Orang-orang Proyek

OOPKisah yang mengacu pada lika liku kehidupan orang-orang proyek di awal th 90-an, pd masa orde baru, diceritakan secara lugas dan gamblang oleh pengarangnya. Suasana pedesaan tempat proyek itu dijalankan juga digambarkan secara detil, lengkap dengan gemericik air sungai, suara suling bambu, dan nyanyian asmarandana-nya.   

Buku ini juga mengandung kritik-kritik sosial sehubungan dengan proyek-proyek pemerintah dan kehidupan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Hal yang mungkin sangat sering terjadi pada masa itu. Bukan hal yang aneh lagi soal penggelembungan dana proyek maupun berbagai bentuk korupsi lainnya, namun jarang sekali ada yang punya kekuatan untuk melawannya. Jangankan untuk melawan secara langsung, untuk menceritakan faktanya pun perlu kata-kata halus dan ungkapan-ungkapan simbolis agar dapat diterbitkan. Kata-kata frontal seringkali berbuah pencekalan, mulai dari penarikan kembali buku yang telah dicetak, pencabutan surat ijin penerbit, bahkan sampai pembatasan kebebasan berpendapat. 

Kalau dulu bisa dikatakan bahwa hampir setiap proyek punya cerita yang sama soal ‘tikus-tikus korupsi’, maka masuk era reformasi sekarang ini, pola-pola lama seperti itu sudah agak berkurang. Tapi entahlah, mungkin masih tetap ada namun dengan cara-cara yang berbeda (orang-orang proyek pasti lebih tau🙂 ), dan yang pasti kasus-kasus seperti ini sudah bukan barang baru lagi, karena sudah jadi pembicaraan umum dan tampaknya sudah dianggap hal biasa bagi sebagian pelaku maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya. 

Kembali ke buku “Orang-orang Proyek” karangan Ahmad Tohari, isi cerita yang dituturkan agaknya kurang begitu mengena pada khalayak pembaca di era reformasi ini. Cerita tentang insinyur yang memegang teguh idealisme, tentang bapak kepala desa yang tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi konflik moril dan tekanan dari lingkungan, serta tentang pengaruh partai yang ikut merongrong dana proyek, bisa dibilang bukan sesuatu hal yang aneh lagi. Kalau buku ini terbit pada masa yang lalu di era orde baru, mungkin akan berbeda kesan yang ditimbulkannya. 

Satu lagi yang juga bikin agak kurang sreg, yaitu penggambaran wanita desa yang sedemikian lugu-nya dan ingin dinikahi oleh tukang insinyur yang kerja di desa. Oh no… apakah seperti itu sifat kaum hawa di Indonesia? Ga terima banget deh😛 

Yah… meskipun kritik-kritik sosial tersebut agak kurang pas dengan kondisi lingkungan saat ini, namun kekuatan Ahmad Tohari dalam hal menceritakan detil kehidupan alam pedesaan sangat mengagumkan. Pemilihan kata-katanya sederhana, namun bisa mengajak pembaca menghayati bahwa alam Indonesia itu betul-betul indah.  

Satu pemikiran pada “Orang-orang Proyek

  1. Ada orang bilang, lebih enak jaman Orde Baru. Ngasih uangnya cukup ke 1 pihak, yaitu keluarga penguasa masa itu, dan semua lancar. Kalo sekarang, banyak sekali yang harus dikasih uang.😛

    iya nih, apa itu yang disebut demokrasi?… atau malah jadi komunis?… sama rata sama rasa, kalau ga sama, protes…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s