sebuah novel tentang novel

Buku bernuansa merah yang tertata di deretan rak “sastra” mulanya tidak terlalu menarik perhatian, namun setelah diamati ternyata buku itu karangan Remy Sylado, seorang pengarang yang hasil karyanya seringkali menarik untuk dibaca🙂 Buku yang berjudul “Novel Pangeran Diponegoro” dengan sub judul “Menggagas Ratu Adil”, akhirnya menjadi salah satu buku yang saya pilih sebagai bahan bacaan di akhir minggu.

Pangeran Diponegoro selalu mengingatkan saya dengan Perang Jawa yang berlangsung 5 menit di waktu maghrib, sebuah analogi yang gampang sekali diingat, tahun 1825 sampai 1830. Selain asalnya beliau dari Tegalrejo, ingatan saya tentang Pangeran Diponegoro memang hanya sampai disitu. Hmm… sepertinya pelajaran sejarah jaman SD tidak terlalu banyak menempel lagi sekarang…😦

Sebagai novel karangan Remy Sylado, novel ini juga sarat dengan imajinasi pengarang tentang kondisi dan situasi di jaman penjajahan Belanda di seputaran Yogyakarta pada akhir abad 18. Gambaran detil tentang tokoh-tokoh cerita, serta situasi lingkungan Yogyakarta dan Tegalrejo betul-betul membawa pembaca seakan-akan ikut berada di tempat yang sama. Selain itu, tutur kata-kata indah yang menggambarkan situasi alam Indonesia turut menambah keindahan yang diceritakan.

Pemikiran-pemikiran Pangeran Diponegoro pun digambarkan dengan cukup apik, diantaranya tentang perbedaan pemikiran bangsa Indonesia (Timur) dan bangsa Eropa (Barat);

Kita memang berbeda, pikiran Timur dan pikiran Barat tidakkan mungkin sama… barat adalah tempat tempat matahari terbenam, timur tempat matahari terbit. Terbenam berarti akhir, terbit berarti awal.
Di saat matahari terbenam, ada rasa waswas, gamang, dan takut karena sebentar lagi gelap, dan di dalam gelap bisa terjadi kejahatan-kejahatan, tempat merajalelanya kekuasaan iblis.
Sedangkan di saat matahari terbit, ada rasa lega, senang, nikmat, sebab terang akan memberi pengharapan terhadap arti kehidupan baru, tempat hadirnya keyakinan akan kemahakasihan Tuhan.
… biarlah Timur tetap timur, dan Barat tetap barat.

pemikirannya tentang kehidupan;

Hidup memang tidak selalu sederhana-sederhana saja. Sebab, kalau semuanya sederhana, lancar, mulus, niscaya tidak bakalan ada tantangan yang membuat manusia tergembleng untuk menjadi mustaid, sempurna, sidi.

serta pandangannya tentang kesalahan kepemimpinan;

… kebenaran pada satu pihak dapat berarti kesalahan pada pihak lain … kita tidak pernah melihat kesalahan orang lain sebagai akibat kesalahan kita.
Pemimpin tidak sepatutnya menyalahkan orang yang dipimpinnya tanpa melihat kesalahannya sendiri.

Novel ini juga penuh dengan kosakata Bahasa Indonesia yang tidak sering dipakai sehari-hari, seperti misalnya leluri, makzul, arkian, masygul, dll. Ungkapan-ungkapan bahasa Jawa, serta bahasa Belanda, Inggris dan Perancis —sebagai negara-negara yang punya peranan dalam masa penjajahan pada akhir abad 18— juga ikut mewarnai novel ini.

Sebagai sebuah novel yang juga bertitel ”novel”, maka buku ini tidak melulu bercerita tentang sejarah, tapi juga berisi tentang pemikiran, pandangan hidup dan nilai-nilai kemanusiaan. Mungkin lebih tepat disebut sebagai sebuah fiksi sejarah.

Dan sebagai karya Remy Sylado, bagian-bagian awal novel selalu menarik untuk disimak, sementara menjelang akhir cerita biasanya keinginan pengarang berbeda dengan dugaan pembaca (maksudnya: saya):mrgreen:

16 pemikiran pada “sebuah novel tentang novel

  1. Bagi saya, Novel kepahlawanan yang paling bagus Musashi dan Teiko dari Eiji Yoshikawa, sangat heroik dan cerdas, selain mungkin karena cowok banget kali yaa.. Kalau Indonesia, Tetralogi nya Pram yang mungkin ga tergantikan, sangat cerdas. Setelah baca tulisannya mba’, jadi penasaran pengen baca yang satu ini🙂. Btw, kemana aja mbak, udah jarang nulis🙂

  2. dibandingkan dengan Musashi, sepertinya novel ini bukan tandingannya, maksudnya novel ini lebih bernuansa populer dengan gaya penulisan pujangga baru Indonesia. Dengan kata lain, kedua novel ini ada di kelompok yang berbeda. Penilaian saya untuk novel ini, ya.. sekitar nilai 7 lah, not so bad but interesting😀 *sok menganalisa dan menilai*
    cuma sedikit mengingatkan aja, jangan terlalu banyak berharap dari novel ini, terima apa adanya, supaya tidak kecewa… *halah* maksudnya, jangan dibandingin sama Musashi, gitu…

    BTW, bicara soal “kemana aja”, tidak ada jawaban yang paling tepat untuk menjawabnya… “cari inspirasi” dan “compie yang bermasalah” kedengerannya cuma seperti alasan yang dicari-cari, tapi ya gitu deh…:mrgreen:

  3. salam kenal..

    kemaren di Gunung Agung lihat novel ini. setelah menimbang-nimbang, tidak jadi saya beli🙂

    setelah baca ulasan mbak, jadi pengen euy🙂

  4. kalau suka dengan sastra Indonesia, untaian kata-kata di novel ini menurut penilaian saya sangat indah… meskipun ada sedikit typo yang terkadang agak mengganggu, tapi itu tidak menghalangi kenikmatan membaca buku ini. Silakan dicoba…😀

    salam…

  5. Kalau menurutku novel ini di bawah rata-ratanya Remy Silado, bahkan dibawah rata2 novel pada umumnya. Ceritanya terlalu bertele, dan berkesan dipanjang2in kayak sinetron. Banyak juga isinya yang tidak perlu seperti cerita asal usul istilah HO LOPIS KUNTUL BARIS, yang memang khasnya Remy. Tetapi karena dipakai berlebihan, jadi terasa begah. Padahal pembukaannya bagus. Kalau mau dibuat ceritanya paralel antara masa lalu dan masa sekarang kupikir bisa lebih bagus.

    Lanjutannya udah terbit, tapi mengingat yang pertama kayak gitu, aku gak akan beli yang kedua.

    Kalau nyari novel sejarah yang baik, jauh lebih bagus Arus Balik-nya Pram, atau Roro Mendut-nya Romo Mangun, dan tentu saja Tetralogi Buru-nya Pram.

    Masih mendingan baca Gajah Mada, karena dibuat jadi cerita silat yang menghibur seperti baca Ko Ping Ho, tanpa terlalu banyak tendensi seperti novel ini.

    Mungkin Remy sudah mulai turun kemampuannya.

  6. setuju, bagian awal novel ini memang bagus (itu juga yang bikin saya penasaran untuk membacanya), dan kesan “dipanjang2in” memang agak terasa. Apalagi saat buku berikutnya terbit, hmm… ternyata memang novel ini dirancang untuk jadi novel bersambung.

    Anyway, paling tidak ternyata saya menyukai rangkaian kata-kata dari cuplikan2 cerita yang ditulis Remy. Itu yang bikin saya bertahan untuk terus membaca🙂

    Saya pikir, mungkin bukan kemampuannya yang menurun, tapi ketertarikannya untuk menghasilkan karya seperti yang kita harapkan sepertinya mulai bergeser (pada selera pribadinya sendiri😀 yang mungkin tidak sejalan dengan selera kita)

    thx atas review-nya

  7. hmm patut di baca nh,, hehe,, salam kenal dri blogger yg baru bwt blog 4 hari yg lalu ini,, hikz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s