Psycho-lo(gy)ve

pil.jpgTerinspirasi dengan rak buku baru J, minggu lalu jalan-jalan ke Gunung Agung cari bahan bacaan yang menarik. Tujuannya sih bagian fiction, semata-mata lagi ingin sesuatu yang ringan dan tidak njelimet. Sampai di Gunung Agung, sedikit kecewa karena kayaknya TGA lagi abis pindahan lemari, sehingga buku-bukunya rada acak-acakan ngaturnya. Yang kebolak-balik lah, pokoknya aturannya sembarangan, dengan space lorong yang cuma selebar orang dewasa normal, kalau ga hati-hati kesenggol dikit bisa langsung berarakan deh L

Tapi demi baca buku… ehm… tetep aja ngelirik buku-buku itu. Dan sampailah pada buku ini, Psycho-logyve. Sepintas bacanya jadi Psychology Love, tapi kalau ditilik-tilik sebenernya “Psychologyve” dengan “gy” yang superscript dan strikethrough. Unik kan? Baca sepintas sinopsis di belakangnya, hmm… kayaknya lucu juga, …jadilah dibeli dan dibaca J (Tampilan cover kadang ikut mempengaruhi perilaku membeli nih). 

Novel karangan Syafrina Siregar ini bercerita tentang kemandirian seorang wanita dan sedikit persamaan jender. Bahasanya sederhana, tapi tetap mengikuti standar EYD (penting nih 😉 ). Ceritanya pun tidak terlalu rumit, tapi cukup hidup dan mengasikkan untuk dibaca. Bercerita tentang kehidupan seorang psikolog sukses namun tidak pernah tampil di hadapan publik. Tiba-tiba publikasi besar membuat kehidupan sehari-hari yang nyaman berubah total.  

Sebenarnya ini bukan buku berbau psikologi, karena tidak ada yang istimewa dengan psikolog disini. Jadi agak bingung juga menghubungkan antara judul dan isi cerita. Mungkin lebih tepat kalau dibaca sebagai ‘Psycholog in Love’ 😉 Tapi ya jangan juga diartikan kalau psikolog in love selalu begitu… hehehe 

Menyimak jalan ceritanya, membaca buku ini bisa diibaratkan sedang menonton sinetron. Potongan-potongan ceritanya mirip dengan sinetron Indonesia, yang sederhana dan penuh dengan kebetulan-kebetulan😀 (suka nonton sinetron juga ya Na?) 

Sebagai novel, buku ini tergolong sederhana tapi cukup kuat penggambaran karakter-karakternya. Tidak terlalu mengumbar emosi, namun tujuan pengarang untuk menceritakan sosok wanita mandiri bisa tercapai. Beberapa statement juga punya makna yang mendalam, paling tidak untuk menyadarkan kita bahwa wanita juga punya keinginan yang sama seperti laki-laki, namun tetap punya sisi-sisi kewanitaan😛 .  

Thanks to Nana atas inspirasinya dalam membuat tulisan ini😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s