tak ada kata terlambat

“Engkaulah matahari Firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara
Kau hadir dengan ketiadaan
Sederhana dalan ketidakmengertian
Gerakmu tiada pasti
Namun aku terus di sini
Mencintaimu
Entah kenapa”

aah…. 
belum tamat kata pengantar terbaca,
kecanduan itu langsung terasa
rindu akan olahan kata
yang terangkai dalam indahnya prosa

entah dilema atau keterbatasan upaya
yang terus menghalangi
serta membuat seribu satu alasan
untuk tetap terpana
diam dan terus berharap

masa lalu memang tak bisa diraih kembali
tapi tak akan ada hasil tanpa kerja
juga tak ada rasa tanpa karsa akan karya
di setiap masa yang terlalui

…..

seorang bijak berkata,
membaca untuk menulis,
mendengar untuk menyampaikan…
semoga bisa terlaksana

“Ajarkan aku,
Melebur dalam gelap tanpa harus lenyap
Merengkuh rasa takut tanpa perlu surut
Bangun dari ilusi namun tak memilih pergi”

_________________

Bukan suatu kebetulan….
“Inteligensi Embun Pagi” by Dee Lestari

Iklan

Metropolis

metro_cover_by_angin_kering

Setelah lama tidak membaca novel-novel yang bernuansa kriminal, membaca novel ini seperti minum air di tengah gurun, pelepas dahaga di tengah kehausan 😛

Sekilas review:

Sebuah pemaparan yang gamblang tentang sepak terjang kehidupan antar geng pengedar narkoba di Jakarta ditulis secara apik oleh Windry Ramadhina. Dengan gaya bahasa yang lincah, Windry berhasil membawa suasana konflik, narkoba, perang antargeng, mafia, dan mengemasnya menjadi sesuatu yang enak dibaca.

Bercerita tentang suasana lingkungan Jakarta abad 21 ini, mulai dari keadaan kota sampai dengan kesibukan orang-orang yang ada di dalamnya, Metropolis menjadi sebuah buku yang tidak sulit dicerna, dan dapat membawa imajinasi pembaca melayang membayangkan peristiwa yang terjadi layaknya sebuah film dokumenter. Tak hanya itu, Windry pun mampu membungkus tokoh-tokohnya dengan sebuah nuansa konspirasi menarik, yang menjadi salah satu andalan dari novel ini. Strategi konspirasi yang melibatkan “orang-orang penting”, yang seringkali juga membutuhkan tumbal yang tidak sedikit jadi menggugah ingatan akan maraknya kasus-kasus serupa yang terjadi di negara ini. Pertentangan kepentingan di antara para tokoh yang berpengaruh serta akal bulus antek-anteknya membuat kondisi yang terjadi semakin kompleks.

Sebagaimana layaknya cerita-cerita kriminal lain, Metropolis pun dikemas dalam alur cerita yang penuh konflik. Tidak ada yang benar-benar hitam, atau pun benar-benar putih, semua adalah kombinasi di antara keduanya, perpaduan antara kelicikan dan kesetiaan. Persahabatan, konspirasi, dan pembalasan (baik balas budi maupun balas dendam) menjadi sesuatu yang kerap ditemui dalam novel ini.

Buat saya, novel ini cukup membuka wawasan tentang sisi lain dari sebuah kota metropolitan. Tutur kata sederhana yang meramu organisasi kejahatan dan bisnisnya, serta intrik-intrik yang ada di dalamnya berhasil membangun visualisasi nyata tentang kehidupan gelap kota Jakarta. Di sisi lain, aparat keamanan pun turut digambarkan secara tidak berlebihan, tapi tetap bisa mencerminkan wajah kepolisian Indonesia saat ini. Kepolisian tidak hanya digambarkan sebagai sebuah lembaga penegak hukum biasa, tapi juga lengkap dengan konflik-konflik di dalamnya. Hal ini menyadarkan kita bahwa hampir tak ada yang sempurna di dunia ini. Setiap lembaga (mulai dari keluarga – sebagai lembaga sosial terkecil – sampai dengan organisasi dalam lingkup negara atau dunia) selalu diwarnai dengan perpaduan antara baik dan buruk, antara yang benar dan yang salah.

Cerita tentang Chronic Myelogenous Leukimia, ikut memperkaya khasanah pengetahuan tentang jenis penyakit leukimia yang ada di dunia. Bagian ini juga menjadi salah satu hal yang unik dalam novel tersebut. Kondisi pasien, gejalanya, cara-cara mendiagnosa serta bagaimana mencegah timbulnya serangan penyakit ikut dijelaskan secara sederhana di novel ini. Menarik…

Meskipun belum sejajar dengan novel-novel karya Dan Brown, ataupun novel-novel kriminal Agatha Christie, namun novel karya Windry ini sudah mengindikasikan niat ke arah sana. Alur ceritanya cukup cepat, namun masih belum konsisten. Terkadang ritmenya sangat cepat sehingga menimbulkan rasa penasaran untuk terus membuka halaman demi halaman, dan tidak memberi jeda antara satu bab dengan bab berikutnya. Namun pada beberapa bab lain, ritmenya melambat sehingga memungkinkan kita untuk berhenti sejenak, seperti sebuah sinetron yang sekedar menggantungkan cerita, layaknya membuat bunga-bunga yang hanya berfungsi untuk mempermanis jalan cerita.

Terakhir, sebagai novel dewasa, karya Windry ini patut diperhitungkan sebagai karya pengarang Indonesia (muda) yang cukup berbobot dengan ditunjang oleh riset detil tentang seluk beluk kehidupan dari tema cerita yang ditulis. Ketelitian Windry menyusun lembar-lembar perjalanan hidup para tokoh utama Metropolis menunjukkan keseriusannya dalam menggarap novel ini. Brillian ! 😀

Perjuangan anak seorang gangster

yakuza-moon1Yakuza Moon, buku yang tidak terlalu tebal ini berhasil dilahap dalam tempo beberapa jam saja. Hmm, ternyata ketrampilan baca masa lalu masih bisa diterapkan juga sampai saat ini. “alah bisa, karena biasa”, kalau suatu kegiatan memang sering dilakukan (apalagi kita menyenangi kegiatan tsb), maka sampai kapan pun kita akan bisa menyelesaikannya dengan cepat, tepat dan memuaskan 😀

Berbekal keingintahuan tentang dunia yakuza, dan kehidupan masyarakat Jepang pada umumnya, akhirnya buku ini ter-ambil juga dari deretan buku-buku di Gramedia. Namun sesampainya di rumah, buku ini masih menunggu antrian untuk dibaca (hobby “koleksi buku” memang suka lebih mendominasi dibanding “baca buku” 😛 ). Minggu lalu, buku ini akhirnya terpilih menjadi buku yang menemani perjalanan Bandung-Madiun (pp), akhirnya…

Apa saja yang menarik dari buku ini?

Pertama, kejujuran Shoko menceritakan semua pengalaman masa lalu-nya. Dia bercerita apa adanya, tergambar jelas ketegaran hatinya, keras kepalanya, dan juga sisi kelembutan seorang wanita. Ceritanya tentang kekerasan yang terjadi dan yang ia alami terkesan elegan, tidak mengiba dan juga tidak sarkastis. Meskipun kata-kata yang digunakan sangat gamblang, tapi entah kenapa, saat membacanya sama sekali tidak terkesan kasar.

Kedua, sikapnya yang pantang menyerah juga tampak dari tulisannya di buku ini. Berkali-kali dia mengalami “jatuh-bangun” dalam kehidupannya, tapi tidak tampak kesan putus asa. Mungkin saja hal itu bisa terjadi pada saat dia menjalani kehidupannya tsb, namun banyak cerita lain yang lebih menunjukkan ketegaran, kekuatan dan tentu saja semangat untuk hidup dan berubah menjadi orang yang lebih baik.

Ketiga, keberanian Shoko yang mengagumkan! Mungkin juga karena dia adalah anak dari seorang yakuza, yang tidak mau diremehkan begitu saja oleh lingkungan, sangat menjunjung tinggi harga diri, dan tetap berpegang pada nilai-nilai tradisi ke-timur-an.

Hal lain, tatoo yang dia miliki memang indah. Tubuhnya seolah menjadi kertas polos yang lalu dilukis dengan gambar jepang yang menawan. Meskipun saya juga ga mau ada lukisan yang tergambar di tubuh diri sendiri, namun tidak dipungkiri bahwa tatoo-nya Shoko memang indah *tergantung selera, kali yaa… :mrgreen: *

Sebenarnya, dari cerita Shoko, saya lebih banyak mencerna tentang makna kehidupan dari sudut pandang wanita Jepang. Pemaparan mendalam ditulis dalam kalimatnya:

Bukan kulit luar yang penting, tetapi bagaimana menjadikan pengalaman kita sebagai sesuatu yang terbaik bagi jiwa kita. Aku tak peduli berapa lama dibutuhkan, jika aku bisa mewujudkannya dengan tetap berpegang pada apa yang kuyakini, aku percaya bahwa kebahagiaan sejati sedang menantiku. Kupikir, jawaban terhadap bagaimana menjalani kehidupan selalu ada di dalam diriku, dan aku hanya perlu melakoninya dalam keseharian.

Ya, keberhasilan maupun kegagalan sebenarnya bersumber dari bagaimana kita menjalani kehidupan ini, dan keduanya bukanlah akhir dari segalanya. *Daleeemmm…. 😀 *

Kaitan cerita Shoko dengan yakuza, lebih jelas terungkap dari tulisan Manabu Miyazaki, di bagian akhir dari buku ini. Dari situ saya baru memahami bahwa ternyata apa yang dialami Shoko amat sangat berat, lebih berat dari kesan yang saya baca di tulisannya pada bagian-bagian awal. *hal yang biasa terjadi pada saat membaca novel, kita seolah membuat skenario sendiri terhadap apa yang kita baca 😀 *

Sebagai novel terjemahan, buku ini dikemas dengan sangat baik. Thanks to Gagas Media yang memiliki tim yang hebat, yang sudah mau menerbitkan buku ini. Thanks juga buat sang editor, Wiendy Ariestanty yang membuatnya menjadi bacaan yang menarik dengan bahasa sehari-hari namun tetap menjaga formalitas-nya. Membaca buku ini seolah-olah membaca tulisan pengarang Indonesia, sehingga setting ceritanya pun bisa dinikmati seperti sebuah film yang berputar di bioskop dalam kepala kita :mrgreen:

Petite Histoire Indonesia

Ini adalah salah satu buku yang sangat mengasikkan untuk dibaca. Buku yang terdiri dari berbagai kisah tentang Indonesia ini benar-benar membuat saya merasa sayang kalau hanya membacanya selintas saja. Kalimat demi kalimat yang terangkai membawa kita seakan ikut berada di situasi saat itu. Kisah-kisah dalam buku ini menggambarkan cuplikan kecil sejarah bangsa Indonesia, dan membuat saya berpikir… kehidupan bangsa ini tidak akan seperti sekarang jika sejarah berkata lain.

Ditulis oleh seorang jurnalis, kita bisa memahami bahwa gaya bahasa Rosihan Anwar amat sangat komunikatif. Jadi ingat pertemuan dengan RA tahun lalu, beliau masih sangat energik meskipun usianya bisa dibilang sudah tidak muda lagi. Mungkin kebiasaannya menulis dan membaca membuat beliau terus bersemangat seperti itu. Sangat mengagumkan!

Rosihan Anwar menuliskan kembali sejarah-sejarah kecil tentang Indonesia, berdasarkan studi literature, dari buku-buku yang tersimpan di perpustakaan manca negara. Kita seolah ikut memahami bagaimana pemikiran orang asing tentang Indonesia pada saat jaman penjajahan dulu. Kita juga bisa mengikuti pengalaman RA saat meliput peristiwa-peristiwa sejak jaman Soekarno, sampai dengan Megawati. Buku ini memang ditulis tahun 2004, jadi belum ada cerita tentang SBY 🙂

RA juga menulis sejarah kecil bangsa Indonesia ini mulai tentang Aceh sampai Papua, membawa kita pada pemahaman bahwa kita memang terdiri dari berbagai suku bangsa, namun punya perasaan yang sama bahwa kita adalah orang Indonesia.

Ada dua hal yang ingin saya catat disini:

Kutipan dari Sutan Sjahrir tentang Soekarno (h.124), “Apa pun kritik kita kepada Soekarno, kita tidak boleh lupa bahwa dialah yang mempersatukan kita sebagai bangsa. Itulah jasanya”.

Penjelasan Dr. Cipto Mangunkusumo bahwa bangsanya menginginkan kemerdekaan (h.203), “Kebebasan tidak diperoleh manusia atau bangsa sebagai kado. Siapa yang ingin memilikinya harus berjuang untuk itu. Apa yang terjadi atas diri kami sudah diperkirakan. Mereka yang mengejar-ngejar kami membuat hidup kami lebih sulit. Makin berat makin bagus. Itu akan membuat jalan lebih pendek. Kami sudah berjalan dan ingin menempuhnya bersama bangsa kami”.

Di buku ini RA juga menyinggung bahwa, apa jadinya perasaan pendahulu bangsa kita jika mengetahui bahwa saat ini seringkali sentimen kedaerahan menjadi alasan memperdebatkan sesuatu yang hanya menguntungkan sebelah pihak saja.

Hari ini, bertepatan dengan peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, serta setelah beberapa hari menamatkan buku yang menarik ini, ternyata I’m proud to be Indonesian.

novel kedua

sebagai kelanjutan dari buku sebelumnya –yang berakhir hanya dengan sebuh titik tanpa tanda-tanda apakah masih ada kelanjutannya atau tidak– novel ini juga mempunyai gaya penulisan yang sama.

Novelnya berawal dari cerita sang kakek yang keturunan Kyai Mojo di Minahasa kepada Ratnaningsih, sang jurnalis; dan berakhir dengan situasi saat Perang Jawa akan dimulai. Dan… sama seperti yang pertama, di akhir novel ini pun tidak ada secercah tanda-tanda apakah novel sudah berakhir, atau masih akan disambung dengan novel-novel berikutnya lagi. Tapi sebagaimana layaknya sejarah, ceritanya tidak akan pernah berakhir, paling tidak selama si pelakon masih ada, ceritanya masih akan berlanjut 🙂 – itu hanya sebuah pembelajaran 😉

Menyimak novel kedua ini, rasanya jalan cerita lebih lambat dibandingkan novel pertama. Tidak terlalu banyak pula ungkapan-ungkapan menarik dan inspiratif yang terkandung di dalamnya. Mungkin bukannya ‘tidak banyak’, tapi butuh penghayatan yang lebih dalam untuk mencerna rangkaian kata-kata sastra dari sang pengarang.

Seperti gambarannya tentang alam Tegalrejo seusai hujan lebat semalaman,

Dan, nanti setelah matahari datang, semuanya jadi indah, pohon-pohon yang daunnya menjadi bersih oleh hujan, serta kesadaran dalam hatinya untuk melihat tanah airnya yang dianugrahkan Tuhan kepada bangsanya ini adalah bumi tempatnya mempertanggungjawabkan kehidupan.

Bisa terbayang indahnya alam yang habis “dicuci” oleh hujan, wangi tanah dan daun-daun yang baru tumbuh, dan itu semua seolah juga “mencuci” jiwa dengan kesadaran akan tanggung jawab sebagai seorang individu 😛

Di buku kedua ini, tidak banyak pula asal-usul istilah kata-kata serapan Indonesia yang dibahas. Ceritanya pun lebih banyak menggambarkan sepak terjang Danurejo IV, politik devide et impera serta praktek-praktek korupsi yang ternyata sudah berlangsung dari jaman dulu kala.

Sebagai novel sejarah, buku ini mungkin tergolong ‘ringan’, namun sebagai karya sastra Indonesia modern, buku ini tetap menarik untuk dibaca. Itu juga yang membuat halaman demi halaman, kalimat demi kalimat yang ditulis rasanya sayang kalau hanya dilewati tanpa penghayatan yang lebih dalam.

Seribu-Buku – sampai dimana kepedulian kita?

Saat ini, ada 2 gerakan yang saya ketahui, yang sama-sama bertajuk “Seribu-Buku”. Keduanya sama-sama mengajak kita untuk mau berbagi dan peduli terhadap mereka yang sulit mendapatkan akses terhadap buku-buku, yang saat ini masih menjadi “barang mahal” di negeri ini.

Yang pertama, Gerakan “Seribu Buku Untuk Tunanetra” – Kegiatan yang diprakarsai oleh Yayasan Mitra Netra ini berawal dari keprihatinan yang mendalam atas minimnya ketersediaan buku untuk tunanetra di Indonesia, yang sangat tidak sebanding dengan pesatnya perkembangan dunia literasi dewasa ini. Sejak dimulainya gerakan ini, Mitra Netra mengundang masyarakat luas berpartisipasi, untuk mempercepat akses tunanetra ke dunia literasi.

Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengundang masyarakat luas untuk menjadi relawan, dengan membantu mengetik ulang buku-buku populer. Semua file yang diterima akan diolah menjadi file berformat Braille, untuk kemudian dicetak menjadi buku Braille dengan mesin Braille embosser. Kemudian buku-buku Braille tersebut didistribusikan melalui layanan perpustakaan Braille on line agar dapat dinikmati oleh tunanetra di seluruh Indonesia.

Dengan partisipasi masyarakat melalui gerakan Seribu Buku Untuk Tunanetra, Mitra Netra telah berhasil memangkas sebagian besar waktu dan biaya yang dibutuhkan guna memproduksi buku Braille. Ini juga berdampak pada makin cepatnya tunanetra mendapatkan buku.

Yang kedua adalah “Gerakan (Kumpul) Seribu Buku” – Gerakan ini didasari oleh fakta bahwa harga buku yang makin melambung, sedangkan daya beli makin menurun. Di sisi lain, mungkin saja terjadi bahwa buku yang sudah terbaca mulai menumpuk dan kekurangan tempat.

Kegiatan yang (setahu saya) baru di-launch minggu lalu ini mengajak masyarakat (terutama para blogger) untuk mengumpulkan buku-buku yang akan disalurkan lagi kepada perpustakaan daerah dan diharapkan nantinya masyarakat sekitar perpustakaan itulah yang akan melanjutkan pengelolaannya.

Gerakan yang kedua ini langsung mendapat banyak dukungan dari para blogger, paling tidak dalam mempublikasikannya. Dan seperti yang diungkapkan oleh mas Iman, sebaiknya ada pemetaan target sasaran penerima buku sehingga tidak ada buku yang mubazir tidak terbaca. Jadi, perlu pertimbangan juga dalam menyumbang buku, agar buku-buku itu bisa bermanfaat bagi yang membaca 🙂 bisa tepat guna, tepat sasaran.

Sekarang, kembali pada kita sendiri, apa yang dapat kita lakukan untuk membantu mereka yang sulit mendapatkan akses terhadap bahan-bahan bacaan penambah wawasan dan pengetahuan.

Mengutip kata-kata mas Iman, “tak ada yang lebih menyenangkan bisa berbagi dengan sesama.”

sebuah novel tentang novel

Buku bernuansa merah yang tertata di deretan rak “sastra” mulanya tidak terlalu menarik perhatian, namun setelah diamati ternyata buku itu karangan Remy Sylado, seorang pengarang yang hasil karyanya seringkali menarik untuk dibaca 🙂 Buku yang berjudul “Novel Pangeran Diponegoro” dengan sub judul “Menggagas Ratu Adil”, akhirnya menjadi salah satu buku yang saya pilih sebagai bahan bacaan di akhir minggu.

Pangeran Diponegoro selalu mengingatkan saya dengan Perang Jawa yang berlangsung 5 menit di waktu maghrib, sebuah analogi yang gampang sekali diingat, tahun 1825 sampai 1830. Selain asalnya beliau dari Tegalrejo, ingatan saya tentang Pangeran Diponegoro memang hanya sampai disitu. Hmm… sepertinya pelajaran sejarah jaman SD tidak terlalu banyak menempel lagi sekarang… 😦

Sebagai novel karangan Remy Sylado, novel ini juga sarat dengan imajinasi pengarang tentang kondisi dan situasi di jaman penjajahan Belanda di seputaran Yogyakarta pada akhir abad 18. Gambaran detil tentang tokoh-tokoh cerita, serta situasi lingkungan Yogyakarta dan Tegalrejo betul-betul membawa pembaca seakan-akan ikut berada di tempat yang sama. Selain itu, tutur kata-kata indah yang menggambarkan situasi alam Indonesia turut menambah keindahan yang diceritakan.

Pemikiran-pemikiran Pangeran Diponegoro pun digambarkan dengan cukup apik, diantaranya tentang perbedaan pemikiran bangsa Indonesia (Timur) dan bangsa Eropa (Barat);

Kita memang berbeda, pikiran Timur dan pikiran Barat tidakkan mungkin sama… barat adalah tempat tempat matahari terbenam, timur tempat matahari terbit. Terbenam berarti akhir, terbit berarti awal.
Di saat matahari terbenam, ada rasa waswas, gamang, dan takut karena sebentar lagi gelap, dan di dalam gelap bisa terjadi kejahatan-kejahatan, tempat merajalelanya kekuasaan iblis.
Sedangkan di saat matahari terbit, ada rasa lega, senang, nikmat, sebab terang akan memberi pengharapan terhadap arti kehidupan baru, tempat hadirnya keyakinan akan kemahakasihan Tuhan.
… biarlah Timur tetap timur, dan Barat tetap barat.

pemikirannya tentang kehidupan;

Hidup memang tidak selalu sederhana-sederhana saja. Sebab, kalau semuanya sederhana, lancar, mulus, niscaya tidak bakalan ada tantangan yang membuat manusia tergembleng untuk menjadi mustaid, sempurna, sidi.

serta pandangannya tentang kesalahan kepemimpinan;

… kebenaran pada satu pihak dapat berarti kesalahan pada pihak lain … kita tidak pernah melihat kesalahan orang lain sebagai akibat kesalahan kita.
Pemimpin tidak sepatutnya menyalahkan orang yang dipimpinnya tanpa melihat kesalahannya sendiri.

Novel ini juga penuh dengan kosakata Bahasa Indonesia yang tidak sering dipakai sehari-hari, seperti misalnya leluri, makzul, arkian, masygul, dll. Ungkapan-ungkapan bahasa Jawa, serta bahasa Belanda, Inggris dan Perancis —sebagai negara-negara yang punya peranan dalam masa penjajahan pada akhir abad 18— juga ikut mewarnai novel ini.

Sebagai sebuah novel yang juga bertitel ”novel”, maka buku ini tidak melulu bercerita tentang sejarah, tapi juga berisi tentang pemikiran, pandangan hidup dan nilai-nilai kemanusiaan. Mungkin lebih tepat disebut sebagai sebuah fiksi sejarah.

Dan sebagai karya Remy Sylado, bagian-bagian awal novel selalu menarik untuk disimak, sementara menjelang akhir cerita biasanya keinginan pengarang berbeda dengan dugaan pembaca (maksudnya: saya) :mrgreen: