Petite Histoire Indonesia

Ini adalah salah satu buku yang sangat mengasikkan untuk dibaca. Buku yang terdiri dari berbagai kisah tentang Indonesia ini benar-benar membuat saya merasa sayang kalau hanya membacanya selintas saja. Kalimat demi kalimat yang terangkai membawa kita seakan ikut berada di situasi saat itu. Kisah-kisah dalam buku ini menggambarkan cuplikan kecil sejarah bangsa Indonesia, dan membuat saya berpikir… kehidupan bangsa ini tidak akan seperti sekarang jika sejarah berkata lain.

Ditulis oleh seorang jurnalis, kita bisa memahami bahwa gaya bahasa Rosihan Anwar amat sangat komunikatif. Jadi ingat pertemuan dengan RA tahun lalu, beliau masih sangat energik meskipun usianya bisa dibilang sudah tidak muda lagi. Mungkin kebiasaannya menulis dan membaca membuat beliau terus bersemangat seperti itu. Sangat mengagumkan!

Rosihan Anwar menuliskan kembali sejarah-sejarah kecil tentang Indonesia, berdasarkan studi literature, dari buku-buku yang tersimpan di perpustakaan manca negara. Kita seolah ikut memahami bagaimana pemikiran orang asing tentang Indonesia pada saat jaman penjajahan dulu. Kita juga bisa mengikuti pengalaman RA saat meliput peristiwa-peristiwa sejak jaman Soekarno, sampai dengan Megawati. Buku ini memang ditulis tahun 2004, jadi belum ada cerita tentang SBY🙂

RA juga menulis sejarah kecil bangsa Indonesia ini mulai tentang Aceh sampai Papua, membawa kita pada pemahaman bahwa kita memang terdiri dari berbagai suku bangsa, namun punya perasaan yang sama bahwa kita adalah orang Indonesia.

Ada dua hal yang ingin saya catat disini:

Kutipan dari Sutan Sjahrir tentang Soekarno (h.124), “Apa pun kritik kita kepada Soekarno, kita tidak boleh lupa bahwa dialah yang mempersatukan kita sebagai bangsa. Itulah jasanya”.

Penjelasan Dr. Cipto Mangunkusumo bahwa bangsanya menginginkan kemerdekaan (h.203), “Kebebasan tidak diperoleh manusia atau bangsa sebagai kado. Siapa yang ingin memilikinya harus berjuang untuk itu. Apa yang terjadi atas diri kami sudah diperkirakan. Mereka yang mengejar-ngejar kami membuat hidup kami lebih sulit. Makin berat makin bagus. Itu akan membuat jalan lebih pendek. Kami sudah berjalan dan ingin menempuhnya bersama bangsa kami”.

Di buku ini RA juga menyinggung bahwa, apa jadinya perasaan pendahulu bangsa kita jika mengetahui bahwa saat ini seringkali sentimen kedaerahan menjadi alasan memperdebatkan sesuatu yang hanya menguntungkan sebelah pihak saja.

Hari ini, bertepatan dengan peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, serta setelah beberapa hari menamatkan buku yang menarik ini, ternyata I’m proud to be Indonesian.

6 pemikiran pada “Petite Histoire Indonesia

  1. Bangsa ini dinamik dan berakal sehat. Sebetulnya tak terlalu sulit untuk menumbuhkan dan memajukan negeri dengan potensi yang sekuat ini. Tentu banyak kelemahan potensial (kayak yang Nita bilang: sentimen primordial, atau sikap abai pada sains, kecampuradukan mistisisme purba di mana2, temperamen yang ekstrem dari ekstra temperamental hingga ekstra abai, dst). Tapi itu hal2 yang teratasi (tidak ‘easy’ sih, tapi ‘doable’ — dan doa’able haha). Yuk berjuang.

  2. yuk mari…😀

    ah, kalimat-kalimat itu mengingatkan akan semangat diskusi perjuangan di akhir tahun 90-an yang lalu. Masih ada ga arsipnya? mau dong pinjem… sepertinya ada juga semangat perjuangan yang masih ada disana. Pls?:mrgreen:

  3. “Di buku ini RA juga menyinggung bahwa, apa jadinya perasaan pendahulu bangsa kita jika mengetahui bahwa saat ini seringkali sentimen kedaerahan menjadi alasan memperdebatkan sesuatu yang hanya menguntungkan sebelah pihak saja.”

    Hmm…RA wajar menulis ini. Sumpah Pemuda 2008 ditandai dengan pecahnya KNPI yang secara historis merupakan satu-satunya kelembagaan pemuda indonesia. Kepentingan-kepentingan segelintir orang telah menjadikan negeri ini semakin diurus dengan cara salah urus. Peace…!

  4. Ya… dan itu juga tercermin saat bertemu dengan RA tahun lalu. Sikap gemas melihat generasi penerus yang terlihat seolah tidak lagi mengingat bahwa persatuan bangsa bukanlah hadiah, tapi berupa sesuatu yang sangat diperjuangkan oleh para pendahulu bangsa.

    Seakan mengingatkan diri sendiri, “apakah kita sudah memelihara persatuan, atau hanya memikirkan kepentingan sepihak saja?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s