bersama menapaki kehidupan

Menjalin komunikasi yang baik dengan orang lain terlihat sebagai suatu hal yang mudah, apalagi bila orang tersebut adalah orang yang sudah lama kita kenal sebelumnya. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Komunikasi antara anak dan orang tua ada kalanya mengalami hambatan, ketika topik pembicaraan mulai mengarah pada perbedaan pendapat di antara keduanya. Demikian pula halnya dengan komunikasi yang terjadi antara suami dan istri. Lamanya usia perkawinan belum dapat menjamin bahwa komunikasi yang terjadi di dalamnya selalu berlangsung secara efektif.

Efektif tidaknya komunikasi yang terjalin ditentukan pula oleh gaya komunikasi yang digunakan pada saat itu. Seseorang mengembangkan gayanya sendiri dalam berkomunikasi, dan meskipun mampu menggunakan gaya yang berbeda-beda, namun ia cenderung menggunakan gaya yang sama dalam situasi tertentu.
Gaya komunikasi yang dikembangkan seseorang akan semakin sering diulangi jika mendapat penguatan saat menggunakannya.

Tulisan ini dibatasi pada pembahasan mengenai komunikasi dalam keluarga, khususnya antara suami-istri. Terinspirasi dari tulisan cakmoki yang membahas tentang keluhan seorang dokter mengenai pilihan antara kepentingan profesi atau kepentingan keluarga; saya ingin mengulas sedikit tentang komunikasi yang terjadi.

Dalam tulisan itu diceritakan bahwa hal-hal yang dilakukan oleh sang suami (yang berkaitan dengan kepentingan kerja/profesi) seringkali mendapat tentangan dari sang istri. Suami berpandangan bahwa tindakan-tindakan yang ia lakukan dapat meningkatkan kinerjanya sebagai seorang dokter, sementara sang istri beranggapan bahwa tindakan suaminya tersebut terlalu mengada-ada dan bahkan jadi melupakan kebutuhan keluarga. Diskusi di antara keduanya juga sudah dilakukan, namun malah memperuncing perbedaan pendapat yang ada. Dari cerita itu tersirat bahwa masing-masing individu berpegang teguh pada pendapatnya masing-masing. Memang tidak digambarkan dengan jelas tentang bagaimana situasi komunikasi yang terjadi, namun tampaknya masing-masing pihak perlu memahami sudut pandang pasangannya, guna mencari titik temu dan bukan mencari siapa yang salah.

Kita tidak dapat memaksa seseorang menyetujui pendapat kita, namun kita bisa mencoba menyesuaikan diri dengan pendapat orang lain (bukan berarti sepenuhnya mengikuti pendapat orang lain dan mengalahkan pendapat kita sendiri). Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan menggunakan gaya komunikasi asertif, maksudnya mengemukakan pendapat secara terbuka, tidak menyalahkan dan mencoba untuk melibatkan pasangan dalam memecahkan persoalan yang terjadi. Kita tidak dapat hanya mengikuti pendapat orang lain begitu saja, atau merasa pendapat kita yang paling benar dan memaksakan pendapat kita tsb.

Tentunya menggunakan suatu gaya komunikasi yang berbeda dari yang biasa kita lakukan selama ini bukan merupakan hal yang mudah, namun hal ini bisa dipelajari. Semakin sering kita mencoba, semakin mudah pula kita melakukannya, jadi mulailah segera mempraktekkan gaya komunikasi yang asertif ini, terutama terhadap pasangan kita, sebagai orang yang terdekat dengan kita.

Mengutip ungkapan dr. Faisal Baraas dalam bukunya, Beranda Kita:

Jika berbicara tentang perkawinan, maka tak ada yang pasti di dalamnya. Dengan lebih banyak toleransi dan sedikit tuntutan, mungkin seseorang bisa membina perkawinannya sebagai suatu tanggung jawab bersama dengan pasangannya. Kelanggengan perkawinan memang merupakan cita-cita yang mesti dikejar dengan semangat penuh. Mengenal sifat dasar pasangan dan kemudian menerimanya sebagai suatu realita akan sangat banyak menyelamatkan pasangan perkawinan sampai tua.

5 pemikiran pada “bersama menapaki kehidupan

  1. πŸ˜‰ kalau sudah ada pengalaman demikian, monggo di-share lo mas…

    variasi itu memang perlu, asal tidak melupakan esensi diskusi yang sebenarnya. Memang sih, terkadang kalau ditelusuri, miskomunikasi terjadi hanya karena kurang ‘nyetrum’ aja… gitu ya mas?πŸ˜›

  2. Tulisan menarik. Ikut rembug komentar.
    Yang harus diperhatikan, kita kadang terlalu cepat menyimpulkan cara dan gaya komunikasi yang jadi permasalahan dalam sebuah relasi.

    Tidak jarang komunikasi itu sendiri adalah sebuah simtom dari sebuah permasalahan yang lebih dalam. Bisa saja kesalahan persepsi, faktor prasangka sering lho jadi biang kerok komunikasi gak mulus dan relasi jadi berantakan. Bahkan saya pernah denger yang lebih ekstrem dari seorang pembicara di talkshow radio.

    Menurut pembicara tersebut (lupa eh namanya..) tuntutan kita untuk selalu “berpikir positif” sering kali malah jadi sumber masalah. Nah lo…
    Padahal selama ini kita selalu diajarkan untuk melihat hikmah dari setiap permasalaha yang nota bene itu artinya berpikir positif. Terus terang waktu pertama dengar panyampaiannya hati saya bergolak protes.. kok! (Selama ini saya tukang kasih “training” berpikir positif di kantor).

    Setelah beberapa menit saya dengarkan pendapat dia, ya masuk akal juga lho..

    Dia bilang begini,
    keharusan kita untuk selalu berpikir positif sering kali memblokir kapasitas kita untuk melihat masalah dengan lebih tepat. (ok, sampai sini masih gampang dipahami..)
    Premis berikutnya: “keharusan” selalu berpikir positif adalah pengingkaran terhadap diri secara tidak sehat terhadap kebutuhan emosi pribadi (ehmm.. mulai berat nih).
    Kesimpulan sang pembicara: “Simpan jauh-jauh Positive Thinking dari kehidupan anda sampai kesempatan terakhir” (wah…)

    Butuh pengendapan beberapa hari sampai akhirnya muncul insight di kepala saya.

    1. Dalam setiap masalah dengan orang lain, yang pertama-tama saya harus tahu dimana tempat saya. Artinya saya harus tahu dulu apa perasaan saya terhadap masalah itu (dan menerima perasaan tersebut), tahu juga dimana kontribusi kita dalam masalah itu.

    2. Menyangkal perasaan negatif (marah, kesel, sebel dsb) bukan jurus jitu. Merepres atau melakukan rasionalisasi tidak menyelesaikan masalah juga. Yang harus dihindarkan adalah menyalurkan emosi negatif itu ke tindakan yang negatif (berat nih..)

    3. Ini juga penting pahami juga bagaimana posisi orang yang bermasalah terhadap saya (ya perasaannya ya harapanya dsb)

    4. Bargain, negosiasi, diskusi, rundingan dsb supaya masalah dapat titik temu. Kelihatannya disini emosi sih boleh-boleh aja (malah perlu) diekspresikan, asal tujuannya ya cari titik temu.

    Kira-kira segitu deh sharing saya. Sekali lagi insight saya itu masih teoritis. Kayaknya kita ini kan manusia dengan berbagai dinamikanya, gak bisa setel-setel diri kita seratus persen untuk sebuah pendekatan..

    Harus ada ruang untuk improvisasi kan..

    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s