Sebuah cerita tentang buku (2)

(sambungan) 

Buku Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken ini sebenarnya dapat jadi konsumsi bagi semua jenjang usia. Bagi sebagian orang (termasuk anak-anak), fantasi petualangan Berit dan Nils tampak lebih mengasikkan; bagaimana kedua saudara ini mengatur strategi untuk membongkar rahasia Bibbi Bokken, seorang wanita yang mereka anggap misterius. Sementara itu bagi sebagian orang lainnya ungkapan-ungkapan filsafat dalam buku ini mengandung makna yang jauh lebih berarti. 

Tetesan itu

tak

tergantung di sana

(Puisi dari Tor Åge Bringsværd)  

Kalau kita bayangkan tetesan pada talang air, bergelantungan, tapi sebelum dapat diperhatikan lebih seksama, tetesan itu sudah tak tergantung lagi di sana. Enam patah kata ini menceritakan apa yang terjadi di seluruh dunia, bahwa segala sesuatu selalu berubah. *daleemm..* 

… fantasi tak berbeda dengan kebohongan… Jika fantasi sama dengan kebohongan, para penulis mestinya merupakan pembohong yang paling antusias. … mereka hidup dari situ dan orang-orang dengan sukarela membeli cerita hasil kebohongan mereka. … beberapa orang senang berbohong, sedangkan yang lain senang dibohongi.  

Ungkapan ini sebenarnya sederhana, namun punya makna yang lebih luas. Seperti ungkapan seorang teman, sebagai penulis, kita dituntut untuk memiliki imajinasi. Biarkan pikiran kita melayang setinggi-tingginya, berfantasi seluas-luasnya, baru setelah itu kita mulai menulis. Apakah itu kebohongan atau bukan, itu lain soal…😉 Simak dulu ungkapan berikut ini: 

Dalam setiap masyarakat, dibangun gedung-gedung besar yang di dalamnya kebohongan berkumpul berbaris, dan kita menyebutnya perpustakaan. … tidak semua yang tertuang dalam buku adalah kebohongan. Bahkan, dalam satu buku, kebenaran dan fantasi boleh jadi malah berdampingan.  

Ya, saat kita menceritakan suatu kejadian yang sebenarnya, tentunya paparan kita lebih berupa kebenaran. Kebenaran maupun fantasi perlu diceritakan secara jelas, agar semuanya tampak seperti sungguhan. Suatu karangan dianggap punya kekuatan bila dapat bercerita secara sungguh-sungguh sehingga dapat membawa pembaca seolah-olah berada dalam situasi yang nyata. 

Kemudian mengapa jadi perpustakaan ajaib? 

Jawabannya secara gamblang dijelaskan dalam bab 2 buku ini. Ajaib, karena fantasi pemikiran Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup ini betul-betul orisinil, hebat ! Novel filsafat ringan yang dikemas dalam petualangan dua bersaudara ini sungguh jadi sajian hangat di akhir minggu…😀 

3 pemikiran pada “Sebuah cerita tentang buku (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s