hari gini, menulis halus?

handwriting

Membaca tulisan Yeti di FB kemarin,

Belajar menulis huruf sambung ….? Apa pentingnya sih?
Jaman sudah modern, bisa mengetik pakai komputer, buat sms tinggal pijit, ngapain juga mesti belajar nulis huruf sambung?

Langsung teringat masa pelajaran SD bertahun-tahun yang lalu, pelajaran “menulis halus” dengan menggunakan pena di buku tulis bergaris tiga. Sebuah pelajaran yang menyenangkan karena tidak banyak berpikir, dan lebih mengandalkan ketekunan untuk mengatasi kejenuhan menulis kalimat yang sama, … satu halaman penuh !  🙂
Di era milenium sekarang ini, apa perlunya sih?
Anak-anak sudah lancar membaca, bahkan mengetik di komputer, apa pentingnya menulis halus?

Simak lagi lanjutan tulisannya…

Dari sudut pandang Sensory Integration, handwriting atau menulis dengan tangan menggunakan pensil atau bolpen adalah kegiatan kompleks yang melibatkan integrasi sensori. Visual, tactile (sentuhan), proprioseptif (motorik halus). Menulis dengan tangan mengkoordinasikan seluruh sensori sehingga menyeimbangkan otak. Kesulitan atau bahkan kegagalan dalam melakukan integrasi sensori pada anak usia SD akan berpengaruh pada kemampuan berkonsentrasi, kendali emosi dan gangguan kecemasan.
Dari sudut pandang Grafologi, handwriting adalah ekspresi dari gambaran diri, antara lain kemampuan mengendalikan emosi dan dorongan.

Ah, rupanya itu manfaat dari menulis halus….

Pada saat mengikuti pelajaran tersebut waktu kecil, rasanya kita juga sulit memahami kenapa kita harus mempelajarinya. Meskipun dulu kita tidak mempertanyakan kenapa pada saat menarik garis ke atas harus lebih tipis, sementara lebih tebal saat menarik garis ke bawah… hmm, ternyata masih ingat juga tekniknya 😛
Tanpa disadari, kita dilatih untuk berkonsentrasi, melatih kepekaan perasaan kita juga.

Selain itu,

Ketika kita menarik garis lurus, maka kita merasakan dorongan yang sifatnya lugas, tegas dan rasional. Sementara ketika kita menarik garis lengkung, maka kita merasakan kehalusan, kelenturan dan emosi. Atau dengan kata lain garis lurus berbicara sesuatu yang logis dan rasional, sementara garis lengkung berbicara tentang perasaan. Tulisan sambung melakukan koordinasi keduanya, tidak seperti tulisan cetak yang minim garis lengkung.

Ternyata manfaat menulis halus (menulis dengan menggunakan huruf sambung) akan banyak dirasakan dalam jangka panjang. Yeti pun mengatakan bahwa bagi mereka (anak-anak) yang kurang mendapatkan kesempatan untuk menulis halus, perasaanya menjadi kurang peka dan berkurang pula kemampuan hubungan sosialnya. Mereka lebih sibuk berkompetisi daripada berpikir untuk membantu orang lain…

Kalau itu untuk anak-anak, bagaimana dengan orang dewasa? Masih ada pentingnya kah untuk menulis halus?

Menurut saya, bagi orang dewasa, menulis halus bukan lagi yang menjadi prioritas utama. Materi atau isi tulisan, yang mencerminkan bagaimana seseorang itu berpikir atau berpendapat itulah yang lebih utama, dibandingkan dengan caranya mereka menulis (dengan tulisan tangan, maupun dengan cara mengetik). Namun, berkaitan dengan kepekaan perasaan, tentu tidak ada salahnya jika kita tetap melatih kemampuan kita dalam menulis halus 😆

Satu hal lagi, yang juga perlu diingat adalah menulis halus bukan hal mutlak yang berpengaruh terhadap kurangnya kepekaan maupun hubungan sosial seseorang. Masih ada hal-hal lain yang membuat seseorang menjadi kurang peka atau kurang dapat membina relasi sosial dengan baik, hanya saja hal ini bisa dijadikan salah satu faktor yang perlu diperhatikan terutama bagi anak-anak.

Iklan

perubahan iklim?

Postingan ini ditulis sebagai salah satu bentuk partisipasi pada Blog Action Day yang jatuh pada tanggal 15 Oktober. Tema yang diangkat pada tahun ini adalah mengenai perubahan iklim (climate change).

Kadang saya melihat isu perubahan iklim ini lebih sebagai suatu wacana yang ada di awang-awang, di luar pemahaman saya sebagai orang yang masih sangat awam soal lingkungan hidup.

Hal-hal seperti pemanasan global, efek rumah kaca, menipisnya sumber daya air, dan berbagai isu perubahan iklim lain yang memang saling berkaitan itu seakan berada di luar kegiatan kita sehari-hari. Sepertinya informasi tersebut hanya sekadar pengetahuan belaka tanpa dapat dikaitkan langsung dengan aktivitas masyarakat yang lebih luas.

Contohnya, kita tahu bahwa bahan jumlah air tanah khususnya di kota-kota besar semakin berkurang, namun kegiatan pembangunan perumahan atau jalan tetap giat dilaksanakan dan bahkan mengambil area daerah-daerah hijau yang tadinya merupakan daerah resapan air. Akibatnya, untuk bisa mendapatkan air tanah yang baik dan jernih, perlu digali sumur yang sangat dalam.

Perubahan iklim sebenarnya cukup luas dampaknya, termasuk juga dengan fenomena banjir yang makin sering terjadi akhir-akhir ini. Kalau dipikir, banjir tidak hanya terjadi karena adanya pemanasan global yang membuat es di kutub utara mencair, sehingga volume air di bumi makin banyak; namun secara sederhana kita tahu bahwa banjir terjadi karena saluran-saluran air di jalan-jalan sudah tidak menampung banyaknya air hujan yang turun, karena tersumbat oleh sampah-sampah yang dibuang sembarangan oleh para pengguna jalan. Memang hal ini bukan sebuah sebab-akibat sederhana, namun jika kebiasaan tsb terus dilakukan, bukan hal yang aneh kalau selokan-selokan jalan, sungai-sungai yang melintas di perkotaan menjadi sebuah tempat sampah raksasa dan menghambat aliran air/sungai.

Dari hasil pengembaraan di ranah virtual, mencari informasi tentang topik perubahan iklim ini, ada sebuah ungkapan yang menyatakan seperti ini … “dunia lebih banyak memperdebatkan upaya apa yang harus dilakukan untuk mencegah bumi dari kehancuran, ketimbang melakukan aksi nyata.” Secara sederhana, saya juga merasakan hal yang sama… kita mengetahui atau banyak berdiskusi soal “let’s go green” dsb, namun sudahkah kita melakukan sesuatu untuk mengatasi bahaya perubahan iklim guna mencegah bumi dari kehancuran? Diskusi soal ini seringkali hanya menghasilkan wacana indah dan menarik, namun kadang tidak sampai pada tahap implementasi dan berakhir begitu saja.

Mungkin belum terpikir oleh kita bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita lakukan dapat pula berdampak pada perubahan iklim. Membuang sampah pada tempat yang telah ditentukan, menggunakan sumber daya (misalnya air, listrik, dsb) sehemat mungkin, membawa kantong sendiri saat berbelanja (dan tidak menggunakan kantong plastik), dsb sebenarnya dapat berpengaruh terhadap kerusakan lingkungan yang lebih parah lagi.

Bahkan menghabiskan makanan yang ada di piring makan kita, secara tidak langsung ada pula pengaruhnya 😉 Awalnya, saya juga tidak terlalu paham, tapi sebuah penjelasan yang masuk akal telah membantu pemahaman saya. Seandainya saja makanan yang kita sisakan di piring makan itu dikumpulkan, mungkin jumlahnya pun hanya sekitar setengah sendok makan saja, namun berapa banyak energi yang telah dikeluarkan untuk menghasilkan nasi yang setengah sendok makan tsb? Berapa banyak air yang dikeluarkan untuk mencuci beras, dan berapa banyak listrik yang dipakai untuk memasaknya? … dan silakan dikalikan jumlah orang makan selama satu bulan, hmm… 🙂 dan itu adalah yang terbuang percuma…

Mungkin sebelum kita bicara soal perubahan iklim, kita perlu bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita menyayangi lingkungan di sekitar kita?

menjadi yang terbaik

merasa tertohok dengan postingan-nya Diki disini (selentingannya si ayam kadang bikin senyum2 miris), akhirnya terbit juga artikel ini… sekedar intermezzo dari hiatus selama……… (hmm, sampai lupa lagi tanggal berapa posting artikel terakhir 😛 )

tidak mudah untuk mulai kembali menulis, seakan ide-ide tidak ada yang mau muncul ke permukaan; atau kalau pun sempat muncul, tiba-tiba lenyap dan seakan tak menarik lagi untuk ditarikan bersama jari jemari di atas papan keyboard 😀

Ide tulisan ini kebetulan muncul saat mengamati berbagai perbincangan dengan berbagai macam topik di berbagai media yang muncul akhir-akhir ini. Mulai dari yang “berat” seperti berita soal hubungan luar negeri RI-Malaysia akhir-akhir ini, berita tentang bencana gempa yang mengguncang Jawa yang disusul dengan bencana longsor di beberapa tempat di Jawa Barat, sampai dengan berita-berita ringan seputar gosip selebriti ternama; semua menjadi berita hangat yang bisa jadi bahan diskusi, baik di ajang offline maupun online. Rasanya banyak orang-orang yang tiba-tiba menjadi tertarik untuk membahas soal politik, dengan komentar-komentar “kritis” yang mencoba mengkaitkan berbagai issue-issue politik di Indonesia; banyak orang yang seolah menjadi jadi ahli gempa, atau ahli lingkungan hidup yang juga mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah soal lingkungan; dan tak ketinggalan banyak juga orang-orang yang seolah jadi menggantikan presenter acara gossip di televisi, fasih menceritakan riwayat hidup sang artis berikut sifat-sifatnya, tidak hanya tentang sang artis, tapi juga tentang pasangannya, maupun tentang keluarganya (orang tua maupun anak-anaknya) 🙂

Di balik itu semua, tiba-tiba yang terpikir adalah, apakah benar mereka ahli politik (sehingga bisa menilai bahwa kebijakan pemerintah itu benar atau salah)?; apakah benar mereka ahli lingkungan hidup (sehingga bisa tahu sejauh mana dampak gempa dan pengaruhnya terhadap struktur lempeng bumi)?; atau juga apakah mereka adalah keluarga dekat dari sang selebriti (sehingga bisa menilai baik buruknya sang artis)? Hmm…

Contohnya soal tari pendet yang muncul di iklan partiwisata Malaysia, mungkin kita perlu tahu dulu duduk perkara sebenarnya. Ternyata memang itu hanya kesalahan produser iklan yang memasukkan potongan tarian dalam tayangannya, dan bukan berarti Malaysia mengakui “Tari Pendet” sebagai budaya mereka. Di sisi lain, pernahkah Indonesia membuat sebuah promosi atau tayangan iklan pariwisata tentang “Tari Pendet” itu sendiri? Kalau belum ada, bukankah lebih baik kalau kita berupaya mengemas sebuah tayangan yang mempromosikan Indonesia melalui tari-tariannya yang beraneka ragam itu? *no comment, ini hanya untuk contoh :mrgreen: *

Contoh lainnya, soal kehidupan para selebriti; kalau kita tidak mengenal si artis, apakah kita bisa menilai dengan mudah apakah keputusannya itu benar atau salah? Padahal kita juga tidak tahu lingkungan keluarganya, tidak paham kehidupannya. Terkadang kita hanya mengenal mereka dalam tayangan film atau sinetron yang dimainkannya, dan kita menganggap bahwa demikianlah kehidupan mereka sebenarnya. Lain halnya bila kita adalah keluarga dekat sang artis, sehingga kita lebih paham mengapa ia melakukan tindakan-tindakan tertentu, dan bisa memberikan suatu penilaian yang lebih objektif.

Kembali ke topik artikel di atas, apa maknanya?

Bukan berarti kita tidak boleh membicarakan hal-hal di atas, namun hendaknya kita perlu menilai diri kita terlebih dulu sebelum kita memberikan sebuah penilaian. Seandainya kita hanya memahami suatu persoalan dari sumber yang terbatas, rasanya tidak perlu kita menilai suatu pihak itu benar atau salah. Terlalu naïf rasanya kalau kita menyukai atau tidak menyukai seseorang atau suatu tindakan hanya berdasarkan informasi yang amat minim.

Berdiskusi atau berbincang-bincanglah tentang berbagai hal, tidak terkecuali pula tentang hal-hal seperti di atas, tapi hindarilah untuk memberikan sebuah penilaian sampai kita benar-benar memperoleh data atau informasi yang lengkap, sehingga penilaian kita tsb bisa dipertanggungjawabkan dan menjadi sumber yang baik pula bagi pihak-pihak yang memang membutuhkannya.

Jadi, saat akan memberikan sebuah pendapat atau pun penilaian, berusahalah untuk menyampaikan yang terbaik; pendapat terbaik kita ataupun penilaian terbaik kita. Di sisi lain, tetap terbuka terhadap masukan-masukan yang diberikan oleh orang lain, jangan hanya tetap terpaku pada penilaian pribadi kita. Pertimbangkan masukan-masukan yang ada dan perkaya pendapat atau penilaian kita dengan hal tsb.

Tak perlu sampai menjadi ahli politik untuk dapat berbicara politik, tak perlu menjadi ahli gempa untuk bisa membahas soal gempa; namun penting buat kita untuk mengetahui hal-hal umum yang terjadi tentang topik tsb sebelum memberikan penilaian. Jangan hanya mengkritik sebuah kebijakan politik jika kita tidak paham hal-hal yang melatarbelakanginya. Jangan coba meramal soal gempa kalau kita tidak tahu mekanisme alam yang terjadi. Yang perlu kita lakukan adalah membekali diri kita dengan pengetahuan-pengetahuan umum tentang berbagai hal yang kita perbincangkan, dan menggali informasi sebanyak mungin agar pendapat atau penilaian kita tentang berbagai hal menjadi akurat.

Namun, kalau soal masalah pribadi, jadikanlah hal tsb sebagai pengetahuan kita saja tentang perilaku manusia 😉 Tidak perlu menjadi “expert” dan memberikan penilaian soal baik-buruknya perilaku seseorang. Hindari pula prasangka buruk terhadap orang lain, karena kita tidak pernah tahu hal yang sebenarnya terjadi dan dirasakan oleh seseorang sampai orang tsb sendiri menyampaikannya.

*hmm… sudah terlalu panjang rasanya ocehan setelah hiatus kali ini*

OK, balik ke diri sendiri, sudah kah kita menjadi yang terbaik bagi diri kita sendiri?

… bersambung…

Metropolis

metro_cover_by_angin_kering

Setelah lama tidak membaca novel-novel yang bernuansa kriminal, membaca novel ini seperti minum air di tengah gurun, pelepas dahaga di tengah kehausan 😛

Sekilas review:

Sebuah pemaparan yang gamblang tentang sepak terjang kehidupan antar geng pengedar narkoba di Jakarta ditulis secara apik oleh Windry Ramadhina. Dengan gaya bahasa yang lincah, Windry berhasil membawa suasana konflik, narkoba, perang antargeng, mafia, dan mengemasnya menjadi sesuatu yang enak dibaca.

Bercerita tentang suasana lingkungan Jakarta abad 21 ini, mulai dari keadaan kota sampai dengan kesibukan orang-orang yang ada di dalamnya, Metropolis menjadi sebuah buku yang tidak sulit dicerna, dan dapat membawa imajinasi pembaca melayang membayangkan peristiwa yang terjadi layaknya sebuah film dokumenter. Tak hanya itu, Windry pun mampu membungkus tokoh-tokohnya dengan sebuah nuansa konspirasi menarik, yang menjadi salah satu andalan dari novel ini. Strategi konspirasi yang melibatkan “orang-orang penting”, yang seringkali juga membutuhkan tumbal yang tidak sedikit jadi menggugah ingatan akan maraknya kasus-kasus serupa yang terjadi di negara ini. Pertentangan kepentingan di antara para tokoh yang berpengaruh serta akal bulus antek-anteknya membuat kondisi yang terjadi semakin kompleks.

Sebagaimana layaknya cerita-cerita kriminal lain, Metropolis pun dikemas dalam alur cerita yang penuh konflik. Tidak ada yang benar-benar hitam, atau pun benar-benar putih, semua adalah kombinasi di antara keduanya, perpaduan antara kelicikan dan kesetiaan. Persahabatan, konspirasi, dan pembalasan (baik balas budi maupun balas dendam) menjadi sesuatu yang kerap ditemui dalam novel ini.

Buat saya, novel ini cukup membuka wawasan tentang sisi lain dari sebuah kota metropolitan. Tutur kata sederhana yang meramu organisasi kejahatan dan bisnisnya, serta intrik-intrik yang ada di dalamnya berhasil membangun visualisasi nyata tentang kehidupan gelap kota Jakarta. Di sisi lain, aparat keamanan pun turut digambarkan secara tidak berlebihan, tapi tetap bisa mencerminkan wajah kepolisian Indonesia saat ini. Kepolisian tidak hanya digambarkan sebagai sebuah lembaga penegak hukum biasa, tapi juga lengkap dengan konflik-konflik di dalamnya. Hal ini menyadarkan kita bahwa hampir tak ada yang sempurna di dunia ini. Setiap lembaga (mulai dari keluarga – sebagai lembaga sosial terkecil – sampai dengan organisasi dalam lingkup negara atau dunia) selalu diwarnai dengan perpaduan antara baik dan buruk, antara yang benar dan yang salah.

Cerita tentang Chronic Myelogenous Leukimia, ikut memperkaya khasanah pengetahuan tentang jenis penyakit leukimia yang ada di dunia. Bagian ini juga menjadi salah satu hal yang unik dalam novel tersebut. Kondisi pasien, gejalanya, cara-cara mendiagnosa serta bagaimana mencegah timbulnya serangan penyakit ikut dijelaskan secara sederhana di novel ini. Menarik…

Meskipun belum sejajar dengan novel-novel karya Dan Brown, ataupun novel-novel kriminal Agatha Christie, namun novel karya Windry ini sudah mengindikasikan niat ke arah sana. Alur ceritanya cukup cepat, namun masih belum konsisten. Terkadang ritmenya sangat cepat sehingga menimbulkan rasa penasaran untuk terus membuka halaman demi halaman, dan tidak memberi jeda antara satu bab dengan bab berikutnya. Namun pada beberapa bab lain, ritmenya melambat sehingga memungkinkan kita untuk berhenti sejenak, seperti sebuah sinetron yang sekedar menggantungkan cerita, layaknya membuat bunga-bunga yang hanya berfungsi untuk mempermanis jalan cerita.

Terakhir, sebagai novel dewasa, karya Windry ini patut diperhitungkan sebagai karya pengarang Indonesia (muda) yang cukup berbobot dengan ditunjang oleh riset detil tentang seluk beluk kehidupan dari tema cerita yang ditulis. Ketelitian Windry menyusun lembar-lembar perjalanan hidup para tokoh utama Metropolis menunjukkan keseriusannya dalam menggarap novel ini. Brillian ! 😀

1 hari jelang pemilu legislatif

Setelah sekian lama menghindar dari posting artikel tentang pemilu, akhirnya terusik juga untuk membuat tulisan bertopik pemilu. Hal ini juga dipengaruhi dengan maraknya suasana pemilu, baik di jalan (pemandangan dan siaran radio sepanjang perjalanan), di kantor (dalam perbincangan saat makan siang), maupun di rumah (dalam berbagai siaran TV nasional).

Selama masa kampanye dan masa tenang selama ini, ada beberapa hal yang saya dapatkan sebagai pengetahuan baru (buat orang lain sih mungkin bukan baru lagi 🙂 ) Ternyata akan ada 44 partai yang akan ikut dalam proses pemilihan umum kali ini. Upps… dulu, waktu milih 1 diantara 3 aja, bingung… sekarang, 1 diantara 44? 😀

Dari 44 partai tersebut, ada 38 partai nasional dan 6 partai lokal. Dan yang ada partai lokal-nya tsb cuma di NAD (Nangroe Aceh Darussalam). Tapi jangan suruh nyebut ke-44 partai itu ya… 😉

Informasi lainnya adalah bahwa sistem pengamanan Pemilu 2009 di Jakarta kali ini adalah sistem 2:10:4 yang artinya 2 orang polisi dibantu 10 orang linmas (pelindung masyarakat) akan mengawal 4 TPS 😆

hehehe… info yg ga penting ya?

Besok Pemilu legislatif, saatnya menerima hak dan menjalankan tugas sebagai warga negara 😉 tapi… saya kok belum terima undangan ya?

biar klise, tapi tetap bermanfaat

Terinspirasi dari sebuah artikel tentang Midlife Career Transition, disebutkan bahwa persepsi mengenai usia (tua) seringkali mempengaruhi proses penerimaan pegawai. Pekerja yang lebih senior (secara usia) seringkali dianggap kolot, keras kepala dan sudah merasa nyaman dengan kondisinya saat ini, dengan kata lain sulit diajak berubah.

Beberapa pertimbangan perusahaan (pemberi kerja) dalam mempekerjakan pekerja yang senior (usianya), adalah:

  • Masalah kesehatan. Perusahaan khawatir mereka akan menghabiskan biaya yang lebih banyak, seiring dengan kondisi kesehatan yang makin menurun.
  • Kurang cakap dari sisi teknologi, atau terkadang kurang mengikuti perkembangan teknologi terbaru.
  • Hubungan dengan pemimpin, maupun dengan pekerja lain yang lebih muda (usianya).

Yang ingin dibahas disini bukan mengenai bagaimana cara mengatasi ”midlife crisis” (secara aku juga belum mencapai era tsb 😛 ), tapi lebih tentang bagaimana kita, sebagai generasi yang lebih muda 😉 mempersiapkan diri terhadap kondisi yang nantinya akan kita hadapi.

Pertama, mengenai masalah kesehatan, biasakanlah menjalankan pola hidup sehat. Istirahat yang cukup, olah raga yang cukup, dan makan makanan bergizi secara teratur.

Kedua, jangan cepat puas dengan kecakapan yang telah dimiliki. Mungkin saat ini kita sangat menguasai tentang program-program yang dipakai di tempat kerja. Namun ke depannya akan ada versi baru lagi dari program tsb, atau bahkan ada program lain yang lebih canggih lagi, namun tidak digunakan di tempat kerja kita. Tidak ada salahnya kalau kita juga mempelajarinya. Setiap hal baru, tentunya ada keunggulan dan kelemahannya, dan akan sangat bermanfaat kalau kita juga memahaminya.

Ketiga, bersikap adaptif. Kemampuan menyesuaikan diri adalah sebuah kemampuan yang tidak bisa dipelajari tiba-tiba. Hal ini merupakan sebuah pembelajaran yang terus menerus, mengenai bagaimana kita bisa menjaga efektivitas kerja kita dan bertoleransi terhadap berbagai perubahan yang terjadi, termasuk juga dengan berbagai individu atau kelompok.

Sepertinya ketiga hal di atas terdengar klise, namun dari beberapa obrolan dengan rekan-rekan yang sudah ada di era ”midlife” itu, ternyata banyak yang merasa kurang bisa mengembangkan diri lagi karena faktor-faktor di atas (kesehatan, penguasaan teknologi, serta penyesuaian diri).

Jadi, jika kita tidak ingin mengalami hal yang sama seperti itu, maka tidak ada salahnya kalau beberapa tips di atas bisa kita implementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, mulai saat ini.

Setuju?

membaca pikiran

Sebagian besar waktu yang kita gunakan tidak terlepas dari hubungan interpersonal dengan orang lain, baik itu dengan teman, dengan pasangan, dengan rekan kerja, dengan atasan, dengan bawahan, dsb. Berbagai ketrampilan sosial yang menyangkut interaksi pun telah kita ketahui dan pelajari sejak kecil. Ketrampilan yang paling penting tentunya adalah komunikasi.

Ketrampilan berbicara dan mendengar, sebagai bagian dari komunikasi – merupakan ketrampilan dasar yang juga sudah dipelajari sejak lama. Namun seiring waktu, kadang kita lupa bahwa kedua ketrampilan tadi tetap harus dipupuk, bahkan mungkin juga ditingkatkan.

Kadang kita merasa sudah cukup mengenal orang yang kita ajak bicara sehingga kita hanya bicara seperlunya, berasumsi bahwa orang tsb sudah memahami pembicaraan kita. Demikian pula dalam mendengar, kadang kita tidak sabar mendengar pembicaraan orang lain, berasumsi bahwa arah pembicaraan tertuju pada suatu kesimpulan yang sudah kita pikir sebelumnya.

Disinilah letak ”cacat” komunikasi yang biasa terjadi. Akibatnya hubungan interpersonal jadi terganggu. Konflik pun makin sering terdengar.

Teman,
Sedekat apapun hubungan kita dengan orang lain, kita tetap tidak dapat mengetahui hal-hal yang mereka pikirkan secara tepat. Karenanya bicarakanlah hal-hal yang ingin kita sampaikan pada orang lain dengan jelas, dan juga dengarkanlah respon yang disampaikan oleh orang lain secara cermat.

Jadi saat terjadi konflik, coba ditelaah kembali, apakah komunikasi sudah berjalan baik, atau kita yang hanya membaca pikiran orang lain (dan salah… 😛 )