12
Apr

kota pelajar

“Kota Pelajar”, begitulah sebutan untuk Jogjakarta sejak jaman belajar IPS di sekolah dulu. Sampai saat ini pun Jogja masih jadi incaran para lulusan SMU, baik dari kota-kota di sekitarnya maupun juga dari kota-kota lain di luar pulau Jawa untuk menekuni dunia perguruan tinggi yang penuh dengan warna ;) di sana…

Minggu lalu, saat kembali berkunjung ke Jogja, rasanya benar-benar mengungkit memori masa lalu…

Jogja memang sudah jauh lebih ramai dibanding dulu, namun keramahannya masih tetap punya warna khas tersendiri…

Dan sebagai kota pelajar, ternyata kemarin ini juga terlihat bahwa tukang becak di Jogja pun punya hobi membaca. Meski sekedar membaca koran, yang mungkin hanya rubrik kartun atau kolom tertentu saja yang dibaca, tapi kebiasaan membaca ini pastinya sangat bagus… bisa dibayangkan kalau bacaannya buku-buku pelajaran atau textbook yang biasanya cuma jadi koleksi daftar pustaka aja :P kayaknya Jogja benar-benar menjiwai predikatnya sebagai “Kota Pelajar” :)

 

(Hasil jepretan kamera HP di seputaran kilometer nol Jogjakarta.)

30
Mar

Bandung hujan es

Bandung hujan? – itu sudah biasa.

Bandung hujan es? – beberapa kali juga sudah pernah terjadi, namun tidak terlalu lama dengan dampak kerusakan yang minimal.

Tapi, di hari Minggu siang, sekitar jam setengah dua ini, Bandung kembali diterpa hujan lebat, dengan bunyi “pletak pletok” bersamaan dengan turunnya butir-butir es dari langit.

Ini bentuknya saat hujan baru berlangsung selama 5 menit. Bentuknya relatif kecil dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencair.

ice-cubes-3.jpg

Setelah 10 menit, bentuk es yang turun seperti ini. Butir es sebesar kerikil berdiameter 1,5 cm ini makin meramaikan suasana di siang hari.

ice-cubes-4.jpg

15 menit berlalu, hujan masih belum mereda, butir es sebesar bakso ini jumlahnya makin banyak, disertai angin yang bertiup kencang.

ice-cubes.jpg

Menit-menit berikutnya es yang turun sudah tidak lagi diperhatikan, karena fokus perhatian mulai tertuju dengan hujan yang tidak lagi turun di luar rumah, melainkan mulai turun juga di dalam rumah :P   Bocor dimana-mana, membuat harus kerja bakti di hari Minggu siang menjelang sore ini.

Pemandangan hasil lontaran es yang mental di pintu depan rumah

ice-cubes-2.jpg
serta pemandangan dari loteng, sekitar 1 jam sejak hujan mulai turun tadi. 
ice-cubes-5.jpg

27
Mar

kesan pertama

Beberapa hari yang lalu, saya kembali menekuni pekerjaan yang sudah lama tidak dilakukan… menghadapi para pencari kerja secara langsung.

Kegiatan yang sepertinya identik dengan profesi ini memang sangat menyenangkan, asalkan tidak dilakukan terus menerus dengan intensitas yang tinggi (itu mungkin bagian dari nasib ;) ).

Pekerjaannya sih sederhana, tapi ada saja yang menarik untuk dibahas. Kemarin ini saya bertemu dengan seorang peserta yang berpenampilan ‘cuek’, profesinya saat ini adalah pekerja media. Perempuan yang masih muda ini membawa tas ransel, bersepatu kets, menggunakan celana panjang hitam dan kaos olahraga lengan pendek. Sangat santai, mengingatkan saya dengan tampilan jaman mahasiswa dulu …

Saya hanya bergumam dalam hati, “Teman, kalau ingin melamar pekerjaan, alangkah baiknya jika berpenampilan lebih ‘formal’”. Maksudnya, mungkin bisa mengganti sepatu kets dengan sepatu biasa yang bukan sepatu olah raga tentunya; mengganti kaos olah raga dengan blus atau kemeja; serta meninggalkan sebagian barang bawaan sehingga ransel pun tidak terkesan penuh (seperti mencerminkan beratnya “beban hidup” yang harus dipikul) :D

Hal seperti ini bukanlah hal yang pertama kali saya lihat, beberapa kali ada pelamar yang berpenampilan santai (meskipun tidak asal-asalan), namun coba deh dibayangkan bagaimana pikiran pihak perusahaan (pemberi kerja); mereka bisa beranggapan bahwa si pelamar ini bukanlah orang yang serius, dan bisakah mereka percaya pada si pelamar tsb yang nantinya akan mewakili perusahaan?

Kesan pertama, first impression atau impact ini terlihat sederhana, namun punya pengaruh besar terhadap penilaian orang lain kepada kita. Hal ini juga bisa menunjukkan bagaimana kemampuan penyesuaian diri seseorang terhadap situasi atau lingkungan yang baru. Bukan hal yang tepat juga kalau kita datang melamar pekerjaan dengan baju batik rapi seperti mau kondangan(?) :D

Seperti ungkapan di sebuah iklan yang menyatakan, “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda…” Ya, sebuah kesan pertama seringkali menjadi dasar penilaian terhadap seseorang. Beberapa teman berpendapat bahwa mereka memang ingin berpenampilan seperti apa adanya, mencerminkan diri mereka yang sebenarnya; kalau memang perusahaan mau menerima mereka, berarti perusahaan juga harus siap dengan penampilan mereka tsb, yang penting kan hasil kerjanya…

Hmm… pendapat itu tidak salah, namun pada saat melamar pekerjaan, pada saat perusahaan baru bertemu kita untuk yang pertama kali, akan lebih baik jika kita menunjukkan bahwa kita bisa menyesuaikan diri dengan situasi baru, dan mudah-mudahan perusahaan pun jadi bisa menilai bahwa kita juga akan berupaya untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan pekerjaan yang akan kita lamar disana.

Bersikap apa adanya itu penting, namun beradaptasi dengan lingkungan baru itu juga penting… percaya deh ! :lol:

21
Mar

menanti mentari pagi

Bandung, medio Januari 2008,

pagi.jpg 

hasil jepretan fotografer amatiran dari utara kota Bandung, di suatu pagi yang sudah tidak lagi sedingin dulu ;)

nothing special… apalagi dengan cuaca yang masih diliputi awan mendung dan kabut sehabis hujan semalam, namun sinar mentari mulai tampak menerangi alam. Semangatnya untuk bersinar membawa kehangatan di pagi hari tak pernah berkurang kadarnya…

Itu juga yang menginspirasi… untuk kembali menulis setelah beberapa saat terbenam dalam alasan-alasan klise penghambat energi ;)

OK, keep on blogging guys :D

17
Feb

Haruskah menjadi diri sendiri?

Banyak orang yang mengatakan dan menganjurkan untuk “menjadi diri sendiri”; banyak juga yang mempunyai prinsip untuk menjadi diri sendiri, contohnya seperti posting ini. Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan ‘menjadi diri sendiri’ itu? Apakah saat ini kita belum menjadi diri sendiri? Kalau belum, memangnya siapa kita sekarang ini? :D  

Ungkapan-ungkapan yang menganjurkan untuk “menjadi diri sendiri” tampaknya lebih ditujukan agar kita jangan terlalu memaksakan diri untuk sama seperti orang lain. Setiap orang adalah unik, tidak ada dua individu yang sama, karenanya kita tidak perlu berkecil hati apabila kita tidak seberuntung orang lain (misalnya). 

Menurut saya, saat ini kita tentunya sudah menjadi diri sendiri. Bisa saja tindakan-tindakan yang kita lakukan terpengaruh dari orang-orang tertentu, namun perilaku kita akan mencerminkan siapa diri kita yang sebenarnya. Sepintar-pintarnya kita menirukan orang lain, atau sedemikian kuatnya pengaruh orang lain terhadap diri kita, tindakan yang kita lakukan adalah murni dari kita sendiri, dengan kata lain – itulah diri kita sendiri.  

Postingan ini sebenarnya terinspirasi dari artikel berjudulnya “Jangan Jadi Diri Sendiri”, disini. Disitu dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan menjadi diri sendiri adalah menerima keadaan/kondisi kita saat ini. Kita tidak bisa diam, hanya dengan menerima kondisi yang sudah ada saja, tapi kita perlu berubah, dan dalam pengertian di artikel tsb berarti kita jangan menjadi diri sendiri. 

Penting bagi kita untuk mempunyai idola, yang akan kita jadikan panutan. Kita akan meniru hal-hal yang telah dilakukan oleh idola kita. Namun jangan samakan “meniru” dengan “mencuri” atau “merampok”. Disini tampaknya perlu kebijaksanaan dalam memilah-milah, hal-hal mana yang baik, yang cocok untuk kita lakukan dalam situasi dan kondisi yang kita hadapi, itulah yang akan ditiru. Tidak semua yang dilakukan oleh idola kita itu baik atau sesuai dengan diri kita. Sementara “mencuri” atau “merampok” adalah benar-benar menjiplak hal-hal yang dilakukan sang idola tanpa mempertimbangkan baik-buruknya. 

Satu hal lagi yang saya sukai dari artikel ini ini adalah, bahwa kita sebaiknya juga belajar dari pengalaman orang lain. Dengan belajar dari pengalaman orang lain, setidaknya kita bisa menghemat waktu, kita tidak perlu mengalami hal-hal (buruk) yang sama seperti yang telah dialami oleh orang lain. *baru terasa kan, pentingnya belajar sejarah atau baca buku biografi :P * 

Kembali lagi ke pertanyaan di atas, “Haruskah kita menjadi diri sendiri?” - Jika hal itu berarti kita bukan menjadi orang lain, maka jawabannya adalah “Ya, kita harus jadi diri sendiri, karena kita bukan orang lain”. Namun jika hal itu berarti kita tetap menjadi diri kita seperti saat ini, maka jawabannya adalah “Tidak, kita perlu berubah dan tidak hanya jadi diri sendiri seperti saat ini”. 

CMIIW :lol:

10
Feb

donor darah yang menyenangkan

Akhirnya… setelah menunggu selama 2 tahun (kurang 3 hari), setelah beberapa kali ditolak karena Hb yang rendah, kemarin saya boleh mendonor lagi  :D

Kemarin, saya tidak terlalu antusias (saking ga PD nya, saya minta untuk dicek Hb-nya dulu sebelum mengisi formulir pendaftaran, dll yang seharusnya sudah terisi sebelum maju ke meja pemeriksaan), dan begitu perawatnya bilang, “darahnya tenggelam”… YESS!!! Saya diijinkan mendonor ;)  

Ya, bagian awal dari ritual donor darah ini memang selalu bikin saya cemas, deg-deg-an karena takut ditolak :P Bagian yang paling menyebalkan.

Duluu… pertama kali menyumbang darah, saya sangat terkesan dengan sebuah tulisan yang tertera di bungkus Viliron (pembagian dari PMI), bunyinya: 

blood-drive.jpgPara donor darah yang terhormat,
Hari ini Saudara telah menyumbang darah, sebagian dari milik Saudara yang berharga. Mereka yang tertolong dengan sumbangan darang tersebut, bahkan yang diselamatkan jiwanya tidak dapat berterima kasih secara langsung, tapi Tuhan Maha Tahu, semoga amal baik Saudara dibalas-Nya. Kami harapkan saudara untuk menjadi donor secara teratur dan ajaklah keluarga, teman, atau siapapun menjadi donor darah sukarela. 

Tapi setelah 2 kali, 3 kali, dst, tulisan itu tidak lagi memotivasi. Kegiatan donor darah sudah jadi aktivitas rutin sekitar 3 bulan sekali. Masih banyak hal lain yang juga memotivasi, misalnya saat ada keluarga penderita yang menunggu darah di PMI, mengharapkan ada pendonor yang mendonorkan darah yang sesuai dengan yang dibutuhkan. Mereka mengucap terima kasih, namun rasanya saya yang harus berterima kasih, karena darah yang saya sumbangkan waktu itu dapat segera dimanfaatkan. Saya hanya sempat berucap, semoga bermanfaat dan anggota keluarganya dapat segera sembuh. 

Pernah pula ada yang membutuhkan darah untuk anggota keluarganya yang mengalami kecelakaan. Mereka tampak cemas. Lima menit kemudian mereka menerima telpon, dan setelah itu mereka mendatangi petugas sambil mengatakan, “terima kasih, kami tidak lagi membutuhkan darah, karena dia sudah tiada”. Ah, ikut sedih rasanya… 

Kalau ada yang bilang, donor darah itu bisa menambah nafsu makan, bisa jadi gemuk, dan kalau tidak mendonor pada waktunya badan menjadi tidak enak – bagi saya, informasi itu tidak benar dan mungkin hanya sugesti :lol: Buat saya, mendonorkan darah merupakan hal yang bisa saya lakukan untuk membantu sesama. Baru belakangan saya tahu, bahwa hal ini juga bisa mengurangi risiko serangan jantung, seperti yang diungkap dr. Sonia Grania Wibisono disini.

Jadi, buat Anda yang mampu menyumbang darah, segeralah datang ke tempat-tempat penyumbangan darah atau PMI di kota Anda untuk mendonorkan darah. Buat yang masih kurang berat badannya ;) segera ditingkatkan. *45kg kan belum dalam kategori kegemukan*  

Buat yang tekanan darahnya terlalu tinggi atau terlalu rendah, coba konsumsi makanan-makanan sehat untuk menormalkan tekanan darah (plus olah raga). Dan buat yang kadar Hb nya rendah (sama seperti saya), coba konsumsi obat penambah darah secara teratur beberapa hari sebelum mendonor. *saya sendiri berhasil dengan Pronemia, tapi gagal dengan Sangobion (gagal=tetep ditolak)*  

Juga buat yang tidak bisa mendonorkan darah (karena apapun alasannya), mungkin bisa turut mendoakan supaya kita-kita yang mampu dan berniat menjadi donor darah sukarela bisa sukses diterima, dan tidak ditolak *halah*  :P

————————————————————————–

Artikel terkait:
- setetes darah penuh arti

————————————————————————–

Update 14 Februari 2008,
Buat temen-temen (terutama yang di Bandung), Radio Rase 102.3 FM beserta Rase Listener Club akan mengadakan kegiatan donor darah, bekerjasama dengan PMI bandung, tempatnya di Rase Building Jl.Setiabudi No.19 Bandung. Tlp. 022 2038390. pada hari Sabtu, 1 Maret 2008, 5 Juli 2008 dan 1 November 2008. Ikutan yuuk….. :D

09
Feb

mengamati pengamatnya pengamat

*Ketika seseorang berkomentar tentang seorang pengamat, berarti secara tidak langsung ia juga berperan sebagai seorang pengamat. Hal ini sebenarnya yang ingin saya bahas dari judul posting yang sedikit agak bingungin ini :P *

magnifying-glass.jpgDari sebuah isu yang santer dibicarakan minggu lalu, ada sebuah tulisan ringkas yang berisi pendapat dari seorang pengamat. Sebagai orang yang awam mengenai masalah yang dibahas, tentunya saya hanya membaca tulisan tersebut sebagaimana layaknya sebuah pernyataan mengenai isu-isu yang terjadi di masyarakat. Sebuah pernyataan yang paling tidak bisa menambah informasi tentang isu tersebut.  

Pada akhir tulisan itu, terdapat juga kolom komentar pembaca yang sudah banyak terisi. Komentar-komentar yang pro dan kontra tentang sang pengamat; mulai dari yang hanya mencaci-maki mengkritik dan tidak senang dengan komentar sang pengamat; sampai dengan yang mencoba melihat sisi positif dari isu yang dibahas.  

Apa yang menarik dari fenomena ini? 

  1. tidak ada sedikitpun apresiasi terhadap pendapat sang pengamat. (sedemikian jeleknya kah pendapat sang pengamat? apakah pendapatnya 100% salah? dan apakah benar komentarnya seperti itu, atau itu hanya sepotong komentar yang dicuplik si penulis demi membuat suatu tulisan yang kontroversial menarik?)
  2. sedikit sekali komentar yang berisi ungkapan untuk melihat akar masalah dari isu yang terjadi; dan tidak ada juga yang betul-betul memberikan sebuah alternatif solusi (padahal kalau mau brainstorming -mencoba mengkontribusikan ide di kolom komentar- kan tidak ada salahnya?)
  3. sama sekali tidak ada komentar terhadap si reporter, atau si penulis yang menuangkan pendapat sang pengamat dalam bentuk tulisan tersebut. (bukankah akan lebih baik jika ada penilaian terhadap si penulis agar di waktu yang akan datang ia dapat membuat tulisan yang lebih baik, misalnya dengan tidak hanya mencari sumber dari satu orang pengamat saja, dsb) 

:D hehe… ini hanya sekedar observasi terhadap orang-orang yang mengomentari sang pengamat… dan itu mungkin juga saya, Anda, ataupun mereka semua. 

Rasanya, kita perlu lebih “pintar” untuk berkomentar, agar ada sesuatu yang bermanfaat bagi kita maupun bagi orang lain. Setuju? CMIIW ;)

The picture is taken from here.




 

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Kategori

Blog Stats

  • 14,282 hits

Others

Pesta Blogger 2007
Click to view my Personality Profile page