sudahkah kita mendengarkan?

Dalam sebuah kesempatan, seorang teman pernah bercerita tentang kesulitannya berhadapan dengan bawahan yang seolah tidak mau mendengarkan perintah yang ia sampaikan. Di kesempatan lain, teman yang lain juga bercerita tentang pasangannya yang semakin tidak mau mendengarkan, padahal mereka selalu berdiskusi saat pulang dan pergi ke kantor bersama.

-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-

 
Berbicara dan mendengar adalah dua ketrampilan dasar yang kita gunakan saat berinteraksi dengan orang lain. Keduanya sudah kita pelajari sejak kecil, namun ada kalanya kita merasa masih kurang trampil dan berniat untuk mengasah kemampuan tsb agar dapat memperlancar relasi interpersonal kita dengan orang lain.

Jika ingin meningkatkan ketrampilan berbicara, kita tinggal mengikuti training semacam public speaking atau yang sejenisnya, namun berbeda dengan ketrampilan bicara, sangat jarang ada training khusus yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan mendengar, apalagi mendengarkan.

“mendengar” itu berbeda dengan “mendengarkan”.

“mendengar” hanyalah sekedar menangkap suara (bunyi) dengan telinga; sementara “mendengarkan” adalah juga mencakup mendengar DAN memahami, atau bersungguh-sungguh.

 
Mengapa kita perlu ketrampilan mendengarkan?

Pertanyaan menarik… tentunya dengan “mendengarkan”, kita bisa lebih memahami persoalan, memahami topik yang sedang dibicarakan; sehingga kita juga jadi bisa memahami hal-hal apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh orang lain. Kita bisa menjawab pertanyaan secara lebih ‘to the point’, dan menyelesaikan permasalahan dengan lebih baik lagi. Selain itu, ketrampilan ini juga bisa membantu kita membina relasi interpersonal dengan orang lain; kita bisa menunjukkan dukungan yang tepat serta bekerja sama secara lebih lancar.

Ada berbagai cara yang dapat kita lakukan agar bisa mendengarkan dengan baik, diantaranya adalah; menjaga kontak mata dengan lawan bicara; tidak menginterupsi orang yang sedang bicara dan sabar menunggu giliran untuk bicara; menggunakan bahasa tubuh seperti mengangguk, tanda telah mengerti hal yang dibicarakan; serta juga mengulang kembali (menyimpulkan) hal-hal yang telah disampaikan oleh rekan bicara kita, sambil meminta persetujuannya apakah hal yang kita pahami itu memang seperti apa yang ingin disampaikannya.

Namun demikian, tidak selamanya cara-cara di atas dapat dilakukan dengan lancar. Karenanya kita juga perlu mengetahui hal-hal apa saja yang dapat menjadi hambatan dalam mendengarkan. Beberapa di antaranya adalah; adanya prasangka terhadap lawan bicara (yang membuat kita kurang bisa bersikap objektif terhadap apa yang disampaikannya); adanya perbedaan bahasa atau aksen daerah; adanya emosi yang kuat, seperti khawatir, takut atau marah; serta juga kurangnya rentang perhatian kita untuk fokus terhadap suatu diskusi/pembicaraan.

 
Jika kita telah “mendengarkan” dengan baik, maka selain hal-hal di atas dapat kita rasakan, biasanya teman-teman kita pun akan senang berdiskusi dengan kita, senang bertukar cerita, bahkan juga senang curhat pada kita😛

Dan perlu diketahui juga bahwa “mendengarkan” yang baik itu juga berarti tahu kapan saatnya kita berhenti untuk mendengarkan :mrgreen:  [memang sih, kita punya kesediaan untuk “mendengarkan”, tapi bukan berarti kita jadi tempat curahan hati plus omelan dan keluh kesah mereka kan? hehe… kok ikutan curhat?😛 ]

-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%-%- 

 
Kembali ke paragraph pertama di atas, jika itu juga kita alami, kira-kira… apakah betul kita sudah “mendengarkan”?

6 pemikiran pada “sudahkah kita mendengarkan?

  1. “mendengar” itu berbeda dengan “mendengarkan”.
    “mendengar” hanyalah sekedar menangkap suara (bunyi) dengan telinga; sementara “mendengarkan” adalah juga mencakup mendengar DAN memahami, atau bersungguh-sungguh.
    Terus… kalao “dengerin” bedanya apa Mbak???????

  2. kira-kira? …..😀

    kalau yang terdengar hanya suara/bunyi, berarti itu baru tergolong “mendengar”, tapi kalau sudah ada makna-nya berarti sudah “mendengarkan”🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s