Labeling

Kadang tidak pernah terpikirkan bahwa sebuah kata dapat memiliki arti yang luas, dapat mempengaruhi perilaku seseorang bahkan dapat memberi dampak yang tidak diduga sebelumnya. 

Gak percaya? 

Anak kecil yang diberi label “bodoh” atau “bandel” oleh orang tua atau gurunya dapat memahami kata tersebut sebagai suatu label yang menjadi bagian dari dirinya dan secara tidak sadar malah mempertahankan label tersebut. Demikian pula seseorang yang selalu dikenal dengan si “pintar”, terkadang juga berupaya mempertahankan predikat tersebut dan terpacu untuk terus menjadi orang yang pintar, minimal lebih pintar di dalam kelompoknya. That is labeling.  

Melakukan sesuatu yang memiliki arti yang berbeda dengan label tersebut dapat membuat seseorang menjadi merasa tidak nyaman. Ada pula perasaan conformity yang membuatnya ingin menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan. Tapi ada pula yang malah menjadi merasa tidak nyaman karena dirinya merasa tidak dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan, atau justru dengan sengaja bersikap “melawan” lingkungan dengan cara melakukan hal yang sebaliknya, yang bodoh bisa terpacu jadi pintar, tapi sebaliknya yang pintar malah berusaha untuk jadi bodoh. 

Dengan demikian berhati-hatilah dalam memberi label pada seseorang karena hal tersebut bisa jadi melekat pada dirinya dalam jangka waktu yang lama. Atau justru membuat seseorang menjadi tertekan atau melawan lingkungan dengan melakukan hal yang sebaliknya.

Pertanyaan berikutnya, kapan saat yang tepat kita memberi label dan label seperti apa yang sebaiknya diberikan?

Suatu label yang disertai dengan bukti-bukti nyata yang jelas tentunya bisa mempermudah seseorang memahami kenapa dia dinilai demikian oleh lingkungan, dan memudahkannya pula dalam mengukur apakah label tersebut memang sesuai dengan dirinya. Bila label tersebut berisifat positif, tentunya dapat meningkatkan kualitas pribadinya, namun jika label itu berupa kata sifat yang berkonotasi negatif, hati-hati… itu bisa dijadikan konsep diri bagi orang tsb. Label ”negatif” sebenarnya bisa jadi semacam pemicu untuk menggugah seseorang agar mau berubah asalkan dia punya kesadaran dan juga keyakinan bahwa dirinya mampu untuk melakukan perubahan perilaku agar dapat dinilai dengan label yang berbeda. 

Selain itu pemilihan kata untuk memberi label pada seseorang sebaiknya juga diperhatikan, contohnya kata-kata ”bodoh” dan ”kurang pintar” dapat memberi dampak yang sangat jauh berbeda. Seseorang yang dinilai ”bodoh” dapat merasa bahwa dirinya sangat perlu ekstra effort untuk berubah menjadi orang yang pintar. Tapi orang yang diberi label ”kurang pintar” dapat merasa bahwa hanya diperlukan sedikit usaha saja untuk menjadi orang yang pintar. Karena itu terbiasa untuk memberi label dengan kata-kata yang lebih positif seringkali mempunyai dampak yang juga lebih positif, baik terhadap diri orang tsb maupun terhadap lingkungan di sekitarnya. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s