Boulevard de Clichy

Boulevard de Clichy – agonia cinta monyet

Sebuah novel pop karangan Remy Sylado, terbitan Gramedia, juga dibeli di Gramedia pada Sabtu sore, sambil nunggu jemputan.

bdc.jpgSebagaimana layaknya karangan-karangan Remy Sylado yang lain, seperti Ca Bau Khan, Kembang Jepun, Kerudung Merah Kirmizi, Parijs van Java, bahkan novel drama Siau Ling, gaya bahasa dalam buku ini juga sangat lincah dan hidup, sehingga seakan-akan kita berada dalam situasi yang sedang diceritakan. 

Cerita yang bernuansa kehidupan di era reformasi ini banyak menceritakan tentang kondisi masyarakat kelas atas, diwakili oleh pejabat pemerintahan yang korup, dengan istri yang suka mengatur dan anak tunggal yang manja; serta Anugrahati (Nunuk), seorang penari yang nasibnya mengharuskan ia bekerja sebagai penari telanjang di Boulevard de Clichy. 

Bermula dari kehidupan remaja SMA, Nunuk dan Budiman diceritakan sebagai sepasang remaja yang rela melakukan segalanya atas nama cinta. Campur tangan ibu Budiman dengan bantuan opo-opo (guna-guna) membuat Budiman lupa akan perbuatannya terhadap Nunuk, bahkan melupakan Nunuk, gadis yang dicintainya. Sebagai anak orang kaya, Budiman melanjutkan sekolah di Perancis, tetap dengan gaya anak pejabat yang lebih suka menghabis-habiskan uang daripada menggali ilmu pengetahuan yang bisa diperolehnya disana. Sementara Nunuk yang punya keluarga di Belanda diceritakan memutuskan untuk membawa anaknya yang baru lahir dan tinggal bersama keluarga ibunya di Belanda, melanjutkan sekolahnya disana. Pertemuannya dengan seorang pencari bakat turunan Turki membawanya berkelana mencari pengalaman baru di Paris, Perancis. Kisah yang juga sama dengan pencari TKW yang mengajak perempuan desa ke kota, ataupun ke luar negeri dengan janji pekerjaan demi kehidupan yang lebih baik.   

Jalan cerita selanjutnya tidak terlalu sulit untuk ditebak. Kepintaran Nunuk membawanya menjadi bintang di Boulevard de Clichy dengan julukan Météore de Java. Tutur cerita yang secara detil menggambarkan situasi Boulevard de Clichy, maupun gambaran detil perilaku pelakon cerita serta perasaan-perasaan mereka, menjadi daya tarik utama dari novel-novel karangan Remy Sylado. 

Sayangnya akhir cerita yang terkesan terburu-buru dan terlalu dipaksakan membuat kekuatan cerita menjadi berkurang. Cerita Budiman dan Nunuk yang kembali lagi ke tanah air dan bertemu kembali setelah terpisah selama 5 tahun ternyata tidak dikisahkan sedetil dan seindah  novel di bagian awal. Kehidupan Budiman yang mendadak jatuh miskin karena ditinggal mati kedua orang tuanya menjadi berubah 180 derajat karena ia menemukan uang yang disimpan bapaknya dalam balok penyangga rumah yang secara tak sengaja patah karena dipakai sebagai tumpuan untuk menggantung diri !

Dengan kondisi alam reformasi yang belum didukung oleh aturan hukum yang kuat, hampir bisa dipastikan bahwa seorang penguasa diktator yang kuat akan langsung “diberantas” oleh orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Rumah dan segala harta bendanya akan dijarah habis-habisan dan sisanya akan dibumi-hanguskan. Hal ini tidak terjadi pada ayah Budiman, seorang ketua DPRD Jakarta, yang hanya dijarah harta bendanya, namun rumah tempat tinggalnya dibiarkan begitu saja tak terurus. 

Memang ini bukan kisah seribu satu malam, atau HC Andersen yang selalu mengatakan bahwa kejujuran dan kebaikan akan selalu menang, dan juga bahwa kemenangan dan kemuliaan bersumber dari usaha kerja keras dan penuh pengorbanan. Oleh karena itu sah-sah saja kalau jalan ceritanya menjadi demikian. 

Budiman yang jadi kaya mendadak, kemudian menyunting Nunuk, wanita yang jadi kekasihnya sejak SMA. Ia juga mengundang kenalan-kenalannya di Perancis serta saudara Nunuk di Belanda untuk datang menjadi saksi pernikahan mereka. Hmm….. ending cerita lebih berwarna “fairy tale”, kisah putri upik abu yang disunting pangeran kaya raya. 

Sisi lain dari cerita ini juga mengisahkan adanya seorang Big Boss yang mendalangi usaha-usaha bisnis tidak sah yang dijalankan oleh ayah Budiman, yang menjadi ketua DPRD tersebut. Disini membuka wawasan kita bahwa kehidupan para elit politik amat rentan diwarnai dengan praktek-praktek ilegal. Seperti sudah menjadi keharusan bahwa pihak yang jahat akan mendapat ganjarannya, buku ini juga mengisahkan alur cerita demikian.  Membaca akhir bagian buku ini tidak lebih dari sekedar ingin menuntaskan suatu pekerjaan yang sudah terlanjur dimulai, disertai harapan mudah-mudahan novel Remy Sylado berikutnya dapat lebih hidup dan mengasikkan sampai dengan akhir cerita. 

4 pemikiran pada “Boulevard de Clichy

  1. sounds like fun… telat gak ya aku baru tau ttg buku ini setahun kemudian gini? heheh… thanks for letting me the amateur know the good in the book…

    keep on blogging!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s