klaksonnya cukup 2 kali aja

Kemarin, saat sedang asik nyetir menuju kantor, tiba-tiba ada sebuah mobil sedan yang membunyikan klakson dengan tidak sabar, seolah akan mendahului, atau menyuruh untuk mempercepat laju kendaraan karena mungkin menurut si pengemudi mobil belakang, kecepatan mobil saya terlalu lambat. Mungkin saja dia melihat bahwa jarak mobil saya dengan mobil depan terlalu jauh, sehingga klakson dibunyikan supaya saya lebih mempercepat laju kendaraan.

Sebagai orang yang cukup tertib dengan “car length rule” –yang bilang bahwa ada jarak-jarak tertentu yang harus diikuti jika kita mengendarai mobil dengan kecepatan tertentu– saya tidak terlalu berani membuat jarak dengan mobil depan terlalu dekat. Sebenarnya agak susah juga menerapkan “car length rule” di Jakarta yang tingkat kemacetannya luar biasa ini, sebab orang-orang (khususnya supir kendaraan umum) punya prinsip “fill in the gap”, jadi kalau terus-terusan tertib jaga jarak, alamat lama sampai di tujuan😛

Kembali ke cerita di atas, bunyi klakson mobil belakang itu betul-betul mengganggu dan bikin suasana hati jadi kurang enak. Mau tidak mau saya coba agak mempercepat laju kendaraan, tapi bunyi klaksonnya masih bertubi-tubi, sampai akhirnya mobil itu berhasil menyusul saya dari sebelah kiri, dan melaju dengan cepat, hmm… sangat provokatif. Waktu itu, dengan jalanan yang hanya bisa muat dua mobil, saya memang ada di sebelah kanan, karena di jalur kiri penuh dengan motor. Jadi saya memang tidak berminat untuk memperlambat kendaraan, atau membiarkannya menyusul dari jalur kanan😉

Perjalanan ke kantor masih beberapa km lagi, beberapa saat saya terpikir demikian…

Dalam dunia pekerjaan, terkadang kita juga menjumpai ada rekan kerja yang sudah berada pada “comfort zone”-nya. Mereka cukup baik dalam bekerja, namun kurang ada keinginan untuk lebih meningkatkan hasil yang telah dicapai sebelumnya. Sementara ada kelompok lain yang berisi orang-orang yang punya ide-ide kreatif, selalu ingin maju, dan seringkali menganggap bahwa rekan kerja yang ada di “comfort zone” ini sebagai penghambat, dan enggan bekerja sama dengan mereka.

Yang terjadi adalah semakin orang-orang kreatif ini ingin bergerak maju, mereka semakin merasa dihalang-halangi oleh rekan kerjanya yang sulit berubah. Sementara orang-orang ini pun merasa terganggu karena cara kerja mereka yang biasa seolah harus diubah, padahal mereka sudah mengikuti aturan dan prosedur yang berlaku. Akhirnya, kedua kelompok ini menjadi bersaing dan kadang berusaha menjatuhkan satu sama lain.

Padahal kalau kedua kelompok ini mau berkompromi, misalnya kelompok pertama (dengan orang-orang yang sudah ada di “comfort zone”) mau menjelaskan soal aturan yang berlaku, dan kelompok kedua juga menjelaskan soal ide-ide mereka dengan bahasa yang lebih dipahami, tentunya dua kelompok ini bisa menghasilkan hasil kerja yang lebih baik dan menguntungkan bagi kedua belah pihak. Hubungan yang terjalin pun lebih positif, tidak saling curiga, tidak saling dendam.

——————————–
Jadi…
kalau nglakson, cukup sekali atau dua kali saja… saya juga pasti akan mencoba mempercepat laju kendaraan kok😛

Catatan: Lihat juga komentar mbak Soni disini

16 pemikiran pada “klaksonnya cukup 2 kali aja

  1. ehm.. jujur aja saya termasuk orang yg gak sabaran jika ngeliat mobil di depan saya lambat jalannya. apalagi kalo saya sedang terburu-buru ke suatu tempat. tapi kalo saya sedang dalam kondisi nyantai, gak gitu kok..😀

  2. terlalu lambat jangan, terlalu cepat jangan … sesuaikan saja dengan kondisi jalan. Jangan sampai di jalur cepat bawanya lambat, bikin kesel juga soalnya … alias bikin kagok🙂

  3. Maaf sebelumnya mbak…

    Untuk paragraf yang terakhir, saya merasa kok kurang konkrit gitu ya..😀
    Saya pikir proses tersebut (terasa) tidak begitu mudah. Bahkan, proses tersebut malah bisa membawa ke kondisi saling menjatuhkan yang mbak pratanti sebutkan di atas..

  4. @ Anis,
    sama dong:mrgreen:

    @ Donny Reza,
    setuju😀

    @ moehfi,
    masih kurang konkrit ya?🙂
    Prosesnya memang bukan hal yang mudah. Idenya sebenarnya hanya gini… ternyata disusul dengan cara-cara provokatif itu sangat tidak mengenakkan, padahal kalau caranya baik2, yang mau disusul pasti ngasih jalan…
    Kemarin itu yang terpikir adalah memang kesel kalau lihat ada orang yang tidak sama ritme kerja-nya dengan kita (instead of lambat😛 ), tapi tentunya kita ga bisa begitu saja menyalip atau meninggalkan orang tsb. Akan lebih baik kalau kita ajak kerja sama, kita komunikasikan keinginan kita, dan kita pahami kemauannya… mungkin hasilnya akan lebih baik. CMIIW😀

  5. Salam,
    Iya, sulit memang menerapkan aturan ditengah- tengah situasi yang sudah keluar dari segala macam aturan.
    Seperti yang jalan sendirian jadinya ya.

  6. Menarik membaca klakson cukup 2 kali, apalagi jika dikaitkan dengan bagaimana team bisa berkomunikasi. Kekuatan team terletak pada anggota yang paling lemah,…seberapapun kreatifnya anggota team yang lain, tapi jika ada satu orang yang lemah, maka pencapaian tujuan akan terhambat.

    Demikian juga dengan klakson lebih dari 2 kali, seberapapun si mobil membunyikan klaksonnya, jika mobil didepan kecepatannya tidak diubah, hasilnya tetap sama. Tidak bisa sampai di tujuan secepat yang direncanakan.

    Mungkinkah mobil di belakang “menyalib” sementara mobil di depan memberikan jalan tanpa rasa marah. Tentu saja mungkin. Tergantung bagaimana mobil dibelakang meng”komunikasi”kan kondisi “saya harus buru-buru”, “saya sedang dalam kondisi genting” kepada mobil di depan.

    Semua ada caranya. Kenal dengan sirene kan. Ada sirene ambulance, ada sirene pemadam kebakaran, ada sirine polisi. Anak saya menyebutnya mobil nguing-nguing. Semua jenis sirene tersebut adalah bentuk lain berkomunikasi sesama pemakai jalan. Sirene menyampaikan pesan saya dalam kondisi darurat.. Tolong beri saya jalan…

    Begitu sirene berbunyi, otomatis (kalau tidak macet sekali) mobil-mobil akan minggir memberikan jalan. Kadang kesal, terutama kalau lagi macet-macetnya tiba-tiba ada bunyi sirene. Tapi kesal dan marahnya berbeda dengan diklason berulang-ulang. Sirene pesannya dimengerti dengan jelas. Kadang malah senang, karena bisa ambil kesempatan ikutan di barisan belakang.

    Jadi menurut saya, tergantung bagaimana menyampaikan pesan (baca :komunikasi) sehingga orang lain bisa mengerti pesan yang disampaikan. Klason lebih dari dua kali tidak menyampaikan pesan yang jelas, sehingga mobil di depan akan marah. Anggota team yang sudah berada di comfort zone juga akan marah jika pesan yang diterima ibarat klason berulang-ulang.

    Sirene menyampaikan pesan bahwa ada kondisi darurat, saya harus mendahului anda SEGERA. Orang di depan akan memberi jalan (baca: memberi dukungan) agar si ambulance, pemadam kebakaran atau mobil polisi bisa segera menjalankan tugas mereka. Jika anggota yang sudah berada di comfort zone diberikan”sirene” dengan tepat, dia akan mendukung pencapaiannya.

    Jadi komunikasikanlah dengan tepat tujuan dan kepentingan anda, agar orang lain bisa mendukung dengan tepat juga,.. jangan seperti klason yang berulang-ulang. SD (080209)

  7. wahhh kebetulan sekali..sedikit connect sm tulisan saya..:)
    saya biasanya akan mengklakson 3 kali tp panjaaaaaang2…
    klo nggk ngerti juga…saya pepet..hehehe..🙂 pasti cewe c…heheheeee..
    soal korelasinya…saya mah asik2 ajah…saya kan suka me’mepet’…tapi saya belum kepikiran utk ganti suara klakson saya jd sirine…:)

    salam kenal😀

  8. waa… dewasa ya? padahal ini content untuk semua umur lho…😆
    anyway, terimakasih… komentarnya saya anggap sebagai doa, semoga saya bisa lebih profesional dalam bekerja.
    salam kenal kembali🙂

  9. Salam kenal🙂
    Iya…saya setuju kok! Tapi dengan catetan kalau yang didepan ngerespon….kalau nggak saya akan pencet beberapa kali sampai dia ngeresepon. Bener begitu mbak?

  10. ngerespon itu juga bisa macam-macam, bisa mempercepat, memberi jalan, bisa juga malah memperlambat.
    Nah respon yang terakhir itu yang akan saya lakukan kalau udah diklakson berulang-ulang, kalau memungkinkan malah saya tiba-tiba berhenti, pura-pura mogok😆
    hehe… itu namanya pasif agresif…

    salam kenal juga, thx udah mampir🙂

  11. wah memang repot itu, kadang kita diposisi yang diklakson tapi bisa juga diposisi yang nglakson. jadi tergantung sikon mau nglakson berapa kali, mau kasih jalan atau enggak. hehehe egois bener yaaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s