Arsip untuk Kategori 'sejarah'

28
Okt
08

Petite Histoire Indonesia

Ini adalah salah satu buku yang sangat mengasikkan untuk dibaca. Buku yang terdiri dari berbagai kisah tentang Indonesia ini benar-benar membuat saya merasa sayang kalau hanya membacanya selintas saja. Kalimat demi kalimat yang terangkai membawa kita seakan ikut berada di situasi saat itu. Kisah-kisah dalam buku ini menggambarkan cuplikan kecil sejarah bangsa Indonesia, dan membuat saya berpikir… kehidupan bangsa ini tidak akan seperti sekarang jika sejarah berkata lain.

Ditulis oleh seorang jurnalis, kita bisa memahami bahwa gaya bahasa Rosihan Anwar amat sangat komunikatif. Jadi ingat pertemuan dengan RA tahun lalu, beliau masih sangat energik meskipun usianya bisa dibilang sudah tidak muda lagi. Mungkin kebiasaannya menulis dan membaca membuat beliau terus bersemangat seperti itu. Sangat mengagumkan!

Rosihan Anwar menuliskan kembali sejarah-sejarah kecil tentang Indonesia, berdasarkan studi literature, dari buku-buku yang tersimpan di perpustakaan manca negara. Kita seolah ikut memahami bagaimana pemikiran orang asing tentang Indonesia pada saat jaman penjajahan dulu. Kita juga bisa mengikuti pengalaman RA saat meliput peristiwa-peristiwa sejak jaman Soekarno, sampai dengan Megawati. Buku ini memang ditulis tahun 2004, jadi belum ada cerita tentang SBY :)

RA juga menulis sejarah kecil bangsa Indonesia ini mulai tentang Aceh sampai Papua, membawa kita pada pemahaman bahwa kita memang terdiri dari berbagai suku bangsa, namun punya perasaan yang sama bahwa kita adalah orang Indonesia.

Ada dua hal yang ingin saya catat disini:

Kutipan dari Sutan Sjahrir tentang Soekarno (h.124), “Apa pun kritik kita kepada Soekarno, kita tidak boleh lupa bahwa dialah yang mempersatukan kita sebagai bangsa. Itulah jasanya”.

Penjelasan Dr. Cipto Mangunkusumo bahwa bangsanya menginginkan kemerdekaan (h.203), “Kebebasan tidak diperoleh manusia atau bangsa sebagai kado. Siapa yang ingin memilikinya harus berjuang untuk itu. Apa yang terjadi atas diri kami sudah diperkirakan. Mereka yang mengejar-ngejar kami membuat hidup kami lebih sulit. Makin berat makin bagus. Itu akan membuat jalan lebih pendek. Kami sudah berjalan dan ingin menempuhnya bersama bangsa kami”.

Di buku ini RA juga menyinggung bahwa, apa jadinya perasaan pendahulu bangsa kita jika mengetahui bahwa saat ini seringkali sentimen kedaerahan menjadi alasan memperdebatkan sesuatu yang hanya menguntungkan sebelah pihak saja.

Hari ini, bertepatan dengan peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, serta setelah beberapa hari menamatkan buku yang menarik ini, ternyata I’m proud to be Indonesian.

10
Okt
08

novel kedua

sebagai kelanjutan dari buku sebelumnya –yang berakhir hanya dengan sebuh titik tanpa tanda-tanda apakah masih ada kelanjutannya atau tidak– novel ini juga mempunyai gaya penulisan yang sama.

Novelnya berawal dari cerita sang kakek yang keturunan Kyai Mojo di Minahasa kepada Ratnaningsih, sang jurnalis; dan berakhir dengan situasi saat Perang Jawa akan dimulai. Dan… sama seperti yang pertama, di akhir novel ini pun tidak ada secercah tanda-tanda apakah novel sudah berakhir, atau masih akan disambung dengan novel-novel berikutnya lagi. Tapi sebagaimana layaknya sejarah, ceritanya tidak akan pernah berakhir, paling tidak selama si pelakon masih ada, ceritanya masih akan berlanjut :) – itu hanya sebuah pembelajaran ;)

Menyimak novel kedua ini, rasanya jalan cerita lebih lambat dibandingkan novel pertama. Tidak terlalu banyak pula ungkapan-ungkapan menarik dan inspiratif yang terkandung di dalamnya. Mungkin bukannya ‘tidak banyak’, tapi butuh penghayatan yang lebih dalam untuk mencerna rangkaian kata-kata sastra dari sang pengarang.

Seperti gambarannya tentang alam Tegalrejo seusai hujan lebat semalaman,

Dan, nanti setelah matahari datang, semuanya jadi indah, pohon-pohon yang daunnya menjadi bersih oleh hujan, serta kesadaran dalam hatinya untuk melihat tanah airnya yang dianugrahkan Tuhan kepada bangsanya ini adalah bumi tempatnya mempertanggungjawabkan kehidupan.

Bisa terbayang indahnya alam yang habis “dicuci” oleh hujan, wangi tanah dan daun-daun yang baru tumbuh, dan itu semua seolah juga “mencuci” jiwa dengan kesadaran akan tanggung jawab sebagai seorang individu :P

Di buku kedua ini, tidak banyak pula asal-usul istilah kata-kata serapan Indonesia yang dibahas. Ceritanya pun lebih banyak menggambarkan sepak terjang Danurejo IV, politik devide et impera serta praktek-praktek korupsi yang ternyata sudah berlangsung dari jaman dulu kala.

Sebagai novel sejarah, buku ini mungkin tergolong ‘ringan’, namun sebagai karya sastra Indonesia modern, buku ini tetap menarik untuk dibaca. Itu juga yang membuat halaman demi halaman, kalimat demi kalimat yang ditulis rasanya sayang kalau hanya dilewati tanpa penghayatan yang lebih dalam.

12
Jul
08

sebuah novel tentang novel

Buku bernuansa merah yang tertata di deretan rak “sastra” mulanya tidak terlalu menarik perhatian, namun setelah diamati ternyata buku itu karangan Remy Sylado, seorang pengarang yang hasil karyanya seringkali menarik untuk dibaca :) Buku yang berjudul “Novel Pangeran Diponegoro” dengan sub judul “Menggagas Ratu Adil”, akhirnya menjadi salah satu buku yang saya pilih sebagai bahan bacaan di akhir minggu.

Pangeran Diponegoro selalu mengingatkan saya dengan Perang Jawa yang berlangsung 5 menit di waktu maghrib, sebuah analogi yang gampang sekali diingat, tahun 1825 sampai 1830. Selain asalnya beliau dari Tegalrejo, ingatan saya tentang Pangeran Diponegoro memang hanya sampai disitu. Hmm… sepertinya pelajaran sejarah jaman SD tidak terlalu banyak menempel lagi sekarang… :(

Sebagai novel karangan Remy Sylado, novel ini juga sarat dengan imajinasi pengarang tentang kondisi dan situasi di jaman penjajahan Belanda di seputaran Yogyakarta pada akhir abad 18. Gambaran detil tentang tokoh-tokoh cerita, serta situasi lingkungan Yogyakarta dan Tegalrejo betul-betul membawa pembaca seakan-akan ikut berada di tempat yang sama. Selain itu, tutur kata-kata indah yang menggambarkan situasi alam Indonesia turut menambah keindahan yang diceritakan.

Pemikiran-pemikiran Pangeran Diponegoro pun digambarkan dengan cukup apik, diantaranya tentang perbedaan pemikiran bangsa Indonesia (Timur) dan bangsa Eropa (Barat);

Kita memang berbeda, pikiran Timur dan pikiran Barat tidakkan mungkin sama… barat adalah tempat tempat matahari terbenam, timur tempat matahari terbit. Terbenam berarti akhir, terbit berarti awal.
Di saat matahari terbenam, ada rasa waswas, gamang, dan takut karena sebentar lagi gelap, dan di dalam gelap bisa terjadi kejahatan-kejahatan, tempat merajalelanya kekuasaan iblis.
Sedangkan di saat matahari terbit, ada rasa lega, senang, nikmat, sebab terang akan memberi pengharapan terhadap arti kehidupan baru, tempat hadirnya keyakinan akan kemahakasihan Tuhan.
… biarlah Timur tetap timur, dan Barat tetap barat.

pemikirannya tentang kehidupan;

Hidup memang tidak selalu sederhana-sederhana saja. Sebab, kalau semuanya sederhana, lancar, mulus, niscaya tidak bakalan ada tantangan yang membuat manusia tergembleng untuk menjadi mustaid, sempurna, sidi.

serta pandangannya tentang kesalahan kepemimpinan;

… kebenaran pada satu pihak dapat berarti kesalahan pada pihak lain … kita tidak pernah melihat kesalahan orang lain sebagai akibat kesalahan kita.
Pemimpin tidak sepatutnya menyalahkan orang yang dipimpinnya tanpa melihat kesalahannya sendiri.

Novel ini juga penuh dengan kosakata Bahasa Indonesia yang tidak sering dipakai sehari-hari, seperti misalnya leluri, makzul, arkian, masygul, dll. Ungkapan-ungkapan bahasa Jawa, serta bahasa Belanda, Inggris dan Perancis —sebagai negara-negara yang punya peranan dalam masa penjajahan pada akhir abad 18— juga ikut mewarnai novel ini.

Sebagai sebuah novel yang juga bertitel ”novel”, maka buku ini tidak melulu bercerita tentang sejarah, tapi juga berisi tentang pemikiran, pandangan hidup dan nilai-nilai kemanusiaan. Mungkin lebih tepat disebut sebagai sebuah fiksi sejarah.

Dan sebagai karya Remy Sylado, bagian-bagian awal novel selalu menarik untuk disimak, sementara menjelang akhir cerita biasanya keinginan pengarang berbeda dengan dugaan pembaca (maksudnya: saya) :mrgreen:




 

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 44,996 hits

Others

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

visitor stats

PageRank

my 'read' shelf:
 my read shelf

Click to view my Personality Profile page