apresiasi

Sebuah self reminder yang diambil dari halaman fb-nya Ferlita Sari hari ini….. benar-benar mengena…..

Yang patut dikasihani adalah mereka yang tidak bisa mengapresiasi karya orang lain, tidak bisa mengakui keberhasilan orang lain.

Mengapa mereka perlu dikasihani, karena biasanya mereka juga miskin apresiasi dalam hidupnya. Mungkin dibesarkan di keluarga yang tidak punya budaya memberikan apresiasi.

Yang patut dikasihani adalah mereka yang selalu melihat lebih dulu hal negatif ketimbang hal positif. Mudah menemukan hal negatif pada diri orang lain dan sulit sekali menemukan hal-hal positif dari orang lain.

Mungkin hanya itu yang mereka pelajari sepanjang hidupnya, sehingga itulah yang mereka punya.

Yang juga patut dikasihani adalah mereka yang punya standar ganda. Hal yang sama boleh saya lakukan, namun tidak boleh dilakukan orang lain. Kalau saya lakukan karena saya punya alasan yang tepat. Sementara orang lain tidak boleh melakukan dengan alasan apapun.

Mungkin mereka hidup dalam kebingungan norma yang berkepanjangan.

Perbanyak istighfar, semoga kita terhindar dan mampu mengikis sifat-sifat ini.

Couldn’t agree more….

Thanks to Ferli 🙏 Alhamdulillah atas ketidaksengajaan membaca tulisannya yang langsung menggugah untuk bertanya pada diri sendiri,

“Sudahkah saya memberikan apresiasi pada orang lain hari ini? Dan… apakah saya juga sudah memberikan apresiasi buat diri sendiri?”

Ketika rezeki kita habis, maka ajalpun tiba

Sebuah self reminder yang didapat dari postingan seorang teman di FB, yang sayang untuk dilewatkan begitu saja….

—————————

Ketika rezeki kita habis, maka ajalpun tiba…

Jangan pedulikan jasadmu yang akan busuk & hancur!! …  
Kaum muslimin akan melaksanakan kewajiban mereka:
1. Memandikan mu
2. Mengkafani mu
3. Menyolati mu
4. MENGUBURKAN MU.

Yakinlah!!! bahwa:
Dunia tidak sedih karena KEMATIANmu

Alam semesta tidak berduka atas kepergianmu
Segala sesuatu akan berjalan seperti biasa dan tidak berubah dengan perpisahan mu!
Perekonomian akan terus berputar
Pekerjaanmu, akan digantikan orang lain
Hartamu akan pindah tangan secara halal kepada ahli waris
Sementara Anda yang akan di HISAB atas segala sesuatu hingga perkara yang besar sampai dengan hal yang paling kecil.

Yang pertama lepas darimu adalah nama mu..
Saat Anda meninggal dunia: Orang-orang bertanya: Dimana MAYATnya? Mereka tidak lagi memanggilmu dengan namamu.. Namamu tinggal kenangan belaka.

Ketika mereka akan mensholati, mereka bilang: Bawa sini JENAZAHnya.!!! Mereka tidak lagi menyebutkan namamu.. Betapa cepat namamu hilang berlalu….

Ketika mereka akan menguburkan mu, mereka berkata: Dekatkan MAYITnya.!! tanpa menyebutkan namamu..

Karena itu… 
Janganlah tertipu oleh kehormatan, status sosial dan kelebihan kelompokmu..!!
Jangan terperdaya oleh kedudukan, jabatan dan nasab keturunanmu…!!

Alangkah sepelenya dunia ini… dan betapa besar apa yang akan kita hadapi…

Kesedihan orang atas kepergianmu ada 3 :
1. Orang yang mengenalmu sepintas akan mengatakan: Kasihan…!!

2. Teman dan sahabatmu akan bersedih beberapa saat atau beberapa hari, kemudian mereka kembali pada rutinitas dan canda tawa mereka..

3. Kesedihan mendalam di rumah… Keluargamu akan bersedih sepekan… satu-dua bulan atau hingga satu tahun… Kemudian mereka akan meletakkanmu dalam album kenangan…

Demikianlah…
Kisahmu di antara manusia telah berakhir…

Anda hanya tinggal ALBUM KENANGAN.

Kisahmu yang sebenarnya baru dimulai… bersama sesuatu yang nyata, yaitu: Alam Akhirat

Telah lepas darimu:
1. Ketampanan/Kecantikan
2. Harta, Rumah
3. Kedudukan/Jabatan
4. Anak
5. Istri/Suami

Kehidupanmu yang sesungguhnya baru dimulai

Pertanyaannya sekarang adalah :

Apa yang telah Anda siapkan untuk kubur dan akhirat mu.????? Ini adalah KENYATAAN yang akan terjadi dan perlu direnungkan.!!

Cek ibadahmu… yang wajib dan yang sunnah..
Cek Amal sholeh dan Sedekahmu..
Cek perilaku dan tingkah lakumu..

Semoga kita semua menyiapkan bekal utk kehidupan yg kekal.. Dan Selamat di Akhirat..

Menghapus Katanya

Sempat dunia berbisik,
Katanya perempuan tegas itu mengintimidasi
Katanya perempuan kritis itu lancang
Katanya perempuan yang ekspresif berlebihan
Katanya perempuan yang emosional itu tidak bisa berpikir logis
Katanya perempuan yang berkarir pasti bukan ibu yang baik
Katanya perempuan yang bersekolah tinggi akan sulit mendapatkan jodoh

Tapi hari ini aku berhenti mendengar semua katanya yang bergema di pikiranku
Yang aku tahu, perempuan yang lugas, kritis, ekspresif, emosional adalah sosok yang berani menjadi diri mereka sendiri
Yang aku tahu, perempuan bisa mengejar mimpinya tanpa batas
Yang aku tahu perempuan tidak harus terperangkap dalam definisi-definisi yang menyempitkan
Yang aku tahu perempuan berhak atas kesetaraan dimanapun
Yang aku tahu perempuan itu kuat

Monologue by: Maudy Ayunda
Indonesian Women’s Forum 2018
day 2, 9 November 2018

REZEKI…


Yang kerja keras belum tentu mendapat banyak.
Yang kerja sedikit belum tentu mendapat sedikit.
Karena sesungguhnya sifat Rezeki adalah mengejar, bukan dikejar.

Rezeki akan mendatangi,
bahkan akan mengejar,
hanya kepada orang yang pantas didatangi….

Maka, pantaskan dan patutkan diri untuk pantas didatangi, atau bahkan dikejar rezeki.
Inilah hakikat ikhtiar…

Setiap dari kita telah ditetapkan rezekinya sendiri-sendiri.
Karena ikhtiar adalah kuasa manusia, namun rezeki adalah kuasa Allah Azza Wajalla.
Dan manusia tidak akan dimatikan, hingga ketetapan rezekinya telah ia terima, seluruhnya.

Ada yang diluaskan rezekinya dalam bentuk harta,
Ada yang diluaskan dalam bentuk kesehatan,
Ada yang diluaskan dalam bentuk ketenangan, keamanan,
Ada yang diluaskan dalam kemudahan menerima ilmu,
Ada yang diluaskan dalam bentuk keluarga dan anak keturunan yang shalih,
Ada yang dimudahkan dalam amalan dan ibadahnya…
Dan yang paling indah, adalah diteguhkan dalam hidayah Islam…

Hakikat Rezeki bukanlah hanya harta, rezeki adalah seluruh rahmat Allah Ta’ala…

Sebuah puisi Rendra

Hidup itu seperti uap,
yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap!
Ketika orang memuji milikku,
aku berkata bahwa ini hanya titipan saja.

Bahwa mobilku adalah titipan-Nya,
Bahwa rumahku adalah titipan-Nya,
Bahwa hartaku adalah titipan-Nya,
Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-Nya …

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,
“Mengapa Dia menitipkannya kepadaku?”
“Untuk apa Dia menitipkan semuanya kepadaku?”
Dan kalau bukan milikku, apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-Nya ini?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Malahan ketika diminta kembali,
kusebut itu musibah,
kusebut itu ujian,
kusebut itu petaka,
kusebut itu apa saja …
Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah derita …

Ketika aku berdo’a, kuminta titipan yang cocok dengan kebutuhan duniawi,
Aku ingin lebih banyak harta,
Aku ingin lebih banyak mobil,
Aku ingin lebih banyak rumah,
Aku ingin lebih banyak popularitas,

Dan kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan,
Seolah semua derita adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih-Nya, harus berjalan seperti penyelesaian matematika dan sesuai dengan kehendakku.

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku,
Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku …
Betapa curangnya aku,
Kuperlakukan Dia seolah “Mitra Dagang” ku dan bukan sebagai “Kekasih”!
Kuminta DIA membalas “perlakuan baikku” dan menolak keputusan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginanku …

Duh Allah …

Padahal setiap hari kuucapkan,
“Hidup dan Matiku, Hanyalah untukMu ya Allah, ampuni aku, ya Allah …
Mulai hari ini, ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam setiap keadaan dan menjadi bijaksana, mau menuruti kehendakmu saja ya Allah …
Sebab aku yakin Engkau akan memberikan anugerah dalam hidupku ..
Kehendakmu adalah yang terbaik bagiku …

just a note

Tiga poin yang mau dicatat untuk nutup desember 2016 ini;

  1. Teknik boleh banyak. Tapi jika sikap menunda belum anda ganti dengan sikap disiplin maka semua teknik akan sia-sia. 
  2. Cara boleh segudang tapi kalau kualitas diri Anda masih merasa paling benar, maka bisa jadi Anda tetap akan pakai cara anda sendiri saja.
  3. Buku bacaan bisa menggunung, tapi jika Anda belum bisa menumbuhkan sikap berani mengambil risiko, maka mungkin pengetahuan tidak akan menjadi tindakan.

#copas

sampah

Suatu hari saya naik taxi Bandara. Taxi melaju pada jalur yang benar, ketika tiba-tiba sebuah mobil jeep hitam nyelonong dari tempat parkir tepat di depan kami, supir taxi refleks menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil jeep hitam yang ngawur tersebut mengeluarkan kepalanya dan memaki-maki ke arah kami.

Supir taxi hanya tersenyum dan melambai pada orang tersebut. Saya heran dan aneh dengan sikap sopir taxi tersebut.
Saya pun bertanya, “Mengapa bapak tidak marah bahkan tersenyum? Bukankah orang itu hampir merusak mobil bapak dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit?”

Ia menjelaskan,

“Banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti kemarahan, kekecewaan, frustasi dan emosi negatif lainnya.
Seiring dengan semakin penuh bak sampahnya, mereka makin membutuhkan tempat untuk membuangnya dan tak jarang mereka membuangnya kepada anda.
Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, lalu lanjutkan hidup anda.
Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yg anda temui di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan.”

Kita bisa belajar dari supir taxi bijak itu tentang “Hukum Buang Sampah”.
Intinya, orang yg sukses dan bahagia adalah orang yang tidak membiarkan “tong sampah” mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati.

****

Hidup itu 10% mengenai apa yang kita buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kita menyikapinya…

You choose to be Happy or Grumpy…

Hidup ini jangan diisi dengan penyesalan, maka cintailah orang yang memperlakukan kita dengan baik, berdoalah bagi yang memperlakukan kita tidak baik.

Hidup bukan tentang bagaimana menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.

Tak perlu menghakimi orang lain, berusahalah menjadi pribadi bijak dan mencoba belajar mengerti orang lain 😊

Sumber: postingan di wag pagi tadi…

want-to-be-happy-orlando-espinosa

source: https://orlandoespinosa.wordpress.com/2016/09/23/want-to-be-happy/want-to-be-happy-orlando-espinosa/#main