setetes darah penuh arti

Saat berada ditengah-tengah keramaian dalam perjalanan pagi, melintas sebuah mobil yang pada kaca belakangnya ada tulisan besar “Setetes darah penuh arti”, maksudnya??? 

Kalau hanya sekedar dibaca, mungkin tidak terlalu aneh, apalagi di bagian bawah tertulis pula “Palang Merah Indonesia”. Sepertinya memang himbauan untuk menjadi donor darah, tapi entah kenapa saat saya baca kalimat itu dan berupaya mencerna, kok seperti ada yang aneh dan jadi agak kesal ya?😛 

kantung-darah.jpg

Setetes darah ? apa bisa cuma dengan setetes darah lalu memberi arti bagi orang lain? (masih belum bisa terima). Rasanya perlu bertetes-tetes baru darah kita bisa berarti bagi orang lain. Trus, kenapa tidak dibuat saja slogan “sekantung darah penuh arti”, tentunya itu lebih masuk akal. 

Saya kan tidak bisa datang ke PMI hanya dengan memberikan setetes darah saja, toh PMI juga selalu “menyedot darah” dan memasukkannya dalam kantung ukuran 250ml atau 350ml? Kalau setetes, apakah PMI mau bersusah-susah untuk mengambil cuma setetes?  Bisa-bisa hanya menempel di jarum suntik, sebelum sempat dimanfaatkan bagi resipient *kesal mode ON* 

Maaf, saya jadi agak kesal karena sudah 3 kali berturut-turut datang ke PMI (dalam kurun waktu yang berjauhan tentunya) dan ditolak untuk mendonorkan darah karena kadar haemoglobin yang kurang dari persyaratan. Padahal dulu-dulu saya diberitahu bahwa persyaratan pendonor hanya berat badan, tekanan darah dan kondisi badan yang sehat. Sekarang ketika syaratnya bertambah, saya jadi agak sulit untuk bisa memenuhi seluruh persyaratan tsb.  

*kesal mode OFF* Bicara soal donor darah, saya mulai mengenal kegiatan ini pada waktu kuliah (semester 1). Waktu itu, saya datang ke PMI bersama 2 orang teman – sebagai orang yang kurang spontan, kegiatan pertama perlu ada temannya dong😉 Untungnya saat itu berat badan saya normal (lebih 1kg dari berat minimal), demikian juga dengan tekanan darah. Sekitar 3 bulan kemudian, saat kegiatan kedua, saya sudah berani datang sendiri, karena sudah tahu seluk beluknya dan tahapan-tahapan yang akan saya jalani, mulai dari pemeriksaan darah, pemeriksaan kesehatan serta tekanan darah, pengambilan darah dan diakhiri dengan istirahat (berupa minum teh kotak dan makan telur rebus)😀 – my favourite part. 

blood-drive.jpgKegiatan ketiga, saya ditolak !😦 Waktu itu pemeriksaan tekanan darah menunjukkan bahwa tekanan darah saya kurang dari yang disyaratkan. Saya jadi tidak semangat lagi untuk mendonorkan darah, sampai pada suatu saat saya menerima surat yang menyatakan bahwa sudah 3 bulan lebih sejak saya terakhir mendonor, dan saya diundang untuk mendonorkan darah kembali. Dengan niat memenuhi undangan dari PMI dan mengingat bahwa beberapa saat sebelumnya saya ditolak, maka saya berusaha lebih menyiapkan diri. Karena tidak memiliki alat  pengukur tekanan darah, saya mengecek dengan cara berjongkok dan langsung berdiri. Kalau tidak merasa pusing, artinya tekanan darah saya normal, tapi kalau pusing, artinya saya jangan mendonor pada hari itu😆 Cara primitif yang cukup efektif buat saya pada waktu itu.  

Dengan teknik-teknik pribadi seperti itu akhirnya saya bisa mengatur sendiri jadwal mendonorkan darah. Saya berusaha memelihara berat badan (paling mudah, karena tinggal makan banyak saja😛 ), dan menjaga tekanan darah (dengan cukup istirahat dan makan teratur). Lama-lama kegiatan donor darah menjadi kegiatan rutin yang saya lakukan setiap 3 bulan sekali. Ini juga harus pinter-pinter mengaturnya dengan siklus bulanan😉 

Memang tidak setiap saat kegiatan tersebut berjalan lancar. Pernah suatu saat setelah setengah jam, darah saya ngambek keluar, sehingga yang saya donorkan hanya setengah kantung. Pernah juga kejadian seperti itu terjadi lagi, sehingga saya harus merelakan dua tusukan jarum (di lengan kanan dan kiri) supaya 250ml darah bisa terpenuhi. Ya, katanya nadi saya tergolong kecil sehingga perlu teknik khusus untuk memasukkan jarum agar darah bisa lancar mengalir. 

Tapi jangan salah, saya selalu menghindar untuk melihat jarum yang menempel di lengan saya. Saya selalu melihat ke langit-langit atau melihat orang-orang yang lalu-lalang, karena saya termasuk orang yang penakut😆 (jangan sampai saya pingsan pada saat sedang mendonorkan darah). 

Pernah juga suatu saat, PMI sedang kedatangan banyak orang untuk mendonor. Mereka antri di samping-samping tempat tidur agar bisa segera diambil darahnya. Ketika itu saya juga merasa ingin segera menyelesaikan kegiatan pengambilan darah agar tempat saya bisa digantikan oleh orang lain. Sesaat setelah jarum dicabut dari lengan, saya segera berdiri dan berjalan menuju meja untuk mengambil kartu donor darah saya. Baru meraih kartu tsb, tiba-tiba saya oleng, dan… BRUK ! saya pingsan😆 Akhirnya satu tempat tidur harus direlakan untuk saya, sementara orang lain masih mengantri tempat tidur untuk diambil darahnya. Jadilah saya sekitar 15 menit terbaring disitu… 15 menit saya menggunakan tempat yang harusnya bisa dipakai orang lain untuk mendonor darah (huuh ada-ada saja)😛

donate-blood.jpgSetelah pindah ke Jakarta, kegiatan donor darah jadi agak jarang saya lakukan lagi. Kadang baru 6 bulan bahkan 1 tahun saya baru ke PMI. Selain karena PMI Jakarta itu terletak di kawasan yang menurut saya agak sulit cari parkir😛 , kondisi badan juga sulit diajak kompromi (tekanan darah rendah/TDR sering terjadi). Apalagi sekarang kadar Hb mulai jadi persyaratan, syarat itu juga jadi agak sulit dipenuhi. Saya harus banyak istirahat dan mengkonsumsi Sangobion secara teratur dalam kurun 5 hari sebelum mendonor. Ketika ritual tersebut sudah dilakukan dan PMI tetap menolak, huuh… rasanya kesal sekali😦 

Itulah sebabnya saya juga kesal waktu membaca, “setetes darah penuh arti” – setetes? Gak mungkin! Sekantung darah baru berarti😛 

9 pemikiran pada “setetes darah penuh arti

  1. He..he..he..
    Logisnya bener juga sih mbak. Setetes apa bisa ya? Buktinya saya malah diambil 2 kantong 250 ml
    (Baru-baru ini saya juga mendonorkan darah buat orang tua teman yang sedang menjalani operasi.)

  2. @ moehfi,
    tu kan… perlu 2 kantung malah🙂
    Mungkin ada yang perlu direvisi, hmm… “sekantung darah penuh arti”, kok kayaknya kurang menggugah ya… ada ide?

    @ robez,
    ha… ritual pendonoran akan segera dimulai, kita nyumbang lagi yuuk (at least 5 days later)🙂

  3. wahh…..pengen nyumban darah, tp ga bisa karena berat badanku kurang ideal, pasti di tolak lagi sama bu bidan..

  4. Saya terkesan sekali dengan semangat Mba’ untuk mau peduli,
    Sepertinya apapun deh asal bisa manfaat buat sesama mesti dicari,
    Mulai dari bantuin orang baca sampai sumbang darah berkali- kali,
    Luar- biasa Mba’ Prantanti ini,

    Semoga saja saya pun bisa mulai,
    Melakukan hal- hal yang bermanfaat sekali- sekali,
    Sukur- sukur bisa terus- menerus barangkali,
    Biar ngga lupa lagi lupa lagi,

    Salam dari rumahkayubekas yang mudah2an liat jarum suntiknya ngga ngeri,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s