“Komunikasi dengan anak”, prakteknya tidak semudah teori

Terinspirasi dari tulisan di sebuah blog pagi ini, tiba-tiba jadi pengen nulis soal komunikasi orangtua-anak di era kemerdekaan saat ini *sok nyambung-nyambungin dengan suasana 17-an*. Yang dimaksud dengan era kemerdekaan itu adalah era modern sekarang ini, saat kesenjangan generasi tidak lagi dianggap sebagai penghalang untuk mengemukakan suatu pendapat.

Keluarga-keluarga sekarang ini terlihat lebih menerapkan suasana yang terbuka, bicara terbuka antara seluruh anggota keluarga. Sedikit berbeda dengan era yang lalu, saat orang tua dan anak terkadang punya hambatan untuk berkomunikasi dengan lancar dan terbuka. Mungkin tidak semua keluarga begitu, tapi sepertinya sebagian besar keluarga menerapkan pola yang kurang lebih demikian. Tidak semua hal dapat dibicarakan dengan orang tua. Anak perlu memilah-milah dulu, apa saja yang bisa disampaikan atau ditanyakan kepada orang tua. Ada kalanya orang tua terlihat agak ‘kesal’ karena tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan anaknya. Orang tua sebagai tokoh otoritas dalam keluarga seringkali menempatkan diri sebagai tokoh panutan yang selalu tahu dan tidak terbantahkan.

Perkembangan jaman yang pesat sekarang ini turut memberi andil pula dalam kehidupan keluarga. Keluarga-keluarga lebih demokratis, komunikasi antara ayah-ibu dan anak lebih terbuka. Tapi, dari beberapa diskusi dengan keluarga-keluarga muda, ternyata tidak semua hal dapat mereka bicarakan dengan anggota keluarga yang lain. Seorang ayah / suami kadang tidak dapat bercerita terbuka pada sang ibu / istrinya, atau sebaliknya. Kadang mereka pun tidak dapat berbicara terbuka dengan anak-anaknya. Disini pembahasan akan dibatasi pada komunikasi orang tua-anak saja.

Seorang anak yang dibesarkan dalam pola komunikasi terbuka seperti ini, akan selalu bertanya. Setiap hal yang baru selalu ditanyakannya. Adakalanya orang tua menjadi lelah dan bosan menjawabnya, tapi itulah anak-anak. Pernahkah terbayang bahwa dengan usia mereka yang baru beberapa tahun, tentunya banyak sekali informasi yang belum mereka ketahui, dan nara sumber terdekat yang dapat mereka temui tentunya adalah keluarga. Beberapa teman mengatakan bahwa masalah kemudian muncul setelah anak bertanya soal-soal yang kompleks atau hal-hal sensitif, seperti “apakah menstruasi itu?”, atau “kondom tuh apa sih?”

Terkadang orang tua menghindari pertanyaan-pertanyaan seperti itu dengan cara (misalnya) pura-pura tidak mendengar pertanyaan, mencoba mengalihkan pembicaraan pada hal yang lain, atau menyuruh anak untuk menanyakannya pada orang lain yang dianggap lebih mampu menjawab. Bagi anak yang masih kecil, mereka mungkin akan mengulangi pertanyaan yang sama bila merasa belum mendapatkan jawaban, namun bagi anak yang menjelang remaja, pertanyaan-pertanyaan tak terjawab seperti itu dapat membawa bermacam dampak. Mereka dapat merasa bahwa mungkin pertanyaan itu memang tidak selayaknya ditanyakan pada orang tua, dan mereka mencari jawaban ke lingkungan sekitarnya dengan cara mereka sendiri. Padahal kalau orang tua mau lebih peka, itulah saat dimana komunikasi orangtua-anak diuji. Pada saat anak berharap mendapatkan pengetahuan baru dari orang yang mereka percayai, alangkah baiknya kalau orang tua memberikan jawaban yang tepat dan dapat diterima dengan mudah oleh anak.

Kemudian, bagaimana caranya memberikan jawaban yang dapat diterima oleh anak?

Tentunya dengan bahasa dan kalimat-kalimat sederhana sesuai dengan usia anak. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan terkadang dipicu oleh adanya istilah-istilah baru yang mereka temui. Tidak semua informasi perlu disampaikan pada anak, yang penting adalah bahwa mereka dapat paham akan arti kosa kata baru yang ditanyakannya tersebut. Pertanyaan-pertanyaan lanjutan biasanya lebih banyak ditanyakan oleh anak-anak yang sudah lebih besar, ketika mereka mulai menghubung-hubungkan antara “kata-kata baru” itu dengan aktivitas-aktivitas sehari-hari.

Contohnya, seorang anak bertanya, “apakah kondom itu?”. Penjelasan tentang kebendaan, bahwa kondom adalah pembungkus alat kelamin laki-laki, adakalanya sudah cukup memberi kepuasan bagi seorang anak yang bertanya. Saat anak mulai bertanya, “kenapa harus dibungkus?”, barulah tugas orang tua untuk menjelaskan tentang seksualitas, juga dengan bahasa sederhana yang dapat dimengerti anak.

Memang tidak semua menjadi tugas orang tua, karena informasi dapat mereka peroleh dimana saja, termasuk juga melalui buku-buku pelajaran maupun internet. Sebagai contoh, setelah konsep tentang ‘kondom’ dipahami, ada juga anak yang dapat memahami sendiri bahwa alat tersebut perlu digunakan untuk mencegah penularan penyakit kelamin, dan informasi itu mungkin ia peroleh dari buku, majalah ataupun internet. Orang tua bisa bernapas lega tidak perlu menjelaskan hal-hal yang ‘sulit’ pada anak-anaknya, yang pasti orang tua perlu meluruskan, jika konsep-konsep yang dipakai oleh anak tidak sesuai atau kurang tepat. Komunikasi terbuka tetap harus dijalankan.

Topik seksualitas seringkali memang sulit dibicarakan terbuka. Mengutip tulisan Paman Tyo, “Seksualitas manusia adalah sesuatu yang wajar. Ada sisi joroknya, ada sisi sarunya, ada sisi indahnya, ada sisi pantas dan tak pantas, ada sisi boleh dan tak boleh, dan masih banyak lagi…”, hal itu semua dapat menjadi diskusi hangat antara orang tua dan anak asalkan sesuai konteks waktu dan tempat.

Point pentingnya adalah, membiasakan diri untuk berbicara terbuka, bicara apa adanya dengan anggota keluarga (khususnya dengan anak) akan membawa pada hubungan orang tua-anak yang harmonis. Hal ini tentunya tidak hanya terbatas pada topik-topik seksualitas saja, namun kalau topik sensitif dapat didiskusikan secara terbuka, maka bukan hal yang sulit untuk membicarakan hal-hal umum lainnya. Kepercayaan anak pada orang tua semakin kuat, dan orang tua juga akan semakin yakin saat melepas anak-anaknya hidup bersosialisasi di lingkungan modern sekarang ini.

6 pemikiran pada ““Komunikasi dengan anak”, prakteknya tidak semudah teori

  1. Masalah terbesar tentang komunikasi efektik antara orang tua-anak bukan pada dataran teoritis, tapi … bagaimana dilakukan dan melakukan. Kalau sudah begini ortu perlu seabreg pengetahuan … ya tentang anak, ya tentang psikologi, ya tentang pendidikan, ect. Dus, bukan teoritik.
    Mohon tip-tip aplikabel.
    Bagaimana menurut Sampeyan?

    Salam kenal.
    Ersis, petambak ikan.

  2. Sejalan dengan waktu sebenarnya pengetahuan praktis sedikit banyak sudah diketahui oleh para orang tua. Sekarang saatnya untuk melakukan itu semua, tentunya dengan cara sederhana dan yang paling mudah adalah melalui komunikasi. Komunikasi akan semakin lancar jika masing-masing pihak mau terbuka. Maksudnya, kalau ada informasi yang memang belum diketahui secara mendalam oleh orang tua, katakan saja kalau tidak tahu, dan bersama-sama dengan anak mencari informasi mengenai hal yang ditanyakannya tsb. Keterbukaan dan kejujuran tentunya saling berhubungan.

    salam kenal juga…

  3. Saya sendiri belajar praktek teori tuh pada anak sendiri, ya semua anak beda-beda cara memperlakukannya. Coba aja, Sampeyan punya anak, ya minimal jadi baby sitter dulu lah, iya kan?
    Teori perlu, tapi relitas tindakan nyata sangat perlu, lebih perlu lagi berani membenturkan keduanya…! Kesalahan dalam memperlakukan anak, itu hal yang wajar bagi yang segera sadar. Tapi salah mlulu atau gak tahu kalo salah, ini yang gak wajar. Artinya teori sangat diperlukan oleh setiap ortu.
    Saya tetap belajar, juga kog.
    Wassalmu’alaikum.

    Irsan, Banjarbaru Kalsel

    setuju, setiap anak perlu diperlakukan sesuai dengan karakteristiknya, namun tentunya ada kesamaan diantaranya yang mengacu pada teori yang ada. Perbedaan karakteristik hanya berpengaruh pada perbedaan cara kita dalam menerapkan teori-teori tsb🙂 – wassalam

  4. Komunikasi dengan anak?
    Ah ini mah enak ngga enak,
    Musti punya ilmu yang banyak,
    Biar komunikasi ngga jadi rusak..
    He he..

    Enak, karena kita ( eh kita lagi perankan Ortu kan!) jadi tau apa yang ada dibenak si anak, terpenuhi atau tidak mendekati apa yang menjadi keinginan si anak.
    Dan jelas- jelas kita dapat memenuhi sebagian kecil ataupun besar yang menjadi kewajiban si ortu yang sedemikian banyak.
    Enak dan nyaman karena tidak ada kekakuan. Banyak hal menjadi indah dengan adanya komunikasi yang sehat.
    Juga… wah banyak sekalee deh enaknya.
    Ngga enaknya… ya juga banyak.. Suka bingung ngadepin pertanyaan- pertanyaan diluar dugaan. Belum lagi kikuk untuk hal- hal yang diluar kebiasaan.
    Belum lagi kalau si ortu merasa, wah… ini sih ane juga kagak ngarti….

    Belum lagi kalo waktunya yang ngga tepat..
    Lagi rapat eh datang sms dari si Mamat.
    Kayanya ngga penting2 amat, tapi pertanyaannya rada gawat .
    “Yah, kalo perempuan apanya sih yang disunat?”.(What???)
    Ngga dijawab, ntar ada yang ngadat, dijawab….apa iya sempat. Kan lagi rapat. Wah- wah berat- berat, bikin pusing ni jidat….

    Tapi ada beberapa hal yang harus si ortu yakini dulu.
    Pertama kesalahan bukanlah monopoli si anak saja. Ortu pun bisa salah. Begitu juga dengan kebenaran, sebaliknya bukan monopoli si ortu. Yang katanya jauh lebih pengalaman. Si anak pun tentu saja bisa benar..
    Setelahnya jangan tunggu sampai ilmu bejibun, komunikasi dengan anak bukan hal yang bisa dinanti- nanti…Do it now….He he…
    Salam aja ya…dari rumahkayubekas yang sok tau

Komentar ditutup.