Land of disaster

Ga’ pernah terbayangkan sebelumnya kalau rentetan bencana belakangan ini benar-benar menjadi menu utama tayangan headline news di tv, dan itu benar-benar terjadi disini, di negeri ini.  

Duluuu… angin topan sepertinya hanya terjadi di negara-negara Amerika; kecelakaan kereta api hanya terjadi di India atau Bangladesh; banjir besar hanya terjadi di Cina; gempa bumi dashyat hanya terjadi di Jepang, dsb dsb… Saat ini, semua terjadi disini, dalam frekuensi yang semakin sering, silih berganti, tanpa memandang kasta, semua ikut mengalami… 

Rakyat Indonesia sebagai penduduk yang tergolong religius, seringkali menganggap hal ini sebagai teguran dari Yang Di Atas sana. Mungkin ini memang teguran atas perilaku rakyat yang punya kebiasaan-kebiasaan seperti yang banyak terlihat saat ini. Teguran atas ketidakdisiplinan dari aturan-aturan yang sudah diberlakukan, yang tadinya dianggap sebagai panduan bagi aktivitas-aktivitas umum yang seharusnya dilakukan setiap orang. 

Memang tidak bisa dipungkiri juga, ada hal-hal yang benar-benar jadi kuasa alam, seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi… (atau mungkin ini ada andil manusia juga di dalamnya?). Namun kalau dipikir lagi, untuk bencana-bendana lain seperti yang terjadi akhir-akhir ini, misalnya banjir, longsor, hal itu lebih banyak andil perilaku manusia di dalamnya. Ketidakdisiplinan dalam membuang sampah, ketidakdisiplinan dalam menebang pohon, ketidakdisiplinan dalam membangun perumahan di areal yang seharusnya jadi daerah resapan air, jelas-jelas membuktikan bahwa manusia juga punya bagian atas terjadinya berbagai bencana akhir-akhir ini. 

Prihatin tentunya, tapi apa sih yang bisa dilakukan saat ini?  

Rasanya mulailah dari saat ini dan mulailah dari diri sendiri untuk memegang teguh kedisiplinan. Sebuah konsep yang terlihat sederhana namun butuh konsistensi dan komitmen untuk melakukannya. 

Siapkah kita? Siapkah anda? Siapkah saya?

Tak pernah ada kata terlambat untuk memulai segala sesuatunya, apalagi untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi semuanya.

8 pemikiran pada “Land of disaster

  1. Hmm… anggap aja bencana adalah “motivasi” dari Tuhan untuk umatnya biar belajar lebih baik lagi ya kan?

    NB:🙂 (mungkin) saya manusia sosial dan humanis yang tersasar di dunia eksak

    Salam kenal juga..!!!
    btw, aku ga pernah update di wordpress lagi, lebih aktip di blogger.
    so, jgn sungkan2 utk ngasi “sumpah serapah” – nya 😉

  2. Serius banget…
    Apa kamu selalu serius itu sehari-hari?

    Mama Lorenz bilang di “empat mata”, bencana lain masih akan datang.. Sampai saatnya datang, kita dipanggil untuk check-out, kita kudu banyak-banyak ucap syukur dan nikmati karunianya…
    🙂 Don’t worry, be happy…

  3. sebenernya serius itu merupakan cerminan dari akumulasi pemikiran yang belum sempat tertuang, sehingga tumpah dalam bentuk formal yang mungkin ngeselin…..🙂

    anyway kalo nulisnya tiap hari biasanya sih bisa lebih nyantai….😀

  4. Tampaknya pesan Aa Gym kurang didenger, mulailah segera dengan 3M : Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal-hal kecil, dan Mulai dari sekarang !!
    Nita apa khabar?
    Lama gak jumpa. Msh di bandung?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s