Arsip untuk Kategori 'umum'

28
Sep
09

berikan yang terbaik

smilemelanjuti postingan sebelumnya, dan sedikit mengulas ceramahnya pak ustadz bulan puasa kemarin, postingan kali ini masih bercerita tentang “yang terbaik”.

Berawal dari pembahasan mengenai sedekah…

Bersedekah atau berderma sebenarnya adalah memberikan sesuatu pada orang lain yang berhak menerimanya, sesuai dengan kemampuan pemberi. Tidak melulu berupa materi, sedekah bisa dalam bentuk apa pun, yang pasti… sesuai dengan kemampuan pemberi. Kalau punya uang, bersedekahlah dengan uang, tapi kalau tidak punya uang, sedekah bisa berupa barang, bisa juga berupa tenaga, atau bahkan senyuman. Malahan –kata pak ustadz— kalau senyum pun susah, berusahalah untuk bersedekah dengan menampilkan raut wajah yang “enak dilihat”.

Mendengar ceramah pak ustadz ketika itu, pikiran langsung membayangkan seorang teman yang selalu tersenyum. Orangnya baik dan jarang marah. Meskipun dia pernah juga marah/kesal terhadap orang lain, namun tidak pernah berkata kasar, dan tetap mempertahankan raut wajah yang dihiasi dengan senyuman khas-nya. Kemudian mencoba untuk membandingkan dengan diri sendiri, hmm… apakah raut wajah sudah enak dilihat?

Apa hubungannya dengan sedekah?

Jika kita menghias wajah dengan senyum, orang lain yang melihatnya pun tentu akan merasa nyaman. Relasi interpersonal yang terjadi akan lebih positif. Secara tidak disadari, orang yang tersenyum tsb telah memberikan sikap terbaiknya, yang secara tidak langsung telah memperlancar relasi yang terjadi. Sederhana saja kan?

Tapi perlu dicatat, yang dimaksud dengan “senyum” disini, adalah senyuman kecil yang membuat raut wajah jadi enak dipandang, bukan “senyum-senyum” yang kebanyakan atau malah terkesan nyindir :mrgreen:

17
Sep
09

selamat idul fitri 1430 H

moon

bulan sabit kian menipis
terlihat di ufuk timur
pertanda Ramadhan akan berakhir
idul fitri pun segera tiba

orang bijak pernah berkata,
memaafkan itu
bukan untuk memperbaiki masa lalu
tetapi untuk memperindah masa depan

oleh karenanya,
perkenankan saya mengucap
selamat idul fitri 1430 H
mohon maaf lahir dan bathin

————————————————————

(foto diambil waktu subuh kemarin, 26 Ramadhan 1430H / 16 September 2009)

13
Sep
09

menjadi yang terbaik

merasa tertohok dengan postingan-nya Diki disini (selentingannya si ayam kadang bikin senyum2 miris), akhirnya terbit juga artikel ini… sekedar intermezzo dari hiatus selama……… (hmm, sampai lupa lagi tanggal berapa posting artikel terakhir :P )

tidak mudah untuk mulai kembali menulis, seakan ide-ide tidak ada yang mau muncul ke permukaan; atau kalau pun sempat muncul, tiba-tiba lenyap dan seakan tak menarik lagi untuk ditarikan bersama jari jemari di atas papan keyboard :D

Ide tulisan ini kebetulan muncul saat mengamati berbagai perbincangan dengan berbagai macam topik di berbagai media yang muncul akhir-akhir ini. Mulai dari yang “berat” seperti berita soal hubungan luar negeri RI-Malaysia akhir-akhir ini, berita tentang bencana gempa yang mengguncang Jawa yang disusul dengan bencana longsor di beberapa tempat di Jawa Barat, sampai dengan berita-berita ringan seputar gosip selebriti ternama; semua menjadi berita hangat yang bisa jadi bahan diskusi, baik di ajang offline maupun online. Rasanya banyak orang-orang yang tiba-tiba menjadi tertarik untuk membahas soal politik, dengan komentar-komentar “kritis” yang mencoba mengkaitkan berbagai issue-issue politik di Indonesia; banyak orang yang seolah menjadi jadi ahli gempa, atau ahli lingkungan hidup yang juga mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah soal lingkungan; dan tak ketinggalan banyak juga orang-orang yang seolah jadi menggantikan presenter acara gossip di televisi, fasih menceritakan riwayat hidup sang artis berikut sifat-sifatnya, tidak hanya tentang sang artis, tapi juga tentang pasangannya, maupun tentang keluarganya (orang tua maupun anak-anaknya) :)

Di balik itu semua, tiba-tiba yang terpikir adalah, apakah benar mereka ahli politik (sehingga bisa menilai bahwa kebijakan pemerintah itu benar atau salah)?; apakah benar mereka ahli lingkungan hidup (sehingga bisa tahu sejauh mana dampak gempa dan pengaruhnya terhadap struktur lempeng bumi)?; atau juga apakah mereka adalah keluarga dekat dari sang selebriti (sehingga bisa menilai baik buruknya sang artis)? Hmm…

Contohnya soal tari pendet yang muncul di iklan partiwisata Malaysia, mungkin kita perlu tahu dulu duduk perkara sebenarnya. Ternyata memang itu hanya kesalahan produser iklan yang memasukkan potongan tarian dalam tayangannya, dan bukan berarti Malaysia mengakui “Tari Pendet” sebagai budaya mereka. Di sisi lain, pernahkah Indonesia membuat sebuah promosi atau tayangan iklan pariwisata tentang “Tari Pendet” itu sendiri? Kalau belum ada, bukankah lebih baik kalau kita berupaya mengemas sebuah tayangan yang mempromosikan Indonesia melalui tari-tariannya yang beraneka ragam itu? *no comment, ini hanya untuk contoh :mrgreen: *

Contoh lainnya, soal kehidupan para selebriti; kalau kita tidak mengenal si artis, apakah kita bisa menilai dengan mudah apakah keputusannya itu benar atau salah? Padahal kita juga tidak tahu lingkungan keluarganya, tidak paham kehidupannya. Terkadang kita hanya mengenal mereka dalam tayangan film atau sinetron yang dimainkannya, dan kita menganggap bahwa demikianlah kehidupan mereka sebenarnya. Lain halnya bila kita adalah keluarga dekat sang artis, sehingga kita lebih paham mengapa ia melakukan tindakan-tindakan tertentu, dan bisa memberikan suatu penilaian yang lebih objektif.

Kembali ke topik artikel di atas, apa maknanya?

Bukan berarti kita tidak boleh membicarakan hal-hal di atas, namun hendaknya kita perlu menilai diri kita terlebih dulu sebelum kita memberikan sebuah penilaian. Seandainya kita hanya memahami suatu persoalan dari sumber yang terbatas, rasanya tidak perlu kita menilai suatu pihak itu benar atau salah. Terlalu naïf rasanya kalau kita menyukai atau tidak menyukai seseorang atau suatu tindakan hanya berdasarkan informasi yang amat minim.

Berdiskusi atau berbincang-bincanglah tentang berbagai hal, tidak terkecuali pula tentang hal-hal seperti di atas, tapi hindarilah untuk memberikan sebuah penilaian sampai kita benar-benar memperoleh data atau informasi yang lengkap, sehingga penilaian kita tsb bisa dipertanggungjawabkan dan menjadi sumber yang baik pula bagi pihak-pihak yang memang membutuhkannya.

Jadi, saat akan memberikan sebuah pendapat atau pun penilaian, berusahalah untuk menyampaikan yang terbaik; pendapat terbaik kita ataupun penilaian terbaik kita. Di sisi lain, tetap terbuka terhadap masukan-masukan yang diberikan oleh orang lain, jangan hanya tetap terpaku pada penilaian pribadi kita. Pertimbangkan masukan-masukan yang ada dan perkaya pendapat atau penilaian kita dengan hal tsb.

Tak perlu sampai menjadi ahli politik untuk dapat berbicara politik, tak perlu menjadi ahli gempa untuk bisa membahas soal gempa; namun penting buat kita untuk mengetahui hal-hal umum yang terjadi tentang topik tsb sebelum memberikan penilaian. Jangan hanya mengkritik sebuah kebijakan politik jika kita tidak paham hal-hal yang melatarbelakanginya. Jangan coba meramal soal gempa kalau kita tidak tahu mekanisme alam yang terjadi. Yang perlu kita lakukan adalah membekali diri kita dengan pengetahuan-pengetahuan umum tentang berbagai hal yang kita perbincangkan, dan menggali informasi sebanyak mungin agar pendapat atau penilaian kita tentang berbagai hal menjadi akurat.

Namun, kalau soal masalah pribadi, jadikanlah hal tsb sebagai pengetahuan kita saja tentang perilaku manusia ;) Tidak perlu menjadi “expert” dan memberikan penilaian soal baik-buruknya perilaku seseorang. Hindari pula prasangka buruk terhadap orang lain, karena kita tidak pernah tahu hal yang sebenarnya terjadi dan dirasakan oleh seseorang sampai orang tsb sendiri menyampaikannya.

*hmm… sudah terlalu panjang rasanya ocehan setelah hiatus kali ini*

OK, balik ke diri sendiri, sudah kah kita menjadi yang terbaik bagi diri kita sendiri?

… bersambung…

08
Jun
09

kapan kita mulai berubah?

180px-KamenRiderBlackSetiap dengar kata ”berubah”, saya selalu ingat dengan Ksatria Baja Hitam yang kerap mengumandangkan slogan ”BERUBAH !!!” setiap kali dia akan melakukan tindakan-tindakan memberantas kejahatan. Hehe… masih ingat? :mrgreen:

 

Kemarin, sambil menghabiskan waktu berkelana ke ranah virtual, saya bertemu dengan sebuah sajak yang bertema ”I wanted to change the world”, seperti di bawah ini:

 

When I was a young man, I wanted to change the world. I found it was difficult to change the world, so I tried to change my nation. When I found I couldn’t change the nation, I began to focus on my town. I couldn’t change the town and as an older man, I tried to change my family.

 

Now, as an old man, I realize the only thing I can change is myself, and suddenly I realize that if long ago I had changed myself, I could have made an impact on my family. My family and I could have made an impact on our town. Their impact could have changed the nation and I could indeed have changed the world.” 

By Unknown Monk, 1100 A.D.

 

Hmm… langsung terpikir, tidak perlu menjelma jadi Ksatria Baja Hitam dulu untuk dapat berubah, tak perlu muluk-muluk ingin memberantas kejahatan kelas internasional, tak perlu berkhayal jadi pemimpin dunia, tapi coba bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita melakukan yang terbaik bagi diri kita sendiri? melakukan tindakan-tindakan yang bisa membawa dampak positif bagi orang lain, bagi lingkungan, maupun bagi masyarakat di sekitar kita?

 

Temans,

Sekecil apapun perubahan yang kita lakukan, asalkan itu dilakukan untuk kebaikan, pastilah akan ada manfaatnya. Contohnya, membuang sampah pada tempatnya, datang tepat waktu ke kantor atau pada saat meeting – itu bukanlah hal yang sia-sia, bahkan bisa menggugah orang lain untuk juga berlaku sama seperti yang kita lakukan. Alhasil, dampaknya akan terasa tidak hanya bagi diri kita, tapi juga bagi orang-orang yang ada di sekitar kita.

 

Jangan menunggu sampai kesulitan menimpa kita, jangan menunda hal-hal positif yang bisa kita kerjakan. Lakukanlah perubahan (ke arah yang lebih baik tentunya) mulai saat ini, karena sedikit demi sedikit perubahan yang kita lakukan akan berdampak besar bagi masyarakat yang lebih luas.

14
Mei
09

antara kagum dan miris

Suatu sore di seputaran halaman Museum Fatahillah, Kawasan Kota Tua Jakarta, ada sebuah atraksi yang sedang digelar. Sebuah kesenian tradisional yang biasa dikenal dengan ”kuda lumping” sedang digelar disana. Pertunjukan yang diiringi dengan beberapa perangkat tetabuhan serta alat musik tradisional ini beranggotakan sekitar 10-15 orang. Beberapa orang bertugas memainkan musik, ada yang bertugas mengumpulkan ”sumbangan” dari orang-orang yang menonton, serta ada beberapa pemain utama yang melakukan berbagai atraksi sepanjang pertunjukan.

Kesenian kuda lumping memang selalu memikat banyak orang. Entah karena bunyi suara pecutan yang kerap menggema sepanjang pertunjukan, atau mungkin juga karena atraksi-atraksi mendebarkan yang mereka bawakan. Salah satu atraksi yang dipentaskan adalah atraksi semburan api. Semburan api yang keluar dari mulut para pemain diawali dengan menampung bensin di dalam mulut mereka lalu disemburkan pada sebuah api yang menyala pada setangkai besi kecil yang ujungnya dibuat sedemikian rupa agar api tidak mati sebelum dan sesudah bensin itu disemburkan dari mulutnya.

mirisRombongan pemain kuda lumping ini memang tampak seperti berasal dari suatu daerah yang sama, atau mungkin juga mereka saling bersaudara. Tak heran jika beberapa anggota keluarga terlibat di dalam petunjukkan tersebut. Sang ayah bertugas sebagai pawang yang mengendalikan acara, kemudian anak-anak (laki-laki) yang sudah besar menjadi pemain utama, anak perempuan sebagai pengumpul ”sumbangan”. Sementara itu ada pula beberapa anak yang lebih muda usianya bermain-main di sekitar mereka.

Ternyata anak-anak kecil ini tak hanya sekedar bermain atau berlari-larian di seputar area pertunjukan, namun mereka pun mahir meniru, termasuk pula dalam meniru atraksi semburan api. Hmm… entah apa yang ada di pikiran penonton, saya tak sanggup berkata apa-apa…

Atraksi yang biasanya mengundang decak kagum, saat itu sepertinya sempat hening, ya… atraksinya memang lebih mengundang rasa miris penonton.

11
Apr
09

berani mencoba

Dalam sebuah perjalanan, sebuah talkshow dari suatu stasiun radio menyiarkan bahwa jangan cepat puas dan terlalu lama berada dalam area “aman” (comfort zone), segeralah bergerak dan berani menapaki area “tidak aman” (uncomfort zone). Entah apa tema topik perbincangan saat itu, namun ungkapan untuk berani masuk dalam uncomfort zone benar-benar menjadi pemikiran, bahkan sampai beberapa hari setelah itu.

Meskipun tidak sepenuhnya merasa ada di comfort zone, tapi kondisinya memang lebih mengarah kesana, keadaan seakan berjalan rutin dan bisa dilalui dengan lancar, tanpa kesulitan yang berarti.

Dan… keputusan itu pun dibuat, untuk maju bertindak, menghadapi segala hal yang tadinya seakan jauh ada di depan sana (yang tadinya terasa, ah… kapan-kapan saja diraihnya ;) ). Berbagai pertimbangan menjadi prioritas yang selalu dipikirkan sebelum melangkah. Bukan hal yang sulit sebenarnya, namun karena ini baru yang pertama kali, maka banyak juga kejutan-kejutan yang tiba-tiba muncul, antara yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Namun itu semua lebih merupakan risiko, yang pasti akan timbul menyertai sebuah keputusan :)

Uncomfort zone – pun mulai dijalani, untuk kemudian mencapai comfort zone kembali… yang (mudah-mudahan) dapat dicapai dalam waktu yang tidak terlalu lama ;) Hidup memang bukan sebuah permainan, yang bisa dimenangkan hanya dengan keberuntungan melempar dadu, tapi lebih dari sebuah perjuangan dan tantangan. Saat tantangan berani diterima, maka perjuangan pun dimulai :D

Masih terngiang perbincangan talkshow di radio sore itu… “Semakin lama kita berada di comfort zone, semakin lama pula kita terlena dengan kemungkinan adanya peluang-peluang di sekitar kita. Beranikanlah diri untuk mencoba, terus berusaha dan berdoa tentunya ;) ” Kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi, kalau kita tidak pernah berani untuk melangkah maju. Kegagalan bukanlah alasan untuk mundur, namun sebuah pengalaman untuk tidak lagi melakukan hal yang sama, dan lebih kreatif mencari cara-cara baru.

02
Apr
09

biar klise, tapi tetap bermanfaat

Terinspirasi dari sebuah artikel tentang Midlife Career Transition, disebutkan bahwa persepsi mengenai usia (tua) seringkali mempengaruhi proses penerimaan pegawai. Pekerja yang lebih senior (secara usia) seringkali dianggap kolot, keras kepala dan sudah merasa nyaman dengan kondisinya saat ini, dengan kata lain sulit diajak berubah.

Beberapa pertimbangan perusahaan (pemberi kerja) dalam mempekerjakan pekerja yang senior (usianya), adalah:

  • Masalah kesehatan. Perusahaan khawatir mereka akan menghabiskan biaya yang lebih banyak, seiring dengan kondisi kesehatan yang makin menurun.
  • Kurang cakap dari sisi teknologi, atau terkadang kurang mengikuti perkembangan teknologi terbaru.
  • Hubungan dengan pemimpin, maupun dengan pekerja lain yang lebih muda (usianya).

Yang ingin dibahas disini bukan mengenai bagaimana cara mengatasi ”midlife crisis” (secara aku juga belum mencapai era tsb :P ), tapi lebih tentang bagaimana kita, sebagai generasi yang lebih muda ;) mempersiapkan diri terhadap kondisi yang nantinya akan kita hadapi.

Pertama, mengenai masalah kesehatan, biasakanlah menjalankan pola hidup sehat. Istirahat yang cukup, olah raga yang cukup, dan makan makanan bergizi secara teratur.

Kedua, jangan cepat puas dengan kecakapan yang telah dimiliki. Mungkin saat ini kita sangat menguasai tentang program-program yang dipakai di tempat kerja. Namun ke depannya akan ada versi baru lagi dari program tsb, atau bahkan ada program lain yang lebih canggih lagi, namun tidak digunakan di tempat kerja kita. Tidak ada salahnya kalau kita juga mempelajarinya. Setiap hal baru, tentunya ada keunggulan dan kelemahannya, dan akan sangat bermanfaat kalau kita juga memahaminya.

Ketiga, bersikap adaptif. Kemampuan menyesuaikan diri adalah sebuah kemampuan yang tidak bisa dipelajari tiba-tiba. Hal ini merupakan sebuah pembelajaran yang terus menerus, mengenai bagaimana kita bisa menjaga efektivitas kerja kita dan bertoleransi terhadap berbagai perubahan yang terjadi, termasuk juga dengan berbagai individu atau kelompok.

Sepertinya ketiga hal di atas terdengar klise, namun dari beberapa obrolan dengan rekan-rekan yang sudah ada di era ”midlife” itu, ternyata banyak yang merasa kurang bisa mengembangkan diri lagi karena faktor-faktor di atas (kesehatan, penguasaan teknologi, serta penyesuaian diri).

Jadi, jika kita tidak ingin mengalami hal yang sama seperti itu, maka tidak ada salahnya kalau beberapa tips di atas bisa kita implementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, mulai saat ini.

Setuju?




 

Desember 2009
S S R K J S M
« Okt    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 45,875 hits

Others

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

visitor stats

PageRank

my 'read' shelf:
 my read shelf

Click to view my Personality Profile page