Personality Quotient

Pernah dengar istilah Personality Quotient, atau Kecerdasan Kepribadian?

Hmm… sebenarnya ini bukan suatu istilah baru, karena lebih berupa gabungan dari berbagai jenis kecerdasan yang lain, seperti Kecerdasan Intelektual (Intelligence Quotient), dan Kecerdasan Emosi (Emotional Quotient). Bahkan ada pula yang menganggapnya sebagai gabungan dari IQ, EQ, SQ (Social Quotient; atau juga Spiritual Quotient) dan HQ (Humor Quotient).

Secara umum, kecerdasan kepribadian merupakan gabungan dari seluruh pengukuran yang berkaitan dengan unsur-unsur mental manusia.

Setiap orang memiliki potensi bawaannya masing-masing. Mengenal diri sendiri berarti juga mengenal potensi bawaan masing-masing. Orang yang mengenal potensi bawaannya tentunya dapat lebih mudah meningkatkan kecerdasan kepribadian (Personality Quotient). Kecerdasan Kepribadian bukanlah hal yang mudah diukur, namun peningkatan kepribadian ini secara tidak langsung dapat dirasakan dan dilihat melalui keinginan untuk meningkatkan diri secara terus menerus.

Untuk mampu meningkatkan kecerdasan kepribadian (PQ), maka kita perlu menempuh 4 langkah sbb:

  1. Mengenal diri sendiri, dan gaya kepribadiannya; hal ini sudah pernah dibahas sebelumnya disini.
  2. Mengenal orang lain, dan gaya kepribadiannya. Pada dasarnya hal ini juga sama seperti cara kita mengenal diri sendiri, namun dengan pendekatan yang berbeda. (dibahas di kesempatan lain aja yaa…😉 )
  3. Beradaptasi dengan orang lain, yang memiliki gaya kepribadian yang berbeda. Dengan mengenal orang lain, kita bisa lebih memahami mereka, dan mencoba untuk menyesuaikan perilaku kita dengan mereka.
  4. Membangun kerja sama dengan berbagai pribadi yang berbeda-beda. Hal ini adalah langkah lanjut dari point no. 3, karena melibatkan lebih dari 2 orang, dan bertujuan untuk mencapai hasil (kerja) yang lebih baik.

Sebagai kesimpulan sederhana, dengan kecerdasan kepribadian yang baik, kita akan berupaya memahami diri sendiri maupun orang lain, serta mengasah kemampuan kita untuk membina relasi dengan orang lain. Dengan membina relasi yang baik, berarti pula kita mampu berkomunikasi secara tepat terhadap setiap individu yang berbeda-beda.

5 pemikiran pada “Personality Quotient

  1. HQ? SQ? Ah, lama2 urusan hal2 menarik — seperti personality — ini pun harus melibatkan angka2 nggak penting (hihi). Tapi, Nita, personality kan adaptif, flexible, dan … lincah🙂. Jadi gimaan donk? Grafiknya terhadap waktu jadi eksponensial, logaritmik, sunusoidal, suisidal, atau … ?
    Sorry, becanda melulu🙂. Apa kabar?

  2. @ Anis,
    iya, setelah di-posting dan dibaca ulang, berasa garing banget postingan di atas, tapi ya udah kadung diposting😉
    idenya cuma mau bilang bahwa bicara kepribadian, ga cuma ngomongin diri sendiri aja, tapi juga perlu memahami orang lain… tapi kok postingannya jadi gini ya? hehe…:mrgreen:

    @ Koen,
    kabarnya baik2 aja [kalo ga baik, posting ini ga bakal tayang🙂 ]
    Ooh… bicara sama orang eksak, selalu pengen dikaitkan dengan angka dan grafik2 ga penting. Padahal udah berupaya menghindari menulis PQ = IQ + EQ😛

  3. Pa kabar mbak.. –ikutan menyapa seperti mas Koen–🙂
    Kembali ke khitah yaa mbak, posting tentang psikologi. Ditunggu tulisan lainnya **janji di point 2**😀

  4. hehe… udah ada yang nagih, padahal itu cuma ‘statement pancingan’ aja🙂
    iya, balik ke khitah aja dulu… gampang-gampang susah sebenernya, gampang krn udah banyak topik yg nunggu utk jadi tulisan, susah krn kok jadi berasa kuliah lagi ya😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s