novel selalu menarik untuk disimak, sementara menjelang akhir cerita biasanya keinginan pengarang berbeda dengan dugaan pembaca (maksudnya: saya) :mrgreen:

17
Feb
08

Haruskah menjadi diri sendiri?

Banyak orang yang mengatakan dan menganjurkan untuk “menjadi diri sendiri”; banyak juga yang mempunyai prinsip untuk menjadi diri sendiri, contohnya seperti posting ini. Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan ‘menjadi diri sendiri’ itu? Apakah saat ini kita belum menjadi diri sendiri? Kalau belum, memangnya siapa kita sekarang ini? :D  

Ungkapan-ungkapan yang menganjurkan untuk “menjadi diri sendiri” tampaknya lebih ditujukan agar kita jangan terlalu memaksakan diri untuk sama seperti orang lain. Setiap orang adalah unik, tidak ada dua individu yang sama, karenanya kita tidak perlu berkecil hati apabila kita tidak seberuntung orang lain (misalnya). 

Menurut saya, saat ini kita tentunya sudah menjadi diri sendiri. Bisa saja tindakan-tindakan yang kita lakukan terpengaruh dari orang-orang tertentu, namun perilaku kita akan mencerminkan siapa diri kita yang sebenarnya. Sepintar-pintarnya kita menirukan orang lain, atau sedemikian kuatnya pengaruh orang lain terhadap diri kita, tindakan yang kita lakukan adalah murni dari kita sendiri, dengan kata lain – itulah diri kita sendiri.  

Postingan ini sebenarnya terinspirasi dari artikel berjudulnya “Jangan Jadi Diri Sendiri”, disini. Disitu dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan menjadi diri sendiri adalah menerima keadaan/kondisi kita saat ini. Kita tidak bisa diam, hanya dengan menerima kondisi yang sudah ada saja, tapi kita perlu berubah, dan dalam pengertian di artikel tsb berarti kita jangan menjadi diri sendiri. 

Penting bagi kita untuk mempunyai idola, yang akan kita jadikan panutan. Kita akan meniru hal-hal yang telah dilakukan oleh idola kita. Namun jangan samakan “meniru” dengan “mencuri” atau “merampok”. Disini tampaknya perlu kebijaksanaan dalam memilah-milah, hal-hal mana yang baik, yang cocok untuk kita lakukan dalam situasi dan kondisi yang kita hadapi, itulah yang akan ditiru. Tidak semua yang dilakukan oleh idola kita itu baik atau sesuai dengan diri kita. Sementara “mencuri” atau “merampok” adalah benar-benar menjiplak hal-hal yang dilakukan sang idola tanpa mempertimbangkan baik-buruknya. 

Satu hal lagi yang saya sukai dari artikel ini ini adalah, bahwa kita sebaiknya juga belajar dari pengalaman orang lain. Dengan belajar dari pengalaman orang lain, setidaknya kita bisa menghemat waktu, kita tidak perlu mengalami hal-hal (buruk) yang sama seperti yang telah dialami oleh orang lain. *baru terasa kan, pentingnya belajar sejarah atau baca buku biografi :P * 

Kembali lagi ke pertanyaan di atas, “Haruskah kita menjadi diri sendiri?” – Jika hal itu berarti kita bukan menjadi orang lain, maka jawabannya adalah “Ya, kita harus jadi diri sendiri, karena kita bukan orang lain”. Namun jika hal itu berarti kita tetap menjadi diri kita seperti saat ini, maka jawabannya adalah “Tidak, kita perlu berubah dan tidak hanya jadi diri sendiri seperti saat ini”. 

CMIIW :lol:

17
Agu
07

Sebuah cerita tentang buku (2)

(sambungan) 

Buku Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken ini sebenarnya dapat jadi konsumsi bagi semua jenjang usia. Bagi sebagian orang (termasuk anak-anak), fantasi petualangan Berit dan Nils tampak lebih mengasikkan; bagaimana kedua saudara ini mengatur strategi untuk membongkar rahasia Bibbi Bokken, seorang wanita yang mereka anggap misterius. Sementara itu bagi sebagian orang lainnya ungkapan-ungkapan filsafat dalam buku ini mengandung makna yang jauh lebih berarti. 

Tetesan itu

tak

tergantung di sana

(Puisi dari Tor Åge Bringsværd)  

Kalau kita bayangkan tetesan pada talang air, bergelantungan, tapi sebelum dapat diperhatikan lebih seksama, tetesan itu sudah tak tergantung lagi di sana. Enam patah kata ini menceritakan apa yang terjadi di seluruh dunia, bahwa segala sesuatu selalu berubah. *daleemm..* 

… fantasi tak berbeda dengan kebohongan… Jika fantasi sama dengan kebohongan, para penulis mestinya merupakan pembohong yang paling antusias. … mereka hidup dari situ dan orang-orang dengan sukarela membeli cerita hasil kebohongan mereka. … beberapa orang senang berbohong, sedangkan yang lain senang dibohongi.  

Ungkapan ini sebenarnya sederhana, namun punya makna yang lebih luas. Seperti ungkapan seorang teman, sebagai penulis, kita dituntut untuk memiliki imajinasi. Biarkan pikiran kita melayang setinggi-tingginya, berfantasi seluas-luasnya, baru setelah itu kita mulai menulis. Apakah itu kebohongan atau bukan, itu lain soal… ;) Simak dulu ungkapan berikut ini: 

Dalam setiap masyarakat, dibangun gedung-gedung besar yang di dalamnya kebohongan berkumpul berbaris, dan kita menyebutnya perpustakaan. … tidak semua yang tertuang dalam buku adalah kebohongan. Bahkan, dalam satu buku, kebenaran dan fantasi boleh jadi malah berdampingan.  

Ya, saat kita menceritakan suatu kejadian yang sebenarnya, tentunya paparan kita lebih berupa kebenaran. Kebenaran maupun fantasi perlu diceritakan secara jelas, agar semuanya tampak seperti sungguhan. Suatu karangan dianggap punya kekuatan bila dapat bercerita secara sungguh-sungguh sehingga dapat membawa pembaca seolah-olah berada dalam situasi yang nyata. 

Kemudian mengapa jadi perpustakaan ajaib? 

Jawabannya secara gamblang dijelaskan dalam bab 2 buku ini. Ajaib, karena fantasi pemikiran Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup ini betul-betul orisinil, hebat ! Novel filsafat ringan yang dikemas dalam petualangan dua bersaudara ini sungguh jadi sajian hangat di akhir minggu… :D  

16
Agu
07

Sebuah cerita tentang buku (1)

“Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku,

aku akan bisa menguak sepetak langit.

Dan jika aku membaca sebuah kelimat baru,

aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya.

Dan segala yang kubaca akan membuat dunia

dan diriku menjadi lebih besar dan luas.”

(Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup) 

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken 

Sebuah novel terjemahan ber-setting negara Norwegia ini, hanya terdiri dari 2 bab saja. Bab pertama bertema ‘buku-surat’ berisi tentang buku yang berisi surat menyurat antara dua orang saudara, Berit dan Nils Bøyum Torgersen yang dikirim dari Oslo ke Fjærland pp. Bab kedua bertema ‘perpustakaan’, isinya lebih menceritakan tentang rangkaian potongan-potongan cerita yang ada pada bab sebelumnya.

(Baru baca mengenai ‘buku-surat’ ini, langsung teringat bahwa duluuu pernah juga melakukan hal yang sama, semasa kelas 3 SMP dengan seorang sahabat di kelas sebelah :) . Menyenangkan, karena kita bisa bercerita apa saja, mulai dari ngomongin pelajaran sampai ke gosip-gosip seputar kita. Ada semacam aturan yang kita sepakati pada waktu itu, bahwa setiap orang akan dikenai denda apabila tidak menjawab pertanyaan yang ditanya pada surat sebelumnya. Dendanya hanya 50 rupiah, dan itu kita kumpulkan untuk membeli buku-surat yang baru, bila buku yang lama sudah habis terisi semua. Sekarang buku itu sudah tinggal cerita, ga tau lagi dimana keberadaanya :D )

Setiap surat Berit dan Nils ini berisi sebuah cerita pendek yang dapat berupa pengalaman, khayalan, maupun kesan-kesan dari kedua orang saudara tersebut. Cerita-cerita itu kadang tidak saling terkait, namun erat melengkapi jalannya cerita secara keseluruhan. Ada cerita tentang Anne Frank, Winnie the Pooh, Peer Gynt, maupun cerita tentang klasifikasi desimal Dewey, seorang yang mengembangkan sistem katalog untuk perpustakaan. Secara sederhana, buku ini bercerita tentang petualangan kedua bersaudara Bøyum Torgersen, namun bila disimak lebih dalam ternyata ada juga unsur filsafat yang terkandung di dalamnya. 

Sebagai buku dengan tokoh anak-anak, bahasa yang digunakan tampaknya bukan pilihan kata yang umum untuk kanak-kanak, karena ditulis dalam kata-kata bahasa Indonesia baku. Buku ini jadi agak berat sebagai bacaan anak atau remaja. … ketika kau menulis betapa aku telah menorehkan “luka yang dalam pada jiwamu”, aku nyaris meraung. – hmm… berat…  Mungkin sulit bagi penerjemahnya untuk mencari kata-kata sederhana yang pas dalam bahasa Indonesia.

(bersambung)




 

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 44,954 hits

Others

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

visitor stats

PageRank

my 'read' shelf:
 my read shelf

Click to view my Personality Profile page