08
Jun
09

kapan kita mulai berubah?

180px-KamenRiderBlackSetiap dengar kata ”berubah”, saya selalu ingat dengan Ksatria Baja Hitam yang kerap mengumandangkan slogan ”BERUBAH !!!” setiap kali dia akan melakukan tindakan-tindakan memberantas kejahatan. Hehe… masih ingat? :mrgreen:

 

Kemarin, sambil menghabiskan waktu berkelana ke ranah virtual, saya bertemu dengan sebuah sajak yang bertema ”I wanted to change the world”, seperti di bawah ini:

 

When I was a young man, I wanted to change the world. I found it was difficult to change the world, so I tried to change my nation. When I found I couldn’t change the nation, I began to focus on my town. I couldn’t change the town and as an older man, I tried to change my family.

 

Now, as an old man, I realize the only thing I can change is myself, and suddenly I realize that if long ago I had changed myself, I could have made an impact on my family. My family and I could have made an impact on our town. Their impact could have changed the nation and I could indeed have changed the world.” 

By Unknown Monk, 1100 A.D.

 

Hmm… langsung terpikir, tidak perlu menjelma jadi Ksatria Baja Hitam dulu untuk dapat berubah, tak perlu muluk-muluk ingin memberantas kejahatan kelas internasional, tak perlu berkhayal jadi pemimpin dunia, tapi coba bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita melakukan yang terbaik bagi diri kita sendiri? melakukan tindakan-tindakan yang bisa membawa dampak positif bagi orang lain, bagi lingkungan, maupun bagi masyarakat di sekitar kita?

 

Temans,

Sekecil apapun perubahan yang kita lakukan, asalkan itu dilakukan untuk kebaikan, pastilah akan ada manfaatnya. Contohnya, membuang sampah pada tempatnya, datang tepat waktu ke kantor atau pada saat meeting – itu bukanlah hal yang sia-sia, bahkan bisa menggugah orang lain untuk juga berlaku sama seperti yang kita lakukan. Alhasil, dampaknya akan terasa tidak hanya bagi diri kita, tapi juga bagi orang-orang yang ada di sekitar kita.

 

Jangan menunggu sampai kesulitan menimpa kita, jangan menunda hal-hal positif yang bisa kita kerjakan. Lakukanlah perubahan (ke arah yang lebih baik tentunya) mulai saat ini, karena sedikit demi sedikit perubahan yang kita lakukan akan berdampak besar bagi masyarakat yang lebih luas.

26
Mei
09

Metropolis

metro_cover_by_angin_kering

Setelah lama tidak membaca novel-novel yang bernuansa kriminal, membaca novel ini seperti minum air di tengah gurun, pelepas dahaga di tengah kehausan :P

Sekilas review:

Sebuah pemaparan yang gamblang tentang sepak terjang kehidupan antar geng pengedar narkoba di Jakarta ditulis secara apik oleh Windry Ramadhina. Dengan gaya bahasa yang lincah, Windry berhasil membawa suasana konflik, narkoba, perang antargeng, mafia, dan mengemasnya menjadi sesuatu yang enak dibaca.

Bercerita tentang suasana lingkungan Jakarta abad 21 ini, mulai dari keadaan kota sampai dengan kesibukan orang-orang yang ada di dalamnya, Metropolis menjadi sebuah buku yang tidak sulit dicerna, dan dapat membawa imajinasi pembaca melayang membayangkan peristiwa yang terjadi layaknya sebuah film dokumenter. Tak hanya itu, Windry pun mampu membungkus tokoh-tokohnya dengan sebuah nuansa konspirasi menarik, yang menjadi salah satu andalan dari novel ini. Strategi konspirasi yang melibatkan “orang-orang penting”, yang seringkali juga membutuhkan tumbal yang tidak sedikit jadi menggugah ingatan akan maraknya kasus-kasus serupa yang terjadi di negara ini. Pertentangan kepentingan di antara para tokoh yang berpengaruh serta akal bulus antek-anteknya membuat kondisi yang terjadi semakin kompleks.

Sebagaimana layaknya cerita-cerita kriminal lain, Metropolis pun dikemas dalam alur cerita yang penuh konflik. Tidak ada yang benar-benar hitam, atau pun benar-benar putih, semua adalah kombinasi di antara keduanya, perpaduan antara kelicikan dan kesetiaan. Persahabatan, konspirasi, dan pembalasan (baik balas budi maupun balas dendam) menjadi sesuatu yang kerap ditemui dalam novel ini.

Buat saya, novel ini cukup membuka wawasan tentang sisi lain dari sebuah kota metropolitan. Tutur kata sederhana yang meramu organisasi kejahatan dan bisnisnya, serta intrik-intrik yang ada di dalamnya berhasil membangun visualisasi nyata tentang kehidupan gelap kota Jakarta. Di sisi lain, aparat keamanan pun turut digambarkan secara tidak berlebihan, tapi tetap bisa mencerminkan wajah kepolisian Indonesia saat ini. Kepolisian tidak hanya digambarkan sebagai sebuah lembaga penegak hukum biasa, tapi juga lengkap dengan konflik-konflik di dalamnya. Hal ini menyadarkan kita bahwa hampir tak ada yang sempurna di dunia ini. Setiap lembaga (mulai dari keluarga – sebagai lembaga sosial terkecil – sampai dengan organisasi dalam lingkup negara atau dunia) selalu diwarnai dengan perpaduan antara baik dan buruk, antara yang benar dan yang salah.

Cerita tentang Chronic Myelogenous Leukimia, ikut memperkaya khasanah pengetahuan tentang jenis penyakit leukimia yang ada di dunia. Bagian ini juga menjadi salah satu hal yang unik dalam novel tersebut. Kondisi pasien, gejalanya, cara-cara mendiagnosa serta bagaimana mencegah timbulnya serangan penyakit ikut dijelaskan secara sederhana di novel ini. Menarik…

Meskipun belum sejajar dengan novel-novel karya Dan Brown, ataupun novel-novel kriminal Agatha Christie, namun novel karya Windry ini sudah mengindikasikan niat ke arah sana. Alur ceritanya cukup cepat, namun masih belum konsisten. Terkadang ritmenya sangat cepat sehingga menimbulkan rasa penasaran untuk terus membuka halaman demi halaman, dan tidak memberi jeda antara satu bab dengan bab berikutnya. Namun pada beberapa bab lain, ritmenya melambat sehingga memungkinkan kita untuk berhenti sejenak, seperti sebuah sinetron yang sekedar menggantungkan cerita, layaknya membuat bunga-bunga yang hanya berfungsi untuk mempermanis jalan cerita.

Terakhir, sebagai novel dewasa, karya Windry ini patut diperhitungkan sebagai karya pengarang Indonesia (muda) yang cukup berbobot dengan ditunjang oleh riset detil tentang seluk beluk kehidupan dari tema cerita yang ditulis. Ketelitian Windry menyusun lembar-lembar perjalanan hidup para tokoh utama Metropolis menunjukkan keseriusannya dalam menggarap novel ini. Brillian ! :D

14
Mei
09

antara kagum dan miris

Suatu sore di seputaran halaman Museum Fatahillah, Kawasan Kota Tua Jakarta, ada sebuah atraksi yang sedang digelar. Sebuah kesenian tradisional yang biasa dikenal dengan ”kuda lumping” sedang digelar disana. Pertunjukan yang diiringi dengan beberapa perangkat tetabuhan serta alat musik tradisional ini beranggotakan sekitar 10-15 orang. Beberapa orang bertugas memainkan musik, ada yang bertugas mengumpulkan ”sumbangan” dari orang-orang yang menonton, serta ada beberapa pemain utama yang melakukan berbagai atraksi sepanjang pertunjukan.

Kesenian kuda lumping memang selalu memikat banyak orang. Entah karena bunyi suara pecutan yang kerap menggema sepanjang pertunjukan, atau mungkin juga karena atraksi-atraksi mendebarkan yang mereka bawakan. Salah satu atraksi yang dipentaskan adalah atraksi semburan api. Semburan api yang keluar dari mulut para pemain diawali dengan menampung bensin di dalam mulut mereka lalu disemburkan pada sebuah api yang menyala pada setangkai besi kecil yang ujungnya dibuat sedemikian rupa agar api tidak mati sebelum dan sesudah bensin itu disemburkan dari mulutnya.

mirisRombongan pemain kuda lumping ini memang tampak seperti berasal dari suatu daerah yang sama, atau mungkin juga mereka saling bersaudara. Tak heran jika beberapa anggota keluarga terlibat di dalam petunjukkan tersebut. Sang ayah bertugas sebagai pawang yang mengendalikan acara, kemudian anak-anak (laki-laki) yang sudah besar menjadi pemain utama, anak perempuan sebagai pengumpul ”sumbangan”. Sementara itu ada pula beberapa anak yang lebih muda usianya bermain-main di sekitar mereka.

Ternyata anak-anak kecil ini tak hanya sekedar bermain atau berlari-larian di seputar area pertunjukan, namun mereka pun mahir meniru, termasuk pula dalam meniru atraksi semburan api. Hmm… entah apa yang ada di pikiran penonton, saya tak sanggup berkata apa-apa…

Atraksi yang biasanya mengundang decak kagum, saat itu sepertinya sempat hening, ya… atraksinya memang lebih mengundang rasa miris penonton.

11
Apr
09

berani mencoba

Dalam sebuah perjalanan, sebuah talkshow dari suatu stasiun radio menyiarkan bahwa jangan cepat puas dan terlalu lama berada dalam area “aman” (comfort zone), segeralah bergerak dan berani menapaki area “tidak aman” (uncomfort zone). Entah apa tema topik perbincangan saat itu, namun ungkapan untuk berani masuk dalam uncomfort zone benar-benar menjadi pemikiran, bahkan sampai beberapa hari setelah itu.

Meskipun tidak sepenuhnya merasa ada di comfort zone, tapi kondisinya memang lebih mengarah kesana, keadaan seakan berjalan rutin dan bisa dilalui dengan lancar, tanpa kesulitan yang berarti.

Dan… keputusan itu pun dibuat, untuk maju bertindak, menghadapi segala hal yang tadinya seakan jauh ada di depan sana (yang tadinya terasa, ah… kapan-kapan saja diraihnya ;) ). Berbagai pertimbangan menjadi prioritas yang selalu dipikirkan sebelum melangkah. Bukan hal yang sulit sebenarnya, namun karena ini baru yang pertama kali, maka banyak juga kejutan-kejutan yang tiba-tiba muncul, antara yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Namun itu semua lebih merupakan risiko, yang pasti akan timbul menyertai sebuah keputusan :)

Uncomfort zone – pun mulai dijalani, untuk kemudian mencapai comfort zone kembali… yang (mudah-mudahan) dapat dicapai dalam waktu yang tidak terlalu lama ;) Hidup memang bukan sebuah permainan, yang bisa dimenangkan hanya dengan keberuntungan melempar dadu, tapi lebih dari sebuah perjuangan dan tantangan. Saat tantangan berani diterima, maka perjuangan pun dimulai :D

Masih terngiang perbincangan talkshow di radio sore itu… “Semakin lama kita berada di comfort zone, semakin lama pula kita terlena dengan kemungkinan adanya peluang-peluang di sekitar kita. Beranikanlah diri untuk mencoba, terus berusaha dan berdoa tentunya ;) ” Kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi, kalau kita tidak pernah berani untuk melangkah maju. Kegagalan bukanlah alasan untuk mundur, namun sebuah pengalaman untuk tidak lagi melakukan hal yang sama, dan lebih kreatif mencari cara-cara baru.

08
Apr
09

1 hari jelang pemilu legislatif

Setelah sekian lama menghindar dari posting artikel tentang pemilu, akhirnya terusik juga untuk membuat tulisan bertopik pemilu. Hal ini juga dipengaruhi dengan maraknya suasana pemilu, baik di jalan (pemandangan dan siaran radio sepanjang perjalanan), di kantor (dalam perbincangan saat makan siang), maupun di rumah (dalam berbagai siaran TV nasional).

Selama masa kampanye dan masa tenang selama ini, ada beberapa hal yang saya dapatkan sebagai pengetahuan baru (buat orang lain sih mungkin bukan baru lagi :) ) Ternyata akan ada 44 partai yang akan ikut dalam proses pemilihan umum kali ini. Upps… dulu, waktu milih 1 diantara 3 aja, bingung… sekarang, 1 diantara 44? :D

Dari 44 partai tersebut, ada 38 partai nasional dan 6 partai lokal. Dan yang ada partai lokal-nya tsb cuma di NAD (Nangroe Aceh Darussalam). Tapi jangan suruh nyebut ke-44 partai itu ya… ;)

Informasi lainnya adalah bahwa sistem pengamanan Pemilu 2009 di Jakarta kali ini adalah sistem 2:10:4 yang artinya 2 orang polisi dibantu 10 orang linmas (pelindung masyarakat) akan mengawal 4 TPS :lol:

hehehe… info yg ga penting ya?

Besok Pemilu legislatif, saatnya menerima hak dan menjalankan tugas sebagai warga negara ;) tapi… saya kok belum terima undangan ya?

02
Apr
09

biar klise, tapi tetap bermanfaat

Terinspirasi dari sebuah artikel tentang Midlife Career Transition, disebutkan bahwa persepsi mengenai usia (tua) seringkali mempengaruhi proses penerimaan pegawai. Pekerja yang lebih senior (secara usia) seringkali dianggap kolot, keras kepala dan sudah merasa nyaman dengan kondisinya saat ini, dengan kata lain sulit diajak berubah.

Beberapa pertimbangan perusahaan (pemberi kerja) dalam mempekerjakan pekerja yang senior (usianya), adalah:

  • Masalah kesehatan. Perusahaan khawatir mereka akan menghabiskan biaya yang lebih banyak, seiring dengan kondisi kesehatan yang makin menurun.
  • Kurang cakap dari sisi teknologi, atau terkadang kurang mengikuti perkembangan teknologi terbaru.
  • Hubungan dengan pemimpin, maupun dengan pekerja lain yang lebih muda (usianya).

Yang ingin dibahas disini bukan mengenai bagaimana cara mengatasi ”midlife crisis” (secara aku juga belum mencapai era tsb :P ), tapi lebih tentang bagaimana kita, sebagai generasi yang lebih muda ;) mempersiapkan diri terhadap kondisi yang nantinya akan kita hadapi.

Pertama, mengenai masalah kesehatan, biasakanlah menjalankan pola hidup sehat. Istirahat yang cukup, olah raga yang cukup, dan makan makanan bergizi secara teratur.

Kedua, jangan cepat puas dengan kecakapan yang telah dimiliki. Mungkin saat ini kita sangat menguasai tentang program-program yang dipakai di tempat kerja. Namun ke depannya akan ada versi baru lagi dari program tsb, atau bahkan ada program lain yang lebih canggih lagi, namun tidak digunakan di tempat kerja kita. Tidak ada salahnya kalau kita juga mempelajarinya. Setiap hal baru, tentunya ada keunggulan dan kelemahannya, dan akan sangat bermanfaat kalau kita juga memahaminya.

Ketiga, bersikap adaptif. Kemampuan menyesuaikan diri adalah sebuah kemampuan yang tidak bisa dipelajari tiba-tiba. Hal ini merupakan sebuah pembelajaran yang terus menerus, mengenai bagaimana kita bisa menjaga efektivitas kerja kita dan bertoleransi terhadap berbagai perubahan yang terjadi, termasuk juga dengan berbagai individu atau kelompok.

Sepertinya ketiga hal di atas terdengar klise, namun dari beberapa obrolan dengan rekan-rekan yang sudah ada di era ”midlife” itu, ternyata banyak yang merasa kurang bisa mengembangkan diri lagi karena faktor-faktor di atas (kesehatan, penguasaan teknologi, serta penyesuaian diri).

Jadi, jika kita tidak ingin mengalami hal yang sama seperti itu, maka tidak ada salahnya kalau beberapa tips di atas bisa kita implementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, mulai saat ini.

Setuju?

01
Apr
09

membaca pikiran

Sebagian besar waktu yang kita gunakan tidak terlepas dari hubungan interpersonal dengan orang lain, baik itu dengan teman, dengan pasangan, dengan rekan kerja, dengan atasan, dengan bawahan, dsb. Berbagai ketrampilan sosial yang menyangkut interaksi pun telah kita ketahui dan pelajari sejak kecil. Ketrampilan yang paling penting tentunya adalah komunikasi.

Ketrampilan berbicara dan mendengar, sebagai bagian dari komunikasi – merupakan ketrampilan dasar yang juga sudah dipelajari sejak lama. Namun seiring waktu, kadang kita lupa bahwa kedua ketrampilan tadi tetap harus dipupuk, bahkan mungkin juga ditingkatkan.

Kadang kita merasa sudah cukup mengenal orang yang kita ajak bicara sehingga kita hanya bicara seperlunya, berasumsi bahwa orang tsb sudah memahami pembicaraan kita. Demikian pula dalam mendengar, kadang kita tidak sabar mendengar pembicaraan orang lain, berasumsi bahwa arah pembicaraan tertuju pada suatu kesimpulan yang sudah kita pikir sebelumnya.

Disinilah letak ”cacat” komunikasi yang biasa terjadi. Akibatnya hubungan interpersonal jadi terganggu. Konflik pun makin sering terdengar.

Teman,
Sedekat apapun hubungan kita dengan orang lain, kita tetap tidak dapat mengetahui hal-hal yang mereka pikirkan secara tepat. Karenanya bicarakanlah hal-hal yang ingin kita sampaikan pada orang lain dengan jelas, dan juga dengarkanlah respon yang disampaikan oleh orang lain secara cermat.

Jadi saat terjadi konflik, coba ditelaah kembali, apakah komunikasi sudah berjalan baik, atau kita yang hanya membaca pikiran orang lain (dan salah… :P )




 

Juli 2009
S S R K J S M
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Blog Stats

  • 38,026 hits

Others

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

visitor stats

PageRank

my 'read' shelf:
 my read shelf

Click to view my Personality Profile page

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia