18
Okt
09

tersesat di Canon Photomarathon

Seperti yang sudah-sudah, kegiatan seperti ini pun luput dari perhatian, dan tidak sempat lagi untuk ikut daftar sebagai partisipan :P

Canon Photomarathon, sebuah kegiatan yang cukup besar dan melibatkan (katanya) sekitar 1000 orang fotografer ini diadakan di Taman Fatahilah, Kota Tua, Jakarta tanggal 10 Oktober 2009 yang lalu. Tapi walaupun tidak jadi peserta, rasanya tetap ingin ”ngintip” kegiatan ini ;)

Taman Fatahilah itu sendiri adalah area publik, sehingga para penonton pun bisa berseliweran di tengah-tengah para fotografer yang sibuk ”hunting” dan menyelesaikan tugas-tugas yang dilombakan. Acara ini terkesan sangat meriah, apalagi ditunjang dengan cuaca yang cukup bersahabat (dengan kata lain, matahari bersinar dengan riang gembira). Untungnya masih ada pepohonan besar di sekitar Kota Tua dan beberapa tenda, sehingga masih ada space untuk main petak umpet dengan matahari.

Ada 2 lesson learn yang saya peroleh hari itu; pertama – jangan terlalu kuper, kalau mau ikut acara beginian, harus rajin-rajin cari info dan ngobrol sama fotografer yang biasa ikut acara seperti ini. Kedua – presentasi foto yang dibawakan oleh Bp. Don Hasman, seorang jurnalis yang juga fotografer, menambah banyak wawasan tentang fotografi.

Meskipun terlambat mendengarkan presentasi (karena masih ngobrol dan ngaso di Cafe Batavia), serta hanya mendengarkan dari jarak jauh (maklum, status cuma jadi peserta gelap), wawasan yang saya dapatkan dari Bp. Don Hasman kemarin adalah:

  • Fotografi, tidak hanya berarti menggambar dengan cahaya, namun bermakna melukiskan gambar sesuai dengan apa yang dilihat oleh mata kita.
  • Olah digital bukanlah hal yang tabu, sebatas hanya untuk mengoreksi gambar. Akan tetapi kalau digunakan untuk mengubah gambar, menambah atau mengurangi objek, hasilnya sudah bukan ”fotografi” lagi.
  • Fotografi juga bersifat subjektif. Sebagai karya seni tidak ada satu patokan tertentu untuk menyatakan sebuah foto itu bagus atau tidak bagus, karena itu jangan berkecil hati terhadap karya yang dihasilkan.
  • Terus belajar, dan terbuka terhadap masukan dari orang lain. Intinya bersikaplah rendah hati dan jujur.
  • Jangan ragu untuk mulai sesuai yang baru, untuk memotret hal-hal baru atau dari sudut pandang yang berbeda dengan yang biasa dilakukan oleh orang lain.

Sebagai penonton, rasanya kurang sreg kalau tidak ikut bawa kamera dan ikutan jeprat jepret. Tentu saja objek yang menarik adalah macam-macam tingkah polah fotografer di acara ini. Berikut adalah sebagian hasilnya…

Canon Photomarathon

Cerita tentang gambar (dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah):

  1. saling pamer hasil jepretan masing-masing
  2. di depan hall of fame (multitasking, bisa jadi fotografer, bisa juga jadi fotomodel)
  3. isi bis kadang bisa jadi objek foto yang menarik juga rupanya ;)
  4. pakai tripod untuk mempertinggi kamera, pakai egrang untuk mempertinggi fotografer :p
  5. suasana Canon Photomarathon 2009 – Jakarta… crowded!
  6. serius dengan hasil masing-masing
  7. 1001 macam gambar dihasilkan dari 1001 macam gaya, ini salah satunya :lol:
  8. biarpun sedang memilah-milah foto untuk disertakan dalam lomba, fotografer harus sadar kamera juga, teteupp… :mrgreen:

Thanks to Ira dan Dirga yang udah ngajak ke acara ini dan ikut menemani sepanjang acara (maaf ya, jadi ngerepotin…) :D

15
Okt
09

perubahan iklim?

Postingan ini ditulis sebagai salah satu bentuk partisipasi pada Blog Action Day yang jatuh pada tanggal 15 Oktober. Tema yang diangkat pada tahun ini adalah mengenai perubahan iklim (climate change).

Kadang saya melihat isu perubahan iklim ini lebih sebagai suatu wacana yang ada di awang-awang, di luar pemahaman saya sebagai orang yang masih sangat awam soal lingkungan hidup.

Hal-hal seperti pemanasan global, efek rumah kaca, menipisnya sumber daya air, dan berbagai isu perubahan iklim lain yang memang saling berkaitan itu seakan berada di luar kegiatan kita sehari-hari. Sepertinya informasi tersebut hanya sekadar pengetahuan belaka tanpa dapat dikaitkan langsung dengan aktivitas masyarakat yang lebih luas.

Contohnya, kita tahu bahwa bahan jumlah air tanah khususnya di kota-kota besar semakin berkurang, namun kegiatan pembangunan perumahan atau jalan tetap giat dilaksanakan dan bahkan mengambil area daerah-daerah hijau yang tadinya merupakan daerah resapan air. Akibatnya, untuk bisa mendapatkan air tanah yang baik dan jernih, perlu digali sumur yang sangat dalam.

Perubahan iklim sebenarnya cukup luas dampaknya, termasuk juga dengan fenomena banjir yang makin sering terjadi akhir-akhir ini. Kalau dipikir, banjir tidak hanya terjadi karena adanya pemanasan global yang membuat es di kutub utara mencair, sehingga volume air di bumi makin banyak; namun secara sederhana kita tahu bahwa banjir terjadi karena saluran-saluran air di jalan-jalan sudah tidak menampung banyaknya air hujan yang turun, karena tersumbat oleh sampah-sampah yang dibuang sembarangan oleh para pengguna jalan. Memang hal ini bukan sebuah sebab-akibat sederhana, namun jika kebiasaan tsb terus dilakukan, bukan hal yang aneh kalau selokan-selokan jalan, sungai-sungai yang melintas di perkotaan menjadi sebuah tempat sampah raksasa dan menghambat aliran air/sungai.

Dari hasil pengembaraan di ranah virtual, mencari informasi tentang topik perubahan iklim ini, ada sebuah ungkapan yang menyatakan seperti ini … “dunia lebih banyak memperdebatkan upaya apa yang harus dilakukan untuk mencegah bumi dari kehancuran, ketimbang melakukan aksi nyata.” Secara sederhana, saya juga merasakan hal yang sama… kita mengetahui atau banyak berdiskusi soal “let’s go green” dsb, namun sudahkah kita melakukan sesuatu untuk mengatasi bahaya perubahan iklim guna mencegah bumi dari kehancuran? Diskusi soal ini seringkali hanya menghasilkan wacana indah dan menarik, namun kadang tidak sampai pada tahap implementasi dan berakhir begitu saja.

Mungkin belum terpikir oleh kita bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita lakukan dapat pula berdampak pada perubahan iklim. Membuang sampah pada tempat yang telah ditentukan, menggunakan sumber daya (misalnya air, listrik, dsb) sehemat mungkin, membawa kantong sendiri saat berbelanja (dan tidak menggunakan kantong plastik), dsb sebenarnya dapat berpengaruh terhadap kerusakan lingkungan yang lebih parah lagi.

Bahkan menghabiskan makanan yang ada di piring makan kita, secara tidak langsung ada pula pengaruhnya ;) Awalnya, saya juga tidak terlalu paham, tapi sebuah penjelasan yang masuk akal telah membantu pemahaman saya. Seandainya saja makanan yang kita sisakan di piring makan itu dikumpulkan, mungkin jumlahnya pun hanya sekitar setengah sendok makan saja, namun berapa banyak energi yang telah dikeluarkan untuk menghasilkan nasi yang setengah sendok makan tsb? Berapa banyak air yang dikeluarkan untuk mencuci beras, dan berapa banyak listrik yang dipakai untuk memasaknya? … dan silakan dikalikan jumlah orang makan selama satu bulan, hmm… :) dan itu adalah yang terbuang percuma…

Mungkin sebelum kita bicara soal perubahan iklim, kita perlu bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita menyayangi lingkungan di sekitar kita?

28
Sep
09

berikan yang terbaik

smilemelanjuti postingan sebelumnya, dan sedikit mengulas ceramahnya pak ustadz bulan puasa kemarin, postingan kali ini masih bercerita tentang “yang terbaik”.

Berawal dari pembahasan mengenai sedekah…

Bersedekah atau berderma sebenarnya adalah memberikan sesuatu pada orang lain yang berhak menerimanya, sesuai dengan kemampuan pemberi. Tidak melulu berupa materi, sedekah bisa dalam bentuk apa pun, yang pasti… sesuai dengan kemampuan pemberi. Kalau punya uang, bersedekahlah dengan uang, tapi kalau tidak punya uang, sedekah bisa berupa barang, bisa juga berupa tenaga, atau bahkan senyuman. Malahan –kata pak ustadz— kalau senyum pun susah, berusahalah untuk bersedekah dengan menampilkan raut wajah yang “enak dilihat”.

Mendengar ceramah pak ustadz ketika itu, pikiran langsung membayangkan seorang teman yang selalu tersenyum. Orangnya baik dan jarang marah. Meskipun dia pernah juga marah/kesal terhadap orang lain, namun tidak pernah berkata kasar, dan tetap mempertahankan raut wajah yang dihiasi dengan senyuman khas-nya. Kemudian mencoba untuk membandingkan dengan diri sendiri, hmm… apakah raut wajah sudah enak dilihat?

Apa hubungannya dengan sedekah?

Jika kita menghias wajah dengan senyum, orang lain yang melihatnya pun tentu akan merasa nyaman. Relasi interpersonal yang terjadi akan lebih positif. Secara tidak disadari, orang yang tersenyum tsb telah memberikan sikap terbaiknya, yang secara tidak langsung telah memperlancar relasi yang terjadi. Sederhana saja kan?

Tapi perlu dicatat, yang dimaksud dengan “senyum” disini, adalah senyuman kecil yang membuat raut wajah jadi enak dipandang, bukan “senyum-senyum” yang kebanyakan atau malah terkesan nyindir :mrgreen:

17
Sep
09

selamat idul fitri 1430 H

moon

bulan sabit kian menipis
terlihat di ufuk timur
pertanda Ramadhan akan berakhir
idul fitri pun segera tiba

orang bijak pernah berkata,
memaafkan itu
bukan untuk memperbaiki masa lalu
tetapi untuk memperindah masa depan

oleh karenanya,
perkenankan saya mengucap
selamat idul fitri 1430 H
mohon maaf lahir dan bathin

————————————————————

(foto diambil waktu subuh kemarin, 26 Ramadhan 1430H / 16 September 2009)

13
Sep
09

menjadi yang terbaik

merasa tertohok dengan postingan-nya Diki disini (selentingannya si ayam kadang bikin senyum2 miris), akhirnya terbit juga artikel ini… sekedar intermezzo dari hiatus selama……… (hmm, sampai lupa lagi tanggal berapa posting artikel terakhir :P )

tidak mudah untuk mulai kembali menulis, seakan ide-ide tidak ada yang mau muncul ke permukaan; atau kalau pun sempat muncul, tiba-tiba lenyap dan seakan tak menarik lagi untuk ditarikan bersama jari jemari di atas papan keyboard :D

Ide tulisan ini kebetulan muncul saat mengamati berbagai perbincangan dengan berbagai macam topik di berbagai media yang muncul akhir-akhir ini. Mulai dari yang “berat” seperti berita soal hubungan luar negeri RI-Malaysia akhir-akhir ini, berita tentang bencana gempa yang mengguncang Jawa yang disusul dengan bencana longsor di beberapa tempat di Jawa Barat, sampai dengan berita-berita ringan seputar gosip selebriti ternama; semua menjadi berita hangat yang bisa jadi bahan diskusi, baik di ajang offline maupun online. Rasanya banyak orang-orang yang tiba-tiba menjadi tertarik untuk membahas soal politik, dengan komentar-komentar “kritis” yang mencoba mengkaitkan berbagai issue-issue politik di Indonesia; banyak orang yang seolah menjadi jadi ahli gempa, atau ahli lingkungan hidup yang juga mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah soal lingkungan; dan tak ketinggalan banyak juga orang-orang yang seolah jadi menggantikan presenter acara gossip di televisi, fasih menceritakan riwayat hidup sang artis berikut sifat-sifatnya, tidak hanya tentang sang artis, tapi juga tentang pasangannya, maupun tentang keluarganya (orang tua maupun anak-anaknya) :)

Di balik itu semua, tiba-tiba yang terpikir adalah, apakah benar mereka ahli politik (sehingga bisa menilai bahwa kebijakan pemerintah itu benar atau salah)?; apakah benar mereka ahli lingkungan hidup (sehingga bisa tahu sejauh mana dampak gempa dan pengaruhnya terhadap struktur lempeng bumi)?; atau juga apakah mereka adalah keluarga dekat dari sang selebriti (sehingga bisa menilai baik buruknya sang artis)? Hmm…

Contohnya soal tari pendet yang muncul di iklan partiwisata Malaysia, mungkin kita perlu tahu dulu duduk perkara sebenarnya. Ternyata memang itu hanya kesalahan produser iklan yang memasukkan potongan tarian dalam tayangannya, dan bukan berarti Malaysia mengakui “Tari Pendet” sebagai budaya mereka. Di sisi lain, pernahkah Indonesia membuat sebuah promosi atau tayangan iklan pariwisata tentang “Tari Pendet” itu sendiri? Kalau belum ada, bukankah lebih baik kalau kita berupaya mengemas sebuah tayangan yang mempromosikan Indonesia melalui tari-tariannya yang beraneka ragam itu? *no comment, ini hanya untuk contoh :mrgreen: *

Contoh lainnya, soal kehidupan para selebriti; kalau kita tidak mengenal si artis, apakah kita bisa menilai dengan mudah apakah keputusannya itu benar atau salah? Padahal kita juga tidak tahu lingkungan keluarganya, tidak paham kehidupannya. Terkadang kita hanya mengenal mereka dalam tayangan film atau sinetron yang dimainkannya, dan kita menganggap bahwa demikianlah kehidupan mereka sebenarnya. Lain halnya bila kita adalah keluarga dekat sang artis, sehingga kita lebih paham mengapa ia melakukan tindakan-tindakan tertentu, dan bisa memberikan suatu penilaian yang lebih objektif.

Kembali ke topik artikel di atas, apa maknanya?

Bukan berarti kita tidak boleh membicarakan hal-hal di atas, namun hendaknya kita perlu menilai diri kita terlebih dulu sebelum kita memberikan sebuah penilaian. Seandainya kita hanya memahami suatu persoalan dari sumber yang terbatas, rasanya tidak perlu kita menilai suatu pihak itu benar atau salah. Terlalu naïf rasanya kalau kita menyukai atau tidak menyukai seseorang atau suatu tindakan hanya berdasarkan informasi yang amat minim.

Berdiskusi atau berbincang-bincanglah tentang berbagai hal, tidak terkecuali pula tentang hal-hal seperti di atas, tapi hindarilah untuk memberikan sebuah penilaian sampai kita benar-benar memperoleh data atau informasi yang lengkap, sehingga penilaian kita tsb bisa dipertanggungjawabkan dan menjadi sumber yang baik pula bagi pihak-pihak yang memang membutuhkannya.

Jadi, saat akan memberikan sebuah pendapat atau pun penilaian, berusahalah untuk menyampaikan yang terbaik; pendapat terbaik kita ataupun penilaian terbaik kita. Di sisi lain, tetap terbuka terhadap masukan-masukan yang diberikan oleh orang lain, jangan hanya tetap terpaku pada penilaian pribadi kita. Pertimbangkan masukan-masukan yang ada dan perkaya pendapat atau penilaian kita dengan hal tsb.

Tak perlu sampai menjadi ahli politik untuk dapat berbicara politik, tak perlu menjadi ahli gempa untuk bisa membahas soal gempa; namun penting buat kita untuk mengetahui hal-hal umum yang terjadi tentang topik tsb sebelum memberikan penilaian. Jangan hanya mengkritik sebuah kebijakan politik jika kita tidak paham hal-hal yang melatarbelakanginya. Jangan coba meramal soal gempa kalau kita tidak tahu mekanisme alam yang terjadi. Yang perlu kita lakukan adalah membekali diri kita dengan pengetahuan-pengetahuan umum tentang berbagai hal yang kita perbincangkan, dan menggali informasi sebanyak mungin agar pendapat atau penilaian kita tentang berbagai hal menjadi akurat.

Namun, kalau soal masalah pribadi, jadikanlah hal tsb sebagai pengetahuan kita saja tentang perilaku manusia ;) Tidak perlu menjadi “expert” dan memberikan penilaian soal baik-buruknya perilaku seseorang. Hindari pula prasangka buruk terhadap orang lain, karena kita tidak pernah tahu hal yang sebenarnya terjadi dan dirasakan oleh seseorang sampai orang tsb sendiri menyampaikannya.

*hmm… sudah terlalu panjang rasanya ocehan setelah hiatus kali ini*

OK, balik ke diri sendiri, sudah kah kita menjadi yang terbaik bagi diri kita sendiri?

… bersambung…

08
Jun
09

kapan kita mulai berubah?

180px-KamenRiderBlackSetiap dengar kata ”berubah”, saya selalu ingat dengan Ksatria Baja Hitam yang kerap mengumandangkan slogan ”BERUBAH !!!” setiap kali dia akan melakukan tindakan-tindakan memberantas kejahatan. Hehe… masih ingat? :mrgreen:

 

Kemarin, sambil menghabiskan waktu berkelana ke ranah virtual, saya bertemu dengan sebuah sajak yang bertema ”I wanted to change the world”, seperti di bawah ini:

 

When I was a young man, I wanted to change the world. I found it was difficult to change the world, so I tried to change my nation. When I found I couldn’t change the nation, I began to focus on my town. I couldn’t change the town and as an older man, I tried to change my family.

 

Now, as an old man, I realize the only thing I can change is myself, and suddenly I realize that if long ago I had changed myself, I could have made an impact on my family. My family and I could have made an impact on our town. Their impact could have changed the nation and I could indeed have changed the world.” 

By Unknown Monk, 1100 A.D.

 

Hmm… langsung terpikir, tidak perlu menjelma jadi Ksatria Baja Hitam dulu untuk dapat berubah, tak perlu muluk-muluk ingin memberantas kejahatan kelas internasional, tak perlu berkhayal jadi pemimpin dunia, tapi coba bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita melakukan yang terbaik bagi diri kita sendiri? melakukan tindakan-tindakan yang bisa membawa dampak positif bagi orang lain, bagi lingkungan, maupun bagi masyarakat di sekitar kita?

 

Temans,

Sekecil apapun perubahan yang kita lakukan, asalkan itu dilakukan untuk kebaikan, pastilah akan ada manfaatnya. Contohnya, membuang sampah pada tempatnya, datang tepat waktu ke kantor atau pada saat meeting – itu bukanlah hal yang sia-sia, bahkan bisa menggugah orang lain untuk juga berlaku sama seperti yang kita lakukan. Alhasil, dampaknya akan terasa tidak hanya bagi diri kita, tapi juga bagi orang-orang yang ada di sekitar kita.

 

Jangan menunggu sampai kesulitan menimpa kita, jangan menunda hal-hal positif yang bisa kita kerjakan. Lakukanlah perubahan (ke arah yang lebih baik tentunya) mulai saat ini, karena sedikit demi sedikit perubahan yang kita lakukan akan berdampak besar bagi masyarakat yang lebih luas.

26
Mei
09

Metropolis

metro_cover_by_angin_kering

Setelah lama tidak membaca novel-novel yang bernuansa kriminal, membaca novel ini seperti minum air di tengah gurun, pelepas dahaga di tengah kehausan :P

Sekilas review:

Sebuah pemaparan yang gamblang tentang sepak terjang kehidupan antar geng pengedar narkoba di Jakarta ditulis secara apik oleh Windry Ramadhina. Dengan gaya bahasa yang lincah, Windry berhasil membawa suasana konflik, narkoba, perang antargeng, mafia, dan mengemasnya menjadi sesuatu yang enak dibaca.

Bercerita tentang suasana lingkungan Jakarta abad 21 ini, mulai dari keadaan kota sampai dengan kesibukan orang-orang yang ada di dalamnya, Metropolis menjadi sebuah buku yang tidak sulit dicerna, dan dapat membawa imajinasi pembaca melayang membayangkan peristiwa yang terjadi layaknya sebuah film dokumenter. Tak hanya itu, Windry pun mampu membungkus tokoh-tokohnya dengan sebuah nuansa konspirasi menarik, yang menjadi salah satu andalan dari novel ini. Strategi konspirasi yang melibatkan “orang-orang penting”, yang seringkali juga membutuhkan tumbal yang tidak sedikit jadi menggugah ingatan akan maraknya kasus-kasus serupa yang terjadi di negara ini. Pertentangan kepentingan di antara para tokoh yang berpengaruh serta akal bulus antek-anteknya membuat kondisi yang terjadi semakin kompleks.

Sebagaimana layaknya cerita-cerita kriminal lain, Metropolis pun dikemas dalam alur cerita yang penuh konflik. Tidak ada yang benar-benar hitam, atau pun benar-benar putih, semua adalah kombinasi di antara keduanya, perpaduan antara kelicikan dan kesetiaan. Persahabatan, konspirasi, dan pembalasan (baik balas budi maupun balas dendam) menjadi sesuatu yang kerap ditemui dalam novel ini.

Buat saya, novel ini cukup membuka wawasan tentang sisi lain dari sebuah kota metropolitan. Tutur kata sederhana yang meramu organisasi kejahatan dan bisnisnya, serta intrik-intrik yang ada di dalamnya berhasil membangun visualisasi nyata tentang kehidupan gelap kota Jakarta. Di sisi lain, aparat keamanan pun turut digambarkan secara tidak berlebihan, tapi tetap bisa mencerminkan wajah kepolisian Indonesia saat ini. Kepolisian tidak hanya digambarkan sebagai sebuah lembaga penegak hukum biasa, tapi juga lengkap dengan konflik-konflik di dalamnya. Hal ini menyadarkan kita bahwa hampir tak ada yang sempurna di dunia ini. Setiap lembaga (mulai dari keluarga – sebagai lembaga sosial terkecil – sampai dengan organisasi dalam lingkup negara atau dunia) selalu diwarnai dengan perpaduan antara baik dan buruk, antara yang benar dan yang salah.

Cerita tentang Chronic Myelogenous Leukimia, ikut memperkaya khasanah pengetahuan tentang jenis penyakit leukimia yang ada di dunia. Bagian ini juga menjadi salah satu hal yang unik dalam novel tersebut. Kondisi pasien, gejalanya, cara-cara mendiagnosa serta bagaimana mencegah timbulnya serangan penyakit ikut dijelaskan secara sederhana di novel ini. Menarik…

Meskipun belum sejajar dengan novel-novel karya Dan Brown, ataupun novel-novel kriminal Agatha Christie, namun novel karya Windry ini sudah mengindikasikan niat ke arah sana. Alur ceritanya cukup cepat, namun masih belum konsisten. Terkadang ritmenya sangat cepat sehingga menimbulkan rasa penasaran untuk terus membuka halaman demi halaman, dan tidak memberi jeda antara satu bab dengan bab berikutnya. Namun pada beberapa bab lain, ritmenya melambat sehingga memungkinkan kita untuk berhenti sejenak, seperti sebuah sinetron yang sekedar menggantungkan cerita, layaknya membuat bunga-bunga yang hanya berfungsi untuk mempermanis jalan cerita.

Terakhir, sebagai novel dewasa, karya Windry ini patut diperhitungkan sebagai karya pengarang Indonesia (muda) yang cukup berbobot dengan ditunjang oleh riset detil tentang seluk beluk kehidupan dari tema cerita yang ditulis. Ketelitian Windry menyusun lembar-lembar perjalanan hidup para tokoh utama Metropolis menunjukkan keseriusannya dalam menggarap novel ini. Brillian ! :D




 

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 44,954 hits

Others

Add to Technorati Favorites

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

visitor stats

PageRank

my 'read' shelf:
 my read shelf

Click to view my Personality Profile page