Sulitnya memaafkan

*Sekedar bahan renungan*

Setelah melakukan suatu kesalahan, permintaan maaf seringkali dapat dengan mudah diucapkan. Budaya kita memang sudah mengajarkan hal yang seperti ini. Meskipun mungkin terkadang ada permintaan maaf yang dilontarkan dengan berat hati atau dengan tidak sepenuhnya rela, namun kata ‘maaf’ yang terucap tetap mencerminkan suatu penyesalan. Suatu kata yang hampir secara otomatis kita ucapkan saat kita menyadari bahwa perbuatan yang kita lakukan itu salah, atau telah menyinggung orang lain.

Kalau melihat dari sisi sebaliknya, ternyata memberi maaf bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Dari berbagai cerita selama ini, banyak peristiwa yang mencerminkan hal ini. Permintaan maaf seringkali tidak serta merta diiringi dengan perasaan rela memaafkan. Contohnya saja, meskipun orang lain sudah minta maaf, kita masih mengingat-ingat kejadian saat kita disakiti oleh orang lain, terlebih lagi jika kita merasakan ada kerugian yang timbul akibat kesalahan orang tersebut. Seolah-olah ada rasa tidak puas bila orang yang melakukan kesalahan tersebut belum merasakan kerugian yang sama.

Meminta maaf memang bukan hal yang mudah; kadang kita tidak menyadari bahwa tindakan kita telah menyakiti orang lain. Di sisi lain, memberi maaf juga sulit dilakukan; karena kadang masih tetap mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Ternyata tidak mudah menanamkan sikap iklas dalam diri untuk memaafkan orang lain.

Mengutip kata-kata dalam sms Indah kemarin,
Kiranya kata-kata yang terucap pernah melukai, laku pun pernah tak berkenan, dan diam membawa prasangka. Mohon dimaafkan, agar ringan melangkah dalam Ramadhan.

Thx ya Ndah 🙂

22 pemikiran pada “Sulitnya memaafkan

  1. Memaafkan mungkin sulit, tetapi memendam kesumat, sama saja membuat penyakit betah di dalam hati. Sekali lagi sulit, tetapi bisa dilatih dari hari ke hari.
    Oiya, maaf lancang berkomentar ya :))

    santai aja bang, disini bebas berkomentar kok🙂

  2. yang beratnya itu melupakan sakit hatinya…
    apalagi kalo yang salah nggak minta maaf. ^_^
    lama banget ngelupainnya…

  3. Setuju banget…
    Melupakan rasa sakit hati itu bukanlah hal yang mudah, meskipun juga bukan berarti “tidak bisa”.
    Anyway, saya lebih berpikir sebaliknya, kalau kita tidak terbiasa melupakan hal tsb, orang lain pun sulit melupakan sakit hatinya karena kesalahan yang mungkin telah kita lakukan. Jangan biarkan rasa sakit hati berkembang menjadi penyakit hati yang akhirnya malah melukai diri kita sendiri.

  4. mba.. ikutan komen yaa. hehehe
    kemarin aku baca2 dan menenukan sebuah kalimat : orang biasa memiliki dendam, tetapi orang yang luar biasalah yang mau untuk memaafkan.
    hmm, jadi kembali lagi ke kita sepertinya. mau mengeluarkan sisi biasa kita sebagai manusia, atau malah tertantang untuk mengasah sisi luar biasa dari kita.
    hehehehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s