Arsip untuk Kategori 'komunikasi'

01
Apr
09

membaca pikiran

Sebagian besar waktu yang kita gunakan tidak terlepas dari hubungan interpersonal dengan orang lain, baik itu dengan teman, dengan pasangan, dengan rekan kerja, dengan atasan, dengan bawahan, dsb. Berbagai ketrampilan sosial yang menyangkut interaksi pun telah kita ketahui dan pelajari sejak kecil. Ketrampilan yang paling penting tentunya adalah komunikasi.

Ketrampilan berbicara dan mendengar, sebagai bagian dari komunikasi – merupakan ketrampilan dasar yang juga sudah dipelajari sejak lama. Namun seiring waktu, kadang kita lupa bahwa kedua ketrampilan tadi tetap harus dipupuk, bahkan mungkin juga ditingkatkan.

Kadang kita merasa sudah cukup mengenal orang yang kita ajak bicara sehingga kita hanya bicara seperlunya, berasumsi bahwa orang tsb sudah memahami pembicaraan kita. Demikian pula dalam mendengar, kadang kita tidak sabar mendengar pembicaraan orang lain, berasumsi bahwa arah pembicaraan tertuju pada suatu kesimpulan yang sudah kita pikir sebelumnya.

Disinilah letak ”cacat” komunikasi yang biasa terjadi. Akibatnya hubungan interpersonal jadi terganggu. Konflik pun makin sering terdengar.

Teman,
Sedekat apapun hubungan kita dengan orang lain, kita tetap tidak dapat mengetahui hal-hal yang mereka pikirkan secara tepat. Karenanya bicarakanlah hal-hal yang ingin kita sampaikan pada orang lain dengan jelas, dan juga dengarkanlah respon yang disampaikan oleh orang lain secara cermat.

Jadi saat terjadi konflik, coba ditelaah kembali, apakah komunikasi sudah berjalan baik, atau kita yang hanya membaca pikiran orang lain (dan salah… :P )

07
Feb
09

klaksonnya cukup 2 kali aja

Kemarin, saat sedang asik nyetir menuju kantor, tiba-tiba ada sebuah mobil sedan yang membunyikan klakson dengan tidak sabar, seolah akan mendahului, atau menyuruh untuk mempercepat laju kendaraan karena mungkin menurut si pengemudi mobil belakang, kecepatan mobil saya terlalu lambat. Mungkin saja dia melihat bahwa jarak mobil saya dengan mobil depan terlalu jauh, sehingga klakson dibunyikan supaya saya lebih mempercepat laju kendaraan.

Sebagai orang yang cukup tertib dengan “car length rule” –yang bilang bahwa ada jarak-jarak tertentu yang harus diikuti jika kita mengendarai mobil dengan kecepatan tertentu– saya tidak terlalu berani membuat jarak dengan mobil depan terlalu dekat. Sebenarnya agak susah juga menerapkan “car length rule” di Jakarta yang tingkat kemacetannya luar biasa ini, sebab orang-orang (khususnya supir kendaraan umum) punya prinsip “fill in the gap”, jadi kalau terus-terusan tertib jaga jarak, alamat lama sampai di tujuan :P

Kembali ke cerita di atas, bunyi klakson mobil belakang itu betul-betul mengganggu dan bikin suasana hati jadi kurang enak. Mau tidak mau saya coba agak mempercepat laju kendaraan, tapi bunyi klaksonnya masih bertubi-tubi, sampai akhirnya mobil itu berhasil menyusul saya dari sebelah kiri, dan melaju dengan cepat, hmm… sangat provokatif. Waktu itu, dengan jalanan yang hanya bisa muat dua mobil, saya memang ada di sebelah kanan, karena di jalur kiri penuh dengan motor. Jadi saya memang tidak berminat untuk memperlambat kendaraan, atau membiarkannya menyusul dari jalur kanan ;)

Perjalanan ke kantor masih beberapa km lagi, beberapa saat saya terpikir demikian…

Dalam dunia pekerjaan, terkadang kita juga menjumpai ada rekan kerja yang sudah berada pada “comfort zone”-nya. Mereka cukup baik dalam bekerja, namun kurang ada keinginan untuk lebih meningkatkan hasil yang telah dicapai sebelumnya. Sementara ada kelompok lain yang berisi orang-orang yang punya ide-ide kreatif, selalu ingin maju, dan seringkali menganggap bahwa rekan kerja yang ada di “comfort zone” ini sebagai penghambat, dan enggan bekerja sama dengan mereka.

Yang terjadi adalah semakin orang-orang kreatif ini ingin bergerak maju, mereka semakin merasa dihalang-halangi oleh rekan kerjanya yang sulit berubah. Sementara orang-orang ini pun merasa terganggu karena cara kerja mereka yang biasa seolah harus diubah, padahal mereka sudah mengikuti aturan dan prosedur yang berlaku. Akhirnya, kedua kelompok ini menjadi bersaing dan kadang berusaha menjatuhkan satu sama lain.

Padahal kalau kedua kelompok ini mau berkompromi, misalnya kelompok pertama (dengan orang-orang yang sudah ada di “comfort zone”) mau menjelaskan soal aturan yang berlaku, dan kelompok kedua juga menjelaskan soal ide-ide mereka dengan bahasa yang lebih dipahami, tentunya dua kelompok ini bisa menghasilkan hasil kerja yang lebih baik dan menguntungkan bagi kedua belah pihak. Hubungan yang terjalin pun lebih positif, tidak saling curiga, tidak saling dendam.

——————————–
Jadi…
kalau nglakson, cukup sekali atau dua kali saja… saya juga pasti akan mencoba mempercepat laju kendaraan kok :P

Catatan: Lihat juga komentar mbak Soni disini

28
Nov
07

sudah tepatkah jawaban kita?

Berkomunikasi dengan orang lain tampaknya merupakan hal yang sederhana, tapi kalau dipikir-pikir, kadang tidak mudah untuk dapat berkomunikasi dua arah secara lancar. Terkadang hal-hal yang ingin kita sampaikan diterima secara berbeda oleh orang lain. Perbedaan persepsi antara si pemberi pesan dan si penerima pesan seringkali membuat hubungan di antara keduanya menjadi “kurang harmonis”. 

Hal seperti ini seringkali terjadi juga dalam komunikasi antara orang tua dan anak. Seorang anak yang penuh rasa ingin tahu biasanya selalu mempertanyakan segala hal yang “baru” baginya. Hal-hal yang ia pikirkan langsung ditanyakan, dan terkadang membuat orang tua kelabakan atau kehilangan kata-kata untuk memberikan penjelasan pada anak mengenai hal yang mereka tanyakan. 

Tidak bisa dipungkiri juga, dalam keadaan tertentu kadang orang tua segan menjawab, atau malah berusaha menghindar dari pertanyaan-pertanyaan sulit tersebut. Salah satu topik yang sulit dijawab oleh orang tua adalah topik mengenai seks. Topik ini tampaknya memang bukan topik yang biasa menjadi perbincangan sehari-hari, sehingga selalu jadi pertanyaan bagi anak. Sementara bagi orang tua tidak mudah menjawab karena memang sulit menerangkannya dalam bahasa yang mudah dipahami oleh anak.  

Kekhawatiran orang tua akan pertanyaan anak mengenai topik seks, kadang juga membuat orang tua jadi kurang mencerna pertanyaan anak. Hal inilah yang perlu menjadi perhatian. Kita sebagai orang tua perlu menyimak benar-benar pertanyaan yang diajukan anak sehingga jawaban yang diberikan bisa sesuai. Simak ilustrasi di bawah ini,   

tttlongtalk.jpg

(gambar diambil dari sini)

Ya, ini hanya sekedar gambaran bahwa jika kita tidak mencerna dengan baik apa yang menjadi concern anak, jawaban yang diberikan menjadi tidak menjawab inti pertanyaan :D  

Sebenarnya tidak hanya komunikasi dengan anak, komunikasi dengan siapa-pun harus menggunakan pola demikian agar komunikasi yang kita lakukan tidak sia-sia ;)

————– 

Artikel terkait:

- “Komunikasi dengan anak”, prakteknya tidak semudah teori

30
Okt
07

Nulis yuuk… (selintas ide dari Pesta Blogger 2007)

Nulis apa?” Itu adalah jawaban yang sering saya dengar dan juga jawaban yang acap kali saya berikan beberapa waktu yang lalu. Meskipun duluu saya rajin menulis buku harian, tapi pada saat ingin mulai menulis di weblog, rasanya kok susah ya? Pertama kali punya blog di tahun 2001 hanya bertahan 3 kali posting saja, setelah itu vakum hampir selama 5 tahun, dengan alasan bingung mau nulis apa…  

Berikut sekedar tulisan, terinspirasi dari Pesta Blogger 2007 kemarin…  

Menurut Nila Tanzil dan Anjar Priandoyo, tulislah sesuatu yang memang kita minati, apapun itu… bisa soal pekerjaan, profesi, pengalaman, aktivitas, ataupun situasi yang terjadi sehari-hari di sekeliling kita. Jadi, jangan hanya menulis “Saya pergi ke pasar”, tetapi apa saja yang dilakukan disitu, bagaimana perjalanan kita kesana, bagaimana kesan-kesan kita, dsb. Banyak yang bisa diceritakan, banyak yang bisa ditulis :)

blogging.jpg

(gambar diambil dari sini)

Pakdhe Rovicky menambahkan, tulis juga fakta atau data yang bisa mendukung tulisan kita. Menurut saya, ada dua hal utama yang bisa didapat dari situ, pertama – kita jadi terbiasa berpikir atau bicara base on fact. Kemudian kita juga jadi terpacu untuk mencari informasi-informasi tambahan guna melengkapi tulisan kita. Kadang dengan mencari informasi, kita tidak sengaja juga tahu mengenai hal-hal lain, yang menginspirasi kita untuk membuat tulisan berikutnya. Kemudian yang kedua – dengan adanya data atau fakta tersebut, orang yang membaca tulisan bisa memperoleh informasi yang berguna juga. Tulisan kita bisa jadi bahan rujukan, dan secara tidak langsung bisa meningkatkan jumlah pengunjung/pembaca di blog kita ;)  

Sebuah tulisan Nila tentang pariwisata di Malaysia pernah mendapat tentangan keras dari pemerintah Malaysia yang mengatakan bahwa “80% of blogger are unemployed women”, “all bloggers are liar”, etc. Kalau seorang blogger mendapat tentangan semacam itu, biasanya akan merasa “down”, mungkin juga jadi enggan menulis, dsb. Itu juga yang dialami oleh Nila, namun dukungan dari para blogger terus menyemangatinya untuk tetap menulis. Point-nya adalah kalau memang hal-hal yang kita tuliskan adalah fakta atau opini terhadap fakta tersebut, kita tidak perlu ragu untuk menulis. Blogger bebas berpendapat, dan bebas menulis apa saja :D

Seperti yang diungkapkan oleh Bp. Cahyana Ahmadjayadi (Dirjen Kominfo) – blogger dapat mencerdaskan bangsa, namun bisa juga membodohkan bangsa – berarti tulisan blogger turut punya andil besar atas kemajuan bangsa. Rasanya, kalaupun ada tulisan yang kurang tepat (yang bisa jadi ancaman bagi pembodohan bangsa), rekan-rekan blogger akan mencoba meluruskan, mengarahkan ataupun memberikan sudut pandang lain, sehingga kita bisa menilai mana informasi yang berguna dan mana yang tidak. Jangan takut kalau tulisan kita atau pendapat kita itu salah, karena dengan adanya interaksi dengan para blogger di dunia maya ini, kita bisa segera memperoleh umpan balik yang berguna. 

Takut tulisan kita dikomentarin yang negatif? – jangan khawatir, justru dengan adanya komentar, kita bisa tahu opini yang beredar di masyarakat seperti apa. Kita bisa memposisikan diri kita, dan belajar untuk mengemukakan pendapat serta membuat tulisan yang lebih baik lagi. Kita juga tidak perlu mengikuti apa yang dikatakan orang lain, namun kita bisa belajar untuk mengemukakan pendapat kita (termasuk pendapat yang berbeda) dengan cara yang bisa diterima oleh orang lain. Mengutip pendapat pak Cahyana bahwa dalam tulisan blogger yang pluralis, akan muncul keunikan. Jadi, itulah pendapat kita, keunikan kita. Berbeda dari orang lain, siapa takut? :lol:

Buat saya, blogging is about learning and sharing. Banyak yang bisa dipelajari, tentang menulis, tentang mengemukakan pendapat, tentang memberikan komentar, tentang kesabaran menghadapi pendapat yang berbeda, tentang kedisiplinan meng-update blog :P dan juga tentang berbagi pengetahuan, pemikiran serta perasaan dengan orang lain. 

Ternyata learning is fun :P   Are you agree? 

26
Okt
07

Tips bersikap asertif

shy.jpgAda banyak pengertian mengenai assertive, namun intinya adalah bagaimana kita bersikap jujur dan menunjukkan ekspresi yang sesuai dengan perasaan, opini, maupun kebutuhan yang kita miliki. 

Dari berbagai diskusi, banyak juga yang menyatakan bahwa melakukan komunikasi yang asertif itu ternyata tidak mudah (bukan berarti tidak bisa lho ;) ) 

Jadi ingat pengalaman jaman mahasiswa, saat pelajaran mengenai “assertive”. Pertanyaan saya waktu itu sama seperti yang ditanyakan oleh kebanyakan orang, yaitu bagaimana caranya supaya kita bisa jadi orang yang asertif? Sang dosen hanya tersenyum dan berkata, “kamu sebagai orang … (menyebut nama suku bangsa tertentu), bagaimana mungkin kamu tidak bisa asertif?” (dalam hati saya bilang, lha kok malah ditanya balik?… dan… ada apa dengan suku bangsa saya, apakah dengan demikian saya harus sama seperti orang lain?) 

Tanpa mendapat jawaban yang memuaskan, akhirnya saya berusaha sendiri untuk mencari jalan, dan berupaya untuk bisa asertif. Salah satu artikel yang saya sukai adalah Learning to be Assertive disini. Penjelasannya sederhana dan to the point, yaitu mulai dari mengembangkan sistem nilai yang asertif; mempelajari ketrampilan-ketrampilan untuk berkomunikasi yang asertif; menggunakan gaya komunikasi yang sesuai; dan yang terakhir adalah terus berlatih. 

Mengembangkan sistem nilai yang asertif – maksudnya memahami bahwa setiap orang (termasuk diri kita sendiri) dapat saja berbuat salah, dapat marah, dapat berkata “Tidak”, dan punya keinginan maupun perasaan sendiri. Kita bukanlah orang yang sempurna dan kita juga tidak harus selalu mengikuti pendapat orang lain, jika memang itu tidak sesuai dengan diri kita. Jadi, tidak perlu kecil hati kalau perasaan kita atau opini kita tidak sama dengan orang lain. 

Mempelajari ketrampilan-ketrampilan untuk berkomunikasi asertif –  Terbiasa mengatakan “Saya ingin…” atau “Saya merasa…” merupakan salah satu cara untuk menyampaikan pikiran, perasaan maupun opini kita terhadap sesuatu. Selain itu menunjukkan kepekaan terhadap situasi maupun perasaan orang lain, yang dilanjutkan dengan pendapat kita sendiri. Contohnya “Saya tahu Anda sibuk, namun kelompok kita sudah menyepakati bahwa tugas ini harus selesai hari ini, jadi saya harap Anda juga mau membantu untuk menyelesaikannya”.  

Ketrampilan lainnya adalah dengan menggunakan kalimat yang menunjukkan dampak suatu kejadian atau tindakan terhadap diri kita. Jelaskan hal apa yang telah terjadi, bagaimana dampaknya terhadap diri Anda, serta apa harapan Anda kemudian. Contohnya “Saya kecewa saat Anda datang terlambat, saya tidak dapat memulai rapat karena materinya ada pada Anda padahal semua undangan telah hadir. Lain kali Anda perlu datang lebih awal sehingga masih tersedia waktu untuk menyiapkan rapat sebelum dimulai.” Komunikasi seperti ini tentunya lebih baik dibandingkan jika kita hanya sekedar menyalahkan orang tersebut saja. 

talk.jpg

Menggunakan gaya komunikasi yang sesuai – maksudnya adalah menunjukkan sikap yang positif, seperti tetap mempertahankan kontak mata saat berbicara dengan orang lain, tidak membelakangi orang yang kita ajak bicara, volume dan nada suara yang sesuai, serta ketepatan antara ekspresi dan pernyataan yang kita sampaikan (misalnya mengatakan “Tidak” sambil menggeleng, bukan dengan mengangguk). 

Yang terakhir adalah terus berlatih untuk bersikap asertif. Latihan butuh waktu dan tentu saja kesabaran :P Berlatih dulu dengan orang-orang terdekat kita, misalnya dengan teman atau keluarga. Sampaikan juga tujuan kita untuk bersikap asertif. Minta bantuan mereka untuk mau memberikan umpan balik tentang hal-hal yang telah kita lakukan, atau tentang gaya komunikasi yang kita gunakan. Mudah-mudahan dalam waktu berikutnya komunikasi yang kita lakukan bisa lebih jujur, terbuka dan dapat menunjang relasi yang kita bina dengan orang lain. 

Tidak mudah? Itu pasti, pengalaman saya juga mengatakan demikian, tapi pasti akan berbeda rasanya saat kita bisa menyampaikan sesuatu yang sesuai dengan perasaan dan opini kita, daripada hanya sekedar mengikuti keinginan orang lain ;)  

Keep trying !!!  :D  

14
Okt
07

bersama menapaki kehidupan

Menjalin komunikasi yang baik dengan orang lain terlihat sebagai suatu hal yang mudah, apalagi bila orang tersebut adalah orang yang sudah lama kita kenal sebelumnya. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Komunikasi antara anak dan orang tua ada kalanya mengalami hambatan, ketika topik pembicaraan mulai mengarah pada perbedaan pendapat di antara keduanya. Demikian pula halnya dengan komunikasi yang terjadi antara suami dan istri. Lamanya usia perkawinan belum dapat menjamin bahwa komunikasi yang terjadi di dalamnya selalu berlangsung secara efektif.

Efektif tidaknya komunikasi yang terjalin ditentukan pula oleh gaya komunikasi yang digunakan pada saat itu. Seseorang mengembangkan gayanya sendiri dalam berkomunikasi, dan meskipun mampu menggunakan gaya yang berbeda-beda, namun ia cenderung menggunakan gaya yang sama dalam situasi tertentu.
Gaya komunikasi yang dikembangkan seseorang akan semakin sering diulangi jika mendapat penguatan saat menggunakannya.

Tulisan ini dibatasi pada pembahasan mengenai komunikasi dalam keluarga, khususnya antara suami-istri. Terinspirasi dari tulisan cakmoki yang membahas tentang keluhan seorang dokter mengenai pilihan antara kepentingan profesi atau kepentingan keluarga; saya ingin mengulas sedikit tentang komunikasi yang terjadi.

Dalam tulisan itu diceritakan bahwa hal-hal yang dilakukan oleh sang suami (yang berkaitan dengan kepentingan kerja/profesi) seringkali mendapat tentangan dari sang istri. Suami berpandangan bahwa tindakan-tindakan yang ia lakukan dapat meningkatkan kinerjanya sebagai seorang dokter, sementara sang istri beranggapan bahwa tindakan suaminya tersebut terlalu mengada-ada dan bahkan jadi melupakan kebutuhan keluarga. Diskusi di antara keduanya juga sudah dilakukan, namun malah memperuncing perbedaan pendapat yang ada. Dari cerita itu tersirat bahwa masing-masing individu berpegang teguh pada pendapatnya masing-masing. Memang tidak digambarkan dengan jelas tentang bagaimana situasi komunikasi yang terjadi, namun tampaknya masing-masing pihak perlu memahami sudut pandang pasangannya, guna mencari titik temu dan bukan mencari siapa yang salah.

Kita tidak dapat memaksa seseorang menyetujui pendapat kita, namun kita bisa mencoba menyesuaikan diri dengan pendapat orang lain (bukan berarti sepenuhnya mengikuti pendapat orang lain dan mengalahkan pendapat kita sendiri). Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan menggunakan gaya komunikasi asertif, maksudnya mengemukakan pendapat secara terbuka, tidak menyalahkan dan mencoba untuk melibatkan pasangan dalam memecahkan persoalan yang terjadi. Kita tidak dapat hanya mengikuti pendapat orang lain begitu saja, atau merasa pendapat kita yang paling benar dan memaksakan pendapat kita tsb.

Tentunya menggunakan suatu gaya komunikasi yang berbeda dari yang biasa kita lakukan selama ini bukan merupakan hal yang mudah, namun hal ini bisa dipelajari. Semakin sering kita mencoba, semakin mudah pula kita melakukannya, jadi mulailah segera mempraktekkan gaya komunikasi yang asertif ini, terutama terhadap pasangan kita, sebagai orang yang terdekat dengan kita.

Mengutip ungkapan dr. Faisal Baraas dalam bukunya, Beranda Kita:

Jika berbicara tentang perkawinan, maka tak ada yang pasti di dalamnya. Dengan lebih banyak toleransi dan sedikit tuntutan, mungkin seseorang bisa membina perkawinannya sebagai suatu tanggung jawab bersama dengan pasangannya. Kelanggengan perkawinan memang merupakan cita-cita yang mesti dikejar dengan semangat penuh. Mengenal sifat dasar pasangan dan kemudian menerimanya sebagai suatu realita akan sangat banyak menyelamatkan pasangan perkawinan sampai tua.

18
Agu
07

“Komunikasi dengan anak”, prakteknya tidak semudah teori

Terinspirasi dari tulisan di sebuah blog pagi ini, tiba-tiba jadi pengen nulis soal komunikasi orangtua-anak di era kemerdekaan saat ini *sok nyambung-nyambungin dengan suasana 17-an*. Yang dimaksud dengan era kemerdekaan itu adalah era modern sekarang ini, saat kesenjangan generasi tidak lagi dianggap sebagai penghalang untuk mengemukakan suatu pendapat.

Keluarga-keluarga sekarang ini terlihat lebih menerapkan suasana yang terbuka, bicara terbuka antara seluruh anggota keluarga. Sedikit berbeda dengan era yang lalu, saat orang tua dan anak terkadang punya hambatan untuk berkomunikasi dengan lancar dan terbuka. Mungkin tidak semua keluarga begitu, tapi sepertinya sebagian besar keluarga menerapkan pola yang kurang lebih demikian. Tidak semua hal dapat dibicarakan dengan orang tua. Anak perlu memilah-milah dulu, apa saja yang bisa disampaikan atau ditanyakan kepada orang tua. Ada kalanya orang tua terlihat agak ‘kesal’ karena tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan anaknya. Orang tua sebagai tokoh otoritas dalam keluarga seringkali menempatkan diri sebagai tokoh panutan yang selalu tahu dan tidak terbantahkan.

Perkembangan jaman yang pesat sekarang ini turut memberi andil pula dalam kehidupan keluarga. Keluarga-keluarga lebih demokratis, komunikasi antara ayah-ibu dan anak lebih terbuka. Tapi, dari beberapa diskusi dengan keluarga-keluarga muda, ternyata tidak semua hal dapat mereka bicarakan dengan anggota keluarga yang lain. Seorang ayah / suami kadang tidak dapat bercerita terbuka pada sang ibu / istrinya, atau sebaliknya. Kadang mereka pun tidak dapat berbicara terbuka dengan anak-anaknya. Disini pembahasan akan dibatasi pada komunikasi orang tua-anak saja.

Lanjutkan membaca ‘“Komunikasi dengan anak”, prakteknya tidak semudah teori’




 

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 44,996 hits

Others

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

visitor stats

PageRank

my 'read' shelf:
 my read shelf

Click to view my Personality Profile page