Seribu-Buku – sampai dimana kepedulian kita?

Saat ini, ada 2 gerakan yang saya ketahui, yang sama-sama bertajuk “Seribu-Buku”. Keduanya sama-sama mengajak kita untuk mau berbagi dan peduli terhadap mereka yang sulit mendapatkan akses terhadap buku-buku, yang saat ini masih menjadi “barang mahal” di negeri ini.

Yang pertama, Gerakan “Seribu Buku Untuk Tunanetra” – Kegiatan yang diprakarsai oleh Yayasan Mitra Netra ini berawal dari keprihatinan yang mendalam atas minimnya ketersediaan buku untuk tunanetra di Indonesia, yang sangat tidak sebanding dengan pesatnya perkembangan dunia literasi dewasa ini. Sejak dimulainya gerakan ini, Mitra Netra mengundang masyarakat luas berpartisipasi, untuk mempercepat akses tunanetra ke dunia literasi.

Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengundang masyarakat luas untuk menjadi relawan, dengan membantu mengetik ulang buku-buku populer. Semua file yang diterima akan diolah menjadi file berformat Braille, untuk kemudian dicetak menjadi buku Braille dengan mesin Braille embosser. Kemudian buku-buku Braille tersebut didistribusikan melalui layanan perpustakaan Braille on line agar dapat dinikmati oleh tunanetra di seluruh Indonesia.

Dengan partisipasi masyarakat melalui gerakan Seribu Buku Untuk Tunanetra, Mitra Netra telah berhasil memangkas sebagian besar waktu dan biaya yang dibutuhkan guna memproduksi buku Braille. Ini juga berdampak pada makin cepatnya tunanetra mendapatkan buku.

Yang kedua adalah “Gerakan (Kumpul) Seribu Buku” – Gerakan ini didasari oleh fakta bahwa harga buku yang makin melambung, sedangkan daya beli makin menurun. Di sisi lain, mungkin saja terjadi bahwa buku yang sudah terbaca mulai menumpuk dan kekurangan tempat.

Kegiatan yang (setahu saya) baru di-launch minggu lalu ini mengajak masyarakat (terutama para blogger) untuk mengumpulkan buku-buku yang akan disalurkan lagi kepada perpustakaan daerah dan diharapkan nantinya masyarakat sekitar perpustakaan itulah yang akan melanjutkan pengelolaannya.

Gerakan yang kedua ini langsung mendapat banyak dukungan dari para blogger, paling tidak dalam mempublikasikannya. Dan seperti yang diungkapkan oleh mas Iman, sebaiknya ada pemetaan target sasaran penerima buku sehingga tidak ada buku yang mubazir tidak terbaca. Jadi, perlu pertimbangan juga dalam menyumbang buku, agar buku-buku itu bisa bermanfaat bagi yang membaca🙂 bisa tepat guna, tepat sasaran.

Sekarang, kembali pada kita sendiri, apa yang dapat kita lakukan untuk membantu mereka yang sulit mendapatkan akses terhadap bahan-bahan bacaan penambah wawasan dan pengetahuan.

Mengutip kata-kata mas Iman, “tak ada yang lebih menyenangkan bisa berbagi dengan sesama.”

4 pemikiran pada “Seribu-Buku – sampai dimana kepedulian kita?

  1. dua hal yang kadang seperti fenomena “ayam dan telur”, mana yang lebih dulu?
    buku dan minat baca; tanpa buku, minat baca bisa membuat seseorang putus asa; tanpa minat baca, banyaknya buku akan menjadi sia-sia…

    memang, keduanya diperlukan, keduanya saling melengkapi, dan keduanya juga yang perlu ditingkatkan.
    Nah, sudah sampai mana perhatian dan sumbangsih kita untuk dapat meningkatkan kedua hal tsb?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s