Tahap-tahap penerimaan feedback

Umpan balik (feedback) tidak selalu langsung dapat diterima oleh orang lain. Umpan balik yang sifatnya positif biasanya dapat lebih mudah diterima dibandingkan dengan umpan balik negatif. Terlepas dari itu semua, penerimaan orang terhadap umpan balik juga berbeda-beda. 

Ada beberapa tahapan yang mungkin dilalui seseorang sampai akhirnya ia dapat menerima umpan balik tersebut, yaitu: 

  1. Denial – menyangkal, merasa bahwa informasi yang baru diterima tadi bukan menggambarkan dirinya.
  2. Anger – marah, dan terkadang mulai mencari-cari sumber kesalahan atau menyalahkan lingkungan/orang lain.
  3. Bargaining – bernegosiasi, atau mencari-cari alasan, misalnya dengan mengatakan bahwa kondisi kesehatan yang kurang baik atau mungkin sarana kerja yang kurang memadai sehingga hasil kerja juga tidak optimal.
  4. Depression – sedih, atau menyesal atas kondisi yang dialami, misalnya dengan merasa bahwa umpan balik tsb dapat mempengaruhi karirnya secara keseluruhan, dsb.
  5. Acceptance – menerima, dan memahami bahwa umpan balik tsb memang menggambarkan dirinya.

Tidak ada kepastian bahwa setiap orang akan melalui seluruh tahap tersebut, bisa saja ia langsung berada pada tahap Bargaining, atau bahkan langsung ke tahap Acceptance. Selain itu belum tentu juga tahapan tersebut dilalui secara berurutan, namun tujuan akhirnya adalah sampai pada tahap Acceptance. 

Kemudian, apa manfaatnya teori di atas bagi kita? 

Sebagai orang yang memberikan umpan balik, kita memang dituntut untuk dapat mengarahkan orang lain agar sampai pada tahap Acceptance (menerima umpan balik yang kita sampaikan), namun kita bisa siap dengan reaksi-reaksi lainnya. Tidak ada jaminan berapa lama seseorang dapat sampai pada tahap Acceptance, karena hal ini sangat subyektif sekali sifatnya (tergantung dari konsep diri orang tsb juga).

Ada yang bisa menerima dalam beberapa menit, tapi ada juga yang perlu beberapa hari sampai akhirnya benar-benar menerima umpan balik tersebut😉 Yang pasti, umpan balik memang sebaiknya diberikan segera dan mengacu pada hal-hal yang bersifat obyektif, sehingga dapat mudah dipahami *topik ini dibahas lain kali deh* 

Sebagai orang yang menerima umpan balik, kita bisa paham juga jika reaksi-reaksi di atas yang kita rasakan. Dan dengan memahaminya, mudah-mudahan kita dapat lebih cepat sampai pada tahap Acceptance😀

Bagaimana pun juga kita membutuhkan umpan balik dari orang lain untuk dapat memperbaiki hasil kerja kita dan melakukan hal-hal dengan lebih baik lagi. Demikian pula sebaliknya, orang lain pun butuh umpan balik dari kita demi peningkatan hasil kerjanya.

Tahapan di atas diadaptasi dari five stages of grief dari Elisabeth Kübler Ross 

13 pemikiran pada “Tahap-tahap penerimaan feedback

  1. Yang jelas sih, reaksi2 nomor 1 hingga 4 di atas tidak menggambarkan diri saya. Kalau ada kesamaan pun lebih merupakan kesamaan yang dicari2, menggambarkan ketidakakuratan cara kerja Anda. Jadi soalnya jelas: kesalahan ada pada Anda. Andalah sumber kesalahannya! Saya sendiri sudah berusaha semaksimal mungkin, cuman memang kebetulan sedang kurang sehat dan Internet di tempat saya ngadat selalu. Udah ah, jadi sedih. Salahin aja saya terus.

  2. @ Koen,
    sik asik… ini dia contoh konkritnya😀

    “Yang jelas sih, reaksi2 nomor 1 hingga 4 di atas tidak menggambarkan diri saya (denial). Kalau ada kesamaan pun lebih merupakan kesamaan yang dicari2, menggambarkan ketidakakuratan cara kerja Anda. Jadi soalnya jelas: kesalahan ada pada Anda. Andalah sumber kesalahannya! (anger) Saya sendiri sudah berusaha semaksimal mungkin, cuman memang kebetulan sedang kurang sehat dan Internet di tempat saya ngadat selalu(bargaining). Udah ah, jadi sedih. Salahin aja saya terus (depression).”

    baru sampai tahap ke 4 nih…😛

    @ Anis,
    pengen nambahin satu symbol…:mrgreen:

  3. Ikutan sharing. Ditempat saya, ada acara “heart to heart”, dilakukan minimal setahun sekali…dimoderatori oleh tim budaya kerja. Sebelumnya telah dikirim form berisi pertanyaan tentang gaya kepemimpinan, cara memimpin, sifat pemimpin…dilakukan untuk manager ke atas (orang yang telah memiliki anak buah). Awalnya tak semua manager kuat menghadapi feed back, karena menyakitkan dan dia harus menjelaskan di depan forum yang dihadiri anak buahnya, alasan dia melakukan kepemimpinan seperti itu….ada yang dikomentari penakut, tak berani mengambil keputusan, keputusan lambat, emosi tinggi dsb nya….

    Tapi kemudian dirasakan banyak manfaatnya, karena manager menjadi lebih terbuka, mengubah gaya kepemimpinan yang kaku…dan anak buah juga lebih terbuka…hasilnya…kinerja perusahaan meningkat pesat, dan hasilnya bonus karyawan sangat besar.

    Jadi kadang memang harus dipaksa…bagaimana agar orang mau menerima kelemahan dirinya dan mau memperbaiki.

  4. Saya cenderung selalu analyzing dulu sebelum bisa (katakanlah) “menerima” atau “menolak” sebuah feedback. Atau bahkan, feedback itu worthy untuk didiskusikan (jika si pemberi feedback acc).
    *ribet bgt; pengaruh personality mungkin?*😉

  5. @ hyorinmaru,
    ‘Selalu menganalisa’ bisa berarti berhati-hati, cermat dalam mengolah informasi; namun bisa juga berarti cemas, tidak mudah terima masukan… dan hehe.. ga usah bawa-bawa personality😛

    BTW, menganalisa itu memang harus dan perlu, tapi kalau berlebihan, ya tidak baik juga akhirnya…

    @ Robert Manurung,
    Betul, tidak semua feedback harus diterima. Feedback itu hanya ‘masukan’ yang diberikan oleh orang lain dan kita pun bebas untuk menerima atau tidak menerimanya😀
    Salam kenal juga…

  6. Apa yg penting dari perihal kritik ini adalah tentang bagaimana kritik ini disampaikan. Dalam kondisi di mana kritik disampaikan dalam forum terbuka, di depan orang banyak, maka sikap DENIAL lah yg mayoritas akan muncul. Beda lagi klo kritik itu disampaikan scr sembunyi2, maka ACCEPTANCE akan mudah udah dicapai. Jadi klo kita mau mengkritik orang dan memangkas fase2 di atas, perhatikan cara kritik itu disampaikan.

    Nice post🙂 saya ijin menggunakannya pake untuk resource berbagi🙂

  7. Silakan saja untuk dibagi, asal disebutkan sumbernya😉
    Hanya saja, harap dicatat bahwa yang dimaksud dengan feedback disini adalah umpan balik/masukan atau penilaian atas perilaku/tindakan atau hasil kerja seseorang. Jadi BUKAN kritik, atau tidak hanya kritik. Feedback ada 2 macam, yaitu feedback positif dan feedback negatif. Kritik merupakan salah satu bentuk feedback negatif.

    BTW, memang benar diperlukan waktu dan cara yang tepat agar feedback bisa sampai pada tahap Acceptance.
    Thx atas comment-nya🙂

  8. nice post, mb! ^^b

    btw, bukankah 5 tahapan itu merupakan pendapat Kubler Ross ttg konsep kematian ya mb? ataukah bisa digeneralisasi ke semua aspek termasuk konsep feedback? saya belum pernah mendengar teori ttg itu e.

    maaf dan terima kasih.

    salam,

    .uzzy.

  9. hai uzzy,
    Pendapat E. Kubler Ross ini memang diadaptasi dari 5 tahap kesedihan. Dalam beberapa artikel, kesedihan itu diidentikkan dengan suatu kondisi yang diakibatkan oleh kematian (untuk menggambarkan bahwa kesedihan tsb adalah suatu kesedihan yang mendalam).
    Namun demikian, konsep tersebut dapat juga diterapkan dalam kondisi-kondisi serupa, misalnya kondisi saat menerima suatu informasi tentang pribadi kita (feedback mengenai diri kita), seperti postingan di atas. Beberapa kondisi lain pun bisa menerapkan konsep dari E. Kubler Ross ini juga…🙂
    Adapun manfaat yang bisa kita dapatkan adalah, kita bisa tahu (dalam menghadapi sesuatu) mengapa seseorang menunjukkan suatu perilaku tertentu yang mungkin berbeda dengan perilaku orang yang lainnya. Terkadang kita jadi lebih bisa memahami diri sendiri juga😀

    salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s