antara kagum dan miris

Suatu sore di seputaran halaman Museum Fatahillah, Kawasan Kota Tua Jakarta, ada sebuah atraksi yang sedang digelar. Sebuah kesenian tradisional yang biasa dikenal dengan ”kuda lumping” sedang digelar disana. Pertunjukan yang diiringi dengan beberapa perangkat tetabuhan serta alat musik tradisional ini beranggotakan sekitar 10-15 orang. Beberapa orang bertugas memainkan musik, ada yang bertugas mengumpulkan ”sumbangan” dari orang-orang yang menonton, serta ada beberapa pemain utama yang melakukan berbagai atraksi sepanjang pertunjukan.

Kesenian kuda lumping memang selalu memikat banyak orang. Entah karena bunyi suara pecutan yang kerap menggema sepanjang pertunjukan, atau mungkin juga karena atraksi-atraksi mendebarkan yang mereka bawakan. Salah satu atraksi yang dipentaskan adalah atraksi semburan api. Semburan api yang keluar dari mulut para pemain diawali dengan menampung bensin di dalam mulut mereka lalu disemburkan pada sebuah api yang menyala pada setangkai besi kecil yang ujungnya dibuat sedemikian rupa agar api tidak mati sebelum dan sesudah bensin itu disemburkan dari mulutnya.

mirisRombongan pemain kuda lumping ini memang tampak seperti berasal dari suatu daerah yang sama, atau mungkin juga mereka saling bersaudara. Tak heran jika beberapa anggota keluarga terlibat di dalam petunjukkan tersebut. Sang ayah bertugas sebagai pawang yang mengendalikan acara, kemudian anak-anak (laki-laki) yang sudah besar menjadi pemain utama, anak perempuan sebagai pengumpul ”sumbangan”. Sementara itu ada pula beberapa anak yang lebih muda usianya bermain-main di sekitar mereka.

Ternyata anak-anak kecil ini tak hanya sekedar bermain atau berlari-larian di seputar area pertunjukan, namun mereka pun mahir meniru, termasuk pula dalam meniru atraksi semburan api. Hmm… entah apa yang ada di pikiran penonton, saya tak sanggup berkata apa-apa…

Atraksi yang biasanya mengundang decak kagum, saat itu sepertinya sempat hening, ya… atraksinya memang lebih mengundang rasa miris penonton.

4 pemikiran pada “antara kagum dan miris

  1. kayaknya rata-rata memang keluarga-keluarga yang profesinya seperti itu (termasuk mungkin keluarga sirkus juga), keahliannya sudah diajarin dari kecil.
    yah anggap aja sebagai profesi entertainment seperti musisi keliling (meski lebih berbahaya)
    hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s