Mitos tentang kreativitas

Secara umum yang dimaksud dengan kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada. 

Pada dasarnya kreativitas dimiliki oleh setiap orang dan merupakan hal penting untuk dapat memperoleh hasil kerja yang lebih baik. Ada berbagai pendapat mengenai kreativitas, dan ada juga diantaranya yang justru malah menghambat munculnya kreativitas.  

Berdasarkan studi Teresa Amabile di FastCompany.com, ada beberapa pendapat yang tidak benar mengenai kreativitas, diantaranya adalah: 

Kreativitas hanya untuk orang-orang tertentu atau bidang-bidang tertentu saja.

Dalam perusahaan, seringkali orang beranggapan bahwa kreativitas hanya milik orang-orang yang ada di bagian R&D, bagian pemasaran atau bagian periklanan saja; sementara bagian lain, seperti misalnya Accounting dianggap kurang perlu kreativitas. Pendapat ini tidak benar, karena setiap orang di organisasi/perusahaan dituntut untuk dapat menghasilkan ide-ide baru yang berguna, termasuk juga dari orang-orang di bagian Accounting.
Setiap orang dengan taraf kecerdasan normal mampu berkreasi, melakukan pekerjaan secara kreatif. Kreativitas ditentukan dari banyak hal, seperti pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan teknis, serta kemampuan untuk berpikir dengan cara-cara baru. 

Uang merupakan motivator bagi munculnya kreativitas.

Uang terkadang memang dapat memacu seseorang untuk bekerja lebih giat, namun tidak ada kaitan diantara keduanya. Malah orang-orang yang bekerja dengan begitu mengharapkan komisi atau bonus seringkali memiliki tingkat kreativitas yang lebih rendah.
Kreativitas akan semakin tumbuh jika lingkungan memberikan dorongan, serta menghargai ide-ide baru yang dihasilkan. Seseorang pun menjadi lebih kreatif bila ia menyenangi pekerjaannya, serta berupaya mengembangkan ketrampilan yang dimiliki.  

Kreativitas makin terpacu jika berada dalam keadaan “under-pressure”

Pendapat ini seringkali jadi “alasan” saat pekerjaan belum selesai-selesai juga. *Saya pun merasakan hal yang sama, seakan-akan kreativitas baru mucul pada detik-detik terakhir😉 *
Namun penelitian menunjukkan bahwa seseorang menjadi kurang kreatif ketika menghadapi tekanan waktu. Tekanan waktu melumpuhkan kreativitas karena orang tidak dapat memikirkan persoalan dengan jernih. Kreativitas membutuhkan masa inkubasi; dan dibutuhkan waktu untuk menelaah persoalan yang dihadapi dan membiarkan ide-ide muncul.
Kenyataannya, bukan deadline yang mendorong munculnya kreativitas; namun adanya berbagai gangguan-lah yang menghabiskan waktu seseorang dalam membuat terobosan kreatif. Pada saat-saat genting seseorang bisa saja menjadi kreatif, namun hanya jika ia bisa fokus pada pekerjaannya (pada apa yang harus dikerjakan).  

Hmm… meskipun kenyataannya berbagai tugas memang baru selesai di detik-detik terakhir, tapi rasanya memang benar… itu bukan karena tiba-tiba muncul kreativitas, tapi karena kemarin-kemarin belum terfokus untuk mengerjakan tugas tersebut😛

8 pemikiran pada “Mitos tentang kreativitas

  1. Kreativitas kadang subjektif (dalam arti positif). Report/blog/presentasi yang mendadak pakai background putih dan satu macam font dengan pilihan visual terbatas pun, mendadak tampak amat kreatif: dia memancarkan sebuah ide. Akhirnya memang — terpaksa — kreativitas visual dinilai dari pancaran ide yang tampil dari dalamnya. Kreatif dan gila sama2 nyeleneh. Tapi kreatif memberikan pencerahan, dan kegilaan tidak harus. Kalaupun kegilaan tampak memberikan pencerahan, itu — aku yakin — karena kreativitas si pengamat🙂. Ya nggak sih?

  2. @ Koen,
    Kreativitas memang subjektif; namun sebuah sumber yang bisa memancarkan ide sebenarnya lebih berfungsi sebagai media inspirasi, dan mungkin bukan kreatif yang sebenarnya. Adapun orang-orang yang bisa berimajinasi, mereka-lah yang lebih kreatif, yang dapat menghasilkan gagasan-gagasan baru. Namun jika presenter dengan materi sederhana tersebut juga mengemas presentasinya sampai menghasilkan ide-ide baru yang belum pernah ada sebelumnya, maka memang dia kreatif, bahkan mungkin juga inovatif.
    Kegilaan lebih dekat dengan inovatif, yang mungkin mirip dari sisi nyleneh-nya, tanpa menjanjikan manfaat apapun dari ide-idenya.

    @ dobelden,
    betul, tapi tidak sebaliknya😀 – yang hiperaktif, belum tentu kreatif…

    @ sitijenang,
    fokus plus ketenangan – itulah yang jarang kita miliki saat ini:mrgreen:

  3. Kreativitas menurut saya adalah ketika kita mampu memoles sesuatu yg pada mulanya terlihat biasa menjadi luar biasa..
    Dan biasanya kreativitas akan datang bila ada pelecutnya, misalnya seperti ketika saya sedang jatuh cinta atau patah hati, setidaknya untuk saya pribadi, he he he..
    *hohoho.. jadi pengen jatuh cinta lagi*

  4. Terkadang kreativitas memang lebih mudah muncul bila ada “trigger”-nya. Setuju, kalau jatuh cinta atau patah hati bisa dianggap sebagai trigger untuk kreativitas, tapi percayalah… deadline itu bukan trigger untuk kreativitas😉

  5. setuju, segala-galanya memang butuh uang tetapi uang bukan segala-galanya apalagi untuk memunculkan kreatifitas. Btw, mungkin hiperaktif itu kreatif yang merusak yach!

  6. IMO, segala hal yang “terlalu” (terlalu banyak maupun terlalu sedikit) seringkali membawa dampak yang kurang baik. Begitu juga dengan hiperaktif… Tapi di sisi lain pasti ada segi positif yang bisa diperoleh.
    Jadi tergantung kita pinter-pinter menyikapinya😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s