Perjuangan anak seorang gangster

yakuza-moon1Yakuza Moon, buku yang tidak terlalu tebal ini berhasil dilahap dalam tempo beberapa jam saja. Hmm, ternyata ketrampilan baca masa lalu masih bisa diterapkan juga sampai saat ini. “alah bisa, karena biasa”, kalau suatu kegiatan memang sering dilakukan (apalagi kita menyenangi kegiatan tsb), maka sampai kapan pun kita akan bisa menyelesaikannya dengan cepat, tepat dan memuaskan😀

Berbekal keingintahuan tentang dunia yakuza, dan kehidupan masyarakat Jepang pada umumnya, akhirnya buku ini ter-ambil juga dari deretan buku-buku di Gramedia. Namun sesampainya di rumah, buku ini masih menunggu antrian untuk dibaca (hobby “koleksi buku” memang suka lebih mendominasi dibanding “baca buku”😛 ). Minggu lalu, buku ini akhirnya terpilih menjadi buku yang menemani perjalanan Bandung-Madiun (pp), akhirnya…

Apa saja yang menarik dari buku ini?

Pertama, kejujuran Shoko menceritakan semua pengalaman masa lalu-nya. Dia bercerita apa adanya, tergambar jelas ketegaran hatinya, keras kepalanya, dan juga sisi kelembutan seorang wanita. Ceritanya tentang kekerasan yang terjadi dan yang ia alami terkesan elegan, tidak mengiba dan juga tidak sarkastis. Meskipun kata-kata yang digunakan sangat gamblang, tapi entah kenapa, saat membacanya sama sekali tidak terkesan kasar.

Kedua, sikapnya yang pantang menyerah juga tampak dari tulisannya di buku ini. Berkali-kali dia mengalami “jatuh-bangun” dalam kehidupannya, tapi tidak tampak kesan putus asa. Mungkin saja hal itu bisa terjadi pada saat dia menjalani kehidupannya tsb, namun banyak cerita lain yang lebih menunjukkan ketegaran, kekuatan dan tentu saja semangat untuk hidup dan berubah menjadi orang yang lebih baik.

Ketiga, keberanian Shoko yang mengagumkan! Mungkin juga karena dia adalah anak dari seorang yakuza, yang tidak mau diremehkan begitu saja oleh lingkungan, sangat menjunjung tinggi harga diri, dan tetap berpegang pada nilai-nilai tradisi ke-timur-an.

Hal lain, tatoo yang dia miliki memang indah. Tubuhnya seolah menjadi kertas polos yang lalu dilukis dengan gambar jepang yang menawan. Meskipun saya juga ga mau ada lukisan yang tergambar di tubuh diri sendiri, namun tidak dipungkiri bahwa tatoo-nya Shoko memang indah *tergantung selera, kali yaa…:mrgreen: *

Sebenarnya, dari cerita Shoko, saya lebih banyak mencerna tentang makna kehidupan dari sudut pandang wanita Jepang. Pemaparan mendalam ditulis dalam kalimatnya:

Bukan kulit luar yang penting, tetapi bagaimana menjadikan pengalaman kita sebagai sesuatu yang terbaik bagi jiwa kita. Aku tak peduli berapa lama dibutuhkan, jika aku bisa mewujudkannya dengan tetap berpegang pada apa yang kuyakini, aku percaya bahwa kebahagiaan sejati sedang menantiku. Kupikir, jawaban terhadap bagaimana menjalani kehidupan selalu ada di dalam diriku, dan aku hanya perlu melakoninya dalam keseharian.

Ya, keberhasilan maupun kegagalan sebenarnya bersumber dari bagaimana kita menjalani kehidupan ini, dan keduanya bukanlah akhir dari segalanya. *Daleeemmm….😀 *

Kaitan cerita Shoko dengan yakuza, lebih jelas terungkap dari tulisan Manabu Miyazaki, di bagian akhir dari buku ini. Dari situ saya baru memahami bahwa ternyata apa yang dialami Shoko amat sangat berat, lebih berat dari kesan yang saya baca di tulisannya pada bagian-bagian awal. *hal yang biasa terjadi pada saat membaca novel, kita seolah membuat skenario sendiri terhadap apa yang kita baca😀 *

Sebagai novel terjemahan, buku ini dikemas dengan sangat baik. Thanks to Gagas Media yang memiliki tim yang hebat, yang sudah mau menerbitkan buku ini. Thanks juga buat sang editor, Wiendy Ariestanty yang membuatnya menjadi bacaan yang menarik dengan bahasa sehari-hari namun tetap menjaga formalitas-nya. Membaca buku ini seolah-olah membaca tulisan pengarang Indonesia, sehingga setting ceritanya pun bisa dinikmati seperti sebuah film yang berputar di bioskop dalam kepala kita:mrgreen:

7 pemikiran pada “Perjuangan anak seorang gangster

  1. kalo aku sih, sebenarnya lebih menikmati proses membeli buku drpd mengoleksinya. krn gak punya cukup tempat utk ngoleksi, banyak buku lama yg dihibahkan tanpa sempat terbaca😀 .

  2. Cara Nita menggambarkan buku ini bikin aku langsung pingin baca. Elegance, tidak mengiba dan juga tidak sarkastis; plus sikapnya yang pantang menyerah mengalami jatuh-bangun. Bisa buat aku belajar hidup. Makasih ya🙂.
    BTW, ternyata masih ada juga pelahap buku kelas jam2an🙂. Aku juga menamatkan Maryamah Karpov dalam hitungan jam. Tapi terus diulang. Terasa ada yang hilang belum terbaca.

  3. Buku MK kayaknya memang bukan jenis buku kelas jam2an. Biasanya karangan Andrea suka mengandung kalimat-kalimat inspiratif yang suka pengen di-stabilo *tapi ngga jadi, karena kok kesannya kayak buku pelajaran ya?*:mrgreen:

  4. emm… kalau membaca buku yang tebal tebal sepertinya bakalan sulit (untuk saat ini)
    apalagi buku buku tipe serius, malas mungkin ^_^

    tapi kenapa ya kalau baca buku terjemahan rasanya hidup banget alur ceritanya…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s