hari gini, menulis halus?

handwriting

Membaca tulisan Yeti di FB kemarin,

Belajar menulis huruf sambung ….? Apa pentingnya sih?
Jaman sudah modern, bisa mengetik pakai komputer, buat sms tinggal pijit, ngapain juga mesti belajar nulis huruf sambung?

Langsung teringat masa pelajaran SD bertahun-tahun yang lalu, pelajaran “menulis halus” dengan menggunakan pena di buku tulis bergaris tiga. Sebuah pelajaran yang menyenangkan karena tidak banyak berpikir, dan lebih mengandalkan ketekunan untuk mengatasi kejenuhan menulis kalimat yang sama, … satu halaman penuh !  🙂
Di era milenium sekarang ini, apa perlunya sih?
Anak-anak sudah lancar membaca, bahkan mengetik di komputer, apa pentingnya menulis halus?

Simak lagi lanjutan tulisannya…

Dari sudut pandang Sensory Integration, handwriting atau menulis dengan tangan menggunakan pensil atau bolpen adalah kegiatan kompleks yang melibatkan integrasi sensori. Visual, tactile (sentuhan), proprioseptif (motorik halus). Menulis dengan tangan mengkoordinasikan seluruh sensori sehingga menyeimbangkan otak. Kesulitan atau bahkan kegagalan dalam melakukan integrasi sensori pada anak usia SD akan berpengaruh pada kemampuan berkonsentrasi, kendali emosi dan gangguan kecemasan.
Dari sudut pandang Grafologi, handwriting adalah ekspresi dari gambaran diri, antara lain kemampuan mengendalikan emosi dan dorongan.

Ah, rupanya itu manfaat dari menulis halus….

Pada saat mengikuti pelajaran tersebut waktu kecil, rasanya kita juga sulit memahami kenapa kita harus mempelajarinya. Meskipun dulu kita tidak mempertanyakan kenapa pada saat menarik garis ke atas harus lebih tipis, sementara lebih tebal saat menarik garis ke bawah… hmm, ternyata masih ingat juga tekniknya 😛
Tanpa disadari, kita dilatih untuk berkonsentrasi, melatih kepekaan perasaan kita juga.

Selain itu,

Ketika kita menarik garis lurus, maka kita merasakan dorongan yang sifatnya lugas, tegas dan rasional. Sementara ketika kita menarik garis lengkung, maka kita merasakan kehalusan, kelenturan dan emosi. Atau dengan kata lain garis lurus berbicara sesuatu yang logis dan rasional, sementara garis lengkung berbicara tentang perasaan. Tulisan sambung melakukan koordinasi keduanya, tidak seperti tulisan cetak yang minim garis lengkung.

Ternyata manfaat menulis halus (menulis dengan menggunakan huruf sambung) akan banyak dirasakan dalam jangka panjang. Yeti pun mengatakan bahwa bagi mereka (anak-anak) yang kurang mendapatkan kesempatan untuk menulis halus, perasaanya menjadi kurang peka dan berkurang pula kemampuan hubungan sosialnya. Mereka lebih sibuk berkompetisi daripada berpikir untuk membantu orang lain…

Kalau itu untuk anak-anak, bagaimana dengan orang dewasa? Masih ada pentingnya kah untuk menulis halus?

Menurut saya, bagi orang dewasa, menulis halus bukan lagi yang menjadi prioritas utama. Materi atau isi tulisan, yang mencerminkan bagaimana seseorang itu berpikir atau berpendapat itulah yang lebih utama, dibandingkan dengan caranya mereka menulis (dengan tulisan tangan, maupun dengan cara mengetik). Namun, berkaitan dengan kepekaan perasaan, tentu tidak ada salahnya jika kita tetap melatih kemampuan kita dalam menulis halus 😆

Satu hal lagi, yang juga perlu diingat adalah menulis halus bukan hal mutlak yang berpengaruh terhadap kurangnya kepekaan maupun hubungan sosial seseorang. Masih ada hal-hal lain yang membuat seseorang menjadi kurang peka atau kurang dapat membina relasi sosial dengan baik, hanya saja hal ini bisa dijadikan salah satu faktor yang perlu diperhatikan terutama bagi anak-anak.

Iklan

Personality Quotient

Pernah dengar istilah Personality Quotient, atau Kecerdasan Kepribadian?

Hmm… sebenarnya ini bukan suatu istilah baru, karena lebih berupa gabungan dari berbagai jenis kecerdasan yang lain, seperti Kecerdasan Intelektual (Intelligence Quotient), dan Kecerdasan Emosi (Emotional Quotient). Bahkan ada pula yang menganggapnya sebagai gabungan dari IQ, EQ, SQ (Social Quotient; atau juga Spiritual Quotient) dan HQ (Humor Quotient).

Secara umum, kecerdasan kepribadian merupakan gabungan dari seluruh pengukuran yang berkaitan dengan unsur-unsur mental manusia.

Setiap orang memiliki potensi bawaannya masing-masing. Mengenal diri sendiri berarti juga mengenal potensi bawaan masing-masing. Orang yang mengenal potensi bawaannya tentunya dapat lebih mudah meningkatkan kecerdasan kepribadian (Personality Quotient). Kecerdasan Kepribadian bukanlah hal yang mudah diukur, namun peningkatan kepribadian ini secara tidak langsung dapat dirasakan dan dilihat melalui keinginan untuk meningkatkan diri secara terus menerus.

Untuk mampu meningkatkan kecerdasan kepribadian (PQ), maka kita perlu menempuh 4 langkah sbb:

  1. Mengenal diri sendiri, dan gaya kepribadiannya; hal ini sudah pernah dibahas sebelumnya disini.
  2. Mengenal orang lain, dan gaya kepribadiannya. Pada dasarnya hal ini juga sama seperti cara kita mengenal diri sendiri, namun dengan pendekatan yang berbeda. (dibahas di kesempatan lain aja yaa… 😉 )
  3. Beradaptasi dengan orang lain, yang memiliki gaya kepribadian yang berbeda. Dengan mengenal orang lain, kita bisa lebih memahami mereka, dan mencoba untuk menyesuaikan perilaku kita dengan mereka.
  4. Membangun kerja sama dengan berbagai pribadi yang berbeda-beda. Hal ini adalah langkah lanjut dari point no. 3, karena melibatkan lebih dari 2 orang, dan bertujuan untuk mencapai hasil (kerja) yang lebih baik.

Sebagai kesimpulan sederhana, dengan kecerdasan kepribadian yang baik, kita akan berupaya memahami diri sendiri maupun orang lain, serta mengasah kemampuan kita untuk membina relasi dengan orang lain. Dengan membina relasi yang baik, berarti pula kita mampu berkomunikasi secara tepat terhadap setiap individu yang berbeda-beda.

ventilasi jiwa

Dalam sebuah perbincangan di pagi hari, topik yang dibahas adalah mengenai kesehatan jiwa. Kebetulan hari itu adalah Hari Kesehatan Jiwa se-dunia. *tapi jangan tanya kenapa disebut demikian, saya sendiri juga baru tahu kalau ada istilah HarKesWa 😛 *

Akhir-akhir ini, sering kita melihat atau membaca di koran tentang perilaku orang yang “tidak biasanya”, misalnya orang yang mencoba bunuh diri karena berbagai persoalan yang menimpa dirinya, seperti terlilit hutang yang tidak mampu dilunasi, tiba-tiba dikeluarkan dari pekerjaan, maupun karena depresi ditinggal oleh pasangan hidupnya. Tidak dapat dipungkiri, masalah-masalah besar seperti itu pastinya pernah ada dalam kehidupan setiap orang. Namun kalau kita simak, tidak semua orang dapat menghadapinya dengan baik, atau dengan reaksi-reaksi yang konstruktif.

Contoh di atas adalah salah satu reaksi destruktif yang mungkin dilakukan pada saat mengalami masalah-masalah besar yang sepertinya tak dapat terpecahkan itu. Masih banyak reaksi destruktif lainnya, yang pada dasarnya adalah perilaku merugikan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Bicara soal jiwa atau psikis, adalah bicara mengenai sesuatu yang kasat mata. Kita baru dapat mengamatinya melalui tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang tsb. Bukan hal yang mudah pula untuk menilai apakah jiwa atau psikis seseorang itu sedang berada pada keadaan yang “kurang sehat”, namun bila tindakan-tindakan destruktif yang dilakukan, maka kemungkinan besar terjadi ketidakseimbangan dalam jiwa orang tsb.

Sama halnya dengan “fisik” yang perlu diobati ketika ada bagian tubuh yang sakit; maka “psikis”-pun demikian. Jika sakit/ketidakseimbangan fisik bisa diatasi dengan minum obat, maka ketidakseimbangan psikis biasanya diatasi dengan cara menyalurkan pikiran atau emosi-emosi kita ke dalam bentuk yang lebih konstruktif.

Berbagai persoalan yang kita pikirkan dan mempengaruhi emosi kita memang perlu diselesaikan dengan baik, namun tidak selamanya hal itu harus kita lakukan sendiri. Ada kalanya kita perlu mediasi untuk bisa mencerna persoalan yang dirasa amat kusut tsb menjadi potongan-potongan kecil yang mudah untuk diselesaikan.

Kita perlu berbagi, bercerita tentang hal-hal yang kita rasakan dan yang kita pikirkan. Tidak melulu hanya yang berupa persoalan rumit, namun berbagai hal yang memang kita alami, kita rasakan dan kita pikirkan. Hal ini yang dimaksud dengan ventilasi jiwa. Jika kita menutup diri kita, memendam sendiri pikiran-pikiran kita, maka suatu saat psikis kita bisa menjadi letih dan pada akhirnya menghasilkan perilaku yang destruktif. Karena itu perlu rasanya kita berbagi cerita mengenai diri sendiri, tentunya pada orang yang tepat, yang bisa memahami kita dan membantu kita melihat situasi secara positif.

stress pada anak

Tulisan ini terinspirasi ketika mendengar siaran radio di Delta FM yang sedang membahas mengenai stress pada pria dan wanita. Pembahasannya kurang lebih demikian…

Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa wanita lebih sering stress dibandingkan pria, namun kalau melihat kenyataannya penghuni lembaga pemasyarakatan lebih banyak pria, jumlah pasien rumah sakit jiwa juga lebih banyak pria daripada wanita. Tindak kejahatan maupun gangguan jiwa seringkali disebabkan karena stress yang berkepanjangan dan tidak dapat dikelola dengan baik. Berarti pula bahwa lebih banyak pria yang stress dibandingkan dengan wanita, dengan kata lain wanita lebih mampu mengelola stress dibandingkan dengan pria.

Para ahli berpendapat bahwa ada tiga hal yang membuat wanita lebih bisa mengelola stress dibandingkan dengan pria, yaitu:

1.) Berbagi – wanita lebih sering membagi perasaannya pada orang lain, termasuk juga membagi hal-hal yang membuat stress. Mereka tidak terlalu peduli apakah orang lain menanggapinya atau tidak, namun hal-hal yang membuat mereka tertekan sudah dapat ‘dikeluarkan’. Sementara pria lebih sering memendam perasaan mereka daripada mengungkapkannya pada orang lain.
2.) Menangis – wanita seringkali menumpahkan perasaan tertekan mereka dalam bentuk menangis. Menangis merupakan suatu cara untuk meredakan stress yang dialami. Bagi pria, seringkali hal ini dianggap tabu, karena ada anggapan bahwa pria yang menangis adalah pria yang lemah.
3.) Berpelukan – sebuah penelitian mengungkapkan bahwa pada saat stress seseorang menghasilkan hormon-hormon tertentu (namanya lupa) di kulit. Berpelukan membuat hormon-hormon tadi bisa dikendalikan, sehingga stress tidak menjadi berkepanjangan. *Bagi pria, hal ini bukan sesuatu yang umum, salah-salah bisa dianggap ‘teletubbies’ 😉 Mungkin yang dimaksud disini adalah adanya kontak secara fisik, seperti misalnya menepuk pundak, dsb.*

Saya tidak ingin membahas soal stress antara pria dan wanita seperti pada siaran tsb, namun secara umum bisa disimpulkan bahwa dengan melakukan 3 hal sederhana di atas, paling tidak sudah ada upaya untuk meredakan stress.

Kemudian, apa kaitannya dengan judul posting di atas? (klik disini)

Haruskah menjadi diri sendiri?

Banyak orang yang mengatakan dan menganjurkan untuk “menjadi diri sendiri”; banyak juga yang mempunyai prinsip untuk menjadi diri sendiri, contohnya seperti posting ini. Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan ‘menjadi diri sendiri’ itu? Apakah saat ini kita belum menjadi diri sendiri? Kalau belum, memangnya siapa kita sekarang ini? 😀 

Ungkapan-ungkapan yang menganjurkan untuk “menjadi diri sendiri” tampaknya lebih ditujukan agar kita jangan terlalu memaksakan diri untuk sama seperti orang lain. Setiap orang adalah unik, tidak ada dua individu yang sama, karenanya kita tidak perlu berkecil hati apabila kita tidak seberuntung orang lain (misalnya). 

Menurut saya, saat ini kita tentunya sudah menjadi diri sendiri. Bisa saja tindakan-tindakan yang kita lakukan terpengaruh dari orang-orang tertentu, namun perilaku kita akan mencerminkan siapa diri kita yang sebenarnya. Sepintar-pintarnya kita menirukan orang lain, atau sedemikian kuatnya pengaruh orang lain terhadap diri kita, tindakan yang kita lakukan adalah murni dari kita sendiri, dengan kata lain – itulah diri kita sendiri.  

Postingan ini sebenarnya terinspirasi dari artikel berjudulnya “Jangan Jadi Diri Sendiri”, disini. Disitu dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan menjadi diri sendiri adalah menerima keadaan/kondisi kita saat ini. Kita tidak bisa diam, hanya dengan menerima kondisi yang sudah ada saja, tapi kita perlu berubah, dan dalam pengertian di artikel tsb berarti kita jangan menjadi diri sendiri. 

Penting bagi kita untuk mempunyai idola, yang akan kita jadikan panutan. Kita akan meniru hal-hal yang telah dilakukan oleh idola kita. Namun jangan samakan “meniru” dengan “mencuri” atau “merampok”. Disini tampaknya perlu kebijaksanaan dalam memilah-milah, hal-hal mana yang baik, yang cocok untuk kita lakukan dalam situasi dan kondisi yang kita hadapi, itulah yang akan ditiru. Tidak semua yang dilakukan oleh idola kita itu baik atau sesuai dengan diri kita. Sementara “mencuri” atau “merampok” adalah benar-benar menjiplak hal-hal yang dilakukan sang idola tanpa mempertimbangkan baik-buruknya. 

Satu hal lagi yang saya sukai dari artikel ini ini adalah, bahwa kita sebaiknya juga belajar dari pengalaman orang lain. Dengan belajar dari pengalaman orang lain, setidaknya kita bisa menghemat waktu, kita tidak perlu mengalami hal-hal (buruk) yang sama seperti yang telah dialami oleh orang lain. *baru terasa kan, pentingnya belajar sejarah atau baca buku biografi 😛 * 

Kembali lagi ke pertanyaan di atas, “Haruskah kita menjadi diri sendiri?” – Jika hal itu berarti kita bukan menjadi orang lain, maka jawabannya adalah “Ya, kita harus jadi diri sendiri, karena kita bukan orang lain”. Namun jika hal itu berarti kita tetap menjadi diri kita seperti saat ini, maka jawabannya adalah “Tidak, kita perlu berubah dan tidak hanya jadi diri sendiri seperti saat ini”. 

CMIIW 😆

mengamati pengamatnya pengamat

*Ketika seseorang berkomentar tentang seorang pengamat, berarti secara tidak langsung ia juga berperan sebagai seorang pengamat. Hal ini sebenarnya yang ingin saya bahas dari judul posting yang sedikit agak bingungin ini 😛 *

magnifying-glass.jpgDari sebuah isu yang santer dibicarakan minggu lalu, ada sebuah tulisan ringkas yang berisi pendapat dari seorang pengamat. Sebagai orang yang awam mengenai masalah yang dibahas, tentunya saya hanya membaca tulisan tersebut sebagaimana layaknya sebuah pernyataan mengenai isu-isu yang terjadi di masyarakat. Sebuah pernyataan yang paling tidak bisa menambah informasi tentang isu tersebut.  

Pada akhir tulisan itu, terdapat juga kolom komentar pembaca yang sudah banyak terisi. Komentar-komentar yang pro dan kontra tentang sang pengamat; mulai dari yang hanya mencaci-maki mengkritik dan tidak senang dengan komentar sang pengamat; sampai dengan yang mencoba melihat sisi positif dari isu yang dibahas.  

Apa yang menarik dari fenomena ini? 

  1. tidak ada sedikitpun apresiasi terhadap pendapat sang pengamat. (sedemikian jeleknya kah pendapat sang pengamat? apakah pendapatnya 100% salah? dan apakah benar komentarnya seperti itu, atau itu hanya sepotong komentar yang dicuplik si penulis demi membuat suatu tulisan yang kontroversial menarik?)
  2. sedikit sekali komentar yang berisi ungkapan untuk melihat akar masalah dari isu yang terjadi; dan tidak ada juga yang betul-betul memberikan sebuah alternatif solusi (padahal kalau mau brainstorming -mencoba mengkontribusikan ide di kolom komentar- kan tidak ada salahnya?)
  3. sama sekali tidak ada komentar terhadap si reporter, atau si penulis yang menuangkan pendapat sang pengamat dalam bentuk tulisan tersebut. (bukankah akan lebih baik jika ada penilaian terhadap si penulis agar di waktu yang akan datang ia dapat membuat tulisan yang lebih baik, misalnya dengan tidak hanya mencari sumber dari satu orang pengamat saja, dsb) 

😀 hehe… ini hanya sekedar observasi terhadap orang-orang yang mengomentari sang pengamat… dan itu mungkin juga saya, Anda, ataupun mereka semua. 

Rasanya, kita perlu lebih “pintar” untuk berkomentar, agar ada sesuatu yang bermanfaat bagi kita maupun bagi orang lain. Setuju? CMIIW 😉

The picture is taken from here.

Mitos tentang kreativitas

Secara umum yang dimaksud dengan kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada. 

Pada dasarnya kreativitas dimiliki oleh setiap orang dan merupakan hal penting untuk dapat memperoleh hasil kerja yang lebih baik. Ada berbagai pendapat mengenai kreativitas, dan ada juga diantaranya yang justru malah menghambat munculnya kreativitas.  

Berdasarkan studi Teresa Amabile di FastCompany.com, ada beberapa pendapat yang tidak benar mengenai kreativitas, diantaranya adalah: 

Kreativitas hanya untuk orang-orang tertentu atau bidang-bidang tertentu saja.

Dalam perusahaan, seringkali orang beranggapan bahwa kreativitas hanya milik orang-orang yang ada di bagian R&D, bagian pemasaran atau bagian periklanan saja; sementara bagian lain, seperti misalnya Accounting dianggap kurang perlu kreativitas. Pendapat ini tidak benar, karena setiap orang di organisasi/perusahaan dituntut untuk dapat menghasilkan ide-ide baru yang berguna, termasuk juga dari orang-orang di bagian Accounting.
Setiap orang dengan taraf kecerdasan normal mampu berkreasi, melakukan pekerjaan secara kreatif. Kreativitas ditentukan dari banyak hal, seperti pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan teknis, serta kemampuan untuk berpikir dengan cara-cara baru. 

Uang merupakan motivator bagi munculnya kreativitas.

Uang terkadang memang dapat memacu seseorang untuk bekerja lebih giat, namun tidak ada kaitan diantara keduanya. Malah orang-orang yang bekerja dengan begitu mengharapkan komisi atau bonus seringkali memiliki tingkat kreativitas yang lebih rendah.
Kreativitas akan semakin tumbuh jika lingkungan memberikan dorongan, serta menghargai ide-ide baru yang dihasilkan. Seseorang pun menjadi lebih kreatif bila ia menyenangi pekerjaannya, serta berupaya mengembangkan ketrampilan yang dimiliki.  

Kreativitas makin terpacu jika berada dalam keadaan “under-pressure”

Pendapat ini seringkali jadi “alasan” saat pekerjaan belum selesai-selesai juga. *Saya pun merasakan hal yang sama, seakan-akan kreativitas baru mucul pada detik-detik terakhir 😉 *
Namun penelitian menunjukkan bahwa seseorang menjadi kurang kreatif ketika menghadapi tekanan waktu. Tekanan waktu melumpuhkan kreativitas karena orang tidak dapat memikirkan persoalan dengan jernih. Kreativitas membutuhkan masa inkubasi; dan dibutuhkan waktu untuk menelaah persoalan yang dihadapi dan membiarkan ide-ide muncul.
Kenyataannya, bukan deadline yang mendorong munculnya kreativitas; namun adanya berbagai gangguan-lah yang menghabiskan waktu seseorang dalam membuat terobosan kreatif. Pada saat-saat genting seseorang bisa saja menjadi kreatif, namun hanya jika ia bisa fokus pada pekerjaannya (pada apa yang harus dikerjakan).  

Hmm… meskipun kenyataannya berbagai tugas memang baru selesai di detik-detik terakhir, tapi rasanya memang benar… itu bukan karena tiba-tiba muncul kreativitas, tapi karena kemarin-kemarin belum terfokus untuk mengerjakan tugas tersebut 😛