bertemu orang baik

Suatu hari di bulan puasa beberapa tahun yang lalu, waktu sudah menunjukkan jam 5 sore, perjalanan pulang baru saja dimulai dan berdasarkan pengalaman di hari-hari sebelumnya, saya bisa mencapai rumah dalam kurun 30 menit. Berarti masih cukup waktu untuk bisa berbuka puasa di rumah, begitu pikiran saya.

Ternyata situasi jalanan bercerita lain, kemacetan tanpa penyebab yang jelas mewarnai perjalanan sore itu. Ah, untung saya membawa permen untuk membatalkan puasa, saya mencoba menghibur diri.

Mobil yang saya kendarai bergerak pelan, namun waktu terus berjalan dengan kecepatan yang sama. Sekitar 5 menit menjelang maghrib saya tiba di sebuah perempatan (masih dalam antrian menunggu lampu hijau menyala), tiba-tiba kaca jendela mobil saya diketuk dari luar. Seorang anak muda memegang sebuah kotak kecil berkata, “silahkan mbak, untuk berbuka…” sambil menyodorkan kotak tersebut ke arah saya.

Refleks saya menerima pemberian tersebut. Saya lihat tidak banyak kotak yang dibawa oleh pemuda itu, dan tak banyak pula pengendara yang mendapat pembagian darinya. Kotak makanan itu berisi satu gelas air minum, satu kue kecil, dua buah permen dan satu plastik kecil kacang goreng. Isinya memang tidak penuh, namun saya merasa mendapat suatu pemberian yang amat sangat besar artinya. Sebuah pemberian tulus dari orang yang tidak saya kenal di saat yang benar-benar tidak terduga, membuat saya dapat berbuka dengan air yang melegakan dan makanan kecil yang terasa amat nikmat.

Ada rasa syukur, ada rasa trenyuh dalam hati, ada rasa kagum atas ketulusan memberi, padahal kalau dipikir-pikir, akan lebih baik kalau makanan itu diberikan pada mereka yang kurang mampu, mereka yang juga sering berada di seputaran lampu lalu-lintas… Saya hanya bisa berharap, semoga amal baik pemuda itu mendapat balasan yang berlimpah dari Sang Maha Pencipta.

Pengalaman ini saya ceritakan pada beberapa orang teman, namun ternyata ada teman yang kurang sependapat dengan saya. Komentarnya, “hati-hati… kalau makanan itu ternyata sudah basi atau expired, bagaimana?” Ah kawan, kenapa kecurigaan yang pertama kali muncul dalam pikiranmu?

Artikel ini terinspirasi dari postingan mas Daus tentang “orang baik masih ada”.

3 pemikiran pada “bertemu orang baik

  1. persepsi bisa menajdi prasangka. di tahun mendatang semestinya kita bisa membuat dunia menjadi lebih baik, tanpa harus selalu berprasangka.
    selamat tahun baru 2008, untuk dunia yang akan lebih baik. Lebih waras.

  2. @ iman brotoseno,
    Bener mas, persepsi bisa menjadi prasangka,
    … dan mari kita latih agar persepsi yang pertama kali muncul dalam benak kita adalah prasangka baik🙂

    @ daustralala,
    Kalau prasangka baik sudah biasa kita jalankan, mudah-mudahan kita tidak lagi merasa “terpaksa”😀
    Terima kasih kembali mas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s