ventilasi jiwa

Dalam sebuah perbincangan di pagi hari, topik yang dibahas adalah mengenai kesehatan jiwa. Kebetulan hari itu adalah Hari Kesehatan Jiwa se-dunia. *tapi jangan tanya kenapa disebut demikian, saya sendiri juga baru tahu kalau ada istilah HarKesWa😛 *

Akhir-akhir ini, sering kita melihat atau membaca di koran tentang perilaku orang yang “tidak biasanya”, misalnya orang yang mencoba bunuh diri karena berbagai persoalan yang menimpa dirinya, seperti terlilit hutang yang tidak mampu dilunasi, tiba-tiba dikeluarkan dari pekerjaan, maupun karena depresi ditinggal oleh pasangan hidupnya. Tidak dapat dipungkiri, masalah-masalah besar seperti itu pastinya pernah ada dalam kehidupan setiap orang. Namun kalau kita simak, tidak semua orang dapat menghadapinya dengan baik, atau dengan reaksi-reaksi yang konstruktif.

Contoh di atas adalah salah satu reaksi destruktif yang mungkin dilakukan pada saat mengalami masalah-masalah besar yang sepertinya tak dapat terpecahkan itu. Masih banyak reaksi destruktif lainnya, yang pada dasarnya adalah perilaku merugikan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Bicara soal jiwa atau psikis, adalah bicara mengenai sesuatu yang kasat mata. Kita baru dapat mengamatinya melalui tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang tsb. Bukan hal yang mudah pula untuk menilai apakah jiwa atau psikis seseorang itu sedang berada pada keadaan yang “kurang sehat”, namun bila tindakan-tindakan destruktif yang dilakukan, maka kemungkinan besar terjadi ketidakseimbangan dalam jiwa orang tsb.

Sama halnya dengan “fisik” yang perlu diobati ketika ada bagian tubuh yang sakit; maka “psikis”-pun demikian. Jika sakit/ketidakseimbangan fisik bisa diatasi dengan minum obat, maka ketidakseimbangan psikis biasanya diatasi dengan cara menyalurkan pikiran atau emosi-emosi kita ke dalam bentuk yang lebih konstruktif.

Berbagai persoalan yang kita pikirkan dan mempengaruhi emosi kita memang perlu diselesaikan dengan baik, namun tidak selamanya hal itu harus kita lakukan sendiri. Ada kalanya kita perlu mediasi untuk bisa mencerna persoalan yang dirasa amat kusut tsb menjadi potongan-potongan kecil yang mudah untuk diselesaikan.

Kita perlu berbagi, bercerita tentang hal-hal yang kita rasakan dan yang kita pikirkan. Tidak melulu hanya yang berupa persoalan rumit, namun berbagai hal yang memang kita alami, kita rasakan dan kita pikirkan. Hal ini yang dimaksud dengan ventilasi jiwa. Jika kita menutup diri kita, memendam sendiri pikiran-pikiran kita, maka suatu saat psikis kita bisa menjadi letih dan pada akhirnya menghasilkan perilaku yang destruktif. Karena itu perlu rasanya kita berbagi cerita mengenai diri sendiri, tentunya pada orang yang tepat, yang bisa memahami kita dan membantu kita melihat situasi secara positif.

18 pemikiran pada “ventilasi jiwa

  1. Berventilasi itu🙂 🙂, baiknya ke siapa? Apa memang sebaiknya ke profesional?

    Kadang kita mencoba membuka diri ke sahabat, hanya untuk mendapati bahwa si sahabat suatu hari menggunakan apa yang pernah kita buka itu untuk menyerang kita juga. Aku mungkin lebih suka model persahabatan kolektif, atau malah simbolik, tak personal lagi. Metodenya, selain berbincang (tetap secara simbolik), mungkin juga dengan … hihihi … blogging😀.

    Makasih untuk segala inspirasinya ya🙂

  2. apapun dan siapapun itu… tidak musti harus seorang yang formally professional.

    Sebuah contoh menarik, bagaimana kalau dilihat dari sisi lain: kita bukan “diserang” tapi sahabat kita hanya memberi cermin tentang bagaimana diri kita yang sebenarnya. Pada saat kita sudah bisa menerima diri kita apa adanya, maka bukan hal yang sulit bagi kita untuk menghadapinya (instead of “defence”). Semua orang bisa berubah, begitu pun diri kita, be a better man😀

    Banyak cara bisa dilakukan, misalnya dengan bercerita atau berbincang, kontemplasi atau merenung, dan bisa juga dengan… blogging… *teteup*😛
    BTW, terima kasih kembali…

  3. Jadi pengin nanya. Gimana kalo kasusnya gini.
    Aku ngerasa marah ama seseorang, tapi gak bisa marah ama dia. Karena aku tau, jika aku marah, setelahnya aku akan merasa bersalah karena marah-marah. Tapi jika aku tidak marah, rasanya nyesek banget nih.. Apalagi kalo ngeliat orang itu bersikap seolah-olah semua baik-baik saja.
    Enaknya marahnya dibuang ke mana ya? Duh, kok jadi curhat di publik.😀

  4. Luapan energi yang timbul karena “kesal” memang perlu disalurkan, namun tidak harus selalu dengan “marah”. Cari cara-cara lain yang lebih konstruktif, hindari lingkungan/situasi yang membuat kita semakin menjadi “kesal”, misalnya dengan keluar ruangan sejenak untuk meredakan perasaan “nyesek” yang timbul tsb.

    Setelah reda, baru saatnya kita menyelesaikan masalah yang timbul, tentu saja dengan mendiskusikannya bersama orang-orang terkait. Setiap masalah perlu dihadapi dan diselesaikan.

    OK, itu dulu yang di-publish di publik, lanjutannya mau via apa? via japri, japlurk atau jablog?:mrgreen:

  5. Ventilasi Jiwa.. menarik juga..
    Jargon baru ini..

    Aku juga pernah jadi sangat tertutup. Walau sekarang tidak terlalu terbuka (menurutku), sedikit banyak aku bercerita pada orang-orang di sekitarku tentang hal-hal yang pernah menghasilkan efek destruktif pada kondisi kejiwaanku. Mereka terkadang percaya, kadang setengah ragu, dan tak sedikit yang mencemooh bahwa hal-hal yang kuceritakan terlalu didramatisir.

  6. Sebuah perubahan yang positif kalau sudah bisa bercerita tentang diri sendiri. Terkadang itu sudah cukup, karena tidak mungkin kita berharap semua orang akan setuju dengan pendapat kita, dengan pemikiran kira dan juga dengan langkah-langkah yang kita ambil.
    dan saat kita bercermin, hanya kita yang bisa menentukan, apakah itu memang sesuai dengan diri kita atau tidak🙂

    keep trying…

  7. @anis
    Tidak perlu merasa bersalah karena marah-marah, jika yang disampaikan ketika marah adalah hal yang benar, walau sering terlihat bahwa ketika marah justru orang-orang jadi tidak berpikir logis, sehingga kemarahan hanya ledakan emosi, mungkin disitu muncul rasa bersalah ketika kembali tenang. Saya termasuk orang yang suka iri liat orang marah tapi apa yang diucapkannya adalah suatu kebenaran.

    Atau ikutin sarannya kata Mas Koen, nge-blog ajah sebagai ventilasi jiwa.. marah-marahnya disini, ntar kan tinggal di hapus kalau merasa bersalah😀

    Lagi.. tulisan yang bagus mbak😀

  8. thanks penjelasan dan sharingnya.
    Satu hal yang ingin saya tambahkan, jangan menunggu sampai marah untuk dapat berucap kebenaran😀

    Lagi.. komentar-komentar yang menggugah, thanks all😀

  9. Dulu pernah ada yang bilang, jangan menjadikan blog sebagai tempat curhat. Karena itu media publik. Kita gak akan bisa menduga siapa yang akan membaca curhat kita. Dan aku pikir pendapat itu bener juga. Kita gak pernah tau apakah ada yang merasa terusik atau tersinggung dengan tulisan kita. Kita gak akan tau jika tulisan kita menyusahkan orang lain. Bukan cuma orang yang kita tulis tapi juga orang-orang di sekitar orang itu. Huh.. jadi ribet ya..😛
    Btw, tawaran curhat japrinya menarik. Tapi aku jadi pengin tau, posisi Mbak Nita adalah sebagai temen atau sebagai profesional?😀

  10. Rasanya hanya masalah “cara”, bagaimana cara kita menuliskan curhat di blog. Tulisan-tulisan yang bersifat simbolik tampaknya lebih tepat untuk menyalurkan curhat. Sebagai media personal, kita bebas menulis apapun di blog kita, sejauh hal tsb tidak mengandung hasutan, pornografi dan kekerasan *yang ini oleh-oleh dari PB08 kemarin*
    Jangan khawatir tulisan kita menyinggung atau menyusahkan orang lain, selama kita tidak bermaksud untuk melakukannya, just write! Biasanya kita baru tahu hal tsb dari komentar-komentar yang datang, dan jangan ragu juga untuk minta maaf bila hal itu terjadi. Menurutku, melalui blog kita belajar berekspresi, dan melalui komentar2/komunikasi di blog, kita juga belajar memahami orang lain. Ngga ribet kok…😛

    Btw, kamu nyari profesional, atau temen buat curhat? Kalau cari temen, aku mau mengajukan diri, tapi kalau cari profesional, ntar aku refer ke orang lain aja deh. Jadi, anggap aja curhat sama temen yang kebetulan profesional juga😛

  11. hmm.., beruntungnya saya ketemu mba tanti sebelum sempat melakukan reaksi2 destruktif😀 ,😀 ,😀
    tapi sekarang jadi sering senyum-senyum sendiri itu gimana mba..?
    trus klo saya tiap hari mondar mandir ke blog ini nungguin tulisan baru mba tanti
    kira2…

    masih termasuk sehat lah ya.. hehhhee..

  12. mampu “menyadari” adalah salah satu tanda “sehat”:mrgreen:

    mengenai my next posting,
    hmm… masih mencari good connection antara waktu, mood, dan inspirasi, hehehe…..

  13. Sebagai makhluk sosial, kita memang harus bisa, mau berbagi cerita antara satu dengan yang lainnya. Maka, di sinilah fungsi dari ventilasi jiwa, adanya sebuah keterbuakaan dalam jiwa. Agar kelak, kita dapat menghadapi permasalahan yang kita hadapi dengan tenang dan apa adanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s